Cerpen Sahabat Terbaik Be the Best Of A Rival ~ 04

PS: Untung aja aku baru ngabisin baca novel yang sukses bikin aku berfikir positif... Kalau nggak, Nggak tau deh..
Thanks to "Mellisa"...
Part sebelumnya silahkan baca "Cerpen persahabatan be the best of a rival part 3".

Credit Gambar : Ana Merya

Keesokan harinya, farel sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. langsung bersiap - siap untuk kesekolah. mamanya aja sampai heran. Biasanya kan farel baru bangun kalau udah di bangunin. itu juga harus pake olah raga suara alias teriak - teriak. la ini?. Selesai sarapan farel langsung tancap gas.

Setengah jam sebelum bel farel sudah stanby di sekolah. Pak danang, penjaga sekolah juga sempat hewan waktu melihat wujudnya pertama kali. Gimana nggak biasanya paling cepet ia baru datang lima menit sebelum bel, seringnya sih lima menit setelah bel.Dan untuk masuk juga harus nyogok dulu pake makanan baru bisa masuk. Tapi kok sekarang tumben banget.

"Tenang pak. Mulai sekarang saya udah tobat" kata farel karena pak danang masih menatapnya heran.

"Yah.... udah nggak ada jatah sarapan lagi donk. e,.. Tapi nggak papa deh. Mungkin ini lebih baik " keluhnya sambil tersenyum.

farel juga ikutan tertawa mendengarnya. Setelah pamit ia segera menuju ke kelasnya. Hal yang sama lagi - lagi ia dapatkan. tatapan heran para sahabat nya juga terarah padanya.

"Woi, mimpi apa loe tadi malem?" komentar andika begitu farel duduk di sampingnya.

"Kejatuhan bulan" sahut farel ngasal.

Sejenak di edarkan pandangannya ke sekeliling. masih sepi. Emang belum banyak teman - temannya yang datang. Tak sengaja Matanya tertuju pada sosok chika yang sedang asik membaca buku. Gila masih pagi udah baca buku.

Setelah meletakan tas ke laci mejanya, farel bangkit berdiri. Walau awalnya sedikit ragu namun tetap di hampirinya chika. Para sahabatnya saling berpandangan heran tapi nggak ngomong apa - apa . Mereka hanya memperhatikan ulah nya yang dirasa sedikit aneh.

"Hei, gue mau ngomong sebentar sama loe".

Chika yang sedang asik membaca kaget mendapati farel yang tiba - tiba ada di depan mejanya. Sejenak ia menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Tapi nggak ada siapa - siapa. Apa mungkin farel ngomong sama dia?.

"Gue?" chika menunjuk dirinya sendiri.

"Ia" angguk farel membenarkan.

"Apa?" chika masih bingung.

"Tapi nggak di sini juga kali. loe ikut gue" sahut farel yang membuat chika makin bingung.

"Kenapa?".

"Udah, jangan banyak tanya. loe ikut aja"

Tanpa menunggu jawaban atau penolakan, farel meraih tangan chika untuk di ajaknya keluar. Walau chika masih merasa heran tak urung ia ikut juga.

"Kenapa tu anak?" tanya rio pada andika.

"Loe nanya ma gue?" Andika balik bertanya.

"Memang nya gue harus nanya sama nenek loe?" ledek Rio kesel.

"He he. ya mana gue tau" Andika angkat bahu.

Cerpen sahabat terbaik.

Begitu keluar dari kelasnya, farel membawa chika ke bawah pohon jambu yang banyak tumbuh di pekarangan sekolah. Kebetulan masih sepi karena anak - anak yang laen memang belum banyak yang datang. Tapi belum juga sampai ke tempat yang di tuju, Chika menghentikan langkahnya.

" Kenapa?" tanya farel heran.

"Gue bisa jalan sendiri kali. Jadi loe bisa lepasin tangan gue nggak?".

"Farel yang dari tadi tidak menyadari kalau ia mengandeng tangan chika langsung melepaskan gengamannya. Ia sendiri jadi salah tingkah karena hal tersebut.

"Sory".

"Emang nya loe mau ngomong apa?" tanya chika mengalihkan pembicaraan.

"Ehem...e " Untuk sejenak farel mengehembuskan nafasnya. "Soal kemaren loe cerita sama siapa aja?" sambung farel beberapa saat kemudian.

"Soal apa?" chika balik bertanya.

"Ya soal kemaren. kalau sebenernya yang ngisi pr gue itu ternyata elo"

"O.... itu?. nggak ada" balas chika.

Chika masih merasa sedikit bingung juga takut kenapa Farel tiba - tiba menanyakan masalah itu. Jangan - jangan ia mau marah lagi.

"Nggak seorang pun?" tanya farel lagi. Chika membalas dengan gelengan kepala.

"Termasuk sahabat loe, Clara?".

"Ia"

"Bagus deh. Gue cuma mau minta sama loe. Tolong jangan ceritain ini sama siapa - siapa. Apalagi sampai sahabat - sahabat gue tau kalau secara nggak langsung kemaren itu gue nyontek sama loe. Oh ya, sekalian gue juga minta maaf soal kemaren karena udah sok di depan loe" pinta farel.

Sejenak Chika menatap farel lurus. Kemudian sebuah senyuman terukir manis di sudut bibirnya.

"Kenapa loe tersenyum?" tanya farel heran.

"Nggak kenapa - napa si. Cuma sedikit heran aja sama sikap loe hari ini. Emang bener ya kalau tadi malam itu loe mimpi kejatuhan bulan" tambah chika yang kali ini tidak mampu menahan tawanya.

"Sialan loe. ya nggak lah" sahut farel ikutan tertawa.

Tak terasa hari sudah semakin siang. Teman - teman yang lain juga sudah mulai berdatangan.

"Ya udah. Gue cuma mau ngomong itu doank kok. kalau gitu sekarang gue mau kekelas dulu " Panit farel sambil berbalik.

Chika hanya berjalan mengekor di belakangnya.

"Kok loe ngikutin gue si?" tanya farel heran.

"Siapa yang ngikutin?".

"Elo. Terus kalau nggak kenapa loe jalan di balakang gue?".

"Loe mau ke kelas kan?" bukannya menjawab chika malah balik bertanya. *jangan heran, udah jadi ciri khas cerpen di star night kalau di tanya malah balik nanya*.

"Ia?" angguk farel.

"Ya sama. gue juga mau langsung ke kelas" balas chika santai.

"Ya udah jangan ngikutin gue. Balik aja kekelas loe".

"Nie juga gue lagi jalan mo kekelas. bukannya mo ngikutin elo. Lagian gimana si, bukannya kita sekelas ya?".

"Eh ia ya,... sory gue lupa" farel garuk -garuk kepalanya salting.

"Elo kenapa si?. Beneran aneh deh. sumpah" Kata Chika heran. Saat itu kebetulan mereka sudah sampai tepat di depan kelasnya. "Jangan - jangan loe masih tidur lagi" sambungnya lagi.

"Ya nggak lah. Ada - ada aja loe" Balas Farel sambil tertawa lepas.

Chika ikutan tertawa sambil melankah masuk menuju bangkunya. Begitu juga farel. Tatapan heran dari sahabatnya sama sekali tidak diindahkannya.

"Loe abis dari mana?" tanya Clara begitu chika duduk di sampingnya.

"Dari luar" Balas chika sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya karena barusan bel sudah terdengar. Pasti sebentar lagi pelajaran biologi akan dimulai.

"Kok barengan sama Farel?" tanya clara yang masih merasa belum puas. Kebetulan saat farel mengajak chika tadi ia belum datang.

"emangnya nggak boleh?".

"Boleh si harusnya. Cuma sejak kapan loe akrab sama tu anak. Pake acara ketawa bareng lagi".

"He he... sejak tadi. Lagian loe kenapa si nanya mulu?".

"Karena gue masih heran. Emang nya loe ada urusan apa sama dia?".

"Top secret!" Balas chika sambil tertawa membuat clara cemberut.

Saat clara ingin kembali buka mulut, chika sudah terlebih dahulu mengisaratkan untuk diam karena pak rifai sudah ada di ambang pintu.

Cerpen Sahabat Terbaik

Sepertinya kejutan pagi ini belum cukup, karena tanpa ada angin tanpa ada hujan Pak rifai datang dengan setumpuk soal ulangan. close book lagi. Hal ini jelas saja membuat semuanya protes, Tapi dalam hati. Mana ada yang berani ngomong secara pak rifai kan memiliki tampang kayak teacher di Gurukul dalam filem mohabaten. filem Hindi favoritnya star night. Jadi mana ada yang berani protes.

Seketika suasana kelas hening kayak di kuburan. Eh nggak ding, Itu terlalu lebay kayaknya. semua siswa mengeluarkan kertas selembar. Sementara vino yang di tugas kan oleh pak rifai untuk mengumpulkan buku catatan langsung beraksi melakukan yang terbaik. Ini tentu saja menambah siswa yang tidak belajar makin mengkeret. Termasuk farel dan para sahabatnya.

Waktu terus berjalan. Sisa waktu masih setengah jam sebelum pelajaran berakhir. pak rifai masih setia mondar - mandir kayak setrikaan untuk mengawasi siswanya. Begitu sampai di samping chika langkahnya terhenti begitu mendapati sang target sedang menutup penanya.

"Kamu sudah selesai chika?".

Pertanyaan yang di lontarkan pak rivai sukses menarik perhatian anak - anak yang laen. Secara tuh soalkan njelimet banget susahnya.

"Udah pak".

Suara lirih Chika menarik perhatian sahabat sebangunya yang menatap tajam. Asli nggak percaya.

Pak rifai segera menelitai hasil kerja chika. setelah beberapa saat kemudian.

"Bagus. Kalau gitu silahkan kamu istirahat duluan. Bapak nggak mau ada yang nyontek sama kamu".

"Baik pak" sahut chika sambil mengemasi buku - bukunya.

"Clara, Gue ke perpus dulu ya" pamit chika sebelum berlalu keluar diikuti tatapan takjub dari seluruh penghuni kelas.

"Gila tu anak. Gue aja setengahnya juga belom. Masa dia udah selesai. Yang benar saja lah" Bisik andika ke Farel.

"Ia nih. Mana susah banget lagi. Liat punya loe donk" balas Farel balik berbisik.

"Ehem...!".

Deheman pak rifai membuat nyali farel dan sahabatnya ciut. cep. Pada diem.

Begitu bel berbunyi, Pak rifai meminta semua muridnya untuk mengumpulkan kertas ulanganya. Terserah udah selesai atau belum.

"Idih. Kayak monster banget si. Ngasi ulangan dadakan. semaunya aja" Gerut Arfan begitu bayangan pak rifai sudah tak terlihat.

"Ia mana tadi gue belom kelar lagi. Heh pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini" tambah Rio.

"Tapi chika hebat ya?. padahal kan tadi masih ada sisa waktu setengah jam, kok dia udah selesai ya?" Puji varian.

" Ia tu anak emang brilian banget" salsa nambahin.

Vivi dan para sahabatnya lebih memilih kabur dari pada kuping nya makin panas mendengar pujian yang nggak penting.

Next part At Cerpen sahabat Be The Best Of A Rival part 5.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 3:56:00 PM

4 komentar:

  1. cerita yang menarik untuk di baca nih....
    thks follbacknya gan.

    happy blogging

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^_^...
      tanks juga karena udah mo mampir...

      Delete
  2. lanjudt donk gan critannya.,
    tpi kok g bsa d copy ya.,
    yah.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti lanjut kok.
      Masalah Copy ya?.
      Ntar Disiapkan Versi Copy alias PDF nya deh, yang bisa langsung di download jadi lebih gampang. OKE!!!.

      Delete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers