Cerita cinta Izinkan aku mencintaimu

Hasil ngebengong sambil mengalau abis dengerin musik miliknya Republik izinkan aku mencintaimu di kantor yang nggak ada siapa soapa. Dan siapa yang menduga bisa jadi cerita pendek beginian. Ya biasalah ide nyasar yang tiba tiba mampir. Lumayan, buat ngisi blog yang setelah beberapa saat yang lalu sempat terabaikan #plaks.

So langsung simak aja deh cerpen selingan berikut Izinkan aku mencintaimu yang bisa langsung di baca di bawah. Selamat membaca ya guys....

Cerita cinta
Izinkan aku mencintaimu

Kau tau, tak semua cinta harus di ungkapkan.
Tapi sayangnya yang terpendam seringnya terlalu menyesakan.


Suara sang guru yang masih menjelaskan tentang sistem peredaran darah manusia sama sekali tak mampu menarik perhatian Alyasa. Sesekali mata gadis itu terbang menatap melewati jedela kaca di samping meja kelasnya. Menatap langit biru baru kemudian kembali munliskan kata di kertas yang ada di hadapan. Sekedar mencari inspirasi untuk bahan tulisannya. Tak jarang bibirnya tampak tersenyum samar.

Selang beberapa saat kemudian, bel tanda istirahat pun terdengar. Masing - masing siswa sibuk dengan agendanya. Ada yang langsung ke kantin, ada yang ke perpustakan. Mengabaikan Alyasa yang masih terjebak dalam dunia imaginasinya.

"Hayo loe nulis apaan nih?" tanya Catrin sambil menarik buku Alyasa tanpa permisi. Bahkan sama sekali tidak merasa takut ketika melihat Alyasa yang merasa keberatan atas tidakannya dan berusaha untuk meraih bukunya kembali.

"Busyed, sedari tadi bukannya dengerin pak Alvino ngajar loe malah asikan nulis puisi cinta?" ledek Catrin dengan raut wajah tak percaya, Alyasa hanya angkat bahu. Dengan cepat di raih bukunya kembali dan segera memasukannya kedalam tas, sementara Catrin masih berdiri di hadapan dengan tatapan memperhatikan.

"Jangan bilang kalau puisi itu buat Nathan?"

"Tentu saja bukan. Puisi ini buat gue sendiri tau."

"Tapi ungakapan perasaan buat dia kan?" sambung Catrin cepat. Kali ini Alyasa hanya nyengir. Percuma membantah. Teman dekatnya yang satu itu sudah cukup hapal dengan dirinya yang memang sedang kasamaran pada Nathan, kakak kelasnya yang selama ini ia sukai diam - diam.

"Eh denger ya Alyasa sayang. Dari pada loe menuh - menuhin buku loe sama puisi yang cuma loe baca sendiri, mendingan loe langsung nyatain langsung sama dia."

"Gue?" tunjuk Alyasa pada wajahnya sendiri. "Nyatain langsung sama dia? Heh, mendingan loe suruh gue loncat dari gedung aja deh."

Mendengar itu gantian Catrin yang mencibir.

"Terus sampai kapan loe mau diam diam suka sama dia? Selain loe nya yang nelangsa, dia juga nggak bakal tau. Lagian mumpung dia jomblo ini," nasehat Catrin lagi.

"Dari mana loe tau dia itu jomblo?" tanya Alyasa terlihat tertarik.

"Heloooo, gue nggak terlalu kudet juga kali. Kalau loe belum tau, Nathan itu temen les bahasa inggris gue. Dan kemaren itu gue sempet ngobrol sama dia. Dan karena gue tau kalau loe cinta banget sama dia makanya iseng gue pura - pura nanya."

"Temen les? Loe nggak pernah cerita," komentar Alyasa sambil berpikir.

"Benarkah?" Catrin ikutan bingung. "Oh mungkin gue lupa," sambung gadis itu terlihat masa bodoh. "Yang jelas bukan itu intinya. Loe harus ngaku kalau loe suka sama dia."

"OGAH! Lagian loe ada ada aja sih. Gue ngobrol sama dia aja nggak pernah, masa tiba - tiba nyatain cinta. Apa kata dunia?"

"Jelasnya apa kata gue! Loe ngobrol sama dia aja nggak pernah, bisa - bisanya loe jatuh cinta," ralat Catrin balik.

Mulut Alyasa terbuka untuk membalas, tapi kemudian ia tutup kembali. Selain karena tatapan tajam Catrin yang menatap lurus kearahnya, ia juga tidak tau mau membalas apa.

"Pokoknya cukup loe yang tau kalau gue suka sama Nathan. Titik," tandas Alyasa tegas.

"Maaf, Nathan yang di maksut itu bukan gue kan?"

Secara sepontan Alyasa dan Catrin segera menoleh kearah sumber suara. Tepat di pintu masuk tanpak seorang pemuda yang berdiri ragu. Antara terus melangkah masuk atau kembali berbalik. Sementara Alyasa sendiri segera kehilangan suaranya ketika menyadari siapa sosok tersebut. Astaga, bagaimana pria itu bisa berada disini? Salah, tepatnya bagaimana caranya untuk mengatakan kalau pria yang di maksut itu banar - benar dia?

"Nathan, kok loe bisa ada disini?" Catrin yang pertama sekali buka mulut untuk menyelamatkan situasi, sementara Alyasa masih terdiam bagai patung.

"Ehem, kebetulan tadi gue mau ke ruangan guru. Dan karena gue inget loe di kelas ini sekalian gue juga mau balikin buku yang gue pinjem kemaren," balas Nathan sambil melangkah menghampiri Catrin dan menyodorkan buku yang ia bawa.

Setelah sebelumnya sempat melirik kearah Alyasa, Catrin segera meraih buku tersebut.

"Sebenernya loe nggak harus buru - buru balikin kok."

Nathan hanya angkat bahu. Dan entah kenapa suanana mendadak hening.

"Oh ya, kenalin ini temen gue, Alyasa," kata Catrin sambil menoleh kearah Alyasa. "Dan Alyasa, kenalin. Nathan, dia temen les gue."

"Nathan."

"Alyasa," balas Alyasa cangung. Hanya itu lah satu kata yang berhasil melewati tenggorokannya setelah sempat shock beberapa saat yang lalu.

"Ya sudah deh, kalau gitu gue pergi dulu ya," kata Nathan kemudian. "Dan ngomong - ngomong, sory ya. Gue ngeganggu pembicaraan kalian tadi," sambung Nathan lagi. Catrin hanya melirik kearah Alyasa yang hanya melemparkan senyum hambar tanpa berkata apa - apa.

Sungguh, Catrin ingin sekali rasanya menjitak kepala sahabatnya saat itu juga. Terlebih ketika melihat Alyasa yang hanya terdiam dan terpaku saat melihat Nathan hilang.

"Ya ampun Alyasa, loe kenapa diam aja kayak orang oon gitu."

"Astaga Catrin. Terus gue harus gimana?" Alyasa balik bertanya seperti orang bodoh.

"Ya loe bilang kek, kalau orang itu emang dia. Atau apa kek. Ini tu kesempatan bagus buat loe ngobrol sama dia, kenapa malah loe sia siain?"

"Kesempatan bagus?" ulang Alyasa setengah bergumam. "Kesempatan bagus loe bilang? Masih untung tau nggak sih gue nggak langsung pinsan karena shock ketika melihat dia tiba - tiba muncul menginterupsi pembicaraan kita. Dan parahnya kita emang lagi ngobrolin dia. Astaga Catrin, gue bener - bener berharap kalau bumi bakal nelen gue saat ini juga tau nggak sih."

"Lebay," cibir Catrin tanpa suara. Hanya gerak bibirnya saja yang mampu melemparkan kalimat itu. Terlebih ia juga memang tidak bisa menyalahkan Alyasa. Walau ia juga tidak pernah menduga kalau Nathan akan menghampirinya. Bahkan disaat mereka sedang membicarakan dirinya.

"Terus, loe mau ngapain sekarang?"

"Gue nggak tau," Alyasa hanya menggeleng lemah.


Sesekali Catrin melirik kearah Alyasa yang duduk di meja di seberang dirinya. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak insident ketahuan Nathan waktu itu, sahabatnya tetap terdiam. Bahkan Catrin menyadari kalau gadis itu sedikit berubah. Tidak adalagi kalimat pujian yang biasanya meluncur dari bibir nya yang bercerita tentang Nathan padanya. Atau coretan puisi yang sering Alyasa tulis di saat guru sedang mengajar di kelasnya. Intinya gadis itu benar - benar berubah.

Tepat setelah bel istirahat terdengar, Catrin dengan gesit berjalan menghampiri Alyasa sebelum gadis itu sempat berlalu pergi seperti biasanya.

"Alyasa, tunggu dulu.

"Ada apa?" tanya Alyasa tanpa minat. Bahkan gadis itu sama sekali tidak menoleh kearah Catrin. Perhatiannya ia tujukan kearah buku - buku yang ada dihadapannya. Menyibukan diri untuk merapikan semua itu.

"Loe marah sama gue ya?"

"Kenapa gue harus marah sama loe?" Alyasa balik bertanya.

Catrin terdiam. Itu dia yang membuat ia bingung. Walau ia tau sikap Alyasa barubah padanya, tapi ia tidak tau alasan akan hal itu. Karena itulah makanya ia bertanya.

"Karena Nathan mungkin?" gumam Catrin lirih.

"Memangnya Nathan kenapa?" tanya Alyasa.

Catrin tampak mengembuskan nafas lelah. Setelah terlebih dahulu terdiam, matanya menatap lurus kearah sahabatnya yang kini juga sedang menatapnya. "Justru itu gue nggak tau kenapa? Tapi gue yakin dia ada hubungannya. Sikap loe berubah setelah loe ketemu sama dia."

"Loe nggak tau kenapa? Loe tau dengan pasti Catrin, kalau gue suka sama dia. Demi apapun, loe lebih tau itu dari siapapun. Tapi loe nggak pernah cerita kalau loe temenan les sama dia. Loe nggak pernah cerita kalau loe pernah ngobrol sama dia dan loe...." Alyasa menghentikan ucapannya ketika menyadari kalau Catrin menatap dengan penuh rasa bersalah padanya.

"Alyasa sebenarnya..." Catrin tanpak ragu untuk membalas. Melihat hal itu gantian Alyasa yang menghela nafas. Sejujurnya ia tidak berniat untuk menghakimi sahabatnya. Terlebih jika ia boleh jujur, sahabatnya sama sekali tidak bersalah. Hanya saja, ia butuh seseorang untuk disalahkan. Dan entah kenapa ia terllau engan untuk menyalahkan diri sendiri yang terlalu takut untuk mengakui perasaanya.

"Kita ngobrolnya entar aja ya. Kayaknya gue masih ada urusan bentar," selesai berkata Alyasa segera berlalu meninggalkan Catrin yang masih berdiri terpaku.

Begitu meninggalkan kelasnya, Alyasa duduk berdiam sendirian di taman sekolah. Sibuk merenungi apa yang terjadi. Kalau di pikir - pikir sikapnya terlalu kekanak - kanakan. Memangya apa salah Catrin? Kenapa ia harus semarah itu. Sepertinya ia harus meminta maaf pada sahabatnya sebelum masalah semakin berlarut - larut.

Tepat saat Alyasa berdiri, Nathan entah muncul dari mana datang menghampiri.

"Ehem, hai."

Sejenak Alyasa terpaku, tidak percaya dengan apa yang ia liat. Sehingga yang ia lakukan hanyalah berdiam diri seperti orang bodoh. Persis seperti yang ia lakukan saat pertama kali mereka berkenalan.

"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Nathan lagi. Lagi - lagi Alyasa hanya membalas dengan anggukan. Ternyata benar apa kata orang di luaran, kalau jatuh cinta cenderung membuat orang menjadi bodoh. -,-

"Sebelumnya gue minta maaf. Tapi gue boleh nanya nggak? Beberapa minggu yang lalu, gue pernah nggak sengaja denger pembicaraan loe sama Catrin. Kalau nggak salah kalian sedang ngobrolin 'Nathan'. Cowok yang loe suka. Oke, bukan gue kepedean. Gue cuma mau memastikan aja, kalau 'Nathan' yang di maksut itu bukan gue kan?"

"Kenapa kalau orang itu beneran loe?" selidik Alyasa takut - takut.

"Ya gue cuma merasa nggak mungkin aja. Secara kita juga nggak pernah ngobrol. Saling kenal juga nggak terlalu. Lagian...." Nathan terlihat ragu.

"Lagian...?" kejar Alyasa curiga.

"Lagian orang yang gue suka itu Catrin," sambung Nathan lirih tapi efeknya sudah lebih mengagetkan dari pada teriakan kencan halilintar di cuaca yang sedang cerah - cerahnya. Alyasa beneran terpaku. Sama sekali tidak pernah menduga akan mendengar pengakuan itu. Terlebih mendengarnya langsung dari mulut orang yang ia suka....

"Karena itu gue berharap kalau orang itu bukan gue," sambung Nathan lagi.

Alyasa masihb terdiam dengan tatapan lurus kearah Nathan yang juga sedang menatapnya. Lama gadis itu berfikir. Sebelum kemudian mulutnya membentuk garis lengkung. Tersenyum simpul. Entah senyum sinis ataupun tulus. Sepertinya untuk kali ini ia akan menuruti saran dari sahabatnya beberapa saat yang lalu. Itu juga kalau Catrin masih pantas menyandang setatus tersebut.

Setelah mengehala nafas untuk sejenak, Alyasa menatap Nathan dalam dalam. Dan mengatakan kalimat itu dengan tegas.

"Sayangnya orang itu beneran elo. Tepatnya gue emang suka sama loe."

Selesai berkata, Alyasa segera berbalik dan melangkah pergi. Sama sekali tidak menoleh lagi. Walau hanya untuk memastikan tatapan shock Nathan padanya. Yang hanya akan memastikan kalau ia harus patah hati bahkan sebelum ia sempat mengenal cinta....

Ya Tuhan!!!...

Ending....

Wukakakakka, Abis nulis cerita pendek satu gue baru ngeh, kalau ternyata gue masih bisa nulis lagi. Yah walau pendek bahkan abal abal dengan ending as always nggak jelasnya. Yang penting sekali ketik selesai. Terlebih gue ngetiknya di tengah tumpukan kerja di kantor baru yang baru seminggu gue jabanin. Huwahahahha....

Udah deh gitu aja...

Salam ~ Ana Merya ~


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 11:57:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers