Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 08 | Cerpen cinta

Adminnya pusing ni cerita mau di bawa kemana ala Armada. Pasalnya selain sosok Fajar, ternyata muncul sosok Defrin yang mendadak mengacaukan suasana. Penambahan tokoh lagi itu mustahil, tapi feel terhadap fajar mendadak menghilang Sementara posisi Andre jelas sudah tergantikan. (?????).

He he he, Reader bingung gak sama kalimat pembukaanya. Yups, tips nulis biar fell nya dapat itu sebenarnya gampang. Cukup bayangin aja tokoh tokoh pelaku nya dengan orang - orang nyata di sekitar anda. Kelebihannya, nulis jadi gampang. Kekurangannya, ketika doi udah nggak menarik perhatian lagi, biasanya ide juga ikut ngilang. Iya...Biasanya sih gitu.... #DihajarMassa

Okelah, kita lanjut aja ya sama Kenalkan aku pada cinta part 8 nya, untuk part sebelumnya silahkan di cek disini.


Kenalkan Aku Pada Cinta

Menatap indahnya senyuman di wajahmu
membuatku terdiam dan terpaku
mengerti akan hadirmu di tempat yang terindah
saat kau peluk mesra tubuhku...

"Banyak kata yang....."


Mulut Astri yang ikut bersenandung kecil terhenti seiring dengan berhentinya musik yang mengalun dari radio yang ia stel di meja makan di dapurnya. Kepalanya menoleh, menatap penuh tanya sekaligus kesal kearah Rendy yang kini sedang menatapnya. Sepertinya kakaknya baru pulang.

"Kak, kok di matiin si?"

"Sambil masak di larang nyanyi, ntar suaminya tua," sahut Rendy dengan tampang polosnya. Membuat Astri mencibir sebel. Hari gini masih ada gitu orang yang percaya sama mitos begituan?. Dengan berlahan ia melangkah menghampri. Menyalakan kembali Radio yang di matikan kakaknya, lagu ungu masih mengalun sendu.

"Gue mau masak mie instan, kakak mau nggak?" tanya Astri tanpa menoleh. Tangannya dengan cekatan meracik bawang.

"Udah jam 3 gini loe belum makan siang?" bukannya menjawab Rendy justru malah bertanya heran. Nada khawatir jelas terpancar dari suaranya.

"Tadi si udah. Cuma sekarang laper lagi. Makanya gue mau masak mie instant. Kakak mau nggak? Nanti protes gue nggak nawarin."

"O... Boleh deh. Sekalian tambahin. Gue mau pake telurnya dua."

Astri hanya membalas dengan anggukan. Selang dua puluh menit kemudian keduanya sudah duduk di meja makan.Persis seperti yang terjadi tadi pagi. Bedanya kali ini dihadapan keduanya masing masing terhidang semangkuk mie instan yang masih mengebul.

"Abis dari mana aja?"

"Tadi kalian ngapain aja?"

Kalimat tanya meluncur berbarengan dari bibir keduanya, membuat mereka saling berpandangan sampai kemudian Rendy angkat bahu sembari bergumam lirih.

"Tertarik juga loe pengen tau."

"Kalau kakak nggak berminat buat cerita juga nggak papa kok," balas Astri santai sembari mulai menikmati hasil masakannya. Tidak buruk, sepertinya mie itu layak dimakan.

"Loe beneran nggak naksir sama Andre ya?"

"Uhuk uhuk uhuk," Astri langsung tersedak mendengar kalimat balasan dari kakaknya. Dengan cepat di raihnya gelas berisi air putih di sampingnya. Mendenguknya dengan cepat.

"Kalau ngeliat reaksi loe sekarang si, kayaknya loe juga suka sama dia. Iya kan?"

"Apaan si, nggak usah ngaco," Gerut Astri sebel, terlebih saat mendapati sikap santai kakaknya yang sama sekali tidak merasa bersalah.

"Ngaco? Berarti loe nggak suka sama Andre donk?"

Suara dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk terdengar. Sepertinya Astri sengaja melakukannya. Di geserkannya mangkuk dihadapannya sebelum kemudian kedua tangannya di lipat di atas meja dengan tatapan terjurus kekarah kakaknya.

"Maksut kakak nanya nanya gitu apaan sih?"

"Ya biar gampang. Ntar gue sampein ke Andre kalo loe sebenernya nggak suka sama dia. Jadi dia nggak perlu ngarepin loe lagi dan bisa cari cewek lain."

"Klotak."

"Aduh," Rendy tampak mengaduh seiring dengan sendok yang mendarat di kepalanya. Tangannya tampak mengusap - usap kepalanya yang terasa berdenyut nyeri dengan tatapan kesel kearah adiknya. Sementara yang di tatap juga pasang tampang sama keselnya.

"Loe pikir gue sangkuriang?"

"Gue bukan mak lu," balas Astri tak kalah sewot.

"Kok jadi loe yang marah, yang di aniaya kan gue?"

"Please donk kak. Loe itu jadi kakak lemot banget si. Apa maksut loe tadi coba pake cerita cerita ke kak Andre segala. Gue ini adek loe apa bukan si?"

"Loe itu emang adek gue, tapi Andre juga temen gue. Kalau loe benaran nggak naksir sama dia, ya gue bisa cegah dia buat deketin elo donk. Dari pada dia ngelakuin hal yang sia - sia."

"Ngomong - ngomong, kak Andre beneran naksir sama gue ya?" tanya Astri kemudian.

Rendy tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit kearah Astri, menyelidiki reaksi gadis itu.

"Dan loe juga suka sama dia kan?" bukannya menjawab, Rendy justru malah balik melemparkan pertanyaan, atau malah pernyataan?.

"Aish... Apaan si," komentar Astri mengalihkan tatapannya. Tangannya kembali terulur meraih mi Instant miliknya. Mulai kembali menikmati makanannya.

"Lagian loe udah tau jawabannya, ngapain pake nanya lagi si," Gumam Rendy lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengar Astri.

"Oy ya As, cowok yang tadi itu siapa? Pacar loe?" tanya Rendy setelah beberapa saat keduanya sama sama terdiam.

"Bukan.Cuma temen."

"Yakin?"

"Ya iya donk. Emangnya kenapa? Nggak boleh ya ada cewek sama cowok temenan?"

"Bukan nggak boleh. Cuma aneh aja. Loe kan nggak pernah bawa cowok kerumah. Tiba - tiba muncul gitu aja, pas ada Andre lagi. Kan gue jadi nggak enak. Mana gue pernah bilang loe nggak punya pacar lagi."

Dentingan sendok dan Mangkuk yang beradu kembali terdengar. "Please donk kak. Ini kan urusan pribadi gue sendiri. Mau dia pacar gue atau bukan, gue nggak harus ngepromoin sama loe duluan kan?. Toh selama ini kakak mau gonta ganti cewek, gue juga nggak pernah mempersalahin."

"Gue emang nggak masalah. Cuma Andre...."

Ucapan Rendy terpotong dengan suara derita kursi yang bergeser. Dan beberapa detik kemudian Astri langsung melangkah meninggalkannya sembari mengabaikan ucapannya.

"Mie loe nggak diabisin nih. Mubazir tau, ntar ayam tetangga pada mati," Kata Rendy setengah berteriak karena Astri sudah menghilang di balik pintu dapur.

"Gue udah nggak napsu, kakak makan aja sendiri. Jangan lupa ntar, diberesin langsung. Gue kan adek loe, bukan pembantu," Astri balas berteriak.

Rendy hanya mengertutu mendengarnya. Kan wajar kalau ia nyuruh nyuruh adeknya sendiri. Lagian salah siapa coba lahir belakangan.

*Kenalkan aku pada cinta*

Entah berapa lama waktu yang dihabiskan, Astri sendiri juga tidak tau. Buku yang ada di hadapannya masih berada di halaman pertama yang ia buka tadi. Sementara pandangnya justru malah berlalu melewati jendela dengan pikiran yang entah melayang kemana.

Tak bisa di pungkiri, pembicaraannya dengan kakaknya beberapa waktu yang lalu sedikit banyak mengusiknya. Andre menyukainya? Apa mungkin? Lantas bagaimana dengan Alya? Atau yang lebih parah, bagaimana dengan dirinya? Perasaan apa yang ia miliki untuk pria itu.

"Hufh..." tanpa sadar Astri menghebuskan nafas berat ketika menyadari tiada satupun jawaban yang mampu ia temukan dari pertanyaan yang berkelebat dalam benakannya.

"Lagi ada masalah ya?"

"Astafirullah..." refleks Astri memundurkan tubuhnya kaget sembari tangannya mengusap - usap dadanya. Tak tau kapan waktunya dan entah bagaimana ceritanya, tau tau kini Andre berdiri di samping mejanya.

"Loe kaget?"

"Tentu saja," sahut Astri refleks sambil membenarkan letak kacamatannya. Membuat Andre tersenyum sembari memberi isarat untuk meminta izin duduk di bangku hadapannya.

"He he he, sory. Gue nggak bermaksut," pinta Andre terdengar tulus.

"Nggak papa,kayaknya gue tadi yang sedikit lebay," balas Astri ikut tersenyum.

"Tapi wajar aja si kalau loe kaget, secara sedari tadi keasikan ngelamun sih."

"YA?!"

Seiring dengan ucapannya yang dirasa cukup keras, Astri menunduk maklum sembari menoleh kesekeliling. Beberapa orang tampak melirik kearahnya sebelum kemudian kembali beralih kearah buku yang di bacannya. Astri hampir lupa, ini kan perpustakaan kampus, tentu saja di larang berisik.

"Loe masih mau baca lagi nggak? Kalau nggak gimana kalau kita ngobrolnya di luar aja?" tanya Andre kemudian.

"Ya?" lagi lagi Astri melontarkan nada yang sama. Saat melihat Andre yang hanya angkat bahu, akhirnya kepalannya mengangguk berlahan. Lagipula sedari tadi yang ia lakukan disini hanya melamun.

"Jadi kita mau kemana ni?" tanya Andre saat keduanya sudah melangkah meninggalkan Perpustakaan.

"Nggak tau, gue si ikut aja," sahut Astri polos.

"Loe udah makan siang?" tanya Andre lagi, kali ini Astri mengeleng.

"Kalau gitu gimana kalau kita kekantin aja? Gue yang traktir?"

"Boleh deh," tanpa pikir panjang Astri langsung mengiyakan.

Selang beberapa saat kemudian keduanya sudah diduduk berhadapan di meja kantin dengan pesanannya masing masing.

"Ehem..." Astri sedikit berdehem salah tingkah. Tak tau kenapa ia merasa atmosfir yang menyelimuti begitu menegangkan. Membuatnya mendadak merasa canggung. Terlebih, Andre juga tampak diam saja. Ayolah, bukan dia kan yang harus memulai pembicaraan.

"Oh ya As, boleh nanya sesuatu nggak," tanya Andre terlihat sedikit ragu.

"Tentu saja. Emang kakak mau nanya apaan?" tanya Astri mulai terlihat santai.

"Fajar itu pacar loe ya?"

"Uhuk uhuk uhuk," dengan cepat Astri meraih jus yang disodorkan Andre padannya. Meneguknya dengan cepat sembari memaki dalam hati. Ah, jika memang itu kalimat pembukanya sepertinya tadi ia akan memilih untuk bertanya duluan.

"Pelan - pelan aja donk," kata Andre sambil mengusap usap punggungnya.

Astri tau, Andre hanya beniat untuk meredakan batuknya, tapi ia yakin Andre tidak tau kalau itu justru malah membuatnya merasa semakin canggung. Selain dengan keluarga dekat ataupun sahabat ceweknya, kontak fisik dengan seseorang memang hampir tidak pernah ia lakukan.

"Pertanyaan gue tadi bikin loe kaget ya? Sory, kalau gitu loe nggak usah jawab," kata Andre terlihat bersalah.

Astri terdiam, matanya mengamati reaksi Andre yang kembali beralih kearah makannya. Mendadak ia merasa penasaran, kira - kira apa yang ada dalam pikiran pria itu.

"Nggak papa. Tadi gue emang sediki merasa kaget aja," Astri menghentikan ucapannya sebelum kemudian kembali melanjutkan. "Tapi Fajar bukan pacar gue."

"Benarkah?" tanya Andre terlihat tertarik sambil menatapnya lurus, walau heran, Astri mengangguk membenarkan.

Sedikit senyum samar mampu Astri tangkap dari reaksi Andre. Membuatnya sedikit bingung sampai kemudian pembicaraannya dengan kakaknya beberapa waktu yang lalu kembali terniang. Jadi bener kalau Andre suka sama dia?

Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan mankok membuat Astri menyadari satu hal. Bahwa ia bukan hanya berfikir atau mengingatnya, tapi mulutnya ternyata baru saja menanyakan langsung ke pada Andre. Astaga, apa yang ia lakukan?.

"Gue suka sama loe?" kalimat bernada tanya di wajah Andre menambah keyakinan Astri kalau baru saja ia memang mengutarakan pemikirannya.

"Kak Rendy yang bilang," Astri dengan cepat berusaha meralat.

"Maksut loe, Rendy bilang kalau gue suka sama loe?" ulang Andre lagi. Mau tak mau Astri mengangguk. Toh, kakankya memang berkata begitukan?.

"Dan loe percaya?".

"Ya?" gantian Astri yang pasang raut kaget dan heran.

"Ha ha ha..." bukannya menjelaskan, Andre justru malah tetawa lepas, membuat Astri sedikit mengernyit melihatnnya.

"Gue nggak tau, loe yang bohong atau justru kakak loe punya modus tersendiri. Tapi demi Tuhan, gue nggak pernah ngomong kayak gitu."

Mampus. Ya ampun Astri, loe itu bego apa emang stupid si? Astaga, ini benar benar memalukan. Jadi dia di kerjain sama kakaknya?. Setelah semalaman suntuk ia memikirkan, ternyata itu cuma akal akalan? Dan saat Astri melihat raut Andre yang tersenyum geli melihatnnya, Astri benar benar berharap kalau bumi akan menelannya saat itu juga. Sungguh!!!.

"Jadi gue dibo'ongin kak Rendy ya?" gumam Astri lirih namun masih mampu ditangkap oleh indra pendengar Andre.

"Sepertinya sih gitu," Andre membenarkan.

"Oh sory deh kak kalau gitu..."

"Tapi gimana kalau sebenernya gue emang suka sama loe?"

"Ya?" tanya Astri seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar barusan.

"Gimana kalau gue ternyata memang suka sama loe?"

Astri benar benar yakin kalau tiada yang salah dengan pendengarannya. Kaliamt yang ia dengar tadi memang benar. Matanya menatap lurus kearah Andre yang kini juga sedang menatapnnya. Mulut Astri terbuka namun tiada kata yang terlontar. Lidahnya terasa kelu. Dan ...

To be continue....

Wukakakakka, kayaknya udah lama ya nggak bikin cerpen yang bersambungnya di saat yang nggak tepat.... #AdminMintaDitabok.

He he he, untuk kejadian selanjutnya mending kita ketemu di part selanjutnya aja deh. Kita liat apa kira kira jawaban yang akan Astri berikan, doi juga suka sama Andre nggak sih?.

~Admin, LovelyStarNight



Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 10:09:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers