Cerpen Persahabatan "Aku Cinta Kamu, Bodoh!" ~ 03

Halooo semuanya? #LambaiCantik. Tadinya mau lanjutin cerpen kazua mencari cinta, eh yang udah di ketik scene endingnya duluan #ditabok. Ya gitu deh, sang admin kalau nulis emang suka gitu. Loncat loncat, bagian mana yang ada ide mampir duluan itu yang di ketik. Jadi sebagai gantinya kita lanjut ke cerpen persahabatan aku cinta kamu, bodoh! aja ya. Kali ini bagian ke 3, bagian keempat adalah ending. Nah dari pada admin makin ngaco nggak jelas mendingan kita langsung simak ke bawah aja deh yuk guys. Dan biar nyambung sama ceritanya bagusnya baca dulu bagian sebelumnya disini.

Cerpen persahabatan
Aku cinta kamu, Bodoh!

Seiring berjalannya hari, waktu pun terus berlalu. Rasya sedang clingak clinguk sendiri ketika Alin tiba - tiba mengagetkannya.

"Loe lagi ngapain?" tanya Alin heran.

"Gue lagi nyariin si Fahrizi. Heran gue, belakangan susah banget nemuin tu anak."

"Bukannya kalian tiap hari pulang pergi bareng ya?"

Rasya mengeleng berlahan. "Enggak, sebenernya Stev yang antar jemput gue."

"HA? Kok gue nggak tau. Salah, maksut gue, kok loe nggak pernah cerita?"

"He he he, itu karena gue malu."

Alin mengernyit sambil mengaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Tapi ngomong - ngomong, loe tau dimana Fahrizi nggak?"

"Nggak tau juga sih, tapi kayaknya tadi gue liat dia lagi ngobrol gitu sama temen temennya di halaman depan. Emangnya loe mau ngapain nyariin dia? Kok kayaknya penting gitu."

"Ehem jadi gini," Rasya tanpak ragu. "Sebenernya itu Stev tadi malam nembak gue?"

"APA?"

"Ikh, loe kagetnya lebay. Lagian gue kan udah bilang kalau kami sekarang deket. Dan dia ngerasa cocok sama gue, secara hoby kita sama. Jadi kalau ngomong itu nyambung. Terus dia nembak gue deh."

"Jadi sekarang kalian udah jadian, terus kenapa loe mo nyariin Fahrizi sekarang?" selidik Alin.

Lagi lagi kepala Raysa mengeleng. "Belom. Kita belum jadian, gue bilang gue akan ngasi jawabanya nanti malam. Makanya itu gue cariin Fahrizi. Gue mau nanya pendapat dia, bagus nya gue terima atau enggak."

"Kenapa harus nanyain Fahrizi sih, kan yang pacaran elo. Lagian loe sendiri yang bilang kalau dia itu pangeran idola loe. Kenapa nggak langsung loe terima aja. Emangnya nanyain pendapat orang lain itu penting ya?"

Langkah Raysa yang sudah bersiap untuk pergi terhenti, kepalanya menoleh kearah Alin yang juga kini sedang menatapnya tajam. Setelah terdiam sejenak, Rasya menjawab.

"Gue nggak minta pendapat orang lain, tapi gue minta pendapatnya si Fahrizi. Dan masalah penting atau nggak, menurut gue itu penting. Penting banget malah, makanya itu gue harus nanya langsung sama dia."

Selesai berkata, Rasya segera berbalik tanpa menoleh lagi. Bahkan hanya untuk memastikan gelengan kepala di wajah sahabatnya yang hanya mampu bergumam lirih.

"Jelas aja penting, karena sebenernya diam diam orang yang loe suka itu Fahrizi kan?"

Next : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 11:29:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers