Cerita SMA Diera Diary End

Setelah sekian lama akhirnya Cerita SMA Diera Diary bisa ketemu juga sama yang namanya ending. Secara udah pada penasaran donk gimana kelanjutan ceritanya. Terus di mana sebenernya diari gadis tersebut berada. Apa bener berada di tangan andreani atau justru ada orang lain yang telah menemukannya.

So, buat yang mau tau jawabannya langsung simak ke bawah aja deh. Nah, biar lebih mudah, untuk part sebelumnya bisa di baca disini

Diera Diary

Diera pamit sama orang tua nya untuk makan malam di luar karena tadi Pasya memintanya untuk segera datang ke kaffe yang tak jauh dari rumahnya. Ia di tunggu di sana, ada yang mau ia sampein.

Diera sempet menolak, besok aja. Tapi katanya penting. Harus malam ini juga. Ya udah Diera ngalah. Diera membuka tas sandangnya untuk mengambil hapenya buat ngabarin Pasya kalau sekarang ia udah ada di depan kaffe. Diera tersenyum melihat isi tas nya. Bukunya Rian tadi siang yang ketinggalan nggak sengaja ke bawa,

Deringan bunyi ponsel mengaget kannya. Ternyata SMS balesan dari Pasya yang memintanya untuk langsung masuk aja.di tunggu di meja nomor 23. Dengan mantap Diera melangkah kan kaki ka meja 23 yang ada di pojok ruangan. Ia yakin sosok pria yang duduk membelakanginya adalah Pasya yang sudah menunggu nya sedari tadi. Sampai kemudian….

“RIAN?!” Diera tertegun. Seolah masih nggak percaya sama pandangan di hadapannya.

Rian menoleh sambil tersenyum. Duh manisnya… Diera saja sampai deg-deg an melihatnya…

“Kok loe yang di sini? Bukannya Pasya?” Tanya Diera masih nggak percaya.

“Jadi loe nggak suka. Ya udah gue pulang aja deh,” Rian pura-pura ngambek dan siap-siap untuk pergi.

“Tunggu” Diera segera menarik tangannya. “Jangan datang dan pergi sesuka hati loe. Itu nggak baik.”

Rian kaget karena Diera sengaja mengulang kata-katanya tadi siang untuk menarik perhatiannya. Sejenak Rian terdiam tapi kemudian ia kembali tersenyum.

“duduk dulu yuk” ajak Rian sambil menarik kan kursi untuk Diera.

“eh kita mau ngapain nie?” Tanya Diera setelah beberapa saat mereka saling terdiam “mana pake acara ada Lillyn segala lagi. loe ulang tahun ya?” sambung Diera sebelum Rian menjawab pertannyaan nya.

“Bukan” Rian menggeleng.

“jangan-jangan loe rabun senja ya? Tapi prasan tuh lampu udah terang deh…” tebak Diera ngasal.

“apa an sih?” bantah Rian.

“0 gue tau. Loe pake Lillyn pasti gara-gara loe mau ngerokok tapi nggak bawa korek. Ia kan?”

“ah… loe. Jangan ngeledek gue terus deh” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa.

“jadi kita kesini mau ngapain?” ulang Diera.

Rian diem agak ragu. Ia mengatur napasnya sejenak. Matanya menatap tajam kearahnya yang kemudian di raihnya tangan Diera dan menggenggamnya.

“Diera gue suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian.

Diera terdiam ia masih kaget.

“gi mana? Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian lagi karena Diera masih belum memberikan jawaban.

“nggak” balas Diera sesaat kemudian.

“jadi gue di tolak lagi nie” Rian kecewa sambil melepas kan genggamannya.

“nggak mungkin lah gue nolak jadi pacar cowok keren kayak loe” sambung Diera sambil tersenyum.

“loe tu ya seneng banget ngerjain gue. Emang deh…” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa mendengarnya.

“jadi mulai sekarang kita resmi jadian nih?” Rian memastikan.

“menurut loe?”

Rian tersenyum mendengarnya.

“eh tau nggak sih, tadi nya gue sempet berfikir kalau loe sama kayak hanafi” kata Diera beberapa saat kemudian.

“hanafi?!” Rian Heran. Diera membalas dengan anggukan kepala.

“siapa dia?” Tanya Rian lagi.

Dari suaranya aja jelas terkasan rasa nggak suka. Masa di awal jadian mereka justru yang di sebut malah nama cowok lain.

Diera tidak menjawab. Sebaliknya ia malah mengeluarkan bukunya Rian dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke pada pacar barunya. Rian segera meraihnya, sejenak ia terdiam melihat judulnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Diera.

“emang loe mau jadi ‘ninda’ nya?”

“kenapa nggak? Dia baik, cantik, soleha lagi” balas Diera mantap.

“ya udah kalau gitu sekarang juga kita langsung ke rumah loe” ajak Rian.

“HA?! Mau ngapain?” Diera kaget plus bungung.

“katanya mau jadi ninda. Ya udah kita minta di nikahkan aja besok. Ha ha ha…”

“sembarangan!!!” damprat Diera sewot karena Rian ngerjainnya. Sementara Rian makin ngakak.

“eh tapi ngomong-ngomong Pasya nya mana ya?” Tanya Diera beberapa saat kemudian.

“tuh kan… loe kok malah ngomongin cowok laen lagi sih” Rian sewot.

“bukannya apa. Tadi kan dia yang mint ague kesini. Kok jadi loe yang datang gitu lho”

“0 jadi nggak suka? Ya udah gue pulang aja deh” Rian mau beranjak pergi. Tapi buru-buru di tahan oleh Diera.

“tunggu dulu. Bukan itu maksud gue. Loe jangan salah paham dulu. Gue Cuma…”

“ia, gue tau kok. Gue tadi Cuma ber canda…” Rian kembali duduk di bangkunya “lagian tu orang palingan lagi kencan juga”

“Ha?! Sama siapa?” Diera kaget.

“Hera” balas Rian singkat.

“Hera?! Kok bisa?”

“ya bisa donk.tu orang kan udah lama naksir sama Hera”

“kalau soal itu gue juga udah tau. Maksud gue kok mereka bisa kencan bareng, memang siapa yang nyomblangin?”

“siapa lagi donk. Ya pasti gue lah”

“elo?” Diera makin Heran.

“memangnya kenapa?” Rian balik nanya.

“sulit di percaya. Memangnya sejak kapan loe care sama temen-temen gue. Pa lagi Hera. Masa ia loe bisa nyomblangin mereka” Diera masih berfikir kalau Rian bercanda.

“lho memangnya loe belom tau ya? Tiap 2X seminggu Hera kan datang ke rumah gue. Dia kan jadi guru private nya adek gue” terang Rian lagi.



Lanjut Baca : || ||



Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:04:00 AM

2 komentar:

  1. Keren , vote yang menarik.
    good luck

    ReplyDelete
  2. I like it..
    Semua cerpen di blog ini keren"...

    Mmmmzzz..
    Cerpen kala cinta menyapa...
    Apa kabarnya...

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers