Ketika Cinta Harus Memilih ~ 06 | Cerpen Cinta

Ketika Cinta Harus Memilih part 06 _ seperti yang sudah di katakan sebelumnya kalau benih benih cinta sudah ada di antara keduanya. Hanya saja yah, masih menolak untuk mengakui. Hi hi hi

Tapi tunggu dulu, cerita ini kok kesannya datar kali ya?. Nggak ada konfliknya?. Nggak seru donk?. Ehem ehem, kayaknya untuk next part perlu di kasi 'gangguan' nih #EvilSmirk

Untuk part sebelumnya biar nggak bingung bisa baca di sini.


Ketika Cinta Harus Memilih

Sambil menguap dengan mata yang masih terpejam, tangan cinta bergerak memijit - mijit tengkuknya yang terasa pegel. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka. Mencoba untuk beradaptasi dengan suasana yang begitu terang di sekitarnya.

"Loe udah bangun?" Pertanyaan bernada lembut serta sebuah senyuman yang menghiasi bibir ikut menyambut Cinta untuk kembali ke alam sadarnya.

Satu detik....

Dua Detik....

Tiga detik....

Mata bening Cinta melotot sempurna saat mendapati senyum di wajah Rangga berada di hadapannya dengan jarak kurang dari satu jengkal. Dan selang beberapa detik kemudian senyuman itu segera Raib dan tergantikan keluhan mengaduh karena kini tubuhnya telah sukses mendarat dengan sempurna di tanah akibat dari dorongan sekuat tenaga dari Cinta.

"RANGGA!!!. Apa yang udah loe lakuin. Kenapa loe meluk - meluk gue?" Tanya Cinta sambil berdiri tegak. Telunjuk nya terarah lurus kewajah Rangga yang masih meringis kesakitan.

"Meluk elo?" Ulang Rangga ikutan bangkit berdiri.

"Masih ngigo ya?. Memangnya tadi yang nangis sampe ketiduran siapa?" Sambung Rangga sinis.

Untuk sejenak Cinta terdiam. Raut marah diwajahnya berlahan mulai memudar. Ia mencoba untuk mengingat - ingat apa yang telah terjadi. Perasaan tadi pagi dia mau kekampus, terus di cegat Rangga, Dibawa ke pinggir danau, Dan..... dan.... Kemudian dia.....

"Astaga" Cinta menutup mulutnya dengan tangan saat mengingat kejadian memalukan yang telah ia lakukan. Menanggis di depan Rangga?. Makhluk songong di antara yang tersongong?. Itu benar - benar hal yang tidak pernah ia bayang kan. Bahkan dalam mimpi sekali pun.

"Gimana? Udah inget loe sekarang?" tanya Rangga masih terdengar sinis saat mendapati tampang Cinta.

"Tapi kok gue bisa sampe ketiduran?" Tanya Cinta Masih tidak yakin dengan apa yang terjadi.

"Loe aja heran apa lagi gue" Balas Rangga Balik. "Lagian nie ya, Mana ada orang yang katanya lagi sedih, terus sampe nangis sepuasnya tapi justru malah bisa tidur sepulas itu. Bayangin aja empat jam gue harus duduk diam cuma buat jadi sandaran loe tidur doank. Sampe - sampe mati rasa bahu gue".

"Empat Jam?" Ulang Cinta dengan kening berkerut. "Masa sih?" sambungnya masih terlihat ragu. Di liriknya jam yang melingkar di tangannya . Pukul dua belas lewat. Ia segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matahari memang sepertinya berada tepat di atas kepala. Hanya saja karena kebetulan mereka duduknya di bawah pohon yang rindang jadi tidak merasakan panasnya.

"Oh pantesan" Gumam Cinta lirih sambil mengangguk - angguk.

"Nah sekarang loe udah nyadar kan kalau...."

"Perut gue terasa laper" Sambung Cinta menyelesaikan ucapannya namun justru mem'pause' omelan dari mulut Rangga. Untuk sejenak Rangga bengong.

"Kenapa loe liatin gue kayak gitu?" tanya Cinta Saat mendapati tatapan Rangga yang terarah padanya.

"Setelah loe nangis dengan santainya, tidur bersandar di pundak gue berjam - jam. Giliran bangung langsung maen dorong sembarangan terus nuduh gue yang bukan - bukan. Gak ada kata terima kasih malah justru kesimpulan terakhir hanya kata ‘Laper’….?"Cerocos Rangga terdengar memprotes.

"Ya gimana lagi, Perut gue beneran terasa leper sekarang. Soalnya tadi malam kan karena udah terlanjur kebanyakan nangis, gue jadi nggak napsu makan,, terus pagi tadi juga nggak sarapan. Lagian elo, baru gitu aja udah ngeluh. Padahal kan itu memang tugas elo".

"Tugas?" ulang Rangga binggung.

"Iya. Katanya loe kan pacar gue. Jadi udah jadi tugas dan kewajiban elo donk buat menghibur pacarnya yang lagi sedih.

"Uhuk uhuk uhuk..." Rangga langsung terbatuk mendengar kalimat yang cinta lontarkan barusan. Dan ia berani jamin kalau seandainya saat ini a sedang mengunyah bakso, pasti bakso itu akan langsung mengelinding melewati tengorokan saking kagetnya. Pacar?. Nggak salah ngomong tu anak. Sejak kapan Cinta mau mengakui setatus gadungan mereka?.

"Kenapa tampang loe kayak orang kaget gitu?" tanya cinta lagi.

“Ayo lah. Selama ini kan elo yang sering gunain tu kalimat buat mengintimidasi gue. Sekali - kali boleh donk gue yang make. So, Sekarang ayo kita pergi. Loe traktir gue makan. Perut gue juga beneran udah laper banget nih" Kata Cinta sambil beranjak menuju motor Rangga di parkir.

"Hei, tunggu dulu. Setelah gue yang sudah bersusah- susah sedari tadi kenapa masih gue yang harus ntraktir elo?" Kejar Rangga Sambil melontarkan pertanyaan bernada protes.

"Tentu saja karena elo itu cowok. Denger ya, dalam kamus gue gak ada istilah cewek yang bayarin. Jadi elo terima nasip aja" Balas Cinta cuek.

"Kecuali loe mau gue anggap banci baru gue yang bayarin" Sambung Cinta sebelum mulut Rangga sempat terbuka untuk perotes. Walau pun dengan hati masih kesel akhirnya Rangga menurut. Lagian enak aja di bilang banci. Rusak donk reputasi yang sudah ia bangung selama ini.-,-''

Ketika cinta harus memilih

"Cinta, Kemaren Tumben loe nggak masuk" Tanya Kasih sambil mengaduk - aduk mie Soo di dalam mangkuknya. Saat itu ia dan Cinta memang sedang berada di kantin kampus sambil menunggu matakuliah selanjutnya yang baru akan di mulai sekitar setengah jam lagi.

Cinta Terdiam. Diraihnya jus Alpukat pesanannya tadi. Sedikit demi sedikit di seruputnya. Pertanyaan yang Kasih lontarkan belum ia jawab. Masih sedikit ragu untuk mengatakan terus terang atau justru ia harus berbohong. Ia masih menimbang - nimbang dalam hati. Apa ia harus cerita pada sahabatnya kalau kemaren seharian sepulang dari danau justru ia malah menghabiskan waktu untuk berjalan - jalan keliling kota hanya berdua bersama Rangga.

"Hei, kok malah bengong. Di tanyain juga" Kata Kasih lagi sambil melambai - lambaikan tangan tepat di depan wajah cinta.

"Ha, eh, enggak" Balas cinta tergagap. "Anu kemaren itu gue pusing. Makanya bolos."

"O, Tapi sekarang elo udah nggak papa kan?" tanya Kasih.

"Oh, nggak kok. Gue nggak kenapa -kenapa" balas cinta cepat saat mendapati raut cemas di wajah kasih.

"Syukurlah kalo gitu" kasih kembali mengalihkan perhatian pada Mie soo-nya.

"Hai, gue boleh ikutan gabung nggak?" sebuah suara menginterupsi.

Cinta segera menoleh.

"Eh Rangga, tentu aja boleh" sebelum Cinta sempat buka mulut, Kasih sudah terlebih dahulu bersuara.

"Ma kasih" kata Rangga sambil mengeser kursi nya dan duduk di samping Cinta.. Kasih hanya membalas dengan anggukan. Tak lupa seulas senyum menghiasi bibirnya.

"Cinta, gimana kabar loe?" tanya Rangga berbasa - basi.

"Baik" balas Cinta cuek.

Kasih yang mendengarnya tampak mengernyitkan dahi. Perasaannya aja, atau memang Cinta terlihat tidak suka akan kehadiran Rangga?. Kemudian ia segera teringat sesuatu. Dan tanpa komando kata itu meluncur dari mulutnya.

"Eh Rangga, tau nggak si. Cinta itu baru sembuh dari sakit?"

"Sakit?" tanya Rangga sambil mengarah kan pandangan ke arah cinta.

“Loe sakit apa?. Kenapa nggak bilang sama gue?" sambung Rangga lagi. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Cinta namun sebelum hal itu terjadi, Cinta sudah terlebih dahulu menepisnya.

"Ah elo. Gak perhatian banget si jadi pacar. Loe tau nggak ke
maren Cinta nggak masuk. Dia itu kemaren ternyata sakit tau" jelas kasih. Untuk sejenak Rangga terdiam mendengarnya. Keningnya sedikit berkerut tanda heran.

Ditolehkan kepalanya kearah Cinta yang tampak menunduk sambil mengusap - usap tengkuknya. Jelas terlihat salah tingkah. Tanpa sadar bibir Rangga membentuk sebuah lengkungan melihatnya.

"O jadi kemaren loe sakit. Sorry banget ya. Gue emang bukan pacar yg baik. Harusnya kemaren itu gue ada di sisi elo. Eh gue malah baru tau sekarang."

"Apaan si loe" kata Cinta kesel melihat tingkah Rangga yang pura - pura sok perhatian.

Jelas - jelas kemaren mereka bersama seharian. Kenapa Rangga malah ngomong gitu. Rangga sendiri terlihat berusaha untuk menahan tawanya saat melihat kedua pipi Cinta yang mengembung tanda sebel. Melihat raut cemberut Cinta saat itu jujur benar - benar membuatnya merasa gemes.

Tapi sepertinya ekspresi itu telah di salah artikan oleh kasih.

"Tuh, liat kan Cinta ngambek. Pasti karena elo nggak merhatiin dia. Elo si nggak cepet tanggap jadi cowok. Harus nya itu kemaren elo ngejenguk dia. Ngerawat dia. Ah pasti so sweet banget" kata Kasih menerawang sambil tersenyum - senyum sendiri membayangkan hal - hal yang baru saja di ucapkannya.

Sementara Cinta yang mendengar kesimpulan dari sahabatnya itu kontan mendelik sebel. Astaga, kenapa gadis itu bisa menarik kesimpulan konyol yang benar - benar terasa tidak masuk akal menurutnya?.

"Iya deh, sekali lagi gue minta maaf. Cinta, loe jangan marah lagi ya?. Please" pinta Rangga pasang tampang memelas. Kedua telapak tangannya menangkup di depan wajah tanda minta maaf.

"Dan sebagai permintaan maaf, kali ini biar gue yang traktir kalian" sambung Rangga lagi yang jelas membuat mata Kasih berbinar. Lumayan, bisa menghemat uang saku. Kalau perlu ia malah berharap agar Cinta sering - sering aja ngambeknya.

"Nggak perlu . Ma kasih aja. Tapi gue masih bisa bayar sendiri" tolak Cinta terdengar tegas.

"Yah nggak bisa gitu donk, gue kan cowok, mana bisa gue biarin cewek gue bayar makananya sendiri sementara gue jelas - jelas ada disini. Yang ada entar gue malah di cap banci lagi" kata Rangga yang dibalas lirikan tajam oleh Cinta. Tapi yang dilirik cuek bebek aja. Hanya angkat bahu pura - pura tidak tau. Jelas saja Cinta makin kesel. Ini cowok demen banget si mojokin dia. Masa nyindir terang - terangan. Itu kan kalimat dia kemaren.

"Ya ampun Rangga, loe so sweet banget si?. Ah gue jadi pengen cepetan punya pacar kayak elo" puji Kasih pasang tampang mupeng.

Sementara Cinta benar - benar harus menahan diri untuk tidak muntah saat itu juga. Ia Beneran merasa mual saat mendengar kalimat - kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Dan Rangga sendiri sepertinya sudah tidak mampu untuk menahan eksperesinya karena beberapa detik kemudian tawa itu telah pecah dari mulutnya.

Ketika cinta harus memilih

"Cinta..." Sapa Rangga mengoda sambil berniat mencolek pipi Cinta tapi langsung di tepis. Tanpa kata cinta terus melangkah.

"Masih marah ya?" tanya Rangga lagi sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Cinta. Saat itu kelas memang sudah berakhir dan mereka berdua sedang berjalan beriringan menuju ke pelataran parkir. Karena seperti biasa Rangga yang akan mengantar Cinta pulang kerumahnya.

"Eh tapi loe nyadar nggak si. Kalau loe terlihat cermberut gitu justru malah kelihatan cantik" Bujuk Rangga lagi. Cinta hanya mendengus dan membuang muka mendengarnya. Gombalan basi, pikirnya.

"Tapi tetep. Loe akan lebih terlihat cantik lagi kalau dalam keadaan tersenyum" Sambung Rangga tak menyerah.

Melihat tiada reaksi yang berarti dari Cinta, Rangga segera melangkah cepat Berdiri di hadapan Cinta sambil berjalan mundur karena Cinta sama sekali tidak terlihat tanda - tanda akan menghentikan langkahnya. Sambil terus melangkah Rangga pasang berbagai macam ekspresi. Mulai dari kedip - kedip mata nggak jelas sampai pasang tampang wajah sok polos dan imutnya. Melihat itu semua Cinta tidak mampu untuk menahan diri lagi. Tanpa ia sadari dengan sendirinya bibirnya telah membentuk sebuah lengkungan. Sebuah senyuman manis jelas tergambar di wajannya.

"Nah gitu donk. Dari tadi kek. Apa gue bilang loe memang terlihat seribu kali lebih cantik kalau sedang tersenyum."

"Ehem, Apa an si" Gerut cinta malu sambil memalingkan wajah.Tak ingin Rangga melihat kedua pipinya yang terasa panas.

Tanpa menyadari Rangga yang kini berhenti dihadapannya, Cinta terus melangkah. Akibatnya tubrukan tak mampu di hindari. Cinta segera mendongak. Menatap Rangga dengan tatapan tajamnya. Dan sebelum mulutnya terbuka untuk protes, ucapan Rangga sudah terlebih dahulu menginterupsinya.

"Pleasse... loe jangan marah lagi ya sama gue?" Pinta Rangga terdengar lembut sambil tetap menatap mata Cinta yang kini berada kurang dari sejengkal dari wajahnya. Cinta terdiam seolah terhipnotis oleh tatapan teduh itu, Tanpa sadar kepalanya mengangguk. Dan untuk sejenak, Cinta merasa jantungnya berhenti berdenyut sebelum kemudian justru malah berdetak tak beraturan saat melihat senyum tulus di wajah Rangga yang jelas ditujukan untuknya.

"Baiklah. Kalau gitu, ayo gue antar loe pulang" Ajak Rangga sambil meraih tangan Cinta. Mengengamnya erat. Berjalan beriringan sambil tetap bergandengan tangan menuju ke parkiran.

"Tuhan.... Please, Jangan biarin gue jatuh cinta sama Rangga" doa Cinta dalam hati Sambil terus melangkah.

To Be Continue


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 10:23:00 AM

Stalkers