cerpen King Vs Queen ~ 05

Cerpen Terbaru
King Vs Queen 05
Cerpen king vs queen

"Gimana ken?" tanya Olive begitu Niken baru duduk di kursinya.
"Gimana apanya?" Niken balik bertanya, dan memandang bingung ke arah sahabatnya.
"Yaaa tentang jodoh loe itu, loe bisa tau nggax siapa?" Olive udah nggax sabaran.
"Udah" jawab Niken singkat, Olive langsung tersenyum "dan gue nggax percaya" lanjutnya yang membuat Olive jadi bingung.
"Lho, kenapa?" tanya Olive, sambil menatap bingung sahabatnya.
"Ya gue nggax percaya aja, loe tau nggax sih siapa cowok yang jadi tamu gue dan ciri-cirinya itu seperti yang tante itu bilang...."
"Enggax" jawab Olive cepat.
"Ya iya lah enggax, orang gue belum kasti tau... gimana sih..."
"Ha, ia maaf, jadi siapa dia? gue kanal nggax?" tanya Olive.
"Radit" jawab Niken singkat.
"Radit? Siapa dia?" tanya Olive.
"Temen kakak gue, kamaren sore mereka ke rumah gue. Dan gue melihat yang menggunakan pakai-pakaian seperti yang tante itu bilang itu Radit..." jawab Niken tanpa semangat.
"Wah, nggax nyangka ea, temen kakak loe bakal jadi jodoh loe... Dan sekarang apa loe udah percaya sama ramalan itu?"
"Ya nggax lah, gue nggax pernah percaya sama yang begituan"
"Tapi ken, apa yang di bilang tante peramal itu, semuanya bener kan? kenapa loe masih nggax percaya juga?"
"Ya kalau gue nggax percaya emang ada yang salah?" tanya Niken.
"Ya nggax sih emang, Tapi... Gue jadi penasaran seperti apa sih orangnya, gue mau donk kenal sama dia... Loe harus kenalin dia ke gue... Gue mau memintanya, untuk mengakui kalau dia suka sama loe..."
"Eh loe itu apa-apaan sih..." Niken jadi sewot.
"He he he bercanda, gue cuma mau lihat jodoh loe saja kok. Emmm ya udah sekarang kita pergi" ajak Olive.
"Pergi? pergi kemana?" tanya Niken bingung.
"Yaaa ke campus kakak loe, gue mau kenal sama yang katanya jodoh loe itu, gue penasaran orangnya seperti apa"
"Ogah" tolak Niken cepat.
"Lho kenapa?"
"Yeee ogah gue... ntar kalau gue ketemu sama si Gilang gimana, males banget lah gue..."
"Yaaah, ayo donk, loe harus mau... gue juga panasaran si Gilang itu seperti apa, loe mau ea..." rayu Olive.
"Nggax" kata Niken tegas.
"Yaaaah Niken... loe pelit banget sih, gue janji deh, nggax bakal merebutnya, asal loe mau memperkenalkan dia ke gue..."
"Kalau loe mau, ambil aja. sorry, gue sama sekali nggax berminat, udah ea, gue males ngomongin itu mulu sama loe..." kata Niken dan melangkah meninggalkan sahabatnya.
"Lho,... ken, Niken..." panggil Olive dan melangkah mengikuti Niken "loe mau kemana?" tanyanya begitu sampai di dekat Niken.
"Kemana aja, yang penting enggax ngomongin soal jodoh itu"
"Tapi ken..."
"Gue bilang nggax, ya nggax. loe ngerti kan?" tegas Niken sambil menatap sahabatnya.
"Gue kan cuma..."
"Apa?!" tanya Niken Olive diam saja sambil menunduk "Udah deh, jangan ngomongin itu lagi, gue itu nggax berminat. Dan gue nggax mau sama dia, tolong deh ea..." lanjutnya "Loe ngerti kan maksud gue..."
"Ia. Maaf, yaaa udah deh, kalau loe nggax mau. Gue juga nggax maksa kok,..." kata Olive akhirnya "Gue yakin kalau dia jodoh loe, pasti kalian bakal sering ketemu dan bakal menemukan cintanya, Tapi... Kalau nggax juga gue nggax maksain kok..." lanjutnya.
"Bagus deh kalau loe ngerti"
"Tapi, loe harus janji sama gue"
"Janji?!"
"Ia, janji. Loe harus janji kalau loe emang suka sama dia, dan dia juga suka sama loe. loe nggax boleh menolaknya, kalau emang dia jodoh loe, loe harus menerimanya, dan kalau loe akhirnya bersama dia. loe harus percaya sama ramalan. gimana?" tanya Olive.
"Banyak banget?"
"Yaaaa gimana? Sanggup?"
"Ya baiklah, asal loe nggax membahas tentang jodoh itu lagi"
"Baik, siapa takut. gue percaya, kalau kalian jodoh pasti bakal ada yang menyatukan kalian... Iya nggax?" tanya Olive sambil tersenyum.
"Ha, ia lah tuuu..." balas Niken dengan mau nggax mau, lalu melangkah menuju perpus.
"Queen..." panggil seseorang dari belakang. Niken dan Olive menolah, ternyata benny dan temen-temenya.
"Ada apa?" tanya Olive.
"Gue boleh ngomong sesuatu sama Queen?" tanya benny.
"Tentu saja" jawab Olive, sambil melirik Niken di sampingnya yang tampak udah males banget meladeni benny yang setiap hari tidak pernah bosen-bosennya mendekatinya walau udah di tolak beberapa kali.
"Queen-Queen apa an sih, bisa nggax. berhenti memanggil gue itu Queen?" tanya Niken dengan sebelnya.
"Kok marah-marah sih,..." kata dimas.
"Emmm, gimana kalau ntar sore kita jalan?" tanya benny.
"Jalan?" tanya Niken.
"Ia. Gue mau ngajak loe jalan, terserah loe mau kemana, asal itu bersama loe gue akan membawanya" jawab benny sambil tersenyum.
"Gue..." Niken melirik Olive yang sengaja menatap lain agar nggax di tanya sama Niken, tentu saja Niken jadi sebel di buatnya.
"Gimana?" tanya benny, Niken menyenggol lengan Olive minta bantuan.
"Sorry ea... Emmm gue, udah ada janji sama Olive, ia kan liv?" tanya Niken ke arah Olive.
"He?!" Olive kaget, sambil menunjuk dirinya.
"Ia kan liv? kita kan mau ke toko buku ntar. Masa loe lupa sih..." kata Niken sambil mengedipkan matanya ke arah olvie.
"E ha, i iya, kita mau ke toko buku ntar, sorry ea ben, Niken nggax bisa jalan sama loe.." kata Olive ke arah benny.
"Yaaah..." Benny tampak kecewa.
"Emmm ya udah kita ke perpus dulu ea..." kata Niken dan siap melangkah pergi meninggalkan benny dan yang lain.
"Tunggu" tahan Dimas, Niken berhenti dan menoleh "kalau loe nggax mau jalan juga nggax apa-apa kok, tapi... loe mau ea, makan di cantin bareng kita, gue yang traktir deh..." lanjutnya.
"Emmm, kita nggax laper, jadi sorry aja ea..."
"Yaaah Queen... ayo donk" kata benny.
"Aduuuuh bisa nggax sih, jangan panggil gue dengan sebutan itu..." kata Niken dengan sebelnya.
"Nggax bisa... Kan loe emang ratu gue, Jadi gue bakal tetap memanggil elo dengan sebutan itu, dan elo harus terbiasa dengan nama itu"
"Tapi gue nggax mau" kata Niken.
"Loe pantas kok jadi Queen dan gue jadi pasangannya" kata benny sambil tersenyum.
"Iiiih terserah kalian deh. nora' tau nggax..." kata Niken dengan sangat sebel, dan menarik tangan Olive untuk mengikutinya pergi meninggalkan benny dan temen-temennya yang lain.
"Tapi ken... Queen..." teriak Benny, tapi Niken tetap pergi saja, tanpa memperdulikan Benny "iiiih sial. selalu saja di tolak, gue harus mendapatkannya apa pun caranya..." lanjutnya ke arah temen-temennya.
"Atau... Jangan-jangan dia udah ada yang di sukai, makanya dia nggax mau sama loe ben" kata Dimas ke arah Benny.
"Emang siapa? gue nggax pernah tuh ngelihat dia jalan sama cowok"
"Yaaa kali aja, dia udah suka sama orang lain,... kalau nggax, kenapa dia seperti menghindar dari loe gitu..."
"Gue... Emmm, sepertinya bener juga apa kata loe. Tapi... Gue nggax bakal menyerah begitu saja. Gue bakal mendapatkannya dengan cara apa pun, kalian lihat aja, dia pasti jadi milik gue" kata Benny dan melangkah meninggalkan tempat itu, temen-temennya mengikuti dari belakang.
Begitu pulang sekolah, Niken menunggu kakaknya di depan pintu gerbang, karena tadi pagi dia berangkat bareng jadi sekarang nggax mungkin kan dia mau pulang jalan kaki, sambil mengunggu kakaknya Niken main game di ha-pe nya.
Tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di depannya, Niken menjadi kaget, dan memperhatikan tuh orang. Sepetinya bukan kakaknya, karena dia menggunakan helm yang berbeda. Begitu helm di lepas.....
"Elo?!" tunjuk Niken "Kenapa loe kesini?" tanyanya dengan sebel.
"Loe kenapa sih, nggax bisa apa. Baikan dikit sama gue, gue kan datangnya baik-baik..." Gilang jadi sewot.
"Nggax. Kenapa?" tantang Niken "Nggax suka? Per#duli apa sama gue..." lanjutnya.
"Iiih kalau tau gini, mending gue dengerin kata hati gue tadi. Nggax mau menjemputnya" kata Gilang yang sepertinya lebih di tujukan untuknya sendiri dari pada untuk Niken.
"Eh, apa loe bilang?" tanya Niken.
"Gue bilang, sebaiknya gue nggax mau menjemput elo. Puas?!" jawab Gilang dengan sebelnya.
"Gue juga nggax minta kok di jemput elo, lebih baik gue pulang sendiri dari pada gue harus pulang bareng loe. Lagain loe ngapain sih ke sini, pulang aja deh gih sana..."
"Kalau bukan karena kakak loe, juga ogah deh gue ke sini... Apa lagi ngejemput cewek jadi-jadian kayak loe..."
"Maksud loe..."
"Loe itu sebenernya bego atau... emang bego sih, harusnya kan loe tau maksud gue... Tapi, kalau loe nggax tau, gue bisa maklumin kok. loe itu kan orangnya emang telmi..."
"Elo..."
"Kakak loe nggax bisa ngejemput elo, karena hari ini dia ada tugas di campus. Dan bakal pulang sore.  Jadi dari pada elo pulang sendiri, gue di minta mengantar elo pulang. Ngerti!!!" jawab Gilang.
"Emang nggax ada temen yang lain apa, kenapa harus elo coba"
"Tau... Kalau loe emang penasaran tanya saja langsung sama kakak loe. Tapi gue sebagai sahabatnya nggax mungkin bisa nolak. So, loe jangan membuat gue repot, sekarang ayo pulang bareng gue"
"Nggax mau"
"Loe bisa nggax sih, nggax membuat gue sulit. Kalau loe nggax pulang bareng gue, apa yang harus gue bilang sama kakak loe"
"Itu bukan urusan gue, yang penting gue nggax mau pulang bareng loe"
"Re-se banget sih loe jadi orang, cepetan deh. Udah siang nih. Gue laper. Mau pulang..." kata Gilang.
"Loe kalau mau pulang, pulang saja sendiri, gue nggax butuh bantuan loe. Gue bilang gue bisa pulang sendiri. Jadi loe nggax usah sok perduli sama gue"
"Yang perduli sama loe itu siapa? Jadi orang jangan terlalu ge-er ea. Gue itu ngelakuin ini karena menghargai kakak loe sebagai sahabat gue. Bukan karena elo... jadi kalaupun elo mau pulang sendiri.  Jalan kaki atau apapun gue nggax perduli, tapi ini karena kakak loe yang minta. Gue nggax bisa menolaknya. Ngerti!?!" kata Gilang, Niken terdiam.
"Yaaa tapi gue..."
"Udah deh, loe jangan banyak comment. Sekarang naik ke motor gue, gue antar loe pulang" kata Gilang "Atau... loe tetap nekat mau pulang sendiri. Asal loe tau aja, gue itu bukan tipe orang yang suka merayu-rayu orang ea. Jadi kalau loe masih nekat mau pulang sendiri, gue bakal ninggalin loe sendiri di sini..." lanjutnya, Niken terdiam, mikir beberapa saat.
"Jadi, itu.... cowok yang udah membuat Queen gue nggax pernah mau sama gue. Apa menariknya dia dari pada gue, sepertinya kerenan masih kerenan gue. Baiknya juga baikan gue banget, dan tentu saja tajirnya juga tajir gue. Di lihat dari tampang nya anaknya sombong" kata Benny yang berdiri tak jauh dari Niken.
"Bener banget tuh ben, loe harus kasi pelajaran sama tuh cowok. Biar dia nggax macem-macem lagi sama loe..."
"Itu pasti, tunggu saja pembalasan dari gue... Gue pasti bakal membuat perhitungan sama tuh cowok..." kata Benny dengan sebelnya dan melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya, di ikuti oleh Dimas dari belakang.
"Loe masih nggax mau juga?" tanya Gilang, Niken masih terdiam "oh baik" lanjutnya sambil menghidupkan mesin motornya. Niken jadi kaget.
"Eh eh eeeeh..." tahan Niken, Gilang menatapnya "ia iya gue pulang sama loe..." lanjutnya mau nggax mau, dari pada pulang sendiri, jalan kaki lagi.
"Ya udah ayo cepetan naik" kata Gilang. Niken melangkah dan naik ke motor Gilang dengan cemberut "pe#gangan yang erat" lanjutnya.
"Gimana bisa?" tanya Niken, Gilang manarik tangan Niken dan meletakkan di pinggangnya.
"Peluk gue yang erat" kata Gilang yang membuat Niken kaget.
"Eh ni apa-apaan sih..." tolak Niken.
"Udah deh, pegangan aja yang erat kalau nggax mau jatuh..." kata Gilang, dan Niken mau nggax mau, mengeratkan pegangannya di pinggang Gilang dengan hati-hati.
"Jangan cari-cari kesempatan ya loe..." kata Niken memperingatkan.
"Yeee sorry lah ea, gue itu masih bisa membedain yang mana cewek yang mana cewek jadi-jadian, Jadi kalau loe... Gue nggax berminat lah ea..." kata Gilang sambil mengendarai motornya, meninggalkan gerbang sekolah.
"Eh apa loe bilang... Loe berani ngatain gue..."
"Lho, loe kan emang cewek jadi-jadian. Mana ada cewek yang sekasar elo. Jadi kalau gue bilang loe cewek jadi-jadian nggax salah donk"
"Berarti gue juga nggax salah memanggil elo cowok nggax jadi-jadi. Karena mana ada cowok yang sekasar elo memperlakukan cewek" kata Niken dengan santainya.
"eh asal loe tau aja ea, gue berperlakukan seperti ini cuma sama loe aja. Nggax sama cewek yang lainnya, karena elo kan bukan cewek, tapi cewek jadi-jadian..."
"Elo emang bener-bener nyebelin ea..." kata Niken sambil memukul Gilang dari belakang.
"Aduh sakit tau" kata Gilang "Apa yang loe lakuin..." Gilang menahan rasa sakitnya.
"Tentu saja memukul elo, emang loe fikir gue mencium loe apa?" balas Niken dengan sewot.
"Apa salah gue sampai loe memukul gue, sakit nih..."
"Salah loe itu banyak banget, sampai susah gue menjelaskannya, dan kalau pun elo sakit, itu bukan urusan gue... yang sakit elo ini jadi suke-suke lah..." balas Niken santai.
"Ih loe itu emang bener-bener deh, heran. kok ada yea cewek seperti elo... dasar aneh" kata Gilang dengan sebelnya, diam-diam Niken tersenyum di balik bahu Gilang, dan mempererat pelukannya lalu bersandar di bahu Gilang.
"Apa yang loe lakuin?" tanya Gilang bingung, karena tiba-tiba Niken bersandar di bahunya.
"Bahu loe hangat,... Apa bahu papa gue sehangat bahu loe..." kata Niken, Gilang terdiam. Ia tau bahwa Niken tidak memiliki papa karena ia sahabat Nino. tanpa sadar air mata Niken mengalir mengingat papanya.
To be continue...
PS: Jangan lupa add penulisnya ya >>> Mia Mulyani.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:41:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers