Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia Part 1 {Update }

Oke guys. Sejak pertama bikin blog, cerpen remaja tentang aku dan dia adalah cerpen pertama yang di posting disini. Yah, namanya juga perdana. Selain masih belajar ngeblog, nulis juga masih suka asal asalan. Makanya cerita dan EYD berantakan. Nah karena itu, kalau pas ada waktu luang biasanya mampir kesini sambil ngedit satu satu.

Oke deh, biar nggak banyakan curcol bisa langsung simak jalan ceritanya ke bawah. Happy reading....

Credit Gambar : Ana Merya


“Gres, kok makanannya di liatin aja sih?” aanya Anya yang melihat ulah sahabatnya yang dari tadi hanya mengaduk aduk bakso di mangkunya tanpa sedikit pun mencicipinya.

“Gresia?” ujar Nanda yang heran karena sahabatnya yang satu itu tidak merespon sama sekali.

“Hoi!!” kali ini Anggun mengucapkannya dengan keras sambil mengunang-guncang tubuh temannya.

“Eh… apa?” Gresia tampak kaget.

"Nah, ketahuan kan, lagi melamun ini pasti," komentar Nanda dengan tatapan menyipit.

Gresia mencibir. "Nggak kok, siapa yang melamun coba?"

"Ya elo lah. Masa nenek gue," tuduh Anya sewot.

"Hem, tapi ngomong - ngomong loe ngelamunin apa sih? Perasaan jauh banget?" Anggun pasang raut penasaran. Anya dan Nanda kompak mengangguk setuju.

“Udah di bilang gue nggak ngelamun juga."

“Terus dari tadi bengong apa donk namanya?”

“He he he… lha wong gue Cuma lagi mikir kok. Cuma keasikan," balas Gresia sambil nyengir.

Nanda memutar mata. Itu mah sama aja. "Emangnya yang loe pikirin itu apa?"

"Ada aja."

Pletak.

Pletak.

“Gila loe, sakit tau," Gresia meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena sebuah jitakan yang mulus mendarat di kepalanya. Bahkan tanpa permisi sama sekali.

“Makanya cerita. Masa ia sama kita aja loe pake rahasia-rahasiaan segala sih," paksa Nanda lagi.

“Kalau gue nggak mau cerita terus kenapa?”

Pletak pletak.

Kali ini dua jitakan mendarat dengan serentak di kepalanya.

“Astaga, kalian mau bunuh gue ya?”

Anggun mencibir. “Jangan lebai, nggak ada orang yang mati cuma gara-gara kepalanya di jitak."

“Udah buruan cerita!” sambung Anya yang sedari tadi terdiam.

“Ia, gue cerita," Gresia terpaksa mengalah, terlebih ketika tatapan membunuh dari teman-temannya. Dalam hati ia berpikir, kok dia bisa berteman sama mereka ya padahal sadis begitu.

“E, sebenarnya," Gresia mengantungkan ucapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika menceritakan permasalahannya saat ini adalah keputusan yang tepat. Terlebih ketika ia sudah cukup mengenal ketiga orang yang kini ada di dekatnya. Ia bisa menebak reaksi mereka begitu mendengar kabar yang akan di sampaikannya.

"Apa sih? Nggak usah sok bikin penasaran gitu deh," Nanda mulai gusar.

"Gue di jodohin," gumam Gresia nyaris tak terdengar.

Hening. Seolah-olah begitu berat mencerna kabar yang baru di dengarnya. Tapi tak berapa lama kemudian.

"Ha ha ha, nggak lucu!" potong Anggun tak percaya. Anya dan Nanda juga berpendapat sama. Hari gini mau di kibulin. Nggak mempan. Tapi saat melihat raut Gresia yang terlihat serius Nanda kembali bertanya.

"Loe serius?".

Gresia membalas dengan anggukan. Membuat ketika temannya saling pandang baru kemudian tanpa di komandani serentak ngakak. Untuk kali ini Gresia setuju dengan kalimat kalau "penyesalan selalu di akhir. Buktinya, sekarang ia nyesel cerita.

“Elo di jodohin?!” ujar Anya memastikan.

“Itu pertanyaan atau pernyataan," gerut Gresia sebel. Sementara Nanda dan Anggun masih belum bisa menghentikan tawanya.

“Please deh, nggak ada yang lucu di sini," geram Gresia kesel.

“Abis ada ada aja. Di kira ini masih jaman Siti Nurbaya kali ya,” ujar Nanda di sela tawanya.

“Tapi ngomong-ngomong loe di jodohin sama siapa? Keren nggak? Kalau keren mah nggak papa donk. Lagian loe kan jomblo,” tanya Nanda kembali.

Gresia menatap wajah temannya satu persatu. Kali ini ia ragu. Apa menceritakannya merupakan keputusan yang tepat. Ia sangat tau tabiat sahabatnya yang satu itu. Ia paling tidak suka mengetahui segala sesuatunya hanya setengah-setengah.

“Arga,” akhirnya Gresia buka mulut dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar.

“Uhuk uhuk,” Anggun yang kebetulan sedang mengunyah baksonya langsung tersedak.

“Loe bilang siapa?” tanya Anggun kemudian.

“Arga? Si kentang goreng itu?” tanya Nanda lagi. Gresia hanya mengangguk.

“Maksut loe si playboy cap ikan hiu itu?” tambah Anya. Lagi lagi Gresia hanya mengangguk.

“Yang pacarnya Lila itu?” sambung Anggun yang masih tidak percaya.

“Udah di bilang ia juga."

“OMG,” jerit ketiganya serentak.

“Loe beruntung banget,” gumam Nanda lagi.

“Loe lagi muji atau ngeledek?” geram Gresia.

“He he he,” Nanda cuma nyengir. Jelas saja itu ledekan. Beruntung dari mana pacaran sama playboy.

“Tapi kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Anya tampak antusias.

"Ceritanya panjang."

“Ya udah pendekkin. Gitu aja kok repot,” Nanda angkat bahu.

Kemabli menatap wajah ketiga temannya, Gresai terdiam. Belum sempat mulutnya terbuka, suara bel tanda waktu istriahat berakhir terdengar.

“Lain kali aja deh, udah bel tuh. Mending kita masuk kelas aja lagi,” ujarnya merasa lega.

“Yah," serentak Nanda, Anya dan Nanda pasang raut kecewa. Sebaliknya Gresia justru malah tersenyum.

“Tapi inggat loe harus cerita sama kita,” ancam Nanda sebelum Gresia beranjak pergi dari tempat duduknya.

“Nggak janji,” sahut Gresia santai sambil meloyor pergi di ikuti oleh teman-temannya yang masih merasa kecewa.

Selama pelajaran berlangsung, Gresia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti nya. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya merencanakan perjodohan yang menurutnya teramat sangat konyol dan sama sekali tidak masuk di akal. Masih mending kalau ia di jodohin sama Dirga _ Cowok yang selama ini diam-diam ditaksirnya. Tapi ini malah sama si Arga. Cowok yang terkenal playboy, suka mainin cewek plus udah punya pacar lagi. Kurang ngenes apa lagi coba.

Saat istirahat kedua, Gresia dengan cepat ngacir meninggalkan kelas sebelum teman - temannya sempat menginterogasi. Ia bahkan memilih ke perpus sebagai tempat persembunyian.

“Gue mau ngomong sama loe."

Gresia yang sedang asik membaca langsung menoleh ke asal suara yang ada di samping nya. Ia celingak clinguk menoleh ke kanan dan kekiri. Masih tidak yakin kalau orang yang entah sejak kapan duduk disampingnya sedang berbicara kepadanya.

”Loe ngomong sama gue?” tanya Gresia setelah yakin kalau tidak ada orang lain selain dirinya.

“Loe pikir gue ngomong sama tembok? Udah gila apa?” balas Arga ketus.

“Yee, siapa tau. Lagian loe kan emang aneh,” gumam Gresia lirih.

“Apa loe bilang barusan?" tanya Arga menaikan alisnya.

“He he he. Nggak ada apa-apa kok,” elak Gresia cepet.

“Awas loe kalau sampai berani bilang gue aneh."

Bukannya takut Gresia justru malah tersenyum. Dengan polosnya ia bertanya. “Lho jadi loe denger?”

“Loe pikir gue budek."

“Kali aja," gadis itu angkat bahu.

“Wah bener-bener loe, tadi undah ngatain gue aneh, sekarang ngataing gue budeg. Berani loe sama gue?” ujar Arga penuh penekanan. Refleks Gresia langsung mengeleng-geleng.

“Udah deh, gitu aja di ributin. Tadi Loe bilang ada urusan sama gue. Ya udah ngomong aja."

“Nggak di sini. Loe ikut gue,” tanpa ba bi bu Arga meraih tangan Gresia dan menariknya keluar dari perpus.

“STOP!” bentak Gresia Kontan Arga menghentikan langkahnya.

“Kenapa?” tanya Arga dengan tampang Bete.

“Nggak usah pegang-pegang gue segala deh."

“WHAT?!”.

Gresia hanya memanyunkan mulutnya sambil melirik tajam Kearah Arga.

“Loe pikir gue tertarik sama loe?”

“Ye siapa tau, loe kan playboy. Kambing di bedakin aja doyan, apa lagi gue yang cantik gini."

Arga segera berbalik. Kali ini ia memandang Gresia intens dari kepala sampai kaki. Gresia saja sampai salting di lihatin seperti itu.

“Tertarik sama makhluk yang model kayak gini? Ih amit-amit deh,” sahutnya kemudian sambil bergidik.

“Maksut loe?!” Gresia merasa tersindir.

“Mendingan loe ngaca deh. Rata gitu,” cibir Arga sambil tersenyum mengejek. Tapi sedetik kemudian.

“ADUH!” jeritnya.

“Mampus loe,” geram Gresia sambil berlalu pergi meninggal kan Arga yang masih kesakitan karena kakinya di injek sekenceng-kencengnya.

“Dasar cewek gila. Sarap,” maki Arga sambil terus mengusap-usap kakinya yang masih sakit, sementara Gresia sudah jauh pergi meninggalkannya.

“Sial! Tadi gue manggil dia kan buat nomongin masalah kita. Kok malah gue di tinggalin gini. Sambil kesakitan lagi. Awas loe. Tunggu aja pembalasan gue. Argh!"

Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia


Brugh.

“Aduh sory sory sory, gue nggak sengaja."

Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Gresia segera berjongkok untuk mengumpulkan kertas - kertas ulangan yang berserakan di lantai. Karena sikap ceroboh yang dimilik tanpa sengaja ia menabrak orang.

Tepat saat ia berusaha mengambil kertas yang ada di hadapannya, secara bersamaan sebuah tangan juga melakukan hal yang sama. Refleks Gresia menoleh.

Deg.

Sepertinya lapisan ozon bener-bener sudah menipis dan telah terjadi pemanasan global di mana-mana yang menyebapkan berkurangnya oksigen ( ???) karena kali ini Gresia mendadak merasa sulit untuk bernapas. Matanya terasa silau menatap makhluk yang ada di hadapannya yang tidak lain adalah Dirga. Cowok yang diam-diam di taksirnya.

“Dirga?"

Lagi-lagi Gresia merasa kesulitan untuk bernafas begitu melihat sebuah senyuman manis yang di lontarkan makhluk di hadapannya.

“Aduh sori ya, tadi gue beneran nggak sengaja,” tambah Gresia kemudian setelah berhasil mengatasi gejolak di dadanya.

“Nggak papa kok. Kayanya gue tadi juga salah. Soal nya gue jalan tadi nggak liat-liat."

Tuh kan siapa coba yang nggak akan jatuh cinta. Dirga itu selain keren, punya senyum yang manis, juga orangnya sopan.

“Ya udah gue duluan ya,” pamit Dirga beberapa saat kemudian. Gresia hanya mengangguk sambil terus memandangi punbggung pria itu yang terus berjalan menjauh sampai kemudian hilang dari pandangan.

To Be Continue....

Next : Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 02

Detail cerpen


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 5:41:00 PM

1 komentar:

  1. keren :) kunjungi balik ya blog aku http://regrisuck.blogspot.com/

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers