Novel Online "Kazua Mencari Cinta ~ 19"

Tara.... Yuhu.... Akhirnya admin bisa nongol lagi. Siap siap beres beresin sarang laba laba yang bertebaran karena blog Ana merya mendadak menjadi blog yang terabaikan. Hiks hiks hiks. Okelah, karena admin udah kelamaan ngilang, so kemunculan kali ini dengan lanjutan dari kisah Kazua mencari cinta yang belum ketemu sama yang namanya ending #Toeng.

Buat yang penasaran silahkan lanjut baca di bawah. Untuk yang merasa lupa dengan jalan ceritanya bisa di simak dulu bagian sebelumnya disini. Oke guys, happy reading....

Kazua Mencari Cinta
Kazua Mencari Cinta

Sekali lagi Kazua mengamati bayangannya di cermin. Merasa sedikit puas dengan apa yang terpantul di sana. Sepertinya tidak sia sia selama ini ia menjadikan Zafran sebagai pelatihnya. Penampilannya kini jelas sangat jauh berbeda dari ia yang dulu. Mau tak mau sebuah senyum samar terpancar di wajahnya.

Deringan bel yang terdengar sontak menyadarkan Kazua dari lamunannya. Matanya sempat melirik kearah jam yang melingkar di tangan sembari berpikir sekaligus kagum. Rudi, ternyata lebih ontime dari yang ia duga.

Oh iya. Hampir saja lupa. Jadi ceritanya hari ini Rudi mengajak Kazua untuk kencan bareng. Tawaran yang pria itu lontarkan kemaren saat bertemu di toko buku. Ntah karena Kazua yang oon atau gadis itu tidak pernah berpikir panjang, ia dengan semena mena menyetujui ajakan tersebut. Namun yang harus di garis bawahi adalah, Kazua sama sekali tidak memberi tahu Zafran tentang rencananya.

"Zafran?" gumam Kazua nyaris tak percaya ketika melihat sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya begitu ia membuka pintu.

Pasalnya jarang jarang tu cowok nongol tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Tepatnya tidak pernah, makanya Kazua kaget. Belum lagi ia sengaja tidak memberi tahu tentang Rudi. Pertimbangannya cukup banyak. Selain karena pria tersebut adalah sahabat Zafran _ sama seperti Arya _ , Kazua tidak memberi tahu Zafran juga karena ia tidak yakin kalau pilihannya tepat. Terlebih ia juga sama sekali belum bisa menebak Rudi itu orangnya seperti apa. Sementara masalah yang lebih besar adalah, Rudi tau tentang Zafran yang hanya menjadi pelatihnya. Kalau sampai ia tidak mengikuti ajakan pria itu, takutnya gosip akan segera menyebar.

"Wah, tumben. Rapi bener. Mau kemana loe? Kondangan?" tanya Zafran begitu melihat penampilan Kazua di hadapannya.

Mendengar pertanyaan itu tanpa sadar Kazua memajukan mulutnya. Kondangan? Ni orang kalau nebak udik banget sih. Gak ada kreatifnya gitu...

"Ehem, loe tumben kesini. Nggak pake bilang - bilang lagi. Ada apa?" Kazua lebih memilih balik melemparkan pertanyaan dari pada menjawab.

"Suntuk di rumah. Mumpung libur dari pada nggak ada kegiatan mendingan gue ke sini. Sekalian mau ngajak loe keluar. Kali aja ntar kita nemu cowok nyasar yang mau sama loe," kata pria itu sambil angkat bahu. Sama sekali tidak merasa salah dengan penggunaan kalimat yang jelas nggak masuk editor sama sekali. "Cuma kayaknya loe juga ada acara ya?"

Kali ini Kazua hanya angkat bahu. Asli tidak tau harus menjawab apa. Perlahan rasa bersalah mampir di hatinya. Setelah ia sendiri yang dengan semena mena meminta pria itu untuk menjadi pelatihnya bisa bisanya ia malah merahasiakan kencannya dengan Rudi yang notabene nya adalah sahabat pria itu sendiri.

"Anu, sebenernya gue..."

Ucapan Kazua terhenti seiring dengan bunyi klakson mobil yang terpakir tepat di depan gerbang rumahnya. Tanpa bicara, Zafran ikut mengalihkan perhatiannya dari Kazua. Kening pria itu terlihat sedikit berkerut. Sepertinya ia mengenali mobil tersebut. Belum sempat menebak siapa pemiliknya, tau tau Rudi keluar dan segera melangkah menghampiri mereka.

"Loe mau keluar sama Rudi?" tanya Zafran lirih. Nada heran sekaligus kecewa jelas terpancar dari sana. Kazua hanya mampu menunduk. Mana ia tau kalau ia bakal ketahuan. Tau gini mendingan kemaren langsung aja ia cerita pada pria itu. Dari pada mendadak ia jadi merasa kayak penghianat gini.

"Dan loe sama sekali nggak ngasih tau gue?" sambung Zafran yang makin membuat Kazua bungkam seribu bahasa.

"Eh Zafran. Tumben loe disini. Ada apa?" tanya Rudi yang sama sekali tidak membaca situasi.

"Kebetulan banget. Itu pertanyaan yang sama yang pengen gue tanyain. Loe ngapain ke sini?" tanya Zafran tajam.

"Lho Kazua nggak cerita? Gue kan mau ngajakin dia kencan."

Mampus, rasanya Kazua pengen banget nonjok si Rudi ini. Ni cowok oon banget sih. Nyablak aja semaunya. Kalau udah gini, ia mau jawab apa coba.

"Kencan?" ulang Zafran. Tapi tatapannya ia lemparkan kearah Kazua yang hanya menunduk diam. "Oh, gue baru tau malah."

"Ehem, sebenernya gue lupa mau ngasi tau," kata Kazua nyaris tak terdengar.

"Lupa?" ulang Zafran terdengar sinis.

"O... Wajar donk. Namanya juga manusia. Lupa itu udah biasa. Yang penting kan sekarang loe udah tau Zaf. Sama aja kan. Nah, kalau loe nggak keberatan, kita boleh pergi sekarang nggak. Kebetulan udah siang nih, agendanya banyak. Yang jelas kalau Kazua kenapa kenapa kan loe tau dengan pasti siapa yang harus loe cari. Oke..."

"He..." Zafran mencibir kearah Rudi sebelum kembali menatap tajam kearah Kazua. "Gue nggak yakin kalau gue punya alasan kenapa gue harus perduli kalau sekiranya loe kenapa kenapa."

Kali ini Kazua balas menatap kearah Zafran. Oke, ia memang salah tidak memberi tahu pria itu. Tapi kan jelas, karena banyak hal yang harus ia pertimbangkan juga. Namun begitu, mendengar kalimat sinis pria itu barusan, jujur ia merasa sedikit sakit hati. Kesannya Zafran sepertinya memang sama sekali tidak perduli kepada dirinya. Eh kalau di inget lagi, emangnya tu orang pernah bilang kalau ia perduli?

"Oh jelas loe punya," kalimat Rudi membuat Zafran menoleh kearahnya dengan kening berkerut. Sementara Rudi justru malah pasang senyum polos andalannya. "Loe nggak lupa kan kalau loe itu pelatihnya Kazua buat dapatin pacar? So karena sekarang masih dalam 'proses' jadi jelas, Kazua masih tanggung jawab loe."

Bukan hanya Zafran yang shock, tapi Kazua juga sukses di buat melongo. Astaga, ni orang beneran ember bocor. Memangnya harus ya nyablak gitu?

"Ayo Kazu," kali ini tanpa di komando, tangan Rudi terulur meraih tangan Kazua. Menariknya untuk segera mengikuti dirinya kearah mobil, baru kemudian berlalu meninggalkan Zafran yang masih diam terpaku di tempat.

"Huwahahahaha," lamunan Kazua buyar saat mendengar tawa lepas Rudi. Dan gadis itu baru menyadari kalau kini mobilnya telah jauh meninggalkan rumahnya. Efek shock yang di terimanya barusan benar benar melumpukan kerja sistem otak di kepalanya yang selama ini memang cenderung pas pasan.

"Sumpah, itu tadi lucu banget. Seumur - umur gue nggak pernah liat Zafran shock begitu. Ya ampun Kazua, loe beneran sesuatu."

Kerutan di kening Kazua makin bertambah. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang duduk di sampingnya.

"Menurut loe yang tadi itu lucu?" tanya Kazua tak percaya. "Gue udah jantungan tau."

"Akh elo. Nggak usah lebay gitu deh. Tadi itu lucu, loe nggak liat mukanya si Zafran tadi. Gue aja sampe mati matian nahan diri biar nggak ketawa di tempat. Bisa bisanya dia mendadak jadi patung gitu. Ha ha ha."

"Jadi tadi itu loe sengaja?"

"Ya iya lah. Kesempatan di depan mata masa gue anggurin. Lagian salah dia sendiri. Siapa suruh jual maa...aa..aa." Rudi mendadak bersenandung ketika menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Terlebih ketika melihat tatapan curiga yang Kazua lemparkan pada dirinya. "Maksut gue, ya itu kan kesempatan buat gue untuk minta izin kedia. Ya dia kan temen gue, jadinya nggak enak donk kalau gue nyelonong aja. Bener nggak?"

Kazua tidak menjawab. Gadis itu lebih memilih melemparkan tatapan menyelidik kearah Rudi. Kelakuan ni orang beneran terlihat mencurigakan. Dia yakin tadi bukan itu yang akan di katakan pria itu.

"Akh, tapi gue jadi mendadak penasaran," gumam Rudi sambil berpikir. "Kira - kira kalau gue ngasi tau sama Arya dan Azkiya tentang Zafran yang jadi pelatih loe buat dapatin pacar gimana ya reaksi mereka? Sama kagetnya kayak Zafran nggak ya? Kayaknya perlu gue coba deh biar seru, lagian..."

"Pletak"

Sebuah jitakan mendarat di kepala Rudi bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya. "Berani loe cerita ke mereka, gue bunuh loe."

"Bercanda," kata Rudi sambil mengusap usap kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Sepertinya Kazua benar benar mengerahkan tenaganya ketika melakukan hal itu. "Busyet ya, baru tau gue. Loe cantik cantik sadis."

Sebelum jitakan kedua kembali mendarat di kepalanya, tangan Rudi sudah terlebih dahulu menyambar tangan Kazua yang kini sudah terangkat. "Gue kan udah bilang, gue cuma bercanda. Ya ampun. Bukan mati karena di bunuh, kayaknya kita bisa mati karena kecelakaan deh. Gue lagi nyetir nih," Rudi mengingatkan.

Walaupun kesel tak urung Kazua manut. Lagian nggak elit banget kalau ia harus mati bareng Rudi. Saat sedang mengerutu, sebuah ingatan baru muncul.

"Rudi STOP!"

Refleks, Rudi segera menginjak rem, dengan segera mobil berhenti mendadak.

"Ada apa? Kenapa? Gue nabrak orang ya? Kok gue nggak liat?" cerocos pria itu panik. Kepalanya melongok ke depan, juga ke samping. Tapi ia merasa tidak ada yang aneh. Justru malah klakson terdengar dari belakang karena kini ia berhenti tepat di tengah jalan.

"Ih, loe kagetnya lebay," cibir Kazua tanpa memperdulikan rasa panik Rudi sama sekali. "Gue kan cuma bilang Stop, yang artinya berhenti. Nabrak pula larinya..."

"Ya ampun Kazua, jangan lagi lagi gitu deh. Bercandaan loe nggak lucu. Kurang kerjaan, kita tadi bisa ketabrak beneran tau. La wong berhenti di tengah jalan gini."

"Iya deh. Sorry, gue salah. Yang jelas, anterin gue pulang sekarang?"

"Lho, kenapa? Loe kan janji mau nerima ajakan kencan gue. Gue udah bikin planing juga. Masa pulang sih," tolak Rudi cepat.

"Masalahnya..."

"Nggak bisa. Kalau loe nggak mau kencan sama gue, entar gue sebarin gosip kalau Zafran bantuin loe jadi pelatih nyari pacar..."

"Gila, loe ngancam gue?" Kazua nyaris tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

"Gue ngajakin loe kencan. Astaga, gue harus ngulang ni kalimat berapa kali sih."

Kazua mencibir. Ni orang ngajak kencan gini banget sih. Tapi..."Masalahnya tadi gue lupa ngunci pintu. Di rumah nggak ada orang. Kalau sampai kemalingan loe mau tanggung jawab?" jelas Kazua kesel.

"O..." Rudi mangut mangut. "Oke, kita balik lagi. Tapi habis itu inget ya, kita lanjut kencan. Dan gue akan pastikan kalau loe pasti terpesona sama gue."

Kazua hanya terdiam. Yakin kalau percuma juga ia membantah pendapat pria yang kini duduk di sampingnya tersebut. Lagipula ia belum bisa menebak sama sekali tentang bagaimana karakternya. Dan lagi, sepertinya itu juga bukan ide yang buruk. Toh ia juga nggak ada kegiatan.

Namun sayangnya, usaha Rudi untuk membuatnya terpesona sangat jauh... Jauh banget dari bayangannya. Tujuan pertama mereka adalah taman hiburan yang memang baru hari ini di buka. Jadi lumayan rame banget sehingga Rudi _ yang atas inisiatifnya sendiri _ terus mengengam tangannya dengan alasan takut hilang yang Kazua yakinin banget kalau itu cuma modus.

Tapi sebenernya bukan itu yang jadi masalah. Melainkan wahana pertama yang Rudi pilih. Setakut takutnya Kazua pada wahana Tornado, tetap ia akan memilih jantungan naik begituan dari pada harus masuk kedalam rumah hantu. Iya, pilihan Rudi adalah rumah hantu. Ini orang sepertinya sama katroknya kayak Kesiya yang menganggap kalau acara menakutkan adalah moment yang pas untuk romantis romantisan. Dan parahnya walau mati matian menolak, Kazua tetap tidak punya pilihan lain selain ikut. Bukan hanya karena Rudi tetap mengengam tangannya, tapi karena tiket masuk udah kadung di bayar. Kan sayang kalau mubazir.

Namun setengah jam kemudian...

"Ya ampun Kazua, sorry deh. Udahan donk nangisnya, hantunya tadi itu bohongan tau," Rudi masih berusaha untuk menenangkan Kazua yang kini sedang mengangis seperti anak kecil. Mengabaikan keadaan dimana kini mereka menjadi tontonan.

"Beneran, gue nggak akan lagi lagi ngajakin loe ke sana. Tapi jangan nangis gini juga donk. Dilihatin orang orang nih kita."

"Bodo," jawab Kazua singkat walau tak urung ia segera menyeka air matanya. Siapa suruh maksain dia ikut. Lagian bodoh banget dia kalau sampai mau maunya diajakain ke sono lagi. Lebih baik ia lompat dari puncak monas. Eh salah dink, kenapa harus ia yang loncat? Mending juga ia dorong Rudi biar jatuh dari monas. Iya, lebih baik begitu.

"Oke deh, sebagai permintaan maaf loa mau apa? Loe mau gue ngapain? Loe mau permen kapas? Balon? Atau..." bujuk Rudi yang membuat Kazua makin kesel. Dikiranya dia anak kecil apa? "Ice cream?"

"Deal, gue mau Ice cream rasa strobery tapi porsinya yang gede. Sama sekalian permen kapasnya juga. Sekarang!"

Gantian Rudi yang di buat melongo.

"Buruan, atau gue nangis lagi nih."

Tidak perlu di pinta dua kali, Rudi langsung ngacir mencari apa yang di minta oleh gadis itu.

"Jadi loe suka Ice Cream rasa stroberry? Hemz, baru tau gue."

Kazua hanya angkat bahu tanpa menoleh. Perhatiannya sepenuhnya ia tujukan pada Ice cream yang kini sedang di nikmatinya sendiri. Siapa yang menyangka Rudi benar benar membelikan porsi gede gitu untuknya.

"Abis ini kita mau kemana? Kali ini biar nggak salah, loe yang nentuin deh," tawar Rudi beberapa saat kemudian setelah Kazua menyelesaikan makanannya.

"Emp, kalau kita naik bianglala aja gimana? Gede gitu, pasti lama sampe bawahnya. Terus juga kita jadi bisa ngeliat pemandangan dari atas. Pasti bagus."

"Setuju!" balas Rudi tanpa berpikir.

Ternyata bukan ide yang buruk mengambil alih rencana. Setelah naik bianglala, mereka lanjutkan dengan acara keliling keliling. Mencoba aneka macam wisata kuliner. Dan berhubung Kazua kurus, toh ia juga tidak pernah berkenalan sama yang namanya program diet, jadi kali ini benar benar seperti mendapatkan jackpot. Secara makan sepuasnya, Rudi yang bayar semua. Ha ha ha, kalau tau kencan sama Rudi seasik ini. Pasti dari kemaren kemaren ia yang rela nawarin diri.

Pemikiran itu tiba tiba menyadarkan Kazua akan sesuatu. Ini benaran terasa seperti De Ja Vu. Kalau di ingat, dulu bukannya waktu kencan dengan Arya juga begitu. Awalnya indah melulu tapi ujung ujungannya...

"Loe kenapa?" tanya Rudi yang menyadari perubahan ekspresi pada Kazua. Terlebih ketika menyadari Kazua dengan jelas sedang menatapnya sembari menyelidik.

"Jujur aja deh, loe ngajak gue kencan cuma untuk mengetes reaksi seseorang kan?"

"Kok loe tau?" jawab Rudi spontan. Jawaban yang langsung ia sesali sedetik kemudian. Kadang yang namanya gerak refleks memang sering mengacaukan rencana.

"Kok loe tau itu artinya sama dan sebangun dengan 'tebakan loe bener', iya kan?" kata Kazua nyaris tak percaya. Sebenarnya tadi ia hanya menebak asal.

"He he he, bercanda. Loe mah gampang banget di kibulin. Ya enggak lah. Emangnya gue mau ngetes reaksi siapa?" Rudi cengengesan sambil pasang raut polosnya.

"Mana gue tau, kali aja loe sama kaya Arya."

"Arya? Emangnya tu anak kenapa?" tanya Rudi sambil berpikir. "Oh iya, gue baru inget. Kalau nggak salah tu orang dulu juga pernah ngajakin loe kencan kan? Terus kenapa tu anak sekarang malah jadian sama Azkiya ya?"

Kazua tampak menelan ludah. "Eh, udah siang nih. Gue laper, loe traktir gue makan ya?"

Rudi mengernyit, segera menyadari kalau gadis itu berusaha mengalihkan perhatian. Merasa tidak seharusnya ia mencapuri hal tersebut terlebih ia juga merasa telah melakukan hal yang sama, dengan segera ia menyetujui ajakan Kazua walau dalam hati tetap merasa kagum.

"Tu mulut sedari tadi ngunyah makanan, bisa bisanya kalimat yang terlontar adalah laper. Bener bener cewek ajaip. Sepertinya ia bisa menebak. Wajar saja kalau Zafran jadi tertarik padanya. Hemz, sepertinya semakin menarik."

"Oke, ayo kita kemon ledis," kata Rudi sambil meraih tangan Kazua dan mengajaknya jalan berdampingan.

To Be Continue


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:49:00 PM

2 komentar:

  1. Lm nya br mncul. Pdhl d tngg2 nympe tua tau gk kak. Cptn d slsein y.. Gk sbr neh,abs kknya lm bgt gk nngol.

    ReplyDelete
  2. Lm nya br mncul. Pdhl d tngg2 nympe tua tau gk kak. Cptn d slsein y.. Gk sbr neh,abs kknya lm bgt gk nngol.

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers