Cerita SMA Diera Diary ~ 06 { Update }

Masih penasaran dengan kalanjutan dari Serial Diera Diary?. Kalau jawabannya emang iya mending lanjut baca postingan berikut ini deh. Soalnya admin emang sengaja muncul dengan Cerita SMA Diera Diary ~ 06. Ngomong - ngomong tinggal satu part lagi lho ketemu sama yang namanya ending. #Cihuiy...

Oh iya, selain cari tau soal kelanjutan ceritannya. Kali aja ada yang belum baca cerita sebelumnya. Mendingan baca dulu gih biar nggak bingung. And nomong - ngomong bisa langsung di baca disini.


Cerita SMA Diera Diary ~ 05


Sudah hampir seminggu berlalu, sepertinya Diera benar-benar menghindar dari melakukan kontak dengan Rian. Bahkan kesehariannya juga lebih banyak diem yang membuat temennya cemas.

“Diera, loe kenapa sih? Akhir-akhir ini kita perhatiin loe kok kayaknya kebanyakan murung deh. Apa loe ada masalah?” Tanya Hera saat mereka ngumpul di kantin pas istirahat sekolah.

“Nggak kok, gue baik-baik aja” elak Diera.

“Kayaknya gue tau deh kenapa” ujar Lilly tiba-tiba sambil tersenyum.

“Kenapa emang?” Anggun penasaran. Diera juga ia takut kalau Lilly tau soal ancamannya Andreani.

“Loe pasti lagi bingung kan?” tebak Lilly lagi. Diera masih terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan.

“Emang Diera bingung kenapa li?” Narnia nggak sabar.

“Biar gue tebak. Pasti saat ini loe bingung mau nerima Pasya jadi pacar loe atau nggak, ia kan?”

“What?!” ujar Diera dan Hera kaget bersamaan.

“Jadi Pasya udah nembak loe ra?” Anggun setengah nggak percaya.

“Loe ngomong apa sih?” dalih Diera kesel.

“Alah ngaku aja deh ma kita-kita. Gue tau kok kemaren sore loe jalan ma Pasya kan. Jujur aja deh?” kata Lilly lagi.

“Emang sih. Tapi gue Cuma….”

“Jadi kemaren loe jalan ama Pasya?” potong Narnia.

Diera mengangguk membenarkan. Karena kemaren sore ia memang jalan bareng sama Pasya. Abis nya tu anak minta tolongnnya sama dia, tapi kan Cuma jalan doank nggak pake nembak segala, lagian dia tau kok Pasya sukanya sama siapa, tapi yang bikin heran kok Lilly bisa tau bahkan bisa menyimpulkan hal yang ngawur gitu.

“Loe kok nggak cerita ma kita sih?” Hera terlihat kecewa.

Diera jadi merasa nggak enak. Sementara temen-temennya terus mendesak. Tapi ia hanya terdiam, perhatiannya terusik sama seseorang yang baru saja berjalan melewati mejannya meninggalkan kantin.

Yups. Ternyara dari tadi Rian duduk di meja yang nggak jauh darinya. Hanya saling membelakangi. Jadi Diera nggak nyadar kalau di kantin itu juga ada Rian dan pasti juga mendengar pembicaraan nya sama temen-temennya tadi.

“Ayo donk ra. Loe kok gitu sih sama kita-kita,” desak Anggun.

“Denger ya. Pasya tu nggak nembak gue, kemaren kita emang jalan bareng, tapi itu karena dia butuh bantuan gue, lagian Lilly kok bisa menyimpulkan hal konyol kayak gitu sih.”

“Bantuin apa?” tanya Hera lagi.

“Ya. Sayangnya gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang,” balas Diera lagi.

“Alah alasan. Bilang aja Pasya beneran nembak elo?” ledek Lilly lagi.

“Nggak,” Diera ngotot.

“Yakin….??” Lilly masih nggak percaya.

“Ah tau deh.”

Diera pergi keluar kantin meninggalkan temen-temennya yang masih kebingunan.

Cerita SMA Diera Diary ~ 06

Diera melepas mukenannya, dan kembali melipatnya. Kemudian segera di masukkan nya kembali kedalam tas. Ia melirik jam tangannya. Masih tersisa hampir setengah jam lagi pukul dua. Hari ini kan dia memang sengaja memutuskan untuk tidak pulang, abisnya ia males bolak-balik cape… apa lagi rumahnya memang lumayan jauh dari sekolah, mendingan ia tetap di sekelah aja deh.

Begitu keluar dari mushola sekolah, Diera berniat untuk langsung ke perpus aja sendiRian. Sekalian mau cari resensi belajarnya, apalagi semua temen-temen deketnya pulang, memang sih tadi Narnia sempet menawari untuk ke rumahnya saja tapi ia tolak.

Pas di beranda Diera nggak sengaja berpapasan sama Rian yang kebetulan juga baru mau keluar. Untuk kali ini Diera sama sekali nggak bisa menghindar untuk sejenak mereka beradu pandang. Tapi Diera buru-buru menalikannya sambil berlalu, di luar dugaan, Rian malah menghampirinya.

“Mau kemana?” yanya Rian.

“Gue?” Diera menunjuk dirinya sendiri. Seolah nggak percaya Rian mau menyapannya duluan.

“Menurut loe?”

“Gak kemana-mana sih. Palingan mau balik ke kelas,” balas Diera kemudian.

“Loe udah makan siang? Kekantin yuk,” ajak Rian.

“HE?!....” Diera berhenti berjalan, pandangannya tertuju kearah Rian dengan Heran.

“Nggak deh, gue masih kenyang makan waktu istirahat tadi,” tolak Diera karena Rian masih menunggu jawabannya.

“Mendingan gue langsung balik ke kelas aja deh, sorry ya gue jalan duluan,” sambung Diera lagi.

“Kenapa? Loe nggak suka gue yang ngajak? Atau loe berharap kalau orang yang ngajak loe itu Pasya?” balas Rian ketus sambil berlalu meninggalkan Diera yang kaget dengan ucapannya.

“Hei Rian, tunggu-tunggu-tunggu,” tahan Diera sambil mengejar dan berhenti tepat di depan Rian.

“Maksud loe ngomong kayak gitu tadi apa sih?” Tanya Diera penasaran.

Rian terdiam menatapnya sejenak, tapi kemudian kembali berlalu dari hadapan Diera yang masih menghadangnya. Diera ingin kembali mengejar ketika tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

Secara bersamaan Rian dan Diera menolah. Pasya?... Rian kembali menatap tajam kearah Diera sebelum akhirnya bener-bener berlalu pergi.

“Hei, ke kantin yuk?” ajak Pasya yang kini ada di depannya mengantikan posisi Rian tadi.

“Nggak deh. Gue masih kenyang” tolak Diera.

“Udah tenang aja. Pokoknya loe harus ikut gue. Gue traktir deh, da yang masih ingin gue tanyain nih, masih masalah kemaren sih, lagian gue juga laper, tapi ogah makan sendiri,” tambah Pasya lagi.

“Tapi….”

0mongan Diera terputus karena Pasya terus memaksanya sambil menarik tangannya untuk ikut mengikutinya menuju kearah kantin. Diera nggak ada pilihan lain selain mengikutinya.

Begitu menginjakkan kakinya di kantin, perhatian Diera langsung tertuju ke meja no 13. Ia bener-bener merasa nggak enak sama Rian yang terus menatapnya. Tapi Pasya segera mengajak nya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Rian.

“0h ya loe mau makan apa? Biar gue pesenin?” Tanya Pasya

“E..gue…” Diera bingung.

“Gimana kalau miso sama es rumput laut aja?” tawar Pasya.

“Terserah loe aja deh,”

“Kalau gitu loe tunggu di sini dulu ya. Biar gue pesenin,”

Begitu Pasya pergi, Diera terus menunduk karena ia tau kalau Rian sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Sampai kemudian ia di kejutkan akan keprgian Rian yang lewat di sampingnya meninggalkan kantin. Bahkan mengabaikan teriakan ke dua temen-temennya yang tadi duduk bersamaanya.

“Kenapa tu orang. Tadi dia sendiri yang bilang laper banget. Lah sekarang mesen juga belom udah main ngacir aja,” guman temen-temennya Rian yang sempet di dengar Diera sehingga membuat nya makin merasa nggak enak.

“Hei kok bengong?” teguran Pasya mengagetkannya.

“Eh enggak kok,” Diera mencoba tersenyum.

“Loe kok sendiri aja sih tadi. Temen-temen loe pada kemana?” Tanya Pasya beberapa saat kemudian.

“Semuanya pulang.”

“Hera juga?” tanya Pasya lagi.

“Ye nia anak. Udah di bilang semuanya juga.”

“He he… lho loe sendiri kenapa nggak pulang juga?”

“Nggak ah. Males aja, lagian rumah gue kan jauh, capek aja kalau harus bolak-balik gitu.”

“0…”

“Bullet” balas Diera singkat.

“Hemm… apanya?” Pasya Heran.

“Katanya ‘0’ ya bullet.”

“ha, ha, bisa aja loe.”

Sejenak obrolan mereka terputus akan kedatangana pelayan kantin yang mengantarkan pesanannya. Sambil menikmati hidangan sekali-kali mereka masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul.

Cerita SMA Diera Diary ~ 06

Keesokan harinya, Diera sengaja memisahkan diri dari temen-temennya. Ia segera melangkah kan kaki menuju taman belakang sekolah karena tadi ia nggak sengaja melihat bayangan Rian yang menuju kesana sambil menenteng buku.

“Pasti tu orang duduk di bawah pohon jambu lagi deh, kayak biasanya” batin Diera sendiri.

Dan bener saja. Rian tampak asyik duduk di sana sambil baca buku. Diera ragu untuk menghampirinya, memang sih ia masih merasa nggak enak soal kejadian kemaren. Tapi kan ia juga nggak tau ntar mau ngomong apa sama Rian.

“Apa hobby loe emang ngintipin gue diem-diem ya?”

Diera kaget nggak nyangka kalau Rian kini sudah ada di depannya.

“Eh anu. Nggak kok, gue tadi nggak sengaja lewat sini,” Diera jadi salting.

“0h ya? Kebetulan banget kayaknya,” ledek Rian.

“Y,a udah lah kalau loe nggak suka” Diera siap balik kanan tapi ia kaget karena justru Rian malah menahannya dengan cara menarik tangannya.

“Jangan datang dan pergi sesuka hati loe, itu nggak baik.”

Kata-kata Rian membuat Diera kaget. Maksudnya apa?

“Duduk dulu yuk” ajak Rian tanpa melepas pegangannya dan kembali berjalan ke bangku di bawah pohon jambu tempatnya tadu duduk. Diera terpaksa manut. Abis ia bingung nggak tau harus gimana lagi.

“Loe mau ngomong apa?” Tanya Rian setelah beberapa saat mereka terdiam.

“E gue…” Diera masih ragu.

“Kenapa?” desak Rian.

“Ah ya, gue kesini mau ngembaliin ini. Sorry kelamaan,” Diera mengeluarkan jaket dari dalam tas yang tadi di bawannya.

“0…” Rian mengambil jaketnya.

“Bullet” ujar Diera singkat.

“Maksudnya?” Rian Heran.

“ya 0 nya lah, kan bullet,” balas Diera lagi sambil tersenyum, tak urung Rian ikut tersenyum juga.

“Emm, makasaih ya,” kata Diera lagi. Rian hanya mengangguk, sejenak mereka kembali terdiam sampai kemudian Diera berdiri siap pamit pergi.

“Jadi loe kesini Cuma mau balikin ni jaket aja?”

Diera berbalik, nggak jadi pergi.

“Maksud loe?” Tanya Diera Heran, tapi Rian diem saja bahkan perhatiannya malah beralih kerah buku yang tadi di bacanya.

“Emang tadi nya loe piker gue kesini mau ngapain?” Tanya Diera yang masih penasaran sambil kembali duduk di samping Rian.

“Nggak… tadinya gue pikir ada yang mau loe sampein ama gue, tapi kalau emang nggak ada ya udah lah. Mendingan buruan pergi aja deh sana loe,” balas Rian tanpa menoleh.

“Sebenarnya emang ada sih,” guman Diera lirih sambil berbalik pergi.


“Kalau emang ada kok langsung ngacir?”

“HE?!” Diera kaget, nggak nyangka Rian mendengar gumannannya tadi.

“Atau loe takut ada yang ngeliat kita?” sindir Rian lagi.

Dan ia juga kaget karena Diera malah mengangguk membenarkan. Sementara Diera sendiri bingung dari mana Rian tau kalau ia takut smaa ancaman anderani.

Lama Rian menatap Diera yang masih berdiri mematung sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan pergi.

“Eh ya, loe mau kenama?” tahan Diera.

“Balik kekelas,” balas Rian cuek.

“Tapi gue kan belom ngomong.”

“Ya udah kalau mau ngomong- ngomong aja cepetan. Udah gerah gue.”

Diera kembali terdiam karena Rian terus menatapnya.

“Eh…” Diera makin salting “Gue…”

“Rian!!!”

Ucapan Diera terputus oleh teriakan seseorang yang berlari menuju kearah mereka.

“Ada apa ndre?” Tanya Rian begitu temennya yang tak lain adalah Andre mendekat.

“Ada yang pengen gue omongin nih ma loe.” balas Andre yang masih ngos-ngosan.

“Sekarang?” Tanya Rian lagi. Andre langsung mengangguk.

“Mau ngomong apa?”

“Loe bisa ikut gue bentar nggak?” Andre agak ragu-ragu ngomong karena melihat Diera masih ada disana.

“Ya udah yuks.”

“Sorry ya ra, kalau gue ngeganggu. Tapi Rian nya gue pinjem dulu, tenang. Gue Cuma bentar kok,” kata Andre sebelum pergi.

“Nggak papa kok nyantai aja lagi.” balas Diera sambil tersenyum.

Diera terus menatap kepergian keduannya sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga bersiap untuk beranjak pegi ketika matanya mengangkap buku ‘ku tunggu kamu di pelaminan’ karyanya ‘jon hariyadi’ yang tergeletak di sampingnya. Sepertinya itu buku yang di baca sama Rian tadi deh. Dan ketinggalan karena Andre mengajaknya terburu-buru.

Diera membolak balik setiap halamannya. Kayaknya seru juga. Ia kembali duduk dan keasyikan membaca sehingga ia tidak menyadari kehadiran Andreani dan kelima temennya yang kini sudah ada di depannya yang telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

“Ternyata loe sama sekali nggak ndenger omongan gue kamaren ya?”

Diera kaget, dan langsung menoleh Andreani.

“Ya ini gue. Kenapa? Kaget ha?!”

“Andreani gue Cuma…”

“Cuma apa ha?!” bentak Andreani sambil mendorong tubuh Diera sebelum gadis tersebut sempet menyelesaikan ucapannya. Tapi untunglah Diera nggak sempai jatuh karean ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Semuannya kaget karena orang tersebut adalah Rian.

“Apa-apaan ne!” bentak Rian ke Andreani cs.

“Rian jangan salah paham dulu, gue Cuma mau kasi pelajaran buat cewek nggak tau diri ini” terang Andreani sambil menuding ke wajah Diera yang masih menunduk.

“Cewek nggak tau diri? Maksudnya?” Rian Heran.

Diera menatap Andreani dengan tatapan memohon agar tuh orang nggak ngomong macem-macem.

“Ia. Loe tau nggak sih kalau dia…”

“Andreani cukup!!” potong Diera.

“Kenapa? Biar gue ngomong. Kayaknya Rian juga harus tau deh,” balas Andreani lagi.

Rian semakin Heran jadinya.

“Sebenarnya ada apa sih?’

“Nggak ada apa-apa, yuk kita pergi.” ajak Diera sambil menarik Rian pergi.

Tapi Angela menghalangi.

“Ya udah. Gue juga pengen tau sebenarnya ada apa?” Rian akhirnya ngalah.

“Sekarang loe mau ngomong apa? Cepetan,” Tanya Rian ke Andreani sambil menatap tajam Diera yang udah lemes.

“Loe beneran mau tau?”

“Nggak usah muter-muter. To the point aja deh.” Rian nggak sabar.

“Diera suka sama loe” ujar Andreani enteng. Diera kaget. Andreani bener-bener mambocorkan rahasianya.

“Itu doang?” ekspresi Rian yang cukup cuek bener-bener di luar dugaan semuannya.

“Loe kok nyantai gitu sih?” angela nggak percaya.

“Lho emangnya kenapa kalau Diera suka sama gue? Gue juga udah tau kok, tapi… emmm, bukannya kalian semua juga suka kan sama gue?” balas Rian nyantai. Andreani cs kehabisan kata-kata.

“Loe udah tau tapi ngediemin aja dia deket deket ama elo?” Andreani masih nggak percaya.

“Jangan bilang kalau loe juga suka sama dia?” tambah angela.

“Kalau ia trus kenapa? Emang gue juga suka sama dia kok. Kalian keberatan?” sahut Rian nyantai.

“Rian loe?!” tunjuk Andreani yang akhirnya milih pergi di ikuti temen-temennya. Rian menoleh ke sampingnya menatap Diera yang sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Kayaknya dia masih nggak percaya deh ma hal barusan yang di dengarnya.

“Maksud loe tadi ngomong kayak gitu apa sih?” Tanya Diera.

“Yang mana?” Rian pura-pura lupa.

Tapi Diera langsung melotot manatapnya.

“0 yang itu. Kalau gue bilang gue suka sama loe?”

Diera mengangguk.

“Lho emangnya ada yang salah?” Rian santai.

“Ya iya lah. Maksudnya apa? Loe nembak gue?”

“Emangnya loe nggak suka?” Rian balik masih dengan gayanya yang cuek.

“Jelas aja gue nggak suka,” teriak Diera sepontan.

Kali ini gentian Rian yang kaget plus syok.

“Maksudnya loe nolak gue?” Rian masih nggak yakin sama pendengarannya barusan. Diera mengangguk mantap.

“Sentu saja. Soalnya gue…”

“Kenapa?” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya. Rasa kecewa jelas terpancar dari wajahnya.

“Apa karena…” Rian tidak meneruskan ucapannya. Perhatiannya tertuju kearah Pasya yang berdiri tak jauh di belakang Diera. Sepertinya Pasya sudah lama berada di sana karena penasaran Diera berbalik.

“Pasya?!” Diera kaget.

“0 jadi kalian berdua udah jadian?” Tanya Pasya Heran tanpa memperdulukan ekspresi Diera yang masih kaget menyadari kehadirannya.

“Nggak!”” bantah Diera cepat. Rian hanya terdiam menanggapinya.

“Lho tadi bukannya Rian udah nembak loe ya. Emang loe tolak. Kenapa?” Tanya Pasya keDiera.

“Loe masih berani Tanya kenapa?” sindir Rian. Diera diem aja mendengarnya, sementara Pasya malah bingung. Nggak ngerti apa maksud Rian ngomong kayak gitu sampai akhirnya Rian memilih berbalik pergi.

“Eh ra. Bukan karena gue kan?” Tanya Pasya ke Diera.

“Ya bukan lah. Nggak da hubungannya ma loe. Lagian loe kan sukannya sama Hera. Tadi gue Cuma nggak terima aja. Abis masa dia nembak guenya kayak gitu. Nggak ada romantis nya dikit,” sahut Diera sambil tersenyum dan sengaja mengeraskan volume suaranya.

Sementara itu Rian langsung menghentikan langkahnya.

“0h kirain… ya udah, loe ikut gue yuk. Projek kita belom selesai ne. Gue kan belom jadian ma Hera. Lagian loe kan udah janji mak comblang buat gue,” balas Pasya tersenyum dan sepertinya ia juga sengaja mengeraaskan pembicaraannya karena ia tau saat ini Rian pasti masih menguping pembicaraan mereka berdua.

Rian berbalik. Tapi sayang Pasya udah duluan membawa Diera pergi sambil tersenyum puas karena berhasil ngerjain Rian.

Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 07

~ With Love ~ Ana Merya ~


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 3:43:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers