Cerpen Cinta "Dalam Diam Mencintaimu" 03/04

#EditVersion. Untuk yang belum tau. Tokoh utama sebelumnya adalah Irma dan Doni. Tapi admin edit jadi Irama ~ Rey. Nggak ada alasan khusus. Cuma pengen ngedit aja cerpen dalam diam mencintaimu ini. Tapi secara keseluruhan ceritanya nggak ada yang berubah. Cuma beberapa penulisannya aja yang di perbaiki. Oh iya, as always. Biar gampang sekalian nyambung sama jalan ceritanya. Buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa baca dulu ya. Biar lebih mudah bisa langsung klik disini.

Dalam diam mencintaimu
Dalam diam mencintaimu

Sambil terus melangkah kearah parkiran, Irma tak henti memukul – mukul kepalanya. Tadi pagi Rey tidak sengaja mendengar pembicaraanya dengan Vieta. Saat ia dengan tegas mengatakan pada sahabatnya itu kalau ia tidak pernah menyukai Rey. Tambahan lagi ia mengucapkannya dengan tegas. Dan kini, hatinya jadi merasa tak tentu arah. Merasa tidak enak. Jujur ia sangat tidak ingin kalau sampai Rey salah paham. Bukan maksudnya untuk berkata bahwa ia tidak menyukai Sahabatnya itu, hanya saja ia juga bingung harus berkata apa. {Untuk lebih jelasnya baca cerpen kala cinta menyapa part 3}

Ketika ia masiht terus berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, matanya mendapati sosok Rey yang melangkah mendekat. Niatnya untuk menghampiri langsung ia batalkan dan justru malah bersembunyi saat tau kalau Rey tidak sendirian. Di sampingnya tampak Vhany yang berjalan beriringan. Dan Irma hanya mampu menghela nafas, dadanya kembali terasa sesak saat melihat Vhany duduk di jok belakang motor Rey. Sepertinya mereka akan pulang bareng. Setelah keduanya benar – benar berlalu barulah Irma keluar dari persembunyiannya. Dengan langkah gontai ia berjalan pulang.

*** Dalam diam mencintaimu ***

Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah, Rey tidak lantas masuk kedalam. Ia sengaja duduk di bangku depan rumah sambil sesekali melongok kearah jalan ataupun melirik jam yang melingkar di tangannya. Tadi ia sudah memastikan kalau Irma sama sekali belum sampai di rumahnya. Kemana perginya anak itu? Jujur saja ia sangat mencemaskannya. Yah walaupun tadi Irma sudah bilang kalau ia akan pergi dengan sahabatnya sih.

Setelah hampir satu jam Rey menunggu, matanya menangkap mobil silver yang memasuki halaman depan rumah tetangganya. Ia berani menjamin kalau itu bukan mobil ayah Irma. Pertanyaannya, itu mobil siapa?

Rey mengernyit heran saat matanya menangkap sosok seorang pria yang tak di kenalnya keluar dari pintu mobil itu. Lebih heran lagi ketika melihat Irma menyusulnya. Hatinya mencelos. Lagi – lagi ia merutuki diri sendiri kenapa harus memikirkan gadis itu yang jelas hal yang sia – sia. Dengan kesel ia melangkah masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah ‘tetangga’nya sama sekali.

“Oh Jadi besok loe ulang tahun. Gimana? Mau dirayain nggak?” tanya Fadly sambil melangkah beriringan masuk kedalam rumah Irma.

Tadi Irma menelponnya. Memaksanya untuk menjemput ke kampus. Mana pake acara ancaman putus persaudaraan lagi kalau sekiranya Fadly berani menolak. Nah karena itu lah kini Fadly bisa berada di depan rumah sepupunya.

“Iya, tapi nggak perlu pake acara – acara segala. Dari dulu juga nggak pernah di rayain, toh gue nggak suka. Gue bisa bersama dengan orang – orang yang gue sayangi itu sudah lebih dari cukup."

Fadly yang mendengar hanya mengangguk – angguk membenarkan. Namun tak selang beberapa menit kemudian keningnya berkerut tanda bingung saat mendapati tangan Irma yang nyadong di depan wajahnya.

“Kenapa?”

“Kadonya mana?” tanya Irma pasang tampang sok polos.

Next : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 2:18:00 PM

Stalkers