Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ~ 03 / 05

Okelah felas, ayo kita kemon melanjutkan lagi cerpen cinta rasa yang tertinggal yang kali ini udah sampe ke bagian ke tiga. Kebetulan cerbungnya juga nggak panjang amat kok. 5 part doank. But, tetep, cbiar nggak bingung sama jalan ceritanya mending baca dulu part sebelumnya di cerpen cinta rasa yang tertinggal bagian sebelumnya. Yang jelas, happy reading.

Rasa yang tertinggal
Rasa yang tertinggal

Tifany sedang asik tidur tiduran sembari pikirannya melayang kemana mana. Terutama tentang kejadian hari ini. Ia tidak menduga kalau Alan benar benar mengajak jalan dirinya. Terus terang hari ini sangat menyenangkan, tapi di lain sisi ia juga merasa bersalah. Membuat pikirannya semakin melayang - layang entah kemana. Gadis itu bahkan hampir tidak menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian.

“Hei, katanya tadi siang abis jalan – jalan, masa mukanya kusut gini."

Tifany mengerjapkan mata, sedikit terkejut ketika mendapati Septia yang kini sedang ikut rebahan di sampingnya. Sahabatnya itu bahkan sengaja memiringkan tubuh menghadapnya.

“Apaan sih. Biasa aja lagi," elak Tifany mencoba tersenyum.

“Emangnya tadi siang loe jalan sama siapa?” tanya Septia lagi sambil membolak – balik komik serial cantik yang baru saja ia sambar dari atas meja, koleksi bacaan milik Tifany. Kadang septia sering merasa heran sama sahabatnya yang satu ini. Untuk apa ia mengoleksi komik – komik sebanyak itu.

“Temen,” sahut Tifany singkat. Tidak berani menatap kearah Septia. Berharap Septia tidak akan bertanya lebih banyak. Saat ini ia ragu untuk menyebutkan nama Alan adalah pilihan yang tepat. Walau mungkin sebenarnya Septia sudah bisa menebak.

“Ehem, temen atau demen,” goda Septia lagi.

“Apaan si, udah ah, gue mau tidur. Udah ngantuk, cape lagi. Mending loe lanjut baca aja."

Selesai berkata, Tifany membalikan tubuh membelakangi sahabatnya. Matanya ia paksan untuk terpejam sementara guling dengan erat. Melihat ulah sahabatnya yang terasa aneh, Septia hanya menoleh sekilas. Walau ia masih tidak puas, namun tak urung ia tetap bungkam. Mengikuti saran Tifany, ia lanjutkan acara membaca.

Keesokan harinya seperti biasa Tifany berangkat kuliah. Seharian ia sengaja kucing kucingan dari Alan. Memastikan kalau ia tidak akan bertemu dengan pria yang satu itu. Dan sepertinya itu berhasil. Hari ini ia sama sekali tidak melihat wujud pria itu. Makanya begitu kelas berakhir, ia segera bergegas menuju kearah parkiran.

“Halo cinta ku , manis ku, sayang ku”.

Tifany menoleh, terkejut melihat seseorang yang menepuk pundaknya dan kini berjalan beriringan di sampingnya. Sejenak Tifany menghela nafas. Upaya untuk menghindar sepertinya percuma.

“Ada apa?” balas Tifany datar yang mau tak mau membuat Alan mengerutkan kening. Secara nggak biasanya Tifany bersikap dingin begitu.

“Hei, loe kenapa?” bukannya menjawab Alan malah balik bertanya.

Tifany menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Alan yang masih tampak bingung. Lagi, dihembuskannya nafas secara berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.

“Loe mau ngomong apa?”

“Tadinya si gue mau nitip cokelat. Tapi..."

“Gue nggak bisa,” potong Tifany cepat sebelum Alan sempat menyelesaikan ucapnnya.

“Fan, Loe kenapa si?”

Tifany menyadari kalau Alan terlihat bingung dengan perubahan sikapnya. Tapi mau gimana lagi? Ia sudah tidak bisa terus begini. Sudah cukup ia menyiksa dirinya sendiri. Kalau memang ia tidak bisa bersama dengan Alan, mungkin sebaiknya ia menghindar saja.

“Gue fine – fine aja. Gue Cuma mau ngasi tau sama loe kalau mulai sekarang loe harus bersikap tegas. Kalau loe emang suka sama Septia, leo ngomong langsung sama dia. Karena mulai sekarang gue nggak bisa lagi jadi kurir cokelat loe."

“Jadi menurut loe gue ngomong langsung sama dia?”

Pertanyaan Alan tak urung membuat dada Tifany makin terasa sesak. Karena itu ia merasa ia harus segera berlalu. Di tatapnya wajah pria dihadapannya dalam dalam baru kemudian mulutnya berujar. "“Ia, harus!"

Tifany yakin ia nanti akan menyesali ucapannya barusan. Ralat, bukan nanti. Bahkan saat ini ia sudah merasa menyesal. Bagaimana kalau Alan benar benar menggungkapkan perasaanya pada Septia? Tidak, ia tidak ingin memikirkan itu lebih jauh. Karena itu ia segera menambahkan. "Oh ya, sory ya, gue masih ada urusan. Jadi gue duluan,” selesai berkata Tifany dengan cepat berlalu. Sama ia masih mendeger sahabatnya itu begumam.

"Dia kenapa sih?"

Walaupun Tifany sudah hilang dari pandangan, Alan masih berdiri di tempatnya. Setelah berpikir sejenak, segera di keluarkannya handphond dari dalam saku celana. Beberapa saat kemudian di pencetnya tombol panggil pada id kontak yang sudah sangat ia hapal. Alan menunggu sejenak, dan begitu terdengan sambungan dari seberang tanpa basa basi mulutnya langsung berujar.

“Gue butuh bantu loe. Bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa”.

*** Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ***

Sakit, itu yang selama ini Tifany rasakan saat Alan selalu bersamanya tapi tetap Septia yang menjadi topic dan tujuan utamanya. Sakit, saat Alan selalu menitipkan coklet hanya untuk sahabat tanpa tau kalau ia menyukainya. Tapi ini bahkan lebih sakit lagi, saat ia melihat kedua sahabatnya, Alan dan Septia yang tampak bercanda akrab tidak jauh dari hadapannya.

Berniat untuk sedikit mendinginkan kepala, Tifany sengaja tidak langsung pulang kerumahnya. Setelah berjalan tak tentu arah, akhirnya ia membelokan sepedanya kearah Kafe ceriaaaa, sengaja memilih meja di pojok ruangan agar tidak terlalu menarik perhatian umum sekiranya ia melamun. Namun siapa yang menduga dengan kedatangan dua orang tamu yang baru muncul dan duduk didekat pintu masuk. Dua orang yang ia kenal sebagai teman baiknya.

Memang, apa yang mereka katakan tidak mampu ditangkap oleh indra pendengar nya, Tapi apa yang kini terpampang di hadapannya sudah lebih dari cukup untuk mengambarkan dengan jelas, sangat jelas malah, Kalau sepasang anak manusia itu sudah cukup akrab. Terbukti dengan wajah Ceria bahkan di selingi tawa di antara keduanya.

Dengan segera Tifany meraih tisu yang ada di samping nya ketika tampa terasa setitik air menetes dari mata indahnya. Tidak, ia tidak boleh menangis sekarang.

“Pedih rasa di hati

Saat ku melihat Kamu,

Pergi tinggal kan aku....

Dengan memendam cinta yang lain...”

* Kengen band_ Pergi tanpa alasan *


Tak tau berapa lama waktu yang Tifany habiskan untuk tetap duduk di tempatnya. Yang gadis itu tau, waktu itu terlalu lama. Detik bahkan terasa tidak bergerak, sementara hatinya bagai di cabik - cabik. Mungkin sebaiknya sedari tadi ia harus pergi dari pada terus menyiksa diri dengan pemandangan di hadapan. Namun, Tifany urung melakukan itu. Ia tidak akan bisa pergi dari sana tanpa di ketahui oleh keduanya. Disaat yang sama ia tidak ingin mereka tau keberadaanya.

Tifany melirik jam yang melingkar di tanganya, tepat pukul setengah lima, kedua orang yang sedari tadi menjadi objek tatapanya tampak berdiri. Dengan cepat Tifany menyambar buku menu di meja untuk sekedar menutupi wajahnya. Setelah keduanya berlalu barulah gadis itu bisa kembali bernapas. Kepalanya hanya mengangguk sembari tersenyum sebelum kemudian buru buru berlalu ketika melihat mbak mbak penjaga kasir yang heran melihatnya. Tentu saja mbak itu keheranan. Secara ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk duduk sendirian.

Tiba di jalanan, barulah Tifany membiarkan air mata menetes di pipi mulusnya. Kakinya terus mengayuh tanpa tujuan. Pikirannya benar benar kosong. Ia tidak tau harus kemana? Ia tidak tau harus bagaimana? Satu satunya yang ia tau adalah, dadanya benar benar terasa sakit.

Dengan tampang super kusut, Tifany melangkah memasuki halaman kostannya. Belum juga masuk kedalam rumah ia sudah disambut tatapan khawatir dan cemas Septia yang sudah sedari tadi menunggunya. Bisa dimaklumi sih, karena sekarang waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Ditambah selama ini Tifany sama sekali tidak pernah keluar setelah makhrip kecuali bersamanya. Tapi yang membuat Tifany lebih kaget lagi adalah Ternyata Septia tidak sendirian. Alan berdiri tepat di sampingnya. Pemandangan itu tak urung menorehkan kembali luka didadanya.

“Ya ampun Fan, loe dari mana aja? Kita berdua khawatir sama loe. Dari tadi nomor loe juga di hubungi nggak aktif – aktif. Kenapa jam segini baru pulang? Dan loe....." pertanyaan tanpa rem dari Septia terhenti dengan sendirinya. Gadis itu mengamati raut sahabatnya dengan seksama. "Loe abis nangis?”

"Bukan urusan loe," selesai berkata Tifany berniat untuk segera melangkah masuk kedalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti dengan ulah Alan yang tiba tiba berdiri menghalangi.

"Fan, loe kenapa?"

Tifany bukan tidak menyadari kalau pria yang kini berada tepat di hadapanya sedang menatapnya khawatir. Namun sekarang, ia tidak sedang dalam kondisi siap dan terima dengan kekhawatiran itu. Toh semuanya percuma. Percuma Alan khawatir pada dirinya kalau pada kenyataanya toh dialah yang paling menyakitinya.

"Nggak usah sok peduli sama gue," Tifany tidak berniat untuk mengucapkan kalimat dingin itu. Tapi rasa sakit yang ia terima saat ini benar benar membekukan jalan pikirannya. Saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Perasaan karena di hianati sekaligus di permainkan membuatnya merasa muak. "Bukannya malah bagus kalau gue nggak ada. Jadi kalian berdua kan lebih merasa bebas untuk berduaan."

Tak hanya Alan, Septia juga merasa tersentak dengan kalimat sinis sahabatnya. Tifany tidak pernah seperti itu. Membuat keduanya saling pandang.

“Fan.." ujar Alan lirih. Tanganya terulur untuk meraih tangan Tifany tapi dengan segera di tepisnya.

“Sory, Tapi gue cape. Gue pengen istirahat”.

Tanpa memperdulikan reaksi Alan dan septia, Tifany segera melangkah masuk menuju kedalam. Setelah meleparkan tasnya dengan sembarangan ia segera melangkah kekamar mandi. Membiarkan dinginya air shower membasahi tubuhnya mengiringi air mata yang kembali mengalir dari pipinya.


Next to cerpen cinta rasa yang tertinggal part 4.

Detail Cerpen


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 11:11:00 PM

3 komentar:

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers