Cerpen Remaja Terbaru "That Girl is mine" ~ 10

Jadi gimana? Masih betah nungguin lanjutan cerpen Remaja That Girl is mine? Kalau iya, monggo langsung simak kebawah. Berhubung updatenya jarang jarang, kali aja udah lupa sama cerita sebelumnya bisa dicek dulu disini. Happy reading ya....

That Girl is mine

Bahkan bel belum terdengar, tapi Airi sudah bergegas membereskan buku - bukunya. Kiara yang berada tepat disampingnya hanya mampu membisikkan tanya bernada heran yang hanya ia balas dengan angkat bahu. Dan begitu bel terdengar, seiring dengan Bu Lasma yang melangkah keluar kelas, Airi juga langsung melesat mengikutinya. Matanya secara nyalang meneliti sekeliling baru kemudian berlari dengan cepat meninggalkan kelas.

Tepat di depan gerbang sekolah, Airi kembali memperhatikan situasi. Memastikan semuanya aman, tepatnya, ia tidak melihat sosok Kei. Perduli amat dengan permintaan pria itu untuk tidak menghindarinya, yang jelas Airi tidak mau lagi berurusan dengannya lagi. Maka dari itu, seminggu ini ia memang memutuskan untuk pulang lebih dulu meninggalkan kelas. Percuma Kei menunggunya di halte tempat biasanya, ia pasti tidak akan muncul. Secara sejak ganti kerja, Airi memang tidak menunggu di halte itu lagi. Sebaliknya, ia justru malah harus menyeberang jalan lebih dahulu, karena arahnya berlawanan.

Tak lama berselang, bus yang Airi tunggu muncul. Tanpa ba bi bu, gadis itu segera melangkah masuk. Kebetulan penumpangnya tidak terlalu ramai, untuk itu ia bisa memilih duduk dimana pun yang ia suka. Kusi pojok di belakang sengaja ia jadikan pilihan. Selain karena rumahnya lumayan jauh, posisi itu juga merupakan posisi bebas hambatan dari orang orang yang bergantian keluar masuk. Posisi yang paling pas untuk mendengarkan musik sambil membaca tanpa gangguan.

Suara gaduh serta obrolan penumpang lain sama sekali tidak terdengar. Yang Airi tau hanyalah suara Taylor Swift yang mengalun merdu lewat headset yang terpasang di kedua telinganya. Novel yang sudah ia keluarkan untuk di baca kini telah berpindah posisi menutupi wajah. Kondisi bus yang dingin oleh AC membuat mata Airi terasa berat. Tanpa sadar ia benar benar terlelap.

"Ar, bangun..."

Samar Airi merasa ada tangan yang menepuk nemuk pipinya pelan. Sembari menguap lebar secara perlahan matanya terbuka. Merasa silau oleh cahaya yang masuk membuatnya kembali memejamkan mata baru kemudian membukanya kembali secara perlahan. Saat itu juga, matanya langsung terbuka sempurna ketika mendapati wajah Kei yang berada begitu dekat dengannya. Bahkan Airi baru menyadari jika tangan pria itu masih berada di pipinya.

"Kei?” gumam Airi seolah masih belum mempercayai penglihatannya. Refleks tangannya terulur guna menyingkirkan tangan Kei dari wajahnya dan beringsut sedikit menjauh. Baru kemudian perhatiannya ia tolehkan pada sekeliling. "Ini kita ada dimana?"

"Justru gue yang mau nanya. Loe mau kemana sih? Ini kita udah di pemberhentian bus yang terakhir lho," terang Kei.

"Kenapa loe baru bangunin gue sekarang? Ini mah gue udah kelewatan jauh. Mampus deh, gue pasti terlambat masuk kerja."

Bukannya membalas, Kei justru malah mengernyit sembari memperhatikan raut panik Airi yang kini memberikannya pelototan tajam.

"Jadi, ini salah gue?" tanya Kei dengan nada geli.

Dari pada pertanyaan, Airi lebih merasa bahwa kalimat itu adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang menyindir. Apalagi ketika melihat senyum geli diwajah Kei. Membuat otak Airi yang sepertinya jadi lemot efek panik kini bisa mulai kembali berkerja. Pernyataannya salah redaksi. Harusnya ia bertanya kenapa Kei bisa ada disampingnya kan?

"Lho, kenapa mbak. Bukannya mbak yang biasanya turun di halte cendana? Ketiduran ya?"

Sebelum Airi sempat meralat pernyataanya pada Kei, suara seseorang dengan seragam dishub menginterupsi. Nama Andi Prasetyo tertera di atas saku dadanya. Nama dan wajah yang tidak asing karena Airi memang sudah sering naik turun bus tersebut. Berberapa kali petugas tersebut yang memberikan karcis pembayaran padanya.

"He he he, iya Pak. Ini kita udah di halte paling ujung ya?" tanya Airi sedikit berbasa basi untuk menutupi rasa malunya. Tumben - tumbenan ia bisa ketiduran sejauh ini.

"Iya mbak. Haduh maaf ya, tadi nggak enak mau bangunin. Dan lagi juga, saya nggak tau itu mbak. Kirain memang mau kesini, apalagi temen mbak juga diem saja sedari tadi."

Lanjut Baca : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 12:12:00 PM

8 komentar:

  1. Replies
    1. Hayooo.. Pasti ngarep jadi Airi ini kan?

      Delete
  2. Di tunggu lanjutaannya...smangat nulisnya ka

    ReplyDelete
  3. aduh kok aku jadi baper ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baper kenapa? Ngarep bisa di taksir cowok kayak Kei gitu ya?

      Delete
  4. . .kak lanjut bacanya kog gag bisa dbuka kenapa ya???

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers