Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 17

Karena kemaren ide rada nggak ada buat nulis, Admin iseng baca ulang cerpen take my heart. And baru nyadar kalau tu cerpen ternyata sampe part 20. Nah, abis itu admin mikir - mikir lagi. Kayaknya dari pada ni cerpen Kenalkan Aku Pada Cinta di paksa ending. Mendingan agak di panjangi aja lah. Bener nggak?

Oh ya, buat yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini. Untuk kelanjutanya baca di bawah ini. Oke guys, cekidot....

Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta

Ketika mendengar suara bel yang berdenting, Astri segera bangkit berdiri. Tapi sebelum itu disambarnya remote TV yang sedari tadi menemaninya menanti kemunculan Andre yang berjanji akan menjemputnya. Karena kebetulan di rumah sepi, mama dan papa sibuk dengan urusannya sendiri sementara kakaknya nggak tau kemana sudah menghilang sejak tadi pagi, Astri memang sengaja menyalakan TV guna membunuh rasa bosannya walau sebenarnya tetap percuma. Jaman sekarang susah sekali mencari siaran TV yang berkualitas. Jika tidak tentang sinetron yang tidak masuk akal, pastsi yang ada siaran gossip para artis. Sampai masalah kawin – cerai di bahas dari kemaren nggak habis habis.

“Hai,” sapa Andre ketika wajahnya muncul di balik pintu. Seulas senyum yang bertenger di wajah tampannya kini menular, membuat Astri membalas dengan senyum tak kalah indahnya.

“Udah siap?” tanya Andre lagi Astri hanya membalas dengan anggukan. “Kalau gitu ayo kita pergi sekarang,” ajak Andre lagi.

Setelah terlebih dahulu mengangguk setuju, Astri segera berjalan mengekor di belakang Andre. Tanpa ragu tangannya menerima uluran helm dan segera mengenakannya. Selang beberapa saat kemudian keduanya sudah stay di mall, siap untuk berburu kado.

Hari sudah hampir siang, namun yang di cari masih belum di temukan. Astri sendiri merasa heran, perasaan sudah hampir seluruh isi mall ia kelilingi tapi Andre selalu menggeleng tiap ia tunjukan barangnya. Mulai dari boneka, baju, syal bahkan buku dan pernak pernik. Heran juga, sebenarnya yang mau di cari pria itu apa sih?

“Kak, sebenernya yang mau loe cari itu apa sih?” tanya Astri akhirnya.

Andre mengeleng tanpa menoleh. “Gue juga nggak tau. Kalau ngasinya baju, ntar takutnya nggak muat. Buku, dia nggak suka baca. Boneka? Ya ela, anaknya kan tomboy.”

“Emang dia sukanya apa?” tanya Astri lagi.

“Apa ya?” Andre pasang pose berpikir. “Gue nggak tau banyak sih. Tapi dia itu suka music, main gitar dan…”

“Dan?” Astri menatap Andre heran. Terlebih ketika ia melihat raut berbinar di wajah pria itu

“Gitar. Oh ya, kenapa gue nggak kepikiran dari tadi?”

“Ya?” Astri mengernyit heran. Maksutnya apa ni? Andre berniat untuk memberi kado gitar? Yang benar sajalah. Bukannya gitar itu mahal ya.

“Baiklah, karena sekarang juga kebetulan sudah siang. Mendingan kita makan dulu yuk,” ajak Andre kemudian.

Walau masih bingung, Astri mengangguk setuju. Lagi pula perutnya juga sepertinya memang mengharapkan hal yang sama. Saat keduanya sudah duduk santai, Astri tiba – tiba berdiri. Panggilan alam memintanya untuk segera mencari toilet. Setelah berpamitan pada Andre dengan santai Astri meninggalkan mejanya. Lagipula makanan mereka juga baru di pesan, masih tersisa cukup banyak waktu baginya.

Karena toilet berada di lantai satu, Astri membutuhkan waktu lebih banyak baru kemudian kembali kearah Andre yang menunggunya di lantai dua. Keningnya berkerut heran saat samar ia melihat bangku yang didudukinya tadi tidak lagi kosong. Tepat di hadapan Andre tanpak duduk seseorang gadis yang kalau Astri boleh jujur, cantik. Ralat, sangat cantik malah.

“Andre, kenapa loe selalu menghindari gue?”

Deg, langkah Astri terhenti seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut gadis cantik itu. Disaat yang sama ia mencoba memperhatikan raut wajah Andre yang masih belum menyadari kehadiarannya.

“Gue telpon loe, juga nggak pernah loe angkat. Gue sms, nggak pernah di balas. Bahkan gue kerumah loe, juga loe nggak pernah ada. Dan sepertinya pertemukan kita kali ini juga hanya karena keajaiban,” tambah gadis itu lagi.

“Mau apa lagi loe sekarang?” tanya Andre terdengar datar. Astri sedikit mengernyit mendengarnya. Nada itu sama sekali tidak terdengar bersahabat. Sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua?

“Andre, please. Jangan kayak gini. Gue tau loe marah sama gue. Tapi walau bagaimana pun, loe itu masih pacar gue.”

Pacar? Jawaban yang sangat mengagetkan sekaligus tidak pernah Astri inginkan. Walau sejujurnya ia masih tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan dan bagaimana dengan hubungan mereka yang sebenarnya, tapi sungguh. Saat ini ia sama sekali tidak ingin mengetahuinya. Dan ia memang tidak berniat untuk mengetahuinya. Karena itu lah, ia memilih untuk segera berbalik.

Sayangnya karena ia terlalu ingin segera pergi ia tidak menyadari kalau tepat di belakangnya ternyata ada pelayan yang juga baru berbalik dari membereskan meja di sampingnya. Tak bisa di hindari tuburkan pun terjadi. Untunglah, pelayan itu cekatan. Piring yang ia bawa tidak jatuh kebawah, hanya tampak beberapa tetes sisa air jus yang sedikit membasai pakaiannya.

“Aduh, maaf mbak. Maaf. Nggak sengaja,” pinta Astri merasa bersalah. Tapi gadis itu hanya tersenyum sembari mengeleng berlahan. Memberi isarat kalau ia baik – baik saja.

“Astri?”

Astri menoleh dan segera menyesali kecerobohannya barusan. Andre tanpak bangkit berdiri dan segera menghampirinya. Mengantikan pelayan yang kini telah kembali dengan tugas – tugasnya.

“Loe kenapa? Nggak papa kan?” tanya Andre lagi.

Astri hanya mengeleng berlahan. Dengan ekor matanya ia menangkap sosok gadis yang tadi sedang menobrol dengan Andre kini juga ada di sampingnya. Astaga, situasi macam apa ini? Kalau gini ceritanya bagaimana ia bisa kabur diam diam.

“Nggak papa kok. Gue nggak papa,” sahut Astri lirih sambil sedikit memundurkan tubuhnya karena merasa posisi Andre telalu dekat. Tidak, sebenarnya tidak terlalu dekat juga sih. Hanya saja tatapan tajam yang ia dapatkan dari gadis yang entah siapa itu benar – benar membuatnya merasa risih dan memilih mundur.

“Ya sudah. Kalau gitu kita makan yuk. Lagian pesanan kita juga sudah ada,” ajak Andre sambil meraih tangan Astri namun langsung di tepis oleh gadis itu. Mau tak mau Andre merasa sedikit heran. Matanya menatap lurus kearah Astri yang sama sekali tidak mau menatapnya.

“Andre, cewek ini siapa?”

Astri menoleh kearah sesorang yang baru saja melemparkan pertanyaan barusan. Tatapan menilai langsung ia dapatkan. Oke, ia akui. Kemaren bahkan Astri sudah menganti model rambutnya, di tambah hari ini ia sudah berdandan lebih dari biasanya. Tapi sialan. Bahkan ia yakin kalau kecantikanya nggak lebih dari setengah kecantikan gadis itu. Menyebalkan.

“Gue bukan siapa – siapa kok,” sahut Astri cepat. Secepat yang ia bisa untuk mendahului Andre menjawabnya. Kalau tadi ia hanya berniat untuk pergi, kali ini Astri yakin ia ‘harus’ pergi. Ia tidak mau berlama – lama dalam posisi yang ia tak tau seperti apa ini.

“Astri…” tahan Andre.

“Dan kayaknya gue masih ada urusan deh.. Sory ya kak, gue nggak bisa nemenin loe buat nyari kadonya lagi . Permisi,” potong Astri sambil segera berbalik pergi.

Saat itu Andre berniat untuk mengejarnya. Dan ia memang sudah melangkah untuk mengejar Astri. Hanya saja, tangannya sudah lebih dahulut ditahan oleh gadis yang berada di sampingnya.

“Kita belum selesai bicara.”

Andre tampak menghela nafas berat. Pikirannya saat ini kacau. Dan saat menoleh pria itu segera menyadari bahwa ia harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu baru nanti mengejar Astri. Apalagi makanan yang ia pesan juga belum di bayar.

“Oke, kita memang harus bicara,” tandas Andre sambil menepis cekalan tanganya. Berlahan langkahnya berbalik kearah dimana ia duduk sebelumnya.


Dengan pikiran kosong Astri menyetop taksi yang kebetulan lewat di hadapannya. Berharap ia bisa segera sampai di rumah. Kejadian hari ini benar – benar di luar dugaannya. Andre sudah punya pacar? Terus apa maksutnya mendekatinya selama ini? Jangan bilang kalau pria itu sama seperti kakaknya. Sama sama plaboy.

Begitu taxsi berhenti tepat didepan rumah, Astri segera melesat masuk. Dengan terburu di keluarkannya kunci dari dalam saku. Tapi ia hanya mampu mengernyit sama ketika menyadari kalau pintu rumahnya sama sekali tidak terkunci. Terlebih ada sepasang sandal yang sepertinya ia kenal nangkir di lantai teras.

Tak ingin berpikir lebih jauh Astri segera melangkah masuk. Tatapan yang ia lemarkan sukses menghentikan gelak tawa orang – orang yang sedang mengobrol di ruang tengah.

“Alya, loe kok bisa ada disini?” tanya Astri heran.

“Ya bisa donk. Cie cie cie, mentang mentang sudah punya temen kencan emangnya gue udah nggak boleh kesini lagi? Huuuu,” ledek Alya dengan raut di manyun manyunkan.

“Apaan si. Siapa yang kencan coba.”

“Terus kalau nggak loe dari mana? Tapi ngomong – ngomong kok loe sendirian?” tanya Alya lagi.

Mendengar itu Astri terdiam. Mau tak mau ingatanya segera kembali melayang tentang apa yang terjadi di mall tadi. Saat ia menatap kearah wajah Alya, detik itu juga ia merasa bersalah. Sepertinya apa yang ia lihat tadi memang pantas ia dapatkan. Bukankah demi Andre, ia telah mengabaikan sahabatnya yang satu ini.

“Astri, loe kenapa?” tanya Rendy yang sedari tadi diam angkat bicara saat melihat adiknya sedari tadi hanya terdiam.

“Kalian lanjut ngobrol aja dulu. Gue mau ganti baju dulu kekamar,” pamit Astri tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar untuknya.
Sepergian Astri, Alya dan Rendy tampak saling pandang. Keduanya menyadari ada seseuatu yang aneh. Sampai kemudian Alya memutuskan untuk menyusul diiringi anggukan setuju oleh Rendy.

“Tok tok tok.”

“Astri, gue boleh masuk nggak?”

Astri yang sedang duduk diam di atas ranjangnya menoleh ketika mendengar suara dari balik pintu kamarnya. Sementara Alya sendiri yang merasa tidak ada tangapan dari dalam segera memutar knop pintunya. Daun pintu itu pun segera terbuka karena Astri memang tidak menguncinya.

“Astri, loe kenapa?” tanya Alya sambil melangkah menghampiri.

Astri masih terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa? Apa ia harus berterus terang atau tetap bungkam. Tapi bagaimana ia bisa cerita kalau kenyataan yang ia tau, Alya menyukai Andre sejak lama.

“Loe kenapa? Loe kan bisa cerita sama gue,” sambung Alya lirih.

Begitu melihat raut khawatir di wajah Alya itulah keraguan Astri sirna. Sahabatnya benar – benar baik padanya. Ia selalu tulus. Tapi kenapa Astri malah membalasnya seperti ini.

“Alya, maafin gue,” kata Astri sambil memeluk tubuh sahabatnya.

Awalnya, Alya yang tidak tau duduk permasalahannya hanya bisa bengong dengan sikap aneh sahabatnya yang begitu tiba – tiba. Tapi karena menyadari kalau ada yang salah, tangannya terulur mengusap – usap punggung Astri sambil mulutnya bergumam lirih.

“Sudah. Tenang aja. Kenapa loe harus minta maaf sama gue. Memangnya loe punya salah apa.”

“Gue….” Astri masih merasa sedikit ragu. Setelah mengumpulkan keberaniannya akhirnya mulutnya berujar.

“Sebenarnya selama ini di belakang loe gue selalu jalan sama kak Andre.”

Hening. Kebisuan yang melanda membuat Astri yakin kalau sahabatnya marah padanya. Lagipula siapa sih yang tidak akan marah jika di perlakukan seperti itu oleh sahabat kita sendiri.


“Loe jalan sama kak Andre?” tanya Alya hati – hati sambil melepaskan pelukannya. Matanya menatap lurus kearah Astri yang hanya menunduk sembari menggangguk membenarkan.

“Kalau gitu loe harus jawab jujur pertanyaan gue, Apa loe suka sama kak Andre?” tanya Alya lagi.

Kali ini Astri menoleh. Matanya menatap langsung kearah Alya yang juga menatapnya. Sudah begitu banyak kebohongan yang ia lakukan pada sahabatnya itu.

“Gue….. Gue…. Maafin gue. Tadinya gue emang nggak suka sama dia. Gue cuma nganggap dia kayak kakak gue sendiri. Lagian gue juga tau kalau loe suka sama dia. Tapi kemudian seiring berlalunya waktu, dia selalu perhatian sama gue. Dan gue…..”

“Dan loe kemudian suka sama dia kan?” potong Alya.

Kepala Astri mengangguk. “Gue memang suka sama dia, tapi…”

“Yess! Itu artinya usaha kita nggak sia – sia.” lagi – lagi Alya memotong ucapan Astri.

Astri menoleh kaget. Raut wajah Alya sudah berubah seratus persen. Tiada lagi raut serius, yang ada hanya raut suka cita di sana.

“Maksut loe?” tanya Astri tidak mengerti.

“Akh, gue harap si loe nggak marah ya. Sebenarnya gue juga mau minta maaf sama loe. Gue nggak pernah suka sama kak Andre kok. Serius. Yang gue bilang kemaren itu cuma akal – akalan doank. Kita semua. Maksutnya gue sama kakak loe, sepakat buat bantuin kak Andre yang ternyata suka sama loe. Tapi berhubung kita semua tau loe orangnya kaya gimana, makanya kita bikin rencana kayak gini. Dan sebenernya gue juga tau kalau selama ini loe jalan sama dia.”

Penjalasan yang baru saja mampir itu membuat Astri langsung membisu. Jadi maksutnya.

“Tapi loe jangan marah sama gue ya. Secara loe kan sama. Loe juga bohongin gue. Coba aja loe dari kemaren terus terang kalau loe suka sama dia, kita kan nggak harus bohong kayak gini.”

“Jadi maksut loe sejak awal semua ini sudah di rencanakan?”

Alya mengangguk. Merasa bersalah saat melihat raut di wajah Astri. Apalagi ketika menyadari kalau gadis itu sedang menangis di hadapannya. Astaga, sungguh ia tidak bermaksut melakuan itu.

“Astri, jangan nangis donk. Gue kan jadi merasa bersalah. Serius, gue melakukan ini cuma buat loe. Gue pengen loe tau, bahwa seseorang itu nggak bisa hidup sendiri.”

“Kalau gitu,” jeda sesaat. “Apa loe juga tau kalau kak Andre ternyata sudah punya pacar?”

“Apa?!” Alya melotot kaget.

Dan Astri lebih memilih membiarkan kebisuan sebagai jawaban.

To Be Continue…..

Krik krik krik, nggak jadi end #ditabok.

With love ~ Ana Merya ~
.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:52:00 AM

1 komentar:

  1. Kak cerpennya bagus bagus. kenapa gk dibuat novel aja kak?

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers