Cerpen Pendek Mantanku Thank you

Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?... Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^

Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).


Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan.

“hmm, malam ini aku bahagia banget Meg” ucap Hedy sambil menggenggam tanganku.
“aku juga Hed” balasku sambil tersenyum.
Saat itu kami memesan nasi goreng seperti biasanya dan kembali ke rumah jam 8.



“huaammmhh, udah pagi rupanya..” kataku dengan nada lemas. “grrrrrrrrr” terdengar suara handphoneku, tandanya ada sms masuk.
Ohh.. rupanya dari Hedy,
“Meg, entar aku jemput di kampus yahh???” pinta Hedy via sms.
Akupun membalas smsnya
“ iya Hed, aku pulangnya jam 5. Jemput di fakultas aja yahh”.
Setelah itu akupun merapikan tempat tidur dan bergegas mandi. Sekitar pukul 7 pagi aku berangkat ke kampus. Di kampus, aku hanya bisa terdiam melihat teman kelasku tertawa, mereka terlihat sangat bahagia dan seperti tak ada beban dalam hidupnya. “akh, apa yang sedang kupikirkan?”. Hari-hari di kampus kulalui seperti biasa. Akupun menuju fakultas berharap Hedy sudah ada di sana. Tiba-tiba dengan tidak sengaja aku membaca kalimat di sebuah mading “Seseorang tak akan pernah bisa mencintaimu dengan tulus dan apa adanya, jika kamu selalu menyembunyikan kekuranganmu darinya”. Hatiku terasa sakit ketika membaca kalimat itu.
“ ya Tuhan, kuatkan aku. Aku tak ingin kehilangan dia, aku mohon” do’aku dalam hati.
Ketika tiba di fakultas, aku melihat Hedy dan dia tersenyum padaku. Aku bahagia melihatnya, namun ada rasa sesak di dadaku.
“ gimana syg? Ayo naik kita ke taman” katanya sambil tersenyum.
“iya” jawabku.
Saat bersamanya aku takut kehilangannya. Aku mencintainya. Aku tak tahu harus barkata apa padanya jika dia tahu bahwa aku….
”Tuhan, aku ingin jujur” tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulutku. “kenapa Meg? Kamu sakit?” tanya Hedy sambil menoleh ke belakang. “nggak kok Hed, aku cuma mau nyanyii aja kok” jawabku dengan gugup.
Hari itu, aku kebanyakan diam di depan Hedy. Aku selalu mengingat kalimat tadi. Aku takut kehilangan Hedy jika nanti dia tahu kekuranganku. Setelah sampai di taman, Hedy membeli ice cream dan memberikannya padaku.
“ini Megh, buat kamu. Oh ya, aku harap cinta kita gak kayak ice cream ini yahh. Awalnya aja terliahat bagus, namun akhirnya meleleh dan semakin berkurang. Bagi ice cream, angin yang berhembus itu adalah cobaan, sama halnya dengan cinta. Ketika ada masalah ataupun cobaan, ehh malah nyerah trus putus sama pacar. Hahah lucu banget kan ? ternyata cinta itu 11 12 sama ice cream yah.” Kata Hedy sambil tertawa.
“menurutku itu bukan cinta, apakah dalam cinta ada kata menyerah? Apakah dalam cinta semuanya harus sempurna? Cinta itu emosi, meskipun kau tahu dia tak seperti yang kau lihat, tak seperti yang kau anggap, saat kau tahu yang sebenarnya , kau akan tetap mencintainya. Dan itulah cinta yang benar.” Terangku dengan serius.
Saat itu, aku melihat raut wajah Hedy seperti dipenuhi rasa curiga.
“kok serius banget Meg,? Aku kan cuma becanda. Kamu marah yahh?” tanya Hedy .
“nggak kok, aku cuma jelasin aja cinta itu kayak gimana, pulang yuk. Nanti hujan.” Jawabku sambil berdiri.
Setelah itu kamipun pulang. Sesampai di rumah, aku langsung duduk, diam, deg-degan. Aku tak ingin hal yang kutakutkan selama ini terjadi, aku tak ingin kehilangan orang yang kucintai, cinta pertamaku. Setelah makan malam, aku ke kamar. Menulis, menulis, dan menulis. Entah apa yang kupikirkan. “love, how are you? NEVER become mantanku, how are you!!!” itulah kata-kata yang kutulis. Astaga, saat itu kamarku sangat berantakan. Buku, diary, hp, bahkan laptop sangat terlihat berantakan.
“Mega, ibu mau ke rumah tante kamu dulu yah, kunci rumah.” Sahut ibu sambil menutup pintu.
“iya bu.” Jawabku dengan nada sedih.
Malam itu aku sendiri, aku benar-benar sendiri. Entah mengapa saat itu Hedy tidak mengabariku, dia tidak sms aku. Aku menyesal, aku menyesal berlaku emosi di depannya tadi. Rasanya, kunang-kunang berhenti menari, angin berhenti menyapa. Aku berpikir, jika nanti aku jujur padanya tentang kekuranganku, apakah dia masih mencintaiku? Apakah dia masih mau bersamaku? Apakah dia akan menerimaku? Aku lemah tanpanya. Tiap dalam do’a aku meminta agar Tuhan meluluhkan hatiku untuk jujur padanya dan meluluhkan hatinya untuk menerimaku. Aku tak kuat begini terus, tiap hari merasakan galau dan takut kehilangannya. “ Besok aku harus jujur padanya, aku harus bisa. Aku tak ingin bertahan dalam cinta dengan kebohongan ini” semangatku dalam hati. Entah bagaimana caraku tidr malam itu, hati dan pikiranku terasa membisu.

Cerpen Pendek Mantanku Thank you

Esoknya dosen tidak masuk kelas. Aku berjalan sendiri di bawah pepohonan rimbun dekat fakultas. Seperti biasa, aku menunggu Hedy di sana. Saat Hedy sampai, kamipun menyempatkan shalat dzuhur di kampus. Saat-saat seperti itulah yang paling menegangkan bagiku. Aku harus membuka sepatu dan berwudhu di dekatnya. Aku selalu berdo’a agar dia tidak melihatnya. Dan ternyata dia memang tidak pernah memperhatikannya. Tapii..
“Megh, kamu kenapa? Kok kayak nyembunyiin sesuatu? Apaan?” tanya Hedy padaku.
“nggak kok, kaki aku digigit semut, gatel banget…” jawabku bohong.
Aku takkan pernah bisa jujur padanya, karena aku pasti akan kehilangannya. Aku tidak ingin punya mantan pacar. Aku galau karena kaki ini.
Bagaimanapun juga aku harus jujur padanya. Aku harus jujur kalau sebenarnya aku memiliki kelainan, yaitu polidaktili. Aku tak pernah menyangka akan sesulit ini. Aku tak ingin imajinasi menyakitkan itu terus menghampiriku. Itulah yang selalu kupikirkan.
Hari itu Hedy berkata kalau dia menerimaku apa adanya. Saat itu pula aku mmberanikan diri untuk jujur padanya, meskipun saat itu aku sangat gugup dan takut.
“Hed, kamu nggak bohongkan? Kamu mau terima aku apa adanya ?” tanyaku dengan harap.
“kenapa Meg? Iya, aku sayang kamu. Aku nerima kamu , aku cinta kekuranganmu” jawab Hedy dengan lembut.
“sebenarnyaa….” Kataku.
“sebenarnya apa Megh? Kam kenapa sayang?” tanya Hedy dengan raut penuh kasih.
Saat itu, aku merasa hati ini membeku. Membeku untuk selamanya. Aku takut sekali. Sungguh takut. Akupun membalas pertanyaannya.
“kamu lihat Hed” sambil membuka kaos kaki, aku memperlihatkan jari kakiku.
“astaga, Mega, kaki kamu….” Kata Hedy sambil menatap kakiku.
“iya , aku minta maaf . dari awal aku nggak pernah coba jujur sama kamu. Itu semua ku lakukan karena aku takun kehilanganmu Hedh.” Jawabku dengan tangis sendu.
Saat itu Hedy langsung pergi, pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan satu katapun. Mungkin dia kaget melihat semuanya. Polodaktili pada kaki kananku membuat pacarku membenciku. Tapi aku yakin semua ada hikmahnya aku tidak akan pernah menyalahkan takdir akan semua ini.
Malam itu Hedy memutuskan hubungan kami. Ternyata selama ini aku salah. Aku menganggap dia segalanya. Aku kira dia akan menerimaku apa adanya. Ternyata semuanya dusta. Aku mencoba untuk tetap bersabar. Semakin ku coba, semakin sulit. Hari-hari berikutnya ku lalui dengan rasa galau dan smsnya yang selalu menghinaku. “cewek apaan kamu?gak perfect” itulah salah satu smsnya. Aku hanya bisa menangisi semuanya. Aku mencoba untuk tetap tegar. Air mata jatuh tak terbendung lagi. Aku terdiam seribu kata. Tak kusangka dia akan sekasar itu padaku.



Hari berikutnya masih saja ku memikirkannya. Dan dia pun masih terus menghina-hinaku. Aku heran, mengapa dia sekasar itu padaku. Meskipun sekarang dia bukan pacarku lagi, mengapa? Mengapa dia begitu?
Ku memandang awan di langit yang sedang menari-nari, mengikuti irama angin yang berhembus. Aku iri melihat mereka yang begitu indah. Tepat di taman kota, aku memperhatikan mega-mega itu. Tiba-tiba….
“Mega, “ terdengar suara memanggilku.
“iya,?”sambil menoleh ke belakang aku menjawab.
Ternyata Hedy. Hedy menghampiriku dengan raut wajah menyesal. Mungkin dia ingin memberikan sesuatu, seperti ada yang dia sembunyikan.
“Hedy?? “ kataku sambil tersenyum.
“Meg, aku ke sini Cuma mau ngasih ini” katanya sambil menyodorkan kertas.
“Hed, bukannya ini undangan? Kamu.. kamu mau married? Jawabku dengan mata berkaca-kaca.
“iya Megh, kamu datang yahh?” jawabnya dengan nada biasa.
“Hed, bukannya kita baru putus? Kamu nikah dengan siapa? “ kataku sambil menangis di depannya.
“mm, maaf Meg. Dengan teman kelasku di kampus. Oh ya, aku balik dulu yah. Aku harus ketemu dia. Bye” jawab Hedy dengan cepat tanpa gugup.
Astaga, aku tak pernah menyangka dia akan setega itu padaku. Mengapa kau begitu Hed? Mengapa?. Emosi yang tak bisa tertahankan itu membuatku bergerak mengejarnya, mengejar dirinya. Aku terus berlari, berlari berharap agar dia kembali. Tapi, dia tetap saja pergi , menjauh. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa saat itu. Aku masih mengiba cinta dan dirinya. Aku tak ingin dia pergi begitu saja, aku tak ingin dia menjadi milik orang lain, aku ingin dia mengerti perasaanku. Aku sendiri, dia tak mengerti. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk melupakannya karena aku harus bahagia meskipun tak bersamanya. Polidaktili ini bukan penyebab putusnya aku dengannya, tapi ini adalah cara Tuhan menyingkirkan orang munafik itu. Aku bersyukur memilikinya.
Dari sini aku tersadar, cintanya bukanlah benar-benar cinta. Kata sayang dan setia selalu, bukanlah sesuatu yang ingin dia buktikan. Kata apa adanya hanyalah cara dia berdusta. Kini, rasa sakit, benci, dan dendam masih ku pendam. Aku melewati hari dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam. Sekarang, bagiku mantan tak berharga lagi dan bukan penghambat kesuksesan jika kita menjalani hidup dengan positif. Terima kasih untuk mantanku yang telah mengantarkanku pada sebuah kesuksesan hidup, menggapai impian. Itulah hal yang selalu kuucapkan sebelum tidurku.
Sekian..

BIODATA PENGARANG:
Nama : Megawati
Alamat : Takalar, Makassar.

Facebook : Megha AnimalHusbandry Unique
Email : Megawatifapet@gmail.com


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 3:54:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers