Cerpen terbaru "Cintaku Kok Gitu???"

Kalau suasana hati lagi buruk, sebaiknya jangan coba coba nulis cerpen deh. Biasanya kalau nggak jadinya ancur yang ceritanya di ancurin. Yah kayak cerpen serial wrong couple yang satu ini. Abisnya udah lama nggak ngepost, jadi maksain diri buat ngetik cerita. And then jadilah......

Oh iya, seperti yang admin sebutkan sebelumnya, walau cerpen ini langsung end, tapi sebenernya di jadikan serial. Untuk seri pertama ada Cintaku nyasar di kamu lanjut dengan Cintaku harus kamu, yang ketiga ada cintaku bukan kamu. Dan yang ke empat (admin nggak bilang ini yang terakhir ya) adalah yang satu ini Cintaku kok gitu?? _ kebingungan ngarang judul. Okelah, jelasnya langsung simak ke bawah ya...

Cintaku  Kok Gitu???
Cintaku  Kok Gitu???

Pasar loak buku yang di selengarakan di plaza Carnaval benar benar terasa bagai surganya buku bagi Trisma. Gadis itu yakin, Vero pasti merasa menyesal karena menolak ajakannya sekiranya ia tau bagaimana tempat itu terlihat. Dengan semangat Trisma berjalan dari satu pedagang ke pedangan yang lainnya sembari terus memilih aneka bacaan yang menurutnya menarik. Tabungan uang saku yang ia simpan selama ini sengaja ia kuras. Lumayan banyak sih, secara sejak diantar jemput oleh Riawan jatah ongkosnya bisa ia simpen juga.

Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan akhirnya Trisma harus puas dengan apa yang sudah ia dapat. Dilirknya kantong kresek yang ia bawa. Sebuah senyum terpancar saat ia melihat belanjaannya itu. Tak hanya novel bahkan ke 26 series komik kaicou berhasil ia dapatkan. Padahal tu series kan susah banget nyarinya.

Namun senyum diwajah Trisma langsung memudar begitu ia keluar dari gedung plaza. Hujan deras yang turun dari langit benar benar telah meraipkan rasa bahagia yang ia punya beberapa waktu lalu. Terlebih ketika ia melirik jam yang melingkar di tangan. Hampir pukul delapan malam. Sementara halte lumayan jauh kedepan. Ia juga sama sekali tidak membawa payung. Menerobos hujan amat sangat tidak mungkin disaat bawannya adalah buku.

Akhirnya Trisma memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda. Berharap itu segera karena seperti yang ia tau busway terakhir jam 9 malam. Kalau sampai ketinggalan ia tidak tau ia akan pulang dengan apa. Uang yang ia punya jelas sudah ia belanjakan semua. Belum lagi di rumah ayahnya tidak ada. Jadi sekiranya ia nekat pake taxsi juga mustahil. Sampai di rumah memangnya siapa yang mau bayar?

Pukul sembilan kurang lima belas, Trisma nekat menerobos hujan yang masih rintik rintik. Dipeluknya buku yang ia beli rapat rapat sambil berlari ke arah halte. Walau tidak terlalu deras tapi udara yang berhembus cukup untuk membuatnya merinding kedinginan. Belum lagi, bajunya kini menjadi sedikit basah. Sambil menunggu bus datang, Trisma merapatkan pelukannya pada buku. Berharap itu bisa membantunya menghangatkan tubuh.

Waktu terus berlalu, jam sembilan sudah lewat. Hujan juga sudah reda. Tapi Trisma masih duduk di pojokan dengan rasa cemas. Angin malam yang berhebus kencang membuatnya makin mengigil kedinginan. Bajunya yang lembab memperburuk keadaan. Tambahan, bus yang ia tunggu tetap belum muncul juga. Jangan jangan karena hujan tadi, tidak ada lagi bus yang lewat.

Dengan cemas Trisma merogoh isi tasnya. Mengecek sisa uang di dompet. Seperti dugaannya uang yang ia punya tidak seberapa. Tidak akan cukup untuk ongkos taxsi. Kalau ojek mungkin bisa, tapi ia takut. Mana ia tidak pernah naik ojek lagi. Tapi tetap disana juga bukan pilihan yang tepat. Ia tidak terlalu mengerti daerah itu. Belum lagi berita tentang kriminal semakin hari semakin mengigila. Sementara hari semakin malam, suasana makin sepi. Hanya terlihat beberapa orang saja yang sepertinya juga sedang menunggu pulang.

Sampai kemudian mata Trisma tertuju kearah Hanphone yang ada di samping dompetnya. Dengan tangan bergetar karena kedinginan di nyalakannya benda tersebut. Handphond tersebut memang sengaja ia matikan tadi untuk menghindari telpon dari Riawan yang mungkin akan datang kerumahnya.

Berharap benda mungil itu bisa membantu, Trisma segera mengacak acak id contaknya. Meminta Vero untuk menjemput jelas mustahil. Secara gadis itu tidak bisa pake motor. Belum lagi ini sudah malam. Mana mungkin ia diizinkan keluar oleh orang tuanya. Meminta tolong ayahnya juga tidak bisa karena kini orang tuanya sedang keluar kota.

Saat Trisma sedang kebingungan itulah tiba - tiba hanphonenya berdering. Id caller atas nama Riawan tertera disana. Mendadak secercah harapan muncul. Mungkinkah ia bisa meminta makhluk itu untuk membantunya?

"Hallo, Trisma?" terdengar suara Riawan dari seberang.

"Hallo. Wan, tolongin gue. Hiks hiks hiks," rasa panik tanpa sadar membuat Trisma tak mampu menahan tangisnya. Bagaimanamun sepertinya Riawan adalah harapan satu satunya saat ini.

"Trisma, loe kenapa? Kok loe nangis? Loe dimana sekarang?" suara Riawan terdengar panik.

"Gue masih di halte. Abis busnya nggak nongol nongol dari tadi. Loe jemput gue donk sekarang. Gue takut," terang Trisma yang mungkin justru membuat Riawan bingung.

"Oke loe tenang dulu. Sekarang loe jawab gue, loe ada di halte mana?"

Untuk sejenak Trisma menarik nafas baru kemudian menyebutkan alamatnya berada dengan lengkap.

"Baiklah, gue ngerti. Loe tunggu aja di situ, gue kesana sekarang. Jangan kemana mana sampai gue datang. Ngerti," perintah Riawan yang seharusnya tidak perlu di lakukan. Lagian tanpa di perintah ia juga akan melakukan hal itu. Memangnya ia bisa kemana lagi? Dan kalaupun ia bisa kemana mana ngapain ia minta di jemput segala. Dasar Riawan dudul.

Setengah jam kemudian sebuah motor berhenti tepat di depan Trisma. Mengenali siapa pemilik motor tersebut Trisma segera bangkit berdiri. Sang pengendara yang tak lain adalah Riawan segera menghampirinya.

"Ya ampun Trisma. Sedari tadi gue tunggu di rumah loe nggak balik balik. Rumah loe kosong dan hanphone loe nggak bisa di hubungin. Tapi kenapa loe malah bisa ada disini? Basah basahan juga. Sedirian lagi. Ada apa sih?" Riawan muncul dengan seberondong pertanyaan.

"Gue... Hatchim."

"Oke, nanti aja ceritanya. Loe pake jaket gue, gue anterin loe pulang sekarang," potong Riawan sambil melepaskan jaketnya baru kemudian membantu memasangkannya di tubuh Trisma yang kini mengigil kedinginan. Setelah jaketnya terpasang rapi ia segera meraih tangan gadis itu untuk mengikutin kearah motornya di parkir.

"Tunggu dulu. Buku gue jangan di tinggal," kata Trisma sambil melepaskan gengaman Riawan dan berbalik kearah kantong kresek belanjaannya.

Untuk sejenak Riawan terdiam baru kemudian tanpa kata ia segera meraih semua bawaan Trisma dan segera beranjak kearah motornya.

"Ayo naik," perintah Riawan. Tapi Trisma masih berdiri diam dengan matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Riawan.

"Ada apa lagi? Ini udah malam. Dingin lagi, baju loe juga basahkan. Ntar loe sakit."

"Bukunya taro di tengah. Loe kan pake motor, gue nggak mau meluk loe."

Riawan melongo. Matanya menatap kesel kearah Trisma. Setelah apa yang ia lakukan untuk gadis itu bisa bisanya ia bersikap demikian. Namun tak urung ia manut. Diambilnya kembali kresek yang telah ia atur sedemikian rupa didepan dan kini ia pindahkan tepat di belakangnya.

"Udah, puas?" tanya Pria itu. Trisma hanya mengangguk baru kemudian duduk tepat di belakang Riawan. Tanpa diselingi pembicaraan sama sekali, tau tau kini keduanya tiba di depan rumah nya.

"Loe dirumah sendiri?" tanya Riawan begitu Trisma turun dari motornya. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan. Efek kedinginan sepertinya membuatnya malas berbicara.

"Ya udah, gue masuk dulu. Mendingan loe pulang," usir gadis itu tanpa basa basi.

"Yakin loe nggak papa di tinggal sendiri?" tanya Riawan terlihat khawatir. Bukan apa, wajah Trisma beneran terlihat pucat. Kalau sampai dia kenapa kenapa kan gawat, siapa yang mau nolongin.

"Nggak papa. Justru kalau loe tetep disini yang kenapa napa. Biasanya ada yang ronda lho. Ntar kita malah di grebek warga lagi."

Riawan memutar mata. Trisma sepertinya sama sekali tidak sadar kalau ia sedang khawatir dengan dirinya. Walau begitu tak urung Riawan manut. Pria itu segera pamit undur diri setelah sekali lagi memastikan gadis itu baik baik saja.

Begitu tiba di bangku kelasnya, Vero langsung di buat kaget. Bahkan gadis itu sampai melontarkan kalimat istifar sebagai gerak refleksnya. Yang jelas bukan karena Trima yang membiarkan jaket tebal menutup seluruh tubuhnya, tapi karena ia mendapati kalau gadis itu sedang bersembunyi di balik kolong mejanya.

"Ya ampun Trisma. Loe bikin kaget aja, loe ngapain ngumpet disituuuuuu!!!" suara Vero terdengar mengelegar.

Demi martabak mesir yang dijual mang dandan, Trisma benar benar ingin menguliti Vero saat itu juga. Temannya itu selain penghianat ternyata tingkat oonnya sudah mendekati taraf dewa. Sudah jelas jelas tau kalau dia sedang ngumpet, ngapain dia pake treak segala.

"Loe bego apa stupid sih? Udah tau gue ngumpet, ngapain loe terak treak ha?" gerut Trisma kesel. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memijat mijat kakinya yang terasa kesemutan efek kelamaan jongkok di bawah meja.

"Sorry kelepasan. Emangnya loe ngumpet dari siapa?" kali ini Vero berbisik sambil kepalanya clingak clinguk kekanan dan kekiri. Sayangnya tingkahnya barusan justru malah membuatnya mendapatkan hadiah jitakan dikepala. Belum sempat Trisma bersuara, gadis itu sudah terlebih dahulu menunduk. Kembali mengisi tempat persembunyiannya tadi.Vero yang ingin marah karena kepalanya di jitak tanpa izin hanya mampu mengerutkan kening melihat kelakuan aneh gadis itu. Belum sempat bertanya, namanya sudah terlebih dahulu di panggil.

"Ver, Trisma belum datang ya?"

Riawan berdiri di muka pintu. Melihat itu sistem kerja otak Vero bekerja ala Jimmy neutron. Jangan bilang kalau Trisma ngumpet dari pacarnya? Dan mendadak gadis itu merasa dilama. Ingin jujur takut di omeli Trisma, kalau bohong nanti dosa.

"Udah tuh, kayaknya dia lagi ngumpet di kolong meja," Iron, yang duduk pas di dekat pintu buka suara.

Mendengar itu, Vero mengucapkan syukur dalam hati. Akhirnya ia selamat dari keharusan memakan buah simalakama. Tapi sebaliknya Trisma justru malah mengeluh nggak kira kira. Kok bisa ya dia punya temen tapi tidak berpriketemenan gitu?

"Loe ngapain ngumpet disitu?" Riawan menatap heran kearah Trisma yang kini menatapnya persis seperti anak kucing yang sedang ketakutan. Akhirnya dengan berat hati, Trisma keluar dari persembunyiannya. Kepalanya terus menunduk, Sama sekali tidak berani menoleh kearah pacarnya.

"Dan lagi, loe kenapa sih? Pake jaket gitu, loe sakit ya?" tanya Riawan sambil melangkah mendekat, refleks Trisma mundur untuk menciptakan jarak. Membuat tak hanya Riawan, Vero juga mengerutkan kening.

"Loe..." jeda sesaat. Riawan terlihat ragu namun tak urung ia melanjutkan ucapannya. "Ngehindarin gue?" tanya pria itu.

Masih tanpa menoleh, Trisma mengangguk. Lagi pula Trisma merasa heran Riawan masih perlu bertanya. Secara sejak sabtu kemaren, tu orang sms nggak ia bales, di telpon nggak ia angkat. Datang kerumahnya juga ia pura pura tidak ada. Bahkan tadi pagi, Trisma sengaja berangkat pagi pagi biar tidak perlu bertemu dengannya.

"Kenapa?" tanya Riawan persis seperti seorang terdakwa yang akan di hukum mati. Mendengar nada yang ia gunakan, mendadak Trisma merasa nelangsa. Tapi...

"Jadi loe nggak mau lagi ketemu sama gue?" tanya Riawan lagi karena Trisma masih bungkam. Yang gadis itu lakukan lagi lagi hanya mengangguk.

"Loe yakin loe beneran nggak mau ketemu lagi sama gue?"

Trisma terdiam. Sebenernya dia nggak yakin sih. Secara jaketnya belum di balikin, ia juga belum bilang ma kasih. Terus kan mereka masih pacaraan. Pacaran model apaan yang pake acara nggak ketemuan. Namun begitu kepalanya tetap mengangguk. Lagi pula....

"Oke, kalau gitu loe nggak perlu menghindar lagi," kali ini Trisma menoleh. Untuk pertama kalinya ia melihat kearah lawan bicarannya. "Karena mulai sekarang, biar gue aja yang pergi. Dan gue nggak akan ganggu loe lagi."

Selesai berkata Riawan segera berbalik pergi. Pergi yang benar benar pergi. Entah pergi kekelasnya, atau pergi dari hidupnya. Trisma tidak terlalu perduli. Karena gadis itu sedang sibuk mencerna kesimpulan akhri dari percakapannya.

Riawan memutuskan pergi dan dia nggak akan mengganggunya lagi? Serius? Itu beneran? Bukan bohong - bohongan kan? Yihaaaaa.... Akhirnya ia merdeka. Membayangkan hal itu, Trisma langsung melompat - lompat kegirangan. Persis seperti orang keserurupan. Sampai kemudian tindakannya terhenti saat ia menyentuh dada kirinya.

Gadis itu terdiam sambil menatap kearah sahabatnya yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan tingkah anehnya.

Tanpa sadar mulutnya bergumam.

"Kok gue mendadak ngerasa nggak rela ya?"

Ending.....

Wuakakakakkakaka..... Apa ini? Akh, entahlah.

Detail Cerpen




Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:28:00 PM

8 komentar:

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers