Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta Ending

Akhirnya setelah sekian lama nunggu kelanjutan dari Cerpen cinta kenalkan aku pada cinta bisa ketemu sama yang namanya end juga. Hufh #lapkeringet. Ngomong - ngomong sebenernya udah mo di post dari kemaren2. Cuma admin ngerasa 'ada yang salah' sama endingnya, tapi berhubung udah frustrasi sendiri edit - edit mulu. Akhirnya admin nyerah, and beginilah akhirnya #bow.

Over all, thanks untuk semua yang udah baca and sabar nunggu dari sekian lama. Last, happy reading. Untuk yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini

Kenalkan Aku Pada Cinta

Sepulang Alya dari rumahnya, Astri segera beranjak untuk mandi. Seharian ini waktu ia habiskan berdua dengan sahabatnya hanya dengan membaca tumpukan novel koleksinya. Saat matanya menoleh kearah jam diatas meja, gadis itu menyadari kalau hari sudah hampir pukul 03 sore. Dengan berlahan Astri bangkit berdiri untuk mandi, selang beberapa saat kemudian ia sudah tampak rapi. Begitu menuruni tangga, Astri menyadari kalau ia hanya sendirian dirumah. Entah kemana angota keluarga lainnya berada.

Berniat untuk menghilangkan rasa bosan, Astri menyalakan TV yang ada diruang tamu. Setelah berulang kali mengonta ganti chanel, akhirnya ia mematikannya. Tidak ada satupun siaran yang mampu menarik perhatiannya. Akhirnya ia bangkit berdiri. Sebelum kemudian tangannya sempat menyambar kunci motor milliknya, Astri berlalu meninggalkan rumah.

Tanpa tau arah tujuan yang jelas, tau – tau Astri sudah terdampar disebuah kolam mirip danau yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya. Pemandangan sore disana memang lumayan indah. Terlebih dengan tumbuhan yang terawat rapi karena memang sudah di jadikan area untuk bersantai. Dengan berlahan Astri melangkah menghampiri bangku yang menghadap lurus kearah danau.

Sambil duduk, pikiran Astri melayang entah kemana. Tentang hari – harinya, tentang perasaannya, tentang apa yang Alya katakan tadi, dan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa sadar ia kembali menghembuskan nafas berat untuk kesekian kalinya.

Merasa jengah dengan semua itu, Astri bangkit berdiri. Kakinya terus melangkah tanpa tau kemana ia akan pergi. Terlebih jika melihat kesekeliling, tampak anak anak yang bergerompol sambil bergosipa ria, serombongan abg yang berlari – lari sore, atau justru malah pasangan yang sedang duduk berpacaran berdua. Hanya ia yang sendirian, benar – benar terlihat seperti orang bodoh.

Berniat untuk kembali pulang, langkah Astri justru malah terpaku. Matanya menatap lurus sembari sama sekali tak berkedip ketika melihat sepasang anak manusia yang duduk di bangku tak jauh di hadapnnya. Walau posisi mereka jelas membelakanginya, tapi Astri merasa yakin kalau ia mengenali siluet tubuh itu.

“Apa yang sebenernya loe inginkan dari gue?”

Saat itu, detik itu juga Astri sangat ingin untuk berbalik. Ia tau apapun yang sedang mereka bicarakan bukan urusanya. Tapi sayangnnya sepertinya tubuhnya tidak sedang singkron dengan hatinya. Terbukti bukannya berbalik, Astri justru malah memasang pendengaranya dengan jelas.

“Andre, loe beneran marah sama gue ya?” tanya gadis itu lagi. Gadis yang Astri kenali sebagai pacar Andre. Sosok pria yang beberapa waktu yang lalu sempat menemani hari – harinya.

“Apa masih harus gue jawab?” bukannya menjawab Andre justru malah balik melemparkan pertanyaan.

“Gue tau kalau gue itu salah. Gue dulu dengan bodohnya pernah ninggalin loe dan malah pergi dengan cowok lain disaat gue tau kalau loe beneran suka sama gue.”

Suana hening. Tiada rekasi Andre akan ucapan gadis yang ada di hadapannya, pria itu masih bungkam tanpa kata.

“Karena itu gue mau minta maaf sama loe. Gue juga mau nebus kesalahan gue yang dulu.”

Astri terpaku, menebus kesalahan? Maksutnya. Jangan bilang kalau gadis itu ingin balikan lagi.

“Apa maksut loe dengan menebus kesalahan?” Astri mendengar Andre bertanya.

“Gue mau kita kayak dulu. Gue mau kita memulai semuanya dari awal lagi. Dan gue janji, kali ini gue nggak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.”

Secara berlahan tanpa di komando kaki Astri bergerak mundur satu satu dengan tatapan yang tetap terjurus kearah dua orang di hadapannya yang sepertinya masih tidak menyadari kehadirannya. Dadanya terasa sesak. Ia merasa sulit untuk bernafas. Bahkan matanya juga terasa panas. Walau penasaran ia berharap ia tidak perlu mendengar jawaban pria itu.

“Tapi gimana kalau perasaan gue udah nggak kayak dulu lagi?”

Langkah Astri refleks terhenti. Penasaran dengan maksut ucapan Andre. Tanpa melihat pun Astri yakin kalau gadis yang duduk hadapannya pasti juga merasa terkejut.

“Kalau loe memang berniat untuk menebus kesalahan loe, mungkin sebaiknya loe nggak muncul lagi di hadapan gue.”

“Maksut loe?”

“Gue dulu sering bertanya sama diri gue sendiri. Apa salah yang gue lakukan sampai loe tega ninggalin gue. Gue bukan Rendy yang suka mainin cewek. Gue bukan playboy walau kita sahabat dekat. Gue menyukai loe dengan tulus.”

“Gue tau. Karena itu gue minta maaf.”

“Dan kemudian gue mutusin, gue nggak akan jatuh cinta lagi. Nggak perduli sebanyak apapun cewek yang mencoba menarik perhatian gue, gue nggak pernah perduli.Sampai tiba saatnya Rendy ngenalin gue sama adiknya.”

Astri tercegat ketika menyadari kalau ia dijadikan topic pembicaraan. Mau tak mau ia kembali memasang perhatianya.

“Awalnya gue merasa nggak tertarik. Sampai kemudian gue coba untuk mengenali dia lebih jauh. Astri, gadis yang unik. Disaat semua orang berlomba – lomba untuk tampil cantik, ia malah menyembunyikannya. Disaat banyak cewek mencoba menarik perhatian gue, dia malah menolaknya.”

“Dan kemudian loe suka sama dia?” tanya cewek itu langsung.

“Dan disaat gue beneran suka sama dia, dia menjauh karena loe muncul dengan tiba – tiba.”

Hening. Sama seperti sebelumnya. Astri tidak menyangka kalau Andre tega menyalahkan gadis itu walau ia tau apa yang di ucapakannya ada benarnya juga. Tapi memanngya ia sama sekali tidak memikiran perasaannya ya.?

“Gue…. Gue…..” suara gadis itu tercegat. Astri menyadari kalau ia pasti sedang menangis.

“Gue nggak bermaksut buat nyalahin loe. Tapi gue sendiri nggak tau apa lagi yang harus gue lakukan.”

“Apa itu artinya kita nggak bisa balikan lagi?”

“Sama seperti gue yang nggak mungkin bisa dapatin dia, hubungan kita juga nggak mungkin bisa kayak dulu lagi. Selain karena rasa sakit yang dulu loe berikan, perasaan gue juga sudah nggak sama seperti yang dulu.”

Hening untuk kesekian kalinya kembali tercipta. Masing – masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Baiklah. Jika memang seperti itu. Gue minta maaf. Gue bener – bener minta maaf. Gue nggak tau kalau semuanya akan jadi seperti ini.”

Tiada reaksi dari Andre. Pria itu tetap bungkam dengan tatapan lurus kedepan. Menghadap kearah air danau yang mengalir bening.

“Kalau gitu apa perlu gue bicara sama Astri. Gue akan jelasin semuanya. Gue akan bilang kalau ini semua salah gue.”

Kali ini kepala Andre menoleh kearah gadis di sampingnya. Sedikit terenyuh dengan raut tulus yang tersirat disana. Namun secara berlahan kepalanya menggeleng berlahan.

“Ma kasih. Tapi nggak perlu. Dia nggak mau dengrin penjelasan dari gue. Bahkan dari Rendy kakaknya ataupun dari Alya sahabatnya.”

“Tapi kalau gue mencoba mungkin saja dia akan mengerti.”

Lagi lagi Andre menggeleng. Pandanganya kembali ia alihkan kehadapan. “Gue pengen di percaya sama gue. Bukan orang lain,” sambungnya setengah bergumam.

“Jadi kita beneran putus?”

Andre kembali menoleh. Menatap dengan raut bingung.

“Tadinya gue balik lagi karena gue pengen kita balikan lagi kayak dulu. Tapi karena sepertinya itu mustahil, bukankah lebih baik kita akhir semuanya. Dan kalau loe lupa, kita belum pernah putus secara resmi bukan.”

Untuk kelanjutan semuanya, Astri tidak ingin mencari tau. Gadis itu lebih memilih untuk berbalik. Melangkah dengan pasti kearah motornya terparkir. Entah datangnya dari mana, ia menyadari kalau ada perasaan lega yang merambati hatinnya. Bahkan tak urung ia juga merasa bahagia. Tanpa sadar sebuah senyum mengembang di bibirnya. Senyum yang beberapa waktu lalu sempat hilang dari hari – harinya.

Namun bukannya langsung pulang, Astri memilih kembali duduk di atas bangku yang pertama sekali ia datangi. Berlaku layaknya sebelumnya. Duduk diam sembari merenung. Kembali memikirkan apa yang telah terjadi. Apa yang selanjutnya ia lakukan untuk menghadapi Andre nantinya. Apa ia harus minta maaf. Tapi… Apa alasannya. Tak tau berapa lama ia duduk disana, yang jelas ia masih belum menemukan jawabnnya. Akhirnya dengan berlahan ia bangkit berdiri, mungkin sebaiknya ia pulang. Hari juga sudah hampir sore. Dan saat ia berbalik…

“Astri?”

Sama seperti yang tergambar di wajahnya, raut kaget tergambar jelas di wajah Andre yang berdiri berdampingan dengan seorang gadis di sampingnya. Sepertinya mereka juga mau pulang.

“Kenapa loe bisa ada disini?” tanya Andre lagi.

“Gue..” Astri terlihat ragu. Matanya mengamati kedua orang di hadapannya. Pikirnya sibuk menimbang, apa ia harus menyelesaikan urusannya dengan Andre sekarang atau belakangan saja. Jujur saja, ia masih merasa tidak enak berada dekat dengan gadis yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya ia menjawab “Gue cuma jalan – jalan aja. Dan sekarang gue mau pulang.”

Selesai berkata Astri segera berbalik untuk menuju kearah motornya terparkir. Diluar dugaan Andre segera menghadang jalannya.

“Tunggu dulu, gue nggak mau loe salah paham lagi.”

Astri mengernyit. Salah paham? Maksutnya?

“Gue sama dia cuma….” Andre mengantungkan ucapannya. Matanya menatap kearah orang ketiga di antara mereka. Mau tak mau Astri juga melakukan hal yang sama. Saat melihat raut gadis itu, sepertinya ia mengerti apa maksut ucapan Andre. Dengan berlahan Astri tersenyum.

“Itu nggak ada urusannya sama gue.”

Bodoh bodoh, Astri sendiri menyesali ucapan ketusnya barusan. Terlebih ketika melihat raut kecewa di wajah Andre. Astaga, mulutnya kadang memang tidak singkron dengan hatinya. Tapi, akh itu pasti karena ia sedang gugup.

“Ehem, loe bener itu memang nggak ada urusannya sama loe,” akhirnya Andre mengangguk membenarkan. Kepalanya menoleh kearah gadis yang ada di sampingnya. Memberi isarat kearah gadis itu untuk segera pergi bersamanya.

“Ayo, gue antar loe pulang.”

Melihat itu gantian Astri yang terkejut. Bukannya mereka berdua tadi sudah putus ya? Lantas kenapa Andre begitu berniat untuk pergi saja. Dan saat melihat gelengan di kepala gadis itu, tak urung Astri mengernyit.

“Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri. Karena loe melarang gue untuk ikut campur, mendingan loe segera selesaikan urusan loe sendiri. Oke, gue pergi dulu,” selesai berkata gadis itu segera beranjak pergi meninggalkan Astri dan Andre terdiam dengan pikirannya masing – masing.

“Kenapa sih, loe nggak pernah mau dengerin penjelasan dari gue?” tanya Andre lirih. Bahkan lebih mirip jika di sebut gumamaman.

“Karena elo emang nggak perlu jelasin apa – apa,” balas Astri akhirnya setelah sebelumnya sempat terdiam.

“As gue….”

“Emang elo siapa gue?” potong Astri langsung,

Setelah terdiam cukup lama karena terkejut, Andre menghela nafas. Matanya menatap lurus kearah Astri yang juga sedang menatapnya. “Gue emang bukan siapa – siapa buat loe. Tapi elo itu siapa – siapa buat gue. Karena elo cewek yang gue suka, yang gue harap bisa jadi pacar gue,” kata Andre tegas.

Astri masih terdiam walau tak urung hatinya berbunga – bunga. Benar – benar merasa bahagia. Dalam hati ia hanya mampu bergumam, apa ini yang namanya cinta? #kirk #krik.

“Dan karena itu, bisa nggak loe tolak gue sekali lagi?”

Atas permintaan Andre barusan membuat Astri mengernyitkan kepala heran. Sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. Baru kali ini ada ceritanya orang yang nembak tapi minta di tolak.

“Gue…” Astri tanpak ragu. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Matanya menatap lurus kearah Andre yang berdiri tepat di hadapannya. Setelah menghela nafas untuk sejenak, mulutnya kembali terbuka. “Baiklah, gue….”

Belum sempat Astri menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah di buat kaku ketika tiba – tiba Andre menariknya. Membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan sehingga kemudian menubruk tubuh Andre. Memberi kesempatan pria itu untuk memeluknya erat.

“Tapi gue masih berharap bukan kalimat itu yang gue dengar. Gue pengen loe jawab kalau loe juga suka sama gue. Dia itu cuma masa lalu. Kita emang pernah sempat pacaran, tapi kemudian dia pergi ninggalin gue untuk mengejar cinta yang lain. Gue tau gue salah karena nggak pernah cerita sama loe, tapi gue beneran nggak nyangka kalau di akan balik lagi. Dan asal loe tau, perasaan gue beneran tulus buat loe,” bisik Andre tanpa melepaskan pelukannya. Bahkan saat gadis itu berusaha untuk meronta, ia justru malah mengeratkan pelukannya. Atri yang menyadari hal itu akhirnya menyerah, terlebih ketika menyadari pelukan itu terasa nyaman untuknya.

“Gue tau,” bisikan lirih Astri mengejutkan Andre. Maksutnya?

“Loe tau?” balas Andre. Ketika Andre berniat untuk melepaskan pelukannya, gantian Astri yang menahan. Gadis itu tidak yakin ia berani untuk berbicara sekiranya Andre melihatnya.

“Gue tau dia cuma masa lalu. Gue tau kalau dia yang ninggalin loe. Gue juga tau kalau beberapa saat yang lalu kalian baru putus, dan gue juga tau…” aku Astri yang membuat Andre makin heran tapi ia tidak menyela karena menyadari Astri belum menyelesaikan ucapannya. “Kalau loe beneran suka sama gue.”
Tepat saat Andre ingin membalas, Astri melanjutkan ucapannya.

“Bahkan gue juga tau, kalau sepertinya gue juga beneran suka sama loe.”

Andre membatu, dia tidak salah dengarkan. Astri barusan bilang kalau ia menyukainya? Ia tidak sedang berhalusinasikan?

“Loe…. Loe juga suka sama gue?” tanya Andre memastikan. Astri hanya membalas dengan anggukan tanpa suara. Membuat Andre tak mampu menahan senyum mengembang di bibirnya. Senyum bahagia. Tapi beberapa saat kemudian.

“Ngomong – ngomong As, sampai kapan loe mau meluk gue? Yah, walau sejujurnya gue sama sekali nggak keberatan sih, tapi saat ini kita sedang di jadikan tontonan orang – orang lho.”

Mendengar bisikan itu, Astri segera melepaskan pelukannya. Matanya mengamati sekeliling dan segera menyadari kalau apa yang Andre katakan benar adanya. Beberpa orang yang kebetulan ada di sekitarnya sedang menatap kearah mereka. Astaga, kenapa Astri bisa lupa dimana ia sedang berada. Memalukan.

“Udah sore, gue mau pulang,” kata Astri cepat sambil segera berbalik. Dengan wajah terus menunduk sembari sebelah tangannya menutupi wajah, Astri melangkah menuju kearah motornya di parkir. Andre yang melihat itu justru malah tertawa, terlebih ketika melihat Astri yang tersipu malu karenannya. Dengan segera pria itu beranjak mengejar Astri, menghadang tepat di hadapannya sebelum gadis itu sempat mencapai motornya.

Langkah Astri yang secara refleks berhenti. Kepalanya menongak, menatap Andre yang memang lebih tinggi darinya. Tanpa kata matanya menatap lurus kearah Andre yang juga sedang menatapnya. Menanti apa yang akan di katakan pria itu atas tindakannya.

Andre tersenyum. Sebuah senyum yang menular. Terbukti dengan sendirinya tanpa disadari Astri ikut tersenyum. Dan saat itulah mulut Andre terbuka.

“Sekarang loe udah percaya kalau cinta itu beneran ada kan?”

Ending!!!!!!....
APA INI!!!!!! Wuakakkakakaka…… As Always. Kayak biasannya, adminnya pasti bakalan stress sendiri mikirin endingnya. Bakal di bawa kemana gitu lho…. And then hanya segini kemampuannya. #tutupanPanci.

Over all, thanks buat yang udah baca and yang selalu sabar menanti kelanjutan ceritanya selama ini. Untuk itu, admin undur diri. Sampai ketemu pada cerpen – cerpen selanjutnya. Bye bye….

Salam ~ Ana Merya ~



Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:18:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers