Cerbung Love Is Sweet But Unpredictable ~ 03

Keasikan ikut '30 Days Blog Challenge' sampai lupa kalau masih ada hutang cerbung yang harus di selesein. Ck ck ck, kesian ya. So akhrinya, cerbung Love Is Sweet But Unpredictable part 3 kembali muncul. Tapi agak pendek ya, soalnya lagi males nulis #ditabok.

Oh iya. Sama satu lagi. Berhubung ini cerbung, so biar nyambung sama jalan ceritanya mendingan cek dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya....

Love Is Sweet But Unpredictable
Love Is Sweet But Unpredictable

Begitu jam istirahat berakhir, Vhany kembali masuk kekelasnya. Tatapan seisi kelas masih ia dapatkan. Terlebih ketika dengan jelas mereka melihat Kei yang lagi - lagi mengantar dirinya sampai kemuka pintu sebelum kemudian balik kekelasnya. Tapi kali ini Vhany cuek saja. Hatinya sedang senang, jadi ia tidak akan merusaknya dengan tatapan iri teman temannya.

"Cie cie cie, yang baru jadian. Mesra amat kesannya," komentar Ana membuat anak anak yang lain _ Andini cs lebih tepatnya _ merasa kesel.

"Apaan sih, biasa aja keles. Kayak nggak pernah pacaran aja," balas Vhany malu - malu. Ana hanya tertawa. Ikut seneng melihat sahabatnya seneng.

"Abis dari mana aja tadi, gue susul ke kantin kok nggak ada?" tanya Ana lagi.

Vhany tidak menjawab, gadis itu sibuk mengingat - ingat. "Oh, itu. Nggak ada, tadi nyantai di bangku bawah pohon jambu depan lapangan."

"Ngapain aja loe?" selidik Ana lagi.

"Apaan sih, pengen tau aja," Vhany terlihat malu malu.

"Asik ni ya. Kapan - kapan gue bisa donk minta tolong."

"Minta tolong apaan?" tanya Vhany heran.

Ana menatapnya sambil tersenyum misterius. "Jodohin gue sama temen deketnya Kei, si Arysil."

"Ha ha ha, dia ngarep..." Vhany ikut tertawa membalas candaan sahabatnya.

"Eh berisik tau nggak sih. Kalau mau ngobrol itu di luar!"

Ana dan Vhany menoleh keasal suara. Lagi lagi suara cempreng Andini. Heran, tu anak demen banget ngeobral sirik.

"Vhan, kita ngobrolnya nanti aja deh. Ada yang panas tuh, takutnya ntar kalau kepanasan malah meledak lagi," gumam Ana kearah Vhany.

"Loe ngomong apa barusan An? Loe nyindir gue?!" Andini yang sepertinya mendegar ucapan Ana barusan langsung menyambar.

Tak langsung membalas, Ana menoleh kearah Andini. Sebuah senyum ia lemparkan kearah gadis yang sedang marah tersebut sembari mulutnya berujar. "Gue bilang, no di luar banyak bebek di kunci setang. Makanya jalannya kekiri terus. Kalau nggak percaya, coba aja loe cek ke parkiran."

Selesai berkata, Ana dengan cuek mengalihkan tatapannya dari Andini sembari pasang raut muka biasa. Mengeluarkan buku dari dalam tas dengan santainya. Sampai sebuah pukulan lirih dari sikut si Vhany membuatnya menoleh. Kerutan di kening gadis itu hanya ia balas dengan senyuman dan angkat bahu. Membuat Vhany hanya mampu mengeleng - gelengkan kepala. Ada ada saja.

Tak berapa lama waktu berselang, Pak Gugun muncul untuk memberikan pelajaran selanjutnya.

Seperti yang di janjikan, sepulang sekolah Kei benar - benar menjemput Vhany ke kelasnya untuk pulang bersama. Dan tatapan sirik masih ia dapatkan dari beberapa anak - anak. Khususnya sih Andini Cs. Tapi lagi lagi, Vhany mecoba cuek. Bahkan ia dengan sengaja hampir berteriak meneriakan nama Kei, lengkap dengan gaya manja yang baru hari ini di cobanya. Sambil melangkah ia sengaja melirik kearah Andini sembari dalam hati bergumam, sekali - kali bikin panas hati orang nggak papa kali ya? ha ha ha.

"Udah beres?" tanya Kei kearah Vhany yang hanya di balas dengan anggukan.

"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak pria itu. Dan seperti sebelumnya, tanpa permisi tangannya kembali meraih tangan Vhany. Bergandengan tangan berjalan kearah parkiran sekolah. Walau debaran jantungnya mengila, Vhany tetap tidak berniat untuk melepaskan tangan itu. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa suka. Walau sebenernya malu juga sih. Secara teman - temannya banyak yang melihat mereka dengan tatapan anehnya. Atau bisa jadi juga tatapan iri padanya.

Love Is Sweet But Unpredictable


"Loe nggak makan siang bareng Kei?" tanya Ana, saat itu jam istirahat.

Seminggu paska Vhany dan Kei jadian, gadis itu memang biasanya menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Entah itu sekedar makan siang di kantin atau cuma ngobrol ngalor ngidul. Ana sering di ajak sih, tapi ia selalu menolak. Alasannya simple, mereka baru jadian jadi mungkin butuh waktu untuk berduaan. Yah anggap saja dia adalah sahabat yang pengertian.

"Enggak. Emangnya gue sama Kei itu prangko bareng terus," sahut Vhany yang membuat Ana mencibir.

"Loe kan emang kayak perangko.'

Kali ini Vhany tersenyum tanpa membalas. Tak urung dalam hati ia membenarkan. Selama ini ia memang selalu bersama Kei, tapi tadi pacarnya mengabari kalau mereka tidak bisa makan bareng karena Kei ada jadwal latihan basket.

"Eh, An. Loe tunggu di sini bentar ya. Gue ke toilet dulu. Kebelet nih," kata Vhany tiba - tiba membuat Ana menghentikan langkahnya menuju kantin. Gadis itu menoleh. Bahkan tanpa menunggu balasan darinya, Vhany sudah membelokan diri kearah kanan. Arah ke kamar kecil sekolah.

Begitu meninggalkan Ana, Vhany langsung masuk kedalam toilet sekolah yang kebetulan sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu rame kalau pas jam istirahat. Tak ingin terlalu memikirkanya, Vhany segera menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai ia keluar. Untuk sejenak langkahnya terhenti. Matanya menatap lurus kearah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Sekedar memperhatikan penampilannya agat tidak terlihat kusut. Setelah yakin, ia segera berlalu kearah pintu. Tak ingin membuat Ana menunggunya terlalu lama.

Tepat saat Vhany memutar knop pintu, ia merasa ada yang aneh. Pintunya mendadak tidak bisa terbuka. Bahkan setelah ia coba berulang kali. Sepertinya ada yang tidak beres. Pasti ada yang sengaja mengunci pintu tersebut dari luar. Dan kalau di pikir lagi, sebenarnya tadi ia juga sempat merasa ada yang aneh. Kenapa pas jam istriahat toilet sekolah mereka kosong, biasanya kan pasti ada aja anak yang kesana. Kesadaran baru muncul, jangan - jangan ada yang sengaja mengerjai dirinya.

Yakin akan hal itu, dengan sekuat tenaga Vhany mengedor - gedor pintu tersebut sembari mulutnya berteriak nyaring.

"Hoi, siapa sih di luar. Bukain!" teriak Vhany sambil terus mengedor - gedor pintu tersebut.

Namun hasilnya nihil. Suasana terdengar hening. Tambahan lagi, toilet sekolah mereka kebetulan memang di ujung yang jauh dari ruang berpenghuni. Membuat Vhany makin kelabakan. Karena pada dasarnya ia takut sendirian, tepatnya ia takut hantu. Apalagi dengan maraknya film tentang sekolah berhantu yang sering di tonton oleh adiknya. Membuatnya semakin merinding.

"Siapa sih yang kurang kerjaan. Woi, bukain. Bercandaannya beneran nggak lucu tau!"

Merasa kalau apa yang ia lakukan adalah sia - sia, Vhany akhirnya menghentikan usahanya. Dirabanya saku bajunya untuk mencari hanphond miliknya. Tapi dasar sedang sial, benda tersebut tidak ada. Sepertinya ketinggalan di dalam tas sekolah. Membuat gadis itu semakin berang. Satu satunya yang bisa ia lakukan saat ini adalah pasrah menunggu orang yang datang. Atau paling tidak Ana akan datang mencarinya karena menyadari kalau ia tak segera muncul.

Acara menunggu yang Vhany lakukan ternyata tidak sesimple dugaannya. Setelah berkali - kali merlirik jam di tangan, tapi sepertinya tidak ada orang lewat, bahkan Ana juga tidak muncul - muncul. Membuat gadis itu semakin emosi. Keterlaluan banget sih tu orang, masa sahabatnya menghilang dia tetap santai.

Bel sekolah tanda jam istriahat samar terdengar. Vhany juga tidak punya semangat lagi untuk mengedor pintu. Kali ini ia benar benar pasrah. Terlebih ketika ia tau kalau tidak ada celah untuk keluar selain pintu yang terkunci tersebut. Sambil duduk di sudut gadis itu sibuk merenung. Tak sadar air mata mulai menetes membasahi pipinya. Ia tidak bercanda ketika ia katakan kalau saat ini ia takut. Bagaimana sekiranya tidak ada yang menyadari keberadaan dirinya disana? Dan lagi, ia benar benar benci kalau harus sendirian! Terlebih pikiran tentang hantu memperburuk keadaan.

Tak tau berapa lama Vhany menangis, tiba - tiba terdengar gedoran pintu dari luar. Di susul oleh suara yang memanggil - manggil namanya. Samar, sepertinya Vhany mengenali pemilik suara tersebut. Suara Ana, teman sebangkunya.

"Vhany, loe dimana? Di dalam nggak? Kalau iya, jawab donk?"

Dengan tergesa Vhany bangkit berdiri. Ia berjanji akan memarahi gadis itu begitu keluar karena terlalu lama mencari dirinya. Dasar sahabat tidak berprike'sahabatan. Sedari tadi hilang baru kini dia kecarian. Tapi apapun itu, pikirkan nanti. Yang penting sekarang ia harus keluar terlebih dahulu.

Tepat saat ia mendegar suara langkah kaki yang berniat menjauh, Vhany kembali mengedor pintu seperti sebelumnya.

"Iya An. Tolongin gue, gue ada di dalam."

"Loe ngapain kurang kerjaan ngedekam di kamar mandi?"

Pertanyaan Ana membuat Vhany gusar. Dudul juga tu anak. Hari gini siapa sih yang kurang kerjaan mau maunya mengunci diri di kamar mandi. Nanya kok bikin emosi.

"Ntar gue jelasin. Yang jelas sekarang bantuin gue keluar dari sini. Gue nggak bisa keluar, pintunya terkunci."

"Kok bisa? Kuncinya dimana?"

Vhany tidak langsung menjawab. Terlebih dahulu menyeka air matanya, gadis itu menghembuskan nafas kesel. Sejak kapan sih Ana jadi ikutan lemot kayak Jeny? Udah di bilang dia terkunci, pake nanyain kuncinya dimana. La kalau dia tau kan sudah sedari tadi ia keluar. Beneran nguras emosi banget tuh anak.

"Ya gue nggak tau Ana. Sekarang loe tanyain mang Asep deh. Buruan," sahut Vhany menginteruksi.

"Oke, loe tunggu di situ. Jangan kemana mana. Gue cari kunci dulu," terdengar teriakan dari luar di susul suara langkah kaki yang menjauh.

Vhany hanya terdiam tanpa membalas. Sedikit banyak ia merasa lega karena akhirnya ia akan bisa kembali bernapas lega. Walau begitu, tak urung mulutnya sibuk mengerutu.

"Jelas aja gue nunggu, secara gimana ceritanya gue mau kemana mana kalau udah jelas jelas lagi terkunci. Dasar dudul..."

To Be continue....
Detail Cerbung


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 2:50:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers