Cerpen romantis "Inikah Rasanya Cinta" ~ 01 / 06

Tara, akhirnya cerpen baru bisa muncul juga. Judulnya inikah rasanya cinta. Hanya saja, kali ini tokohnya adalah versi manusia nyata (???). Maksutnya admin sengaja nyomot nama temen temen gitu. Bahkan adminnya ikutan eksis. Wukakakak, buat yang belum tau, cerpen - cerpen sebelumnya juga ada beberapa yang sudah di edit kok. Sekalian ngerapiin typo plus EYD. Gimana? penasaran sama jalan ceritanya? Simak langsung ya guys...

Inikah Rasanya Cinta
Inikah Rasanya Cinta

Dan ketika cinta datang, kamu tidak akan pernah bisa mengabaikannya

"Satu, dua, tiga.... sepuluh," tepat hitungan ke sepuluh Irma membuka matanya. Ditariknya nafas dalam dalam baru kemudian di hembuskan perlahan. Kemudian secara perlahan kakinya melangkah masuk mengikuti pria separuh baya yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam ruangan yang penuh dengan siswa berseragam putih abu - abu. Ya, hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah SMA barunya setelah secara resmi kemaren siang orang tuanya mendaftarkanya di sekolah tersebut.

Sambil tetap menatap kedepan, Irma terus melangkah. Pria separuh baya yang tadi mengantarnya yang di ketahui sebagai guru BP di sekolah tersebut bersiap untuk kembali ke ruang kerjanya. Sebelum benar - benar berlalu, tak lupa pria tersebut melemparkan senyum simpul kearah Irma. Senyum yang membantu gadis itu meredakan rasa gugupnya. Senyum yang menenangkan, dan detik itu juga Irma sudah memutuskan kalau guru BP di sekolahnya adalah orang yang menyenangkan.

"Baiklah anak anak. Mohon perhatiannya sebentar. Hari ini kalian kedatangan teman baru. Baik, siapa namamu. Silahkan, bisa langsung memperkenalkan diri," kata sang ibu guru yang sudah berada di kelas tersebut sejak awal kearah Irma. Lagi - lagi di sertai senyum yang menenangkan. Membuat Irma ikut tersenyum dan merasa lebih rileks.

"Perkenalkan, namaku Irma Octa Swifties. Murid pindahan baru dari Pomalaa, Sulawesi. Senang bisa pindah kesini," kata Irma sembari menatap kehadapan, berusaha untuk melemparkan tatapan bersahabat kepada semuanya. Dan gadis itu segera menyadari kalau hampir semuanya yang berada di dalam kelas menatap kearah dirinya. Namun, karena kalimatnya adalah 'hampir' maka itu berarti tidak semua. Karena dengan jelas, mata Irma terhenti kearah penghuni bangku di pojok ruangan. Cowok dengan potongan rambutnya yang di sisir berdiri sedang asik dengan bacaan dihadapanya. Tak menatapnya sama sekali. Entah karena ia keasikan membaca buku, atau memang kehadiranya sama sekali tidak menarik perhatian. Entahlah, Irma merasa ia bukanlah tipe orang yang bisa menebak kepribadian seseorang.

Kelas yang sebelumnya hening, kini mulai terdengar suara bisikan - bisikan lirih tentang teman baru mereka.

"Asik, temen baru, semoga senang ada disini," kata cowok yang duduk tepat di hadapan Irma.

"Cantik lagi, udah punya pacar belum?"

Pertanyaan dari salah satu siswa yang lain sontak disambut suara riuh oleh seisi kelas. Irma hanya menoleh kesumber suara sambil tersenyum kaku. Merasa sedikit malu sekaligus takjub. Keberanian siswa tersebut mengodanya di hadapan guru beneran pantas di acungin jempol.

"Sudah sudah, perkenalan selanjutnya nanti saja. Sekarang mari kita lanjutkan lagi pelajaran kita, dan kamu boleh duduk di...," Guru tersebut mengedarkan pandanganya kesekeliling, "Disana," tunjuknya kearah bangku kosong di deket pojok kelas. Lumayan di belakang dan itu bisa di maklumi. Sangat aneh bukan jika ada kelas yang justru bangku kosongnya ada di depan. Setelah mengangguk, Irma melangkah kearah bangku yang di maksut.

Begitu duduk di bangkunya, dengan diam - diam Irma menoleh tepat pada sosok yang menghuni bangku disampingnya. Cowok yang berhasil menarik perhatianya. Bukan karena kehebohanya tapi justru karena sikap acuhnya. Sejak awal, Irma menyadari kalau pria itu sama sekali tidak menoleh kearah dirinya. Membuatnya merasa penasaran. Ingin menyapa tapi urung, takut mendapatkan tanggapan yang tidak semestinya. Lagi pula saat ini guru nya sudah kembali menjelaskan pelajaran, membuat Irma mau tak mau mengikuti alurnya. Menatap kedepan. Tapi sekali lagi, Irma sekilas menoleh kesamping. Hanya untuk memastikan bacaan apa yang lebih menarik dari pada melihat kemunculan dirinya. Dan gadis itu hanya mampu mengerutkan keningnya ketika melihat angka yang tertera pada buku yang di buka di hadapanya. Heran karena itu buku matematika, dan lebih heran lagi, karena gurunya jelas jelas sedang menjelaskan tentang kewarganegaraan. Kesimpulan yang berhasil Irma kumpulkan adalah, ada yang salah dengan penghuni disamping tempat duduknya.

Begitu bel ganti pelajaran terdengar, Irma segera menutup bukunya. Kepalanya menoleh kesamping. Tidak sopan bukan kalau ia tidak memperkenalkan dirinya. Karena ia siswa pendatang sudah sewajarnya kalau ia yang duluan. Tapi lagi - lagi gadis itu urung, entah sejak kapan dua buah headset kini terpasang di telinganya. Membuat Irma terpaksa bungkam.

"Jadi nama loe Irma, kenalin nama gue Vhany."

Kepala Irma langsung menatap kedepan. Kearah gadis yang duduk tepat di hadapan yang kini sedang tersenyum sambil mengulurkan tanganya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera membalas uluran tangan itu sembari menyebutkan namanya.

"Kalau gue Ana. Lengkapnya Ana merya. Yah semoga loe seneng pindah kesini ya dan kita bisa jadi temen deket," perhatian Irma beralih kesamping kirinya. Kearah gadis yang baru saja menyapanya. Lagi lagi Irma membalas uluran tangan tersebut. Dan sebelum siswa yang lain ikutan, guru yang akan menigisi jam pelajaran selanjutnya muncul diambang pintu.

"Eh, loe itu orangnya pendiam ya?" ujar Ana begitu bel istirahat pertama terdengar. Irma menolehkan kepalanya kekiri, tepat kearah Ana yang kini menarik kursinya mendekat kearah dirinya. Membuat Irma hanya mampu tersenyum sambil mengeleng. Dia? Pendiam? Yang benar saja. Kesan itu hanya cocok di berikan pada dirinya oleh orang yang baru kenal. Usil, jahil, demen ngegosip, dan bercanda adalah hobynya. Tapi tetap, itu hanya bisa di lakukan pada orang yang sudah saling kenal. Bukan berarti ia harus menujukkanya sejak awal bukan?

"Nggak juga kok. Kan ini hari pertama. Masa gue tiba - tiba treak treak, yang ada semua malah pada curiga jangan - jangan gue kenapa - kenapa," balas Irma yang di sambut tawa.

"Ya udah, mumpung istirahat kita kekantin yuk. Sekalian ntar kita kenalin sama temen temen yang lainnya. Ayo Vhany," ajak Ana sambil mengandeng tanganya dan mengajaknya keluar. Irma sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menolak. Kesan pertama yang gadis itu dapatkan adalah, Ana sepertinya adalah tipe orang yang seenaknya (???). Namun entah kenapa, disaat yang sama Irma juga merasa kalau gadis itu adalah orang yang menyenangkan. Setidaknya, itu bisa membantunya untuk bisa cepat beradaptasi dengan sekitar bukan?

Lanjut Baca : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:44:00 AM

2 komentar:

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers