Cerpen Terbaru 2015 "Cintaku Nyasar di Kamu"

Karena selama ini idenya cuma di simpen buat mikir lanjutan dari Kazua mencari cinta yang belum nemu sama yang namanya End, adminnya sampe lupa buat bikin cerpen selingan. Akh, terlebih dengan 'trouble' yang mampir yang bikin males. Makin jadi deh. Dan kemudian karena tak ingin larut, kali ini jadi juga cerpen barunya. Judulnya Cintaku nyasar di kamu, dan seandainnya jadi. (Hanya seandainnya), cerpen yang langsung end ini mau admin jadiin serial. Serial 'Wrong couple', cerpen langsung end, tapi kalau ada ide tetep di lanjutin. (????)

Okelah, biar nggak banyakan ngebacod yang makin nggak jelas, mendingan kita langsung simak hasilnya aja yuk. Oh ya, itung itung biar semangat nulis, kasih kritik dan saran soal ceritannya donk...

Cintaku Nyasar di Kamu
Cintaku Nyasar di Kamu

"Hufh... save," gumam Trisma sambil menghembuskan nafas lega. Berlahan kepalanya kembali menoleh kearah gerbang sekolah yang kini secara berlahan mulai tertutup karena pak Somad mulai mendorong teralinya. Sekilas Trisma melirik kearah Jam yang melingkar di tangannya. Pukul Tujuh lewat lima belas pas. Kalau saja ia terlambat satu menit saja, ia yakin buntut masalahnya akan jadi panjang. Karena seperti yang telah di ketahui bersama, sekolah tempat ia belajar memang memiliki peraturan yang sangat ketat.

Setelah sedikit menetralkan detak jantungnya yang melaju efek dari berlari yang ia lakukan beberapa saat yang lalu, Trisma kembali melayangkan pandangannya kesekeliling, sepi. Tidak terlihat para siswa yang berlalu lalang. Dan kemudian, kesadaran baru muncul. Ia memang selamat dari ancaman pintu gerbang, lantas bagaimana dengan jam kelasnya? Bukankah seiring dengan pintu gerbang yang di tutup, itu juga merupakan tanda bahwa pelajaran pertama siap di mulai? Tanpa ba bi bu, gadis itu kembali berlari melewati lorong menuju kekelasnya.

"Untung saja," gumaman lega kembali terlontar dari mulut Trisma begitu ia mendaratkan tubuh nya di bangku kelas. Untung saja pelajaran belum di mulai. Sang guru belum hadir mengisi kelas.

"Tumben amat loe telat?"

Kepala Trisma menoleh kearah Vero yang baru saja melontarkan pertanyaan kearah dirinya. "Tau nih. Gara gara beberapa waktu ini gue sering mimpi aneh. Jadinya bangun telat deh."

"Mimpi aneh?" tanya Vero terlihat tertarik. Trisma tidak tau. Entah gadis itu benar - benar tertarik atau itu sekedar alasan untuk menjadi topik pembicaraan mereka saja. Apapun itu Trisma memilih untuk mengangguk.

"Tau nggak sih. Masa gue mimpi, dan dimimpi gue itu gue sadar kalau gue lagi mimpi. Dan parahnya lagi, gue bisa ngatur jalan cerita mimpi itu semau gue."

Vero terlihat sedikit mengernyit tanda ia sedang bingung, sementara Trisma hanya membalasnya dengan angkat bahu. Sebelum gadis itu sempat menambahkan, kemunculan sang guru di muka pintu segera menginterupsi. Dan pembicaraan soal mimpi pun selesai.

"Eh Ver. Hari ini kita nggak usah makan di kantin ya. Kita beli jajan aja sambil duduk duduk di bawah pohon akasia sana, mau?"

Vero tidak lantas menjawab. "Maksut loe pohon akasia yang di deket lapangan?" tanya Vero yang dibalas anggukan mantab oleh Trisma.

"Selain menghemat uang saku, biar kita sekalian diet. Berat badan loe naik juga kan? Lagian, bentar lagi kan musim turnamen. Pasti banyak anak anak yang lagi latihan di sana. Sekalian aja kita nonton," jelas Trisma. Kali ini tanpa berpikir Vero langsung setuju.

Selang beberapa saat keduanya sudah duduk santai di bawah pohon akasia yang memang banyak tumbuh terawat di sekeliling lapangan sekolah mereka. Lengkap dengan jajanan yang kini berjejer rapi di hadapan.

"Trisma, coba loe liat dia deh. Keren ya?" kata Vero sambil tangannya menunjuk kearah salah satu dari siswa yang tanpak sedang berlarian di lapangan sembari mengejar bola.

"Yang mana?" tanya Trisma balik.

"Itu. Yang pake baju nomor tujuh, Riawan. Anak kelas 2 - F."

"Oh dia. Emang keren sih, tapi anaknya songong. Jadi menurut gue kerennya luntur."

"Songong gimana?" tanya Vero sambil menoleh kearah Trisma. Tapi yang di ajak ngomong justru malah memusatkan perhatiannya kearah biji kwachi yang ada ditangan. Sibuk membuka sebelum kemudian memakannya.

"Iya. Kemaren dulu gue nggak sengaja liat dia. Loe tau Kak Lina nggak? Itu lho senior kita yang jadi bendahara OSIS kalau nggak salah. Nah, nggak sengaja gue liat dia nembak si Riawan ini. Beeeh, masih mending kalau cuma di tolak karena dia nggak suka. Masa dia terang - terangan bilang kalau ia nggak suka sama cewek yang lebih tuaan dari dia coba. Songong kan? Belum lagi katanya si Devi, anak kelas 1 D yang bilang suka ke dia. Katanya sih di tolak juga hanya gara gara dia pendek. Gue penasaran, siapa ya kira kira cewek bego selanjutnya yang bakal nyatain cinta ke dia?"

"Huwahahhaha. Loe sewot amat. Jangan - jangan loe suka juga ya sama dia," tawa Vero sembari meledek.

"Ih, Amit - amit. Eh, sory ya. Hati gue itu udah mentok untuk kak Farhan. Mau sekeren apapun, kalau itu bukan Kak Farhan. Lewat," kata Trisma lengkap dengan gerak tangannya. Membuat Vero makin tergelak.

"Tetep aja. Loe itu cuma beraninya merhatiin dia diem diem. Gue bahkan yakin banget, kalau tu orang nggak kenal sama loe. Bahkan nganggep kalau loe itu ada aja gue sanksi."

"Biarin. Toh gue fine fine aja. Secara dari waktu kita ospek dulu dia itu udah berhasil mencuri hati gue. Akh, gue sempet heran sekaligus seneng sih. Sampai sekarang gue nggak pernah denger dia deket sama cewek atau pacaran sama siapalah. Itu artinya dia masih jomblo kan?"

"Jomblo atau homo?"

"Ngaco loe! Ya nggak mungkinlah cowok sekeren, se cool, sebaik dia homo. Loe minta di tabok nih kayaknya," Trisma pasang tanpang sewot sementara Vero malah ngakak mendengarnya.

"Kalau emang loe seyakin itu, kenapa nggak tembak aja dia?" tantang Vero.

"Gue? Nembak dia? Makin ngawur loe."

"Kenapa? Loe takut? Takut di tolak atau takut kalau apa yang gue omongin bener?"

Trisma tidak segera membalas. Sebaliknya gadis itu justru malah melemparkan tatapan tajam kearah Vero yang hanya di anggap slambe oleh gadis itu. Jelas, tatapan itu sama sekali tidak berpengaruh.

"Udah. Nggak usah melotot gitu. Nggak mempan sama gue. Nih, buat loe. Mendingan loe buruan bilang terima kasih sama gue," kata Vero sambil menyerahkan secarik kertas yang baru ia keluarkan dari saku bajunya.

"Ini apa?" tanya Trisma bingung. Walau tak urung ia merih kertas tersebut. Keningnya semakin berkerut ketika melihat angka yang tertera di sana.

"Itu nomor telpon Kak Farhan. Makanya loe jangan remehin gue. Jadi, ntar mendingan loe telpon tu nomor. Terus loe bilang kalau loe suka sama dia."

"WHAT?"

"Nggak usah pake bahasa inggris segala deh. Nggak cocok tau."

"Tunggu dulu. Jadi maksut loe ini nomornya Kak Farhan? Dan gue harus nyatain cinta ke dia?"

Tampang polos sekaligus tak percaya di wajah Trisma membuat Vero kembali menghela nafas melihatnya. Merasa prihatin akan kapasitas pemikiran gadis itu.

"Loe lemotnya kuadrad ya. Kan tadi gue udah bilang gitu."

"Bukan lemot. Tapi yang benar saja, masa gue tiba tiba nelpon dia terus gue bilang suka?"

"Terus maunya gimana? Pake kata pengantar? Emangnya loe mau pidato?"

"Tapi kan...."

"Denger ya Trisma. Yang namanya cinta itu bukan buat di pendem. Loe sendiri bilang kalau loe udah suka sama dia sejak OSPEK. Sementara sekarang kita udah mau kekelas Tiga. Kak Farhan sendiri juga benar lagi tamat dan nggak tau mau lanjut kemana. Masa loe mau biarin kisah cinta loe menguap begitu saja," kata Vero membuat kepala Trisma menunduk diam. Sebelum gadis itu sempat membantah, Vero sudah terlebih dahulu menambahkan.

"Walau loe nggak keberatan akan hal itu, tapi gue nggak. Selaku sahabat gue nggak bisa biarin gitu aja. Makanya kemaren gue cari tau nomornya dia. Dan akhirnya gue dapat tuh nomor, jadi ntar loe telpon dia. Loe bilang suka, terus loe kenalin loe siapa. Kan nggak perlu bertatap muka. Kalau emang dia juga suka, gue yakin dia akan cari tau loe siapa. Kalau emang enggak, paling gak kan loe udah ngungkapin perasaan loe yang sesungguhnya. Selesai."

"Kalau dia nolak gue?"

"Itu urusan belakangan. Loe kan tinggal move on. Lagian emang nggak ada jaminan kalau dia juga suka sama loe. Yang pentingkan dia tau dulu kalau selama ini tu ada yang diam diam suka sama dia?

Trisma makin bungkam. Matanya menatap lurus kearah kertas yang ada di tangannya. Hanya melihat angka yang tertera itu saja jantungnya sudah dag dig dug tak menentu. Terkesan sedikit lebay memang. Tapi memang itu lah ia rasakan kini. Ketika kemudian kepalanya menoleh kearah Vero, senyuman serta anggukan kepala gadis itu memunculkan terkadnya. Sepertinya apa yang ia katakan layak untuk di di lakukan.

"Loe yakin ini beneran nomornya dia kan?"

"Yakin seribu persen!" tambah Vero sembari mengangkat kedua jarinya guna meyakinkan. Kali ini Trisma tidak membalas. Hanya angannya saja yang sibuk melayang jauh.

Dan kemudian inilah yang terjadi. Sudah hampir satu jam Trisma mengankat tutup gangang telpon di rumahnya. Sengaja memilih menggunakan nomor telpon rumah dari pada handphondnnya. Alasannya? Biar hemat di pulsa. Eh enggak dink. Salah. Alasannya biar tidak mudah di lacak saja. Paling tidak kalau nomor telpon, lebih aman kedepannya bukan.

Yos, setelah meyakinkan diri dan tekad. Akhirnya dengan hati hati Trisma menekan nomor telpon yang tertera. Jantungnya dag dig dug tak menentu semabari menunggu panggilan itu tersambung. Tepat saat ia mendengar kata 'hallo' Kalimat itu pun itu pun meluncur mulus tanpa jeda dari mulutnya.

"Hallo. Gue Trisma. Anak kelas 2 B IPA. Gue suka sama loe. Dan kalau loe juga suka sama gue, gue harap loe mau nemuin gue besok. Kalau tidak, tolong abaikan panggilan ini."

Tuut tuut....

Selesai berkata, Trisma langsung memutuskan panggilannya. Jantungnya kembali berdetak cepat. Bahkan lebih cepat dari pada detakan yang ia rasakan tadi pagi saat berlari - lari. Mendadak pikirannya blank. Ia mulai merasa ragu, apa yang ia lakukan itu benar atau salah. Masih merasa was was, mata Trisma menatap kearah Telpon yang masih berada di hadapannya. Menanti kemungkinan apakah telpon itu akan berdering atau tidak.

Lama ia menunggu, telpon itu tetap membisu. Entah harus merasa lega atau justru ia harus cemas karenannya. Setelah hampir sejam berlalu dan tidak ada tanda tanda panggilan masuk lainnya, dengan berlahan Trisma bangkit berdiri. Beranjak menuju kearah kamarnya. Bersiap untuk tidur karena sekarang sudah malam. Saatnya untuk menyiapkan tenaga untuk apa yang akan ia dapat besok sebagai hasilnya.

Sengaja datang lebih pagi dengan langkah hati - hati Trisma melewati lorong demi lorong kelas guna menuju kekelasnya. Perhatiannya ia gunakan mode siaga. Sibuk melirik kekanan dan kekiri. Waspada akan apa yang terjadi. Tapi sepertinya tidak ada yang berubah. Semua berjalan seperti biasannya. Bahkan saat Trisma menginjakan kaki di kelas juga tidak ada bedannya. Semua anak - anak sibuk dengan agendanya masing masing. Harapan Trisma yang berharap kalau ada yang menunggunya di kelas berlahan sirna. Lagipula kalau di pikir - pikir lagi, pria bodoh mana sih yang akan menemuinya hanya karena telpon nggak jelas begitu.

Dengan lemes, Trisma merebahkan kepalanya diatas meja. Matanya berlahan melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Sebentar lagi bel masuk akan berdering. Sepertinya ia benar - benar harus memusnahkan harapannya. Kak Farhan tidak mungkin akan menemuinya.

"Trisma gawat. Gawat banget," kemunculan Vero dengan suara hebohnya hanya mampu membuat Trisma mengankat wajah tak berminat. Bahkan tatapan yang ia lemparkan juga terkesan hampa.

"Nomor yang gue kasih kemaren. Loe .... Loe...... Loe belum menelponnyakan?" kata Vero selanjutnya. Mendengar kata 'nomor telpon' yang disinggung, semangat Trisma langsung bangkit. Terlebih melihat raut panik di wajah Vero. Pasti ada apa apanya.

"Nomor telpon? Apa? Kenapa?" tanya Trisma terbata - bata.

"Sory. Tapi ada kesalahan teknis. Ternyata itu bukan nomornya kak Farhan tapi...."

"Brak."

Ucapan Vero terpotong seiring dengan suara daun pintu yang menabrak dinding karena di buka dengan kerasnnya. Membuat perhatian semua teralih kearah pintu tersebut. Tanpak wajah sosok pria yang tidak asing bagi Trisma sedang memperhatikan kesekeliling. Merasa tidak ada urusan dengan dirinya, Trisma kembali mengalihkan perhatiannya kearah Vero. Ia yakin, baru saja ia menerima sinyal ada masalah yang akan menimpa dirinya terkait dengan ucapan gadis itu beberapa saat yang lalu.

"Atau sebenernya loe emang udah nelpon dia," gumam Vero lirih. Trisma makin mengernyit bingung. Terlebih ketika ia menyadari kalau sahabatnya sama sekali tidak menoleh kearah dirinya tapi justru kearah pria asing yang baru saja masuk kekelasnnya. Pria yang ia kenal dengan nama Riawan. Sosok yang ia anggap songong di antara yang tersongong.

"Jadi, disini siapa yang namanya Trisma!"

Hei hei, tunggu dulu. Ini kenapa makhluk songong tersebut mencari dirinya? Walau masih tidak tau sama sekali dengan apa yang terjadi, tangan Trisma dengan refleks terangat kearah dada kirinya. Menutup namanya yang jelas tertera disana. Tapi sepertinya itu tidak membantu, karena perhatian semua teman sekelasnya kini tertuju kearahnya. Isarat nyata kalau orang yang di maksut adalah dia. Dan Trisma hanya mampu menelan ludahnnya yang terasa kelu ketika menyadari kalau secara berlahan tapi pasti Riawan berjalan kearah dirinya. Dengan tatapan yang jelas terhunjam kearah matanya.

"Jadi elo yang namanya Trisma?" tanya Riawan bergitu berdiri tepat di hadapannya.

Merasa sudah ketangkap basah. Terlebih tidak mungkin untuk mengelak lagi, Trisma akhirnya memilih mengangguk.

"Karena orangnya adalah elo, Okelah, gue setuju. Gue mau jadi pacar loe. Jadi mulai hari ini, kita resmi pacaran."

Ucapan santai Riawan berbanding balik dengan reaksi Trisma saat ini. Apa - apaan ini? Pacar? Siapa sama siapa? Masih tidak mengerti, Trisma menoleh kearah Vero yang di rasa mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk bagi dirinya. Walau tiada kalimat yang meluncur dari sana, tapi tatapan bersalah gadis itu cukup untuk menyadarkan Trisma kalau ada yang salah. Iya, Ia yakin ada yang salah.

Dan kemudian, Slow motion ala drama misteri terjadi. Ingatan Trisma secara berlahan kembali flasback ke beberapa menit yang lalu. Kemunculan Vero dengan tanpang paniknya. Kedatangan Riawan yang tiba - tiba mencari dirinya. Juga kalimat yang baru saja di lontarkan pria itu segera menyadarkannya. Membuat pandangan gadis itu menjadi berkunang - kunang sebelum kemudian jatuh terduduk dengan gumaman lirih yang melunjur dari mulutnya.

"Jadi, cewek bego yang nyatain cinta kedia selanjutnya adalah..."

Mata Trisma menatap kesekeliling. Kearah teman - temannya yang kini menjadikan ia sebagai topik utamanya. Kearah Reihan yang mengernyit menatapnya. Kearah Vero yang masih menatap dengan rasa bersalahnnya. Baru kemudian kedua tangannya terulur dengan telunjuk yang menujuk lurus kearah wajahnya.

"...GUE?!"

Ending....

~ Follow me at pinterest ~ Ana Merya

Detail Cerpen


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:21:00 AM

3 komentar:

  1. Asli gue demen banget ama nih cerpen ^_^ =D wah gue boleh dong jadi penggemar Lo hehe... Salam kenal dari gue ^_^ yang samasama suka nulis =D ..

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers