Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 18

Tanpa banyak basa – basi, cerita kenalkan aku pada cinta kembali berlanjut. Untuk yang masih penasaran sama lanjutannya monggo langsung di baca. Kalau bingung sama ceritanya bisa di baca dulu di part sebelumnya disini. Happy reading ya….

Lama Astri duduk terdiam. Dan entah untuk kesekian kalinya, gadis itu hanya mampu menghebuskan nafas berat. Matanya memang sedang menatap lurus kearah cermin yang memantulkan bayangan dirinya, namun tidak dengan pikirannya. Angannya melayang entah kemana. Bahkan tadinya ia sempat ragu untuk ke kampus hari ini.

Cerpen Kenalkan Aku Pada Cinta


“Astri.”

Astri menoleh, sedikit kaget ketika menyadari kakaknya entah sejak kapan kini sedang duduk disampingnya.

“Loe mau kuliah?” tanya Rendy lagi.

Kepala Astri mengangguk membenarkan. Tatapanya kembali ia alihkan kearah kaca, sekedar memastikan kalau tampilannya sudah benar – benar oke.

“Loe yakin?”

“Ya iya donk. Memangnya kenapa sih kak?” Astri balik bertanya dengan acuh tak acuh.

“Soal Andre,” Rendy tidak langsung melanjutkan ucapannya. Matanya mengamati reaksi adiknya, namun tiada yang berubah. “Alya sudah cerita, dan gue juga sudah menanyakan langsung pada Andre, dan dia bilang….”

“Kalau nggak perlu di bahas boleh nggak kak?” potong Astri sambil kembali menatap kakaknya.

“Tapi kakak cuma.”

“Untuk kali ini aja, boleh nggak gue menyelesaikan masalah gue sendiri,” potong Astri lagi.
Kali ini Rendy beneran bungkam. Matanya menatap lurus kearah adiknya yang juga sedang menatapnya. Untuk jeda beberapa saat keduanya hanya bertatapan dalam diam sampai kemudian Rendy mengangguk. Sedikit banyak ia merasa bersalah pada adiknya. Bagaimana pun ia ikut bertangung jawab dengan hal itu. Andre adalah sahabatnya. Terlebih ia juga yang berusaha untuk menjodohkan keduanya.

“Baiklah kalau memang itu yang loe mau. Tapi yang harus loe tau, gue nggak bermaksut buat bikin loe sakit hati.”

Astri mengangguk. “Gue tau,” sambungnya lirih.

“Ngomong – ngomong, Andre sudah menunggu di bawah.”

Mendengar itu Astri kembali terdiam. Pikirannya kembali berkelanan sebelum kemudian matanya menatap penuh permohonan kearah kakaknya.

“Kalau gitu loe bisa bilangin kedia kalau gue pengen pergi sendiri?”

Gantian Rendy yang mengangguk. Beberapa saat kemudian pria itu segera melangkah meninggalkan adiknya sendiri. Adiknya bukan anak kecil. Gadis itu pasti tau apa yang akan di lakukannya.

Begitu diberitahu kalau Andre sudah meninggalkan rumahnya, barulah Astri melangkah turun. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya,barulah Astri pergi kekampus.

Tiba di kampus, hal yang sama ia lakukan. Untuk saat ini sebisa mungkin Astri mencoba untuk menghindari Andre. Gadis itu bukan tidak tau kalau pria itu berusaha untuk bertemu dengannya. Hanya saja ia merasa ia masih butuh waktu. Memanfaatkan rasa bersalah yang ada di diri Alya, Astri meminta sahabatnya untuk menjadi tameng agar bisa menghindar.

“Astri gue mau bicara sama loe.”

Astri yang sedang berusaha untuk menyalakan motornya menoleh. Gadis itu hanya mampu menghela nafas ketika menyadari kalau Andre kini sedang berdiri di sampingnya.

“Nggak ada yang perlu kita bicarain.”

“Tapi gue ada.”

Astri hanya angkat bahu. Dengan acuh gadis itu kembali menstater motornya. Diluar dugaan, tangan Rendy terulur melepaskan kuncinya sebelum kemudian mengengamnya erat.

“Mau loe apa si?”

“Kita harus bicara. Gue nggak mau loe terus menerus menghindari gue.”

“Heh,” Astri mencibir sinis. “Emangnya elo siapa gue?”

Ucapan Astri memang lirih, tapi efeknya ternyata cukup untuk membuat Andre terpaku. Pria itu hanya bisa membiarkan kunci yang ada dalam gengamannya kembali beralih posisi. Bahkan Andre sendiri tidak mecegah ketika secara berlahan Astri berlalu meninggalkannya.

Tak terasa seminggu telah berlalu. Berhubung hari minggu kuliah libur, seperti biasa hal yang di lakukan Astri adalah tiduran di kamar sambil baca novel koleksinya. Agenda hari ini adalah bermalas – malasan. Atau mungkin lebih tepatnya, belum ada hal menyenangkan yang bisa ia lakukan.

“Ya ela, asyik banget kayaknya. Sampai sampai gue datang aja loe nggak nyadar.”

Astri mendongak. Sedikit terkejut sebelum kemudian tersenyum ketika melihat Alya sudah berada di hadapannya. Dengan berlahan tangan Astri terulur melepaskan headset yang terpasang di kedua telinganya.

“Eh elo, kapan datangnya?” tanya Astri sambil berlahan ia bangkit duduk, sedikit mengeser posisi duduknya untuk memberi celah kearah Alya agar bisa segera menghampiri.

“Udah dari tadi si. Cuma tadi duduk di bawah, tapi elonya nggak keluar – keluar. Kirain lagi ngapain. Eh ternyata lagi baca novel. Nggak bosen apa?”

Astri mengeleng masih dengan senyum yang tersemat di bibirnya. Pada dasarnya ia memang tidak merasa bosan.

“Jadi loe sendiri tadi di bawah? Cie ela, jangan bilang loe ngobrol berdua bareng kakak gue. Secara nyokap bokap gue kan lagi nggak ada. Kalau di pikir – pikir kalian berdua makin deket aja nih. Roman romannya gue mencium sesuatu.”

“Nggak usah sotoy,” bantah Alya dengan raut kesel, Astri hanya membalas dengan tawa lepas.

“Ngomong – ngomong gue nggak cuma ngobrol bareng kakak loe kok.”

“Oh ya? Emangnya ada siapa lagi?” tanya Astri dengan kening berkerut samar.

Alya tidak langsung menjawab. Matanya justru malah mengamati raut di wajah Astri. “Ada kak Andre juga.”

Kalimat itu membuat Astri bungkam. Bahkan jejak – jejak tawa di wajahnya juga langsung raib. Setelah beberapa waktu yang lalu, Andre memang sudah tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan di kampus juga. Ia juga tidak pernah melihat kakaknya jalan bareng dengan pria itu lagi ataupun sekedar mengungkit – ungkit namanya. Makanya Astri merasa sedikit heran ketika Alya tiba – tiba berkata kalau pria itu ada di bawah.

“Loe nggak tertarik buat ikutan gabung?” tanya Alya beberapa saat kemudian.

Astri mengeleng. Tatapannya kembali ia alihkan kearah novel yang ada di tangan. “Ngapain, nggak ada urusannya juga sama gue,” sambung gadis itu angkat bahu.

“Loe yakin nggak ada urusannya sama loe?”

“Please deh Al, nggak usah ungkit – ungkit masalah ini lagi bisa nggak?”

“Huf,” Alya tampak menghembuskan nafas lelah. “Tadinya gue memang nggak mau ikut campur. Hanya saja, gue liat loe terus menghindar. Loe sama sekali nggak terlihat berusaha untuk menyelesaikan masalah diantara kalian.”

“Gue nggak punya masalah sama dia Alya. Lagian….”

“Jangan seperti anak kecil, Astri,” potong Alya yang membuat Astri kembali terdiam.

Untuk beberapa saat suasana terasa hening. Diam – diam Alya melirik kearah Astri. Menanti reaksi dari sahabatnya, tapi gadis itu tetap terdiam seperti sebelumnya.

“Gue bukan kayak anak kecil. Gue Cuma berusaha untuk menempatkan semuanya pada tempatnya.”

“Maksut loe?” tanya Alya tidak mengerti.

Bukanya menjawab, Astri hanya mengeleng berlahan sebelum kemudian tatapan ia alihkan kearah luar. Pada jendela kamarnya yang terbuka. Tatapannya menerawan jauh. Sejauh pemikiran yang selama ini memenuhi kepalanya.

“Bukannya loe sendiri bilang kalau loe suka sama kak Andre?” tanya Alya hati hati.

“Gue ragu akan hal itu,” gumam Astri lirih yang di balas tatapan bingung oleh Alya.

“Loe tau sendirikan, sejak awal gue sama kak Andre sama sekali nggak punya perasaan apa – apa. Bahkan apa yang gue tau, loe suka sama dia. Tapi seiring waktu berlalu, gue ngerasa terbiasa dengan hadirnya dia. Nggak cuma itu, ternyata loe nggak beneran suka sama dia. Bahkan loe dan kakak gue justru malah niat nyombaling gue. Tapi sayang, semua nggak berjalan sesuai rencana. Kak Andre ternyata sudah punya pacar. Dan gue sendiri juga baru tau itu.”

Mulut Alya sudah terbuka untuk berkata, tapi ia urungkan ketika Astri kembali melanjutkan ucapannya.

“Dan karena hal itu, gue berpikir lama. Jika semua sesuai dengan rencana akan seperti apa akhir ceritanya? Gue juga ragu, apa bener apa yang gue rasa ini cinta? Atau cuma sebatas karena terbiasa. Loe tau sendirikan, sebelumnya gue nggak pernah kenal sama yang namanya cinta?”

Gantian Alya yang terdiam. Mencoba mencerna maksut ucapan sahabatnya.

“Jadi maksut loe, loe mau menjauhin kak Andre buat masitin kalau yang loe rasa itu bukan cinta?”

Walau ia sendiri tidak yakin itu tujuannya, tak urung Astri mengangguk.

“Loe beneran yakin hanya karena itu? Loe ngejauhin dia bukan karena loe beneran suka sama dia tapi loe takut kalau ternyata loe hanya akan terluka karena loe tau kalau dia punya cewek lain?” tanya Alya lagi.

Astri menunduk diam tanpa jawaban. Alya sendiri juga tidak tega untuk mendesakanya.

“Baiklah, kalau memang itu pilihan loe. Gue nggak bisa apa – apa lagi. Karena semua keputusan ada di tangan loe. Gue pernah ikut campur, tapi hasilnya ternyata tidak seperti yang di harapakan. Karena itu, kali ini gue akan mendukung loe sepenuhnya. Oke?” kata Alya sambil tersenyum menyemangati.

Astri ikut tersenyum membalasnya. Walau ia sempat merasa kesel pada sahabatnya karena hal itu, tapi tak urung Astri menyadari. Sahabatnya hanya ingin membantunya. Bukan berniat mencelakakan dirinya.

“Tapi ngomong – ngomong As, loe yakin loe nggak pengen tau siapa tu cewek sebenernya?” tanya Alya tiba – tiba.

Astri menoleh. Matanya menatap lurus kearah Alya yang masih duduk santai disampingnya. Menanti kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Alya selanjutnya. Tapi sayang, gadis itu sama sekali tidak menoleh kearahnya. Perhatiannya justru malah ia fokuskan pada novel yang kini ada dihadapannya. Bersikap seolah – olah ia tidak pernah menanyakannya.

“Ni novel kayaknya seru. Loe udah selesai baca belom? Gue pinjem ya?” kata Alya sambil menatap kearahnya.

“Ya?” Astri pasang tampang cengo. Kenapa topic kalimatnya bisa terjun bebas gini? Dan saat mendapati tatapan penuh harap Alya yang masih menanti tanggapan darinya, Astri tersenyum sembari mengangguk.

“Gue udah selesai kok. Kalau loe mau baca, loe boleh pinjem,” sahut Astri akhirnya.

Alya tersenyum. Berlahan tangan nya terulur meraih bantal disamping Alya sebelum kemudian merebahkan dirinya. Mencari posisi enak untuk melanjutkan aktifitas yang baru saja akan di mulainya. Melahap bacaan yang kini ada di tangannya.

Astri sedikit mengernyit. Apa topic yang ia bicarakan sebelumnya sudah benar – benar selesai. Tapi ketika menyadari Alya yang telah tengelam kedalam kisah yang tertera dalam bait novel dihadapannya, Astri hanya bisa angkat bahu. Secara berlahan ia ikut merebahkan tubuh tepat disamping Alya sembari mengambil novel lain yang belum ia baca. Tak lupa dinyalakan MP3 dari BB disampingnya. Sekedar pelengkap untuk menemani aktifitas yang akan di lakukannya.

Melihat ulah Astri, Alya melirik sekilas. Gadis itu hanya menghembuskan nafas berlahan sebelum kemudian kembali melanjutkan bacaannya.

To Be Continue…..

~ Salam ~ Ana Merya ~


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:21:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers