Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 07 | Cerpen Remaja

Kenalkan Aku Pada Cinta part 07, mengikuti ide cerita yang ngalor ngidul nggak jelas akhirnya cerpen ini bisa di lanjutkan juga. Terlebih sebelumnya sempet terganggu dengan kemuculan Short story arti sebuah senyuman yang sedikit banyak emang menyita perhatian. Tapi gimana pun juga, yuks mending kita simak bareng.

Oh ya, untuk part sebelumnya bisa langsung di klik di sini.


Kenalkan Aku Pada Cinta

Setelah mandi, Astri merasa tubuhnya terasa begitu segar. Menambahkan sedikit bedak tabur di wajahnya, ia menatap cermin di meja rias. Tanpa perlu mengunakan lipsik Astri berbalik. Meninggalkan kamarnya untuk turun kebawah. Tak lupa di sambarnya Novel If You Dare yang belum sempat selesai di bacanya. Sejujurnya ia tidak suka membaca novel terjemahan, bahasa yang di gunakan kebanyakan vulgar dan ia sangat tidak menyukai itu. Namun untuk yang satu ini sepertinya ada pengecualian.
Sengaja menyetel musik dengan begitu keras, Astri melangkah kedapur. Membuat segelas teh hangat ditambah sepiring nasi goreng. Kedua orang tuanya sejak kemarin sore menginap di rumah kakek yang ada di luar kota. Meninggalkan Astri hanya bersama kakaknya di rumah. Dan bisa di pastikan makhluk yang satu itu saat ini pasti masih mendengkur di kamarnya.

Semerbak bau nasi goreng yang ada di hadapannya membuat Astri menelan ludah. Tak sabar ingin mencicipi. Setelah menghidangkan di atas meja, Astri berbalik kearah kulkas untuk mengambil segelas ait putih.

"Kakak, itu kan nasi goreng gue," geram Astri setengah berteriak sambil menarik piring di hadapan makhluk yang dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun sedang menikmati sarapannya.

"La, terus buat gue mana?" tanya Rendy sambil menatap Astri. Yang di tatap tidak menoleh, justru tangannya sibuk merapikan nasi goreng yang telah dirampok kakaknya sembari terus mengerutu.

"Bikin aja sendiri."

"Busyet dah, tega banget si loe jadi adek. Masa bikin sarapan cuma buat sendiri. Padahal loe kan cuma punya kakak satu."

"Ya tadi kenapa kakak nggak bilang kalau kakak juga mau?" balas Astri.

"Elonya nggak nawarin."

"Jadi ini salah gue, gitu?"

"Ya sudah lah, mau makan aja di ributin. Ketauan mama malah kita yang di marahin tau. Datangnya berkah kan dari makanan, masa kita malah berantem di depan makanan."

"Nah, itu kakak pinter" senyum Astri sumringah sementara Rendy hanya mencibir sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah kulkas, mencari sesuatu yang bisa di makan.

"Tapi ngomong - ngomong kakak tumben pagi gini udah rapi," komentar Astri sambil menghirup udara sekeliling. "Ah, sama wangi juga," sambungnya.

"He he he" bukannya menjawab Rendy malah menyengir kuda sambil tangannya terulur meraih teh hangat yang di sodorkan Astri padanya. Sambil duduk ia mengoleskan selai kearah roti yang dijadikan menu sarapannya pagi ini.

"Kita jalan yuk."

Tangan Astri yang sedang menyuapkan sendok kedalam mulut terhenti. Matanya menatap penuh selidik kearah Rendy yang justru sama sekali tidak menoleh kearahnya.

"Kita?"

Mendengar kalimat tanya dari mulut adiknya membuat Rendy menoleh. Kepalanya mengangguk berlahan sembari mulutnya berujar.

"Iya. Kita. Lagian masa liburan gini di rumah aja. Nggak seru donk. Mending juga jalan - jalan."

"Nggak biasanya kakak ngajakin jalan. Modusnya apa nih?" tanya Astri curiga.

"Huwahahah," tawa meledak dari mulut Rendy. "Loe emang adek gue yang paling pinter," puji Rendy sambil mengangkat jempolnya. "Ehem, gue emang nggak ngajakin elo aja. Tapi bareng Andre juga."

"Kak Andre?" ulang Astri yang di balas anggukan kepala Rendy.

"Maksutnya kita pergi bertiga?" tanya Astri lagi. Kali ini kepala Rendy mengeleng.

"Oh tentu saja tidak. Berhubung gue udah ngajakin temen gue, ya elo ngajakin temen loe juga. Yang cantik kemaren itu. Aduh gue lupa lagi siapa namanya."

"Maksut kakak, Alya?"

"Iya. Bener. Alya. Loe ajak dia, gue ajak Andre. Deal kan?"

"Ha?" Astri cengo.

"Ya ela loe lemot banget si. Baru juga tadi di puji pinter."

"Tunggu dulu. Gue nggak ngerti. Kenapa gue harus ngajakin Alya segala?"

"Tentu saja supaya gue ada temennya. Terus kalau seandainya nanti loe keasikan ngobrol bareng Andre, gue kan nggak bosan. Begitu..." terang Rendy persis seperti guru tk yang mengajari siswanya.

"Jangan bilang kalau kakak naksir sama Alya."

Rendy tau kalau itu kalimat pernyataan bukan pertanyaan, makanya tanpa pikir panjang kepalanya langsung mengangguk.

"Nggak boleh."

"Lho, kenapa?"

"Kakakkan playboy. Enak aja mau jalan sama temen gue. Nggak nggak nggak."

"Wah... dasar adek kurang ajar" gerut Rendy. "Masa kakak sendiri di bilang playboy. Kualat baru tau rasa loe."

Bukannya merasa bersalah, Astri justru mencibir mendengarnya. Toh yang di omongin olehnya adalah kenyataan kan?.

"Lagian kalaupun gue ajak si Alya ntar juga percuma."

"Kenapa?" Rendy mengerutkan kening bingung.

"Yang di taksir dia kan kak Andre" jawab Astri santai.

"Apa?!"

Astri menoleh bingung. Heran akan reaksi Rendy yang di nilai begitu berlebihan menurutnya. Lagi pula apa yang aneh. Andre baik, cakep, tajir, keren, pinter lagi. Emang siapa sih yang nggak jatuh cinta? pikirnya sambil kembali menyuapkan sisa nasi goreng yang ada di hadapannya.

"Tapi yang Andre suka kan elo."

"Brus.”

"Astri, jorok banget si loe!" teriak Rendy saat melihat nasi bertebaran di atas meja. Ulah siapa lagi kalau bukan Astri yang baru saja menyemburkan makanannya.

"Kakak bilang apa barusan?"

"Gue bilang, jorok banget si loe. Udah ilang nih napsu makan gue. Untung aja gue udah selesai."

"Bukan. Sebelum itu."

"Ya?" Rendy menoleh. Berhadapan langsung dengan wajah Astri yang menatapnya lekat. Membuat pria itu segera menyadari kalau ia sudah kelepasan bicara. Astaga, ia kan sudah berjanji kalau ia akan menjaga rahasia sahabatnya. Ah, kacau.

"Kalau loe nggak denger ya udah. Kereta api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," gumam Rendy akhirnya.

"Ih, kakak. Kok gitu sih?" Astri pasang tampang cemberut.

"Ya elo, pake acara pura - pura nggak denger."

Astri terdiam. Matanya menatap kearah Rendy. Yang di tatap juga sedang menatap kearahnya. Membuat Astri menghela nafas sejenak. Namun belum sempat mulutnya berujar, dentingan bel sudah terlebih dahulu menginterupisnya.

"Kayaknya ada tamu tuh. Gue liat dulu. Loe beresin ni meja," kata Rendy sambil bangkit berdiri. Membuat Astri membatalkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut dan lebih memilih menuruti saran kakaknya. Setelah semuanya beres barulah ia ikutan keruang tamu, dan matanya langsung tertegun saat melihat siapa yang datang.

"Tapi yang Andre suka kan elo"

Nggak bisa di cegah, kalimat yang Rendy lontarkan kembali terniang di kepala Astri saat melihat tatapan Andre yang terjurus padanya. Membuatnya sedikit salah tingkah dan hanya mengangguk sembari melangkah menghampiri. Duduk di sebelah Rendy sambil melemparkan senyuman kearah Andre.

"Gimana As, Rendy udah bilang kan kalau dia ngajakin kita buat jalan bareng?" tanya Andre.

Astri tidak langsung menjawab, matanya melirik kearah kakaknya yang justru malah sibuk memencet tombol handphonenya. Dan Astri yakin, itu hanya akal - akalannya saja.

"Udah kak. Kak Rendy tadi bilang" balas Astri akhrinya.

"Jadi gimana? Loe mau kan?" sambar Rendy cepat.

"Ngomong - ngomong gue juga udah bilang sama Alya, palingan bentar lagi juga dia sampai kesini."

Secara bersamaan Rendy dan Astri menoleh kearah Andre. Sebelum kemudian Rendy mengalihkan tatapannya kearah Astri, namun yang di tatap justru malah menunduk. Dan belum sempat Rendy kembali bertanya , bunyi bel kembali terdengar. Membuat ketiganya segera menoleh kearah pintu. Tanpa di suruh Astri bangkit berdiri. Senyum Alya langsung menyambutnya.

"Baiklah, semuanya udah kumpul. Ayo kita pergi. Berhubung nggak asik kalau gue boncengan sama adek gue sendiri, so As loe boncengan bareng Andre. Biar gue sama Alya. Lagian loe juga udah cantik gitu. Kita bisa langsung pergi sekarang. Oke."

Astri segera melemparkan tatapan tajam kearah kakaknya. Ya ela, tu orang bego atau supid si?. Udah jelas - jelas tadi dia bilang kalau Alya suka sama Andre. Masih aja.

"Gue setuju. Loe nggak keberatan kan Alya?" Andre menambahkan sambil menoleh kearah Alya yang tampak gugup sebelum kemudian gadis itu mengangguk setuju.

"Tapi gimana ya? Gue udah janji sama temen."

Kali ini tatapan ketiganya langsung terjurus kearah Astri yang tampak tersenyum salah tingkah. Merasa tak enak menolak ajakan mereka namun juga bingung kalau harus langsung menyetujuinya.

"Temen?" Alya mendahului untuk bertanya. "Siapa?"

Belum sempat mulut Astri terbuka untuk menjawab, lagi lagi suara bel menginterupsi. Membuat beberapa pasang mata menatap bergantian kearahnya dan juga kearah pintu. Tanpa kata Astri bangkit berdiri. Berjalan kearah pintu dan membukannya.

Alya, Rendy dan Andre hanya bisa saling pandang saat melihat daun pintu telah terbuka namun Astri justru malah berdiri disana. Daun pintu menghalangi mereka untuk melihat tamu yang datang. Membuat mereka hanya mampu bertanya - tanya ada apa gerangan yang terjadi.

"Maaf, ini beneran rumah Astri kan?"

Astri tidak langsung menjawab. Matanya menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki makhluk di hadapannya. Sebelum kemudian sebuah senyum simpul tergambar di wajahnya sembari mulutnya berujar.

"Jelas aja ini rumah gue. Kenapa loe malah bingung gitu."

"Loe Astri?" pertanyaan benada bingung sembari telunjuk yang mengarah lurus kearah wajah Astri keluar dari mulut Fajar, tamu ketiga di rumah Astri di pagi minggu ini.

"Ish, nggak sopan banget si," gerut Astri sambil menepis berlahan tangan Fajar yang ada di hadapnnya. "Ayo masuk."

Walau masih bingung, Fajar tetap manut. Secara berlahan langkahnya mengikuti langkah Astri yang sudah terlebih dahulu mendahuluinya. Dan belum sempat raut bingung hilang dari wajahnya, rasa kaget dan heran sudah terlebih dahulu menghampiri saat mendapati tatapan ketiga orang lain yang jelas terjurus kearahnya. Membuatnya benar - benar merasa suasana cukup canggung. Tanpa sadar sebelah tangannya terangkat mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Jelas terlihat salah tingkah.

"Kenalin, ini Fajar temen gue."

Suara Astri memecah keheningan yang mencekam. Seolah baru tersadar Rendy tampak berdehem sebelum kemudian tangannya terulur menyambut uluran tangan Fajar sembari menyebutkan namanya. Sementara Andre mengalihkan tatapannya.

"Rendy, kakaknya Astri."

Setelah dari Rendy, Fajar beralih kearah Alya. Namun belum sempat ia menyebutkan namanya Alya sudah terlebih dahulu buka mulut.

"Kita pernah ketemu sebelumnya ya? Kok kayaknya gue familiar banget sama wajah loe?"

Fajar tidak langsung menjawab. Ia justru malah tersenyum simpul sambil melirik kearah Andre.

"Loe Alya kan? Dan loe Andre" tebak Fajar bergantian.

Merasa terkejut Andre tampak memperhatikan dengan seksama sosok yang berdiri di hadapannya. Alya juga terlihat melakukan hal yang sama. Tapi keduanya yakin kalau mereka tidak mengenalinya. Hanya saja dari mana anak itu bisa tau? Apa jangan jangan Astri yang menceritakannya? Kalau begitu, wah ada hubungan apa diantara mereka sampai harus menceritakan temannya segala.

"Nggak usah kaget. Fajarkan satu kampus sama kita. Cuma dia jurusan TK," Astri terlebih dahulu buka mulut sebelum imaginasi orang - orang itu semakin berkelana entah kemana.

"Masa'?" Alya tampak tidak percaya sementara Andre hanya ber'oh ria. Fajar sendiri hanya mengangguk membenarkan.

"Ngomong ngomong kedatangan gue menganggu ya? Keliatannya kalian mau keluar?" tanya Fajar beberapa saat kemudian.

"Mereka si iya. Kalau gue ngga." Astri mendahului siapapun untuk menjawabnya. Rendy tampak mengernyit kearahnya. Hei, tadi dia sudah bilang kan pada adiknya kalau ia juga di ajak.

"O..." Fajar tampak mengangguk. Sedikit merasa risih saat menyadari tatapan Alya dan Andre ternyata sedari tadi masih terjurus padanya.

"Loe beneran nggak ikut As?" bisik Alya lirih.

Astri mengeleng. "Enggak. Gue udah ada janji sama Fajar soalnya."

"Oh ya, ini kan udah siang. Katanya kalian mau jalan?" tanya Astri kemudian.

"Terus loe?" tanya Rendy.

"Ya gue di rumah."

"Tapi kan loe sendiri? Masa cuma kalian berdua di rumah ini?"

"Ya ela kak, jangan bikin malu deh. Emangnya kakak pikir kami berdua mau ngapain? Fajar itu kesini buat benerin laptop gue yang eror."

"Oh ya?" Rendy tampak masih curiga.

"IYA!!!" sahut Astri tegas sambil menatap tajam kearah kakaknya.

"Baiklah jika emang gitu. Ayo Al, And kita pergi," kata Rendy sambil bangkit berdiri. Walau awalnya masih merasa ragu pada akhirnya Andre dan Alya manut. Sedikit menuduk sopan kearah Fajar dan Astri sebelum kemudian benar benar berlalu meninggalkan keduanya.

To Be Continue

~ Admin LovelyStarNight


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 1:27:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers