Cerpen King Vs Queen Part 8


Gak perlu basa - basi, so langsung ke cerpen aja deh,,, ^_^


Dan pagi itu, hari minggu. Niken sudah rapi begitu juga dengan kakaknya, sambil menjinjit tasnya, Niken menuju meja makan, di mana mamanya sedang menyiapkan sarapan. Niken duduk di meja makan, di ikuti oleh mama dan kakaknya.
"kalian mau berangkat sekarang?" tanya mamanya.
"ia ma, sehabis sarapan ini" jawab Nino.
"beneran mau ngajakin adikmu?" tanya mamanya lagi sambil melirik Niken yang sedang aslik sarapan.

"ya iya lah ma" balas Nino sambil ikut-ikutan melirik Niken "abis dia maksa mau ikut" lanjutnya.
"yeeee nggax apa-apa donk. kan Niken udah ge-de juga, lagian masa kakak liburan nggax ngajak-ngajak Niken sih" balas Niken santai.
"tapi kamu kan beda sama kita ken, yang datang itu temen-temen kakak semuanya, dan mereka udah pada bukan anak kecil lagi"
"emang Niken masih kecil? nggax kan, jadi kakak tenang aja deh, Niken bisa jaga diri baik-baik kok, kakak jangan terlalu meremehkan Niken yea, Niken itu nggax bakal merepotkan kakak di sana"
"ya tapi tetap aja kan, kamu nggax banyak kenal sama temen-temen kakak" balas Nino.
"maka dari itu, Niken mau lebih kenal lagi sama temen-temen kakak, jadi nggax apa-apa donk Niken ikut"
"tapi kan...."
"sudah sudah" potong mamanya, "nggax usah di terusin, biarkan dia ikut no, kamu jangan terlalu mengkhawatirkannya, mama yakin Niken bisa jaga diri baik-baik, kamu nggax perlu memantawnya terus, cukup perhatiin dia sekali-kali aja" lanjutnya.
"ia ma. tapi ntar kalau dia kenapa-napa gimana? di hutan itu kan bahaya" kata Nino.
"bahaya apanya? kata kakak hutannya itu udah di lindungi, jadi nggax apa-apa lah Niken ikut, lagian di sana Niken pasti dapat sesuatu yang baru, dan pastinya dapat banyak pelajaran yang belum Niken temuin sebelumnya" Niken bila diri.
"kalau kamu tersesat gimana?"
"Niken janji deh Niken bakal hati-hati, dan Niken nggax bakal tersesat" kata Niken.
"tapi..."
"Nino, biarkan adik mu ikut, lagian di sana nantikan banyak temen-temen kamu, minta dia ikut ngejagain Niken juga, jadi mama yakin tidak akan terjadi apa-apa, asal kamu tidak membiarkannya jalan sendirian"
"baiklah, tapi awas ya kalau kamu pergi kemana-mana nggax ngasi tau kakak" Nino memperingati adiknya.
"siap boss!!!!" jawab Niken tegas sambil hormat ke arah kakaknya dan tersenyum "Niken bakal jadi anak baik-baik selama di sana, Niken janji. dan Niken juga akan berusaha untuk tidak tersesat"
"okey, dan kamu harus janji satu hal lagi"
"apa tuh"
"jangan berantem terus sama Gilang, ntar kakak bisa malu di depan temen-temen kakak yang lainnya"
"kalau itu, tergantung"
"tergantung? apa nya?"
"ia, tergantung, kalau dianya nggax nyebelin duluan, Niken pasti juga nggax bakal membuat ulah"
"di sana itu ada tina, jadi kamu nggax boleh macem-macem sama Gilang"
"tina? siapa dia?"
"dia itu cewek yang sangat menyukai Gilang"
"pacarnya?" tanya Niken, Nino menggeleng "jadi siapa?"
"cewek yang menyukai Gilang, tapi Gilang udah menolaknya dan hanya menganggap kalau mereka hanya teman, tapi sepertinya tina tidak mau, dan tetap menganggap kalau mereka itu pacaran, karena Gilang udah bosen selalu menolak tina, akhirnya dia diam saja"
"sok ganteng banget tuh cowok"
"kamu juga nggax boleh terus menyalahkan Gilang donk"
"lho kenapa nggax, apa namanya coba kalau nggax sok ke gantengan"
"Gilang itu nggax suka sama tina" jawab Nino "dan cinta nggax bisa di paksakan" lanjutnya seblum Niken sempat menjawab.
"ya ya yaa... terserah deh, Niken nggax perduli, tapi sekarang yang jelas Niken mau ikut titik" tegas Niken.
"tapi ken...."
"Nino, sudah. biarkan adikmu itu ikut..." mamanya menengahi.
"ma..." kata-kata Nino terhenti begitu mendengar bunyi bel di ruang tengah.
"nah, itu pasti temen-temen kamu, udah ajak masuk gih..." kata mamanya, Nino langsung beranjak ke ruang depan, sementara Niken meneruskan sarapannya, hari ini dia ingin ikut kakaknya yang katanya bakal jalan-jalan ke hutan yaaa camping lah ceritanya, Olive nggax bisa ikut, karena katanya hari ini dia mau nunggu orang yang katanya bakal jadi jodohnya itu menurut peramal yang mereka temui beberapa hati yang lalu.
"yuk, masuk dulu" terdengar suaran kakaknya yang mempersilahkan tamu-tamunya.
"ma, Niken ke depan dulu ya" kata Niken begitu ia selesai sarapan. mamanya hanya mengangguk dan membiarkan Niken melangkah pergi keruang tengah.
sesampainya di ruang tengah Niken langsung duduk di samping kakaknya dengan koper ditangan, temen-temen Nino menatapnya dengan aneh, seperti gimana... gitu..,
"adik loe ini.... ikut no????" tanya Gilang dengan pandangan setengah kaget.
"ia kenapa? loe nggax suka?!" Niken yang langsung menjawab dengan juteknya ke arah Gilang.
"Niken..." Nino mempertingatkan, sambil melirik tina yang tampak kaget mendengar jawaban dari Niken.
"ea, maaf. gue juga ikut, karena pengen lebih tau tentang alam" balas Niken dengan menahan rasa kesebelannya "boleh kan???" lanjutnya dengan menekan kan suarannya, yang lebih terdengar seperti memaksa dari pada meminta persetujuan.
"tentu saja" radit yang menjawab "wah pasti bakal asyik nih kalau gitu" lanjutnya sambil tersenyum bangga, tentu saja Niken jadi seneng mendengar tanggapan dari radit.
"he he he, makasih kak..." balas Niken sambil tersenyum bangga.
"ya ya yaaaa, udah ah berangkat yuk, tunggu apa lagi?" ajak Nino sambil beranjak, Niken dan yang lainnya balas mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah keluar.
"Niken berangkat dulu ma..." kata Niken sambil bersalaman dan mencium tangan mamanya.
"ia hati-hati ya nak" mamanya memperingati.
"ia maaa..." jawab Niken.
"permisi tante..." kata Gilang dan ikut bersalaman sama mamanya Niken.
"ia, hati-hati ya, tante nitip Niken, tolong bantu jagain dia" kata mamanya Niken.
"Niken bukan anak kecil kali ma, Niken bisa jaga diri baik-baik" balas Niken yang mendengar kan kata-kata mamanya.
"ya memang kamu bukan anak kecil, tapi kan juga perlu di jaga, mau kan nak Gilang..." mamanya Niken kembali bertanya ke arah Gilang.
"tante tenang aja, radit juga bisa bantuin jagain Niken kok..." kata radit dari samping, tapi sepertinya mamanya Niken belum puas sebelum mendengar jawaban langsung dari Gilang.
"bagaimana nak Gilang? bisa??" tanya mamanya Niken lagi.
"udah lah ma, nggax usah..."
"baiklah tante" jawab Gilang sebelum Niken selesai bicara "Gilang janji bakal ikut ngejagain Niken, tante tenang aja" lanjutnya. tentu saja Niken jadi kaget yang lain juga, apalagi tina tapi cuma mamanya Niken saja yang tampak tersenyum senang.
"makasih ya nak Gilang, tante percaya, pasti Niken baik-baik saja kalau nak Gilang ikut menjaganya, Niken itu memang kadang-kadang suka seenaknya tapi sebenernya anaknya juga bisa nurut kok..."
"ia tante, Gilang berangkat dulu... permisi..." kata Gilang dan melangkah memasuki mobil sementara yang lain masih kaget, sebenernya dia sendiri juga, kenapa dia bisa secara refleks bilang bakal ikut menjaga Niken.
"ya udah ma Nino berangkat dulu ya..." kata Nino sambil menyalami tangan mamanya.
"ia, hati-hati. ingat jaga adik mu baik-baik" mamanya memperingati.
"ia ma, mama tenang aja. bakal banyak kok yang jagain Niken" jawab Nino, lalu melangkah mengikuti temen-temennya masuk ke mobil dan siap berangkat.
"siap semuanya?!" tanya Nino ke pada temen-temennya yang lain karena dia yang bakal menjadi supir untuk perjalanan kali ini.
"siap!!!" jawab temen-temennya yang lain serentak dengan semangat.
"kalau gitu kita berangkat sekarang..." kata Nino dan memandu mobilnya meninggalkan halaman rumahnya menuju ke tempat percampingan.
Di dalam mobil ada Nino yang duduk di tempat pengemudi, dan radit di sambingnya, lalu di belakang ada tina dan seorang temen ceweknya, dan paling belakang ada Gilang dan Niken yang nggax tau kenapa jadi sebangku, padahal tina yang mau duduk di samping Gilang, tapi sayang Gilang telah lebih dulu duduk di samping Niken, jadi mau nggax mau ya terpaksa.
"kenapa loe nggax duduk di depan aja sih" kata Niken ke arah Gilang yang duduk di sampingnya.
"yeee gue itu paling suka duduk di bangku belakang sini, susana nya lebih enak, lagian di depan kan udah penuh loe nggax lihat tuh" balas Gilang dengan santainya.
"iiiih...." Niken jadi sebel "loe tu ya, paling pinter cari-cari alesan, bilang aja loe mau duduk bareng gue, ia kan... ngaku aja deh" lanjutnya.
"idih, pe-de banget loe. jangan ke ge-er an deh, kalau nggax terpaksa juga ogah deh gue deket-deket sama loe, kalau loe emang nggax mau duduk di samping gue, loe pindah aja di depan" balas Gilang dengan santainya.
"yeee yang duduk di sini dulu itu kan gue, lagian di depan itu udah penuh, mana bisa gue duduk di depan, gimana sih"
"ya udah, kalau loe yang kecil gitu aja nggax muat, apa lagi gue?"
"what?! apa loe bilang? kecil? loe bilang gue kecil? enak aja, loe tuh yang kayak tiang listrik. gue yang ge-de-ge-de gini juga, masa di bilang kecil" Niken jadi sewot.
"ha ha ha, gitu ge-de???? gimana enggaknya..."
"sialan loe..." Niken jadi sebel sambil mendorong Gilang yang mentertawakannya.
"perjalanan masih jauh nih, gimana kalau kita sambil nyemil, kalian pada bawa snak kan?" tanya Nino.
"pastinya..." jawab radit sambil mengeluarkan cemilan dari dalam tasnya. lalu membagi-bagikan ke pada temen-temennya yang lain.
Setelah menerima cemilan mereka memakannya sambil menyanyi-menyanyi bersama, setengah perjalanan Nino ganti mengemudi dengan radit karena dia telah setengah hari terus mengemudi, sementara radit mengemudi temen-temennya yang lain pada tidur karena kecapean.
Sekitar pukul 15:00 radit menghentikan mobilnya, dan membangunkan temen-temennya. Niken terbangun dan kaget karena ia tadi tertidur di bahu Gilang, Niken langsung buru-buru menjauh dari Gilang.
"hu-uh pantesan aja gue tidurnya nyenyak, orang di bahu cowok sekeren dia.." kata Niken dalam hati sambil memperhatikan wajah Gilang yang sedang tidur di sampingnya "eh tunggu. keren?! he??? sejak kapan gue mengakui dia itu keren, iiih nggax banget. orang kayak sapu lidi gitu juga..." lanjutnya sambil merinding lalu keluar dari mobil.
Begitu tiba di tempat yang dituju mereka membuat dua buah tenda. satu untuk cewek dan satu lagi buat cowok. tapi selama pembuatan tenda Gilang dan Niken selalu saja berantem meski hanya gara-gara hal yang spele.
Selesai pembuatan tenda Niken duduk di bawah pohon sambil melepas lelah, Gilang yang nggax sengaja lewat melihatnya, lalu melirik sebotol air minum di tangannya.
"aduh, panas banget sih..." kata Niken sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, tiba-tiba ada yang menyodorkan air minum kearahnya, "makasih..." Niken menerimanya dan langsung meminumnya, tanpa melihat siapa yang memberi kebetulan lagi haus banget.
"ternyata nggax susah ya kalau mau ngerjain loe..." kata Gilang dan duduk di samping Niken. Kaget! Niken langsung menolah.
"what?!" Niken kaget dan memperhatikan air minumnya "loe..." lanjutnya sambil menatap Gilang di sampingnya," loe apain air minum gue?" tanyanya kaget.
"ha ha ha... gue bercanda kali, loe tenang aja. gue nggax sejahat itu kok" kata Gilang.
"loe nggax bohongin gue kan???"
"kalau gue bohong juga loe nggax bisa apa-apa lagi kan?" balas Gilang santai.
"siapa bilang? gue bisa kok"
"0h yea??? apa???"
"ayo minum?!" perintah Niken sambil menyodorkan sebotol aqua yang tadi ke arah Gilang.
"kalau gue nggax mau?!"
"nggax ada yang namanya penolakan! ayo minum!!!" kata Niken sambil berdiri.
"ga deh, gue kan udah memberi elo, jadi itu hak loe, dan milik loe. jadi loe yang harus ngabisin"
"gue ngga mau tau, pokoknya loe harus minum!" kata Niken sebel.
"udah lah, gue nggax haus kok"
"emang gue ada nanya loe haus apa nggax? minum!!! atau gue laporin kak Nino"
"Ha?! eh itu..."
"ayo, loe pilih mana? minum atau gue teriak nih..."
"loe apa-apaan sih..."
"tetap nggax mau?!" tanya Niken, Gilang terdiam "baik! KAK... hupff..." Gilang langsung mempikep mulut Niken agar Niken nggax teriak, lalu melepaskannya.
"ssssttt... loe itu apa-apaan sih"
"ya udah, kalau nggax mau di panggilin kak Nino, nih minum..." Niken menyerah kan aqua sambil senyum-senyum.
"iiiih, ia-ia gue minum..." Gilang sebel dan mengambil aqua di tangan Niken lalu meminumnya "udah, nih gue balikin lagi" lanjutnya dan menyerahkannya kembali ke Niken yang menerimanya dengan senyuman kepuasan.
"nah, gini kan bagus! seandainya loe apa-apain nih minuman, loe juga bakal nanggung akibatnya, tapi gue juga ngucapin makasih kok sama loe, makasih ya karena udah memberi gue nih minuman. Ah panas ya... gue mau mandi dulu ah... daaaaaaaaaa..." Niken tersenyum melihat kesebelan terpancar di wajah Gilang, lalu melangkah pergi.
"iiiih, dasar ya loe. CEWEK NGGAX JADI-JADI RE-SE'!!!" kata Gilang sebel "Huh, Re-se'! untung aja nggax gue apa-apain tuh air minum, kalau nggax... aduuuuh nggax kebayang deh" lanjutnya, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Malamnya mereka membuat api unggun bersama dan berkeliling, ada Nino yang sedang memainkan gitarnya di dampingi oleh alan dan radit yang ikut nyanyi begitu juga sasya temennya tina, lalu di samping radit ada tina yang sok akrab ke Gilang, sementara Niken, dia duduk agak berjauhan sambil meminum air hangat, untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa beku kedinginan.
"aduuuuh, dingin banget sih ni malam..." kata Niken dan mengeratkan jaketnya. lalu melihat yang lain asyik dengan kesibukannya sendiri-sendiri "uh nora' banget sih" gerutunya saat melihat tina yang merangkul tangan Gilang sambil tertawa-tawa nggax jelas.
"ternyata suasana malam hari di luar itu indah banget ya? apa lagi kalau ada loe king, wah makin indah deh dunia ini..." kata tina sambil mengeratkan rangkulannya di tangan Gilang.
"king-king apaan sih" Gilang sebel.
"eh, malam-malam gini dingin banget ya..." tina tidak memperdulikan tanggapan Gilang "king dingin nggax?"
"tau deh ya. lagian kalau loe emang dingin masuk aja ke tenda! susah banget sih" kata Gilang ketus.
"kalau di tenda ma nggax bisa menikmati indahnya alam saat malam hari king. emang king nggax dingin apa?" tanya tina manja.
"loe dingin ya tin? ya udah, pake jaket gue aja deh..." tawar radit sambil membuka jaketnya.
"nggax deh, makasih... gue udah pake jaket kok" tolak tina dengan tampang be-te yang di manis-manisin. Gilang mengalihkan pandangannya menahan tawa.
"0h, ea udah..." radit kembali mengenakan jaketnya dengan sedikit salting.
"eh king, lihat deh. itu bintangnya bagus banget..." kata tina sambil tersenyum ke arah Gilang dan nyuekin radit yang jadi makin salting, radit beranjak pergi, Gilang melihatnya tanpa mendengarkan sedikit pun ocehan tina.
"eh, lepasin donk tangan gue..." kata Gilang dan mau beranjak.
"lho king, loe mau kamana?" tanya tina kaget.
"bukan urusan loe deh"
"gue ikut ya..."
"apaan sih loe. gue itu mau ambil jagung untuk di bakar, jadi nggax usah ikut deh" Gilang sebel.
"e tapi king..." tina nggax sempet ngomong karena Gilang keburu pergi, tina jadi cemberut sebel.
"he he... rasain loe! makanya jadi cewek itu nggax usah kecentilan deh..." kata Niken dalam hati sambil tersenyum bangga.
Tak berapa lama setelahnya, radit dan Gilang muncul dengan membawa beberapa jagung dan alat pemanggang, mereka membuat beberapa pemanggangan di depan tempat duduknya.
"Al, nih bakar jagung di sebelah sini donk, gue mau ngambil kipas bentar" kata Gilang ke arh alan.
"oke..." balas alan dan pindah duduk di samping tina, sasya mengikutinya dan duduk di samping alan. tina tentu saja jadi sebel selain di tinggal Gilang juga jadi duduk di samping alan dan radit. Gilang muncul lagi sambil membawa beberapa kipas.
"nih, buat kalian..." Gilang menyerahkan kipas ke radit dan alan "karena udah nggax muat lagi, gue pindah tempat lain deh" lanjutnya sambil membawa beberapa jagung dan satu pemanggangan.
"eh king, loe mau kemana? gue ikut ya..." tahan tina.
"loe disini aja deh, bantuin radit. kasihan dia kalau harus sendirian. gue mau bakar di sana" tolak Gilang.
"yaaah... gue ikut loe donk..."
"aduh, udah ya..." kata Gilang dan melangkah pergi.
"yaaaah, king! king!!!" tina sebel karena di cuekin, lalu duduk kembali di samping radit dengan be-te.
"udah, loe bantuin gue aja deh, kupasin jagungnya, biar gue yang bakar" kata radit dan mau nggax mau tina menuruti.
Niken masih duduk sambil menikmati air hangat nya dan memperhatikan kakaknya yang masih menyanyi sambil main gitar, tiba-tiba ada yang duduk di sampingnya, Niken menoleh.
"ngapain loe kesini?!" tanya Niken ketus.
"yeeee suka-suka gue donk. orang gue mau bakal jagung juga" balas Gilang santai dan memasang pemanggangan.
"emang nggax ada tempat laen apa? kenapa harus di sini coba?" tanya Niken sewot.
"lho kenapa? emang di sin ada larangan 'tidak boleh membakar jagung'? nggax kan? jadi apa salahnya gue bakar di sini?"
"emang nggax ada salahnya sih, tapi di sini itu kan ada gue. jadi loe cari tempat laen aja deh. ganggu aja sih loe" kata Niken sebel.
"kalau gue maunya di sini, loe mau apa? lagian kalau loe nggax mau deket gue, pindah tempat laen aja di sana, atau di mana kek gitu..."
"lho, yang di sini dulu itu kan gue, harusnya elo yang mi'raj dari sini"
"nggax mau"
"pindah nggax?!"
"nggax! orang pemanggangnya udah gue pasang juga, kalau di pindahin lagi kan panas, gimana sih loe"
"tapi gue lagi mau sendiri"
"ya udah loe aja yang pindah"
"kok jadi gue sih, loe aja yang pindah sana, gangguin gue aja" balas Niken.
"justru itu! gue emang sengaja mau gangguin elo, abis dari tadi loe di sini sendirian aja sih, enak-enakan nggax ngapa-ngapain"
"loe kok jahat banget sih"
"biarin!!! lagian loe baru tau kalau gue itu jahat??? abis loe, masa' kita yang capek-capek kerja, loe malah enak-enakan cuma nontonin aja, jadi loe harus bantuin gue bakar nih jagung"
"ih ogah!!! loe bakal aja sendiri"
"loe kok curang sih! bantuin napa! masa' dari tadi loe enak-enakan duduk, ikut kerja kenapa! harusnya loe kalau mau ikut kita, loe juga harus ambil kegiatan donk" kata Gilang yang buat Niken makin sebel.
"iiiih loe tuh ya, nggax bisa apa lihat orang laen seneng dikit" kata Niken.
"nggax! gue nggax seneng lihat loe seneng!"
"loe..."
"udah deh, loe itu bantuin gue, kupasin tuh jagungnya biar gue yang manggang" perintah Gilang.
"tapi gue..."
"atau gue laporin Nino, biar loe nggax di bolehin ikut lagi?" ancam Gilang.
"loe ngancem gue?!"
"menurut loe?" balas Gilang santai.
"iiih awas loe ea! oke kali ini loe boleh menang, tapi nggax untuk lain kali!!!" kata Niken dengan sebel, lalu mengupas jagung di sampingnya, Gilang tersenyum senang melihat Niken sebel.
"ydah belom sih... lama banget. cuma ngupas gitu doang" kata Gilang sambil menahan tawanya.
"bawel banget sih loe jadi cowok! udah, nih..." Niken menyerahkan beberapa jagung yang udah di kupasnya.
"gini aja lama banget sih loe..." kata Gilang dan mulai memanggangnya "nih kipas, gue yang bolak-balikin" perintahnya.
"lho kok gue sih! gue kan cewek. harusnya elo donk yang cowok" tolak Niken.
"emang ada larangan cewek bakar jagung?"
"yaaa emang nggax ada sih, tapi kan..."
"ya udah, nih kipas" kata Gilang.
"curang! tadi saat gue ngupas loe bilang loe yang mau manggang"
"ya emang"
"trus kok gue yang di minta ngipas"
"yaaa itu... loe nggax inget gue ngomong apa? gue bilang kan gue itu cuma 'manggang' gue nggax ada bilang gue mau ngipas juga kan? jadi loe yang harus ngiapas, nih..." kata Gilang dan menyerahkan kipas ke arah Niken.
"iiiih, sumpah ya loe ngeselin banget. ia-ia ini gue kipas!" kata Niken dan merebut kipas di tangan Gilang dengan kasar lalu mengipas jagung yang dibakar. tina yang melihatnya jadi kesel.
"uhuk-uhuk... aduh, asapnya banyak banget sih" kata Niken sambil terus mengipas, tapi asapnya makin banyak aja dan membuatnya terbatuk-batuk.
"sini-sini-sini..." Gilang mengambil kipas di tangan Niken "ngipas ini aja nggax bisa! bego' banget!!!" lanjutnya dan ganti mengipas.
"bego-bego!!! loe fikir mudah apa? coba aja kalau bisa" Niken sewot.
"loe lihat aja" balas Gilang dan terus mengipas hingga asapnya kembali normal "tuh, kalau ngipasnya itu gini, jadi asapnya nggax bakal kemana-mana"
"alah, baru bisa ngipasin jagung gitu aja bangga!"
"0h, jelas donk! ini bukti dari gue, kalaugue itu lebih pinter dari pada loe!" kata Gilang.
"ya iya lah, orang gue nggax bakat jadi penjual jagung bakar"
"maksud loe?"
"katanya pinter tadi, nggax taunya telmi. ya jelas lah loe pinter bakar jagung, orang loe cocok jadi penjual jagung" balas Niken "jagung bakar-jagung bakar ha ha ha..." ledek Niken.
"loe ngeledekin gue ea..." Gilang sebel.
"menurut loe... ha ha ha..." tawa Niken makin jadi melihat kesebelan di wajah Gilang. diam-diam Gilang terus memperhatikannya yang terus tertawa. sementara tina, jelas makin sebel!
"gue mau pindah deh" kata tina sebel dan beranjak pergi.
"lho tin, ini udah hampir mateng lho, loe nggax mau nyobain dulu?" tawar radit.
"tau deh" balas tina sebel dan tetap pergi.
"Hatsyim!" Niken bersin, kerena kedinginan, ia mengeratkan jaketnya. tapi masih dingin juga "hatsyim... hatsyim..."
"loe kenapa sih? kedinginan?"
"nggax lah, gue... hatsyim!!!" Niken terus bersin-bersin. Gilang membuka jaketnya.
"nih, pake jaket gue . ntar loe makin parah lagi"
"gue nggax apa-apa. udah, loe pake aja. ini kan dingin banget. ntar loe makin kering lagi"
"eh, biar gini-gini gue masih tetap kuat lagi, udah nih pake. kalau loe pulang ntar sakit, gue mau bilang apa sama mama loe ha?! udah, nih pake"
"gue... hatsyim! nggax usah deh, gue nggax papa, nggax bakal sakit juga kalau cuma dingin gini aja... hatsyim!!!"
"Sebaiknya loe jangan ge-er dulu, gue itu cuma nggax mau, virus loe nebar kemana-mana. udah pake aja nih, cepetan..." perintah Gilang sambil menyodorkan jaketnya.
"iiiih iya-iya. bawel banget sih loe. maksa aja!" kata Niken dan mengenakan jaket Gilang. lalu Gilang meneruskan bakar jagungnya.
"king gue duduk di sini aja ya..." kata tina tiba-tiba dan duduk di samping Gilang dengan manja, Niken langsung buang muka. sebel!!!
"lho, radit bakar jagungnya ma siapa?"
"udah deh, biarin aja..." kata tina.
"kan kasihan radit kalau harus sendirian"
"ya udah, itu adeknya Nino aja yang bantuin"
"Niken maksud loe?" tanya Gilang sambil melirik Niken yang tampak kaget. tina mengangguk "lho dia kan bangtuin gue..." lanjutnya.
"ya udah, biar gue aja yang bantuin loe..." kata tina "eh Niken, loe aja deh yang bantuin radit" lanjutnya, dengan sebel Niken mau beranjak. Gilang langsung menahan tangannya.
"lepasin..." bisik Niken ke arah Gilang.
"tugas loe kan belum selesai, main kabur-kaburan gitu aja! kupasin lagi jagungnya" kata Gilang.
"lho kan ada tina, biar dia aja!"
"tapi ini tugas loe, tadi kan kita udah berdua, ayo kupasin lagi" kata Gilang.
"iiiih loe emang dasar nyebelin ya" kata Niken dan mengupas jagung dengan sebel.
"lho, king! biarin dia pergi kenapa?"
"loe apa-apaan sih, suka-suka gue donk mau apa..."
"ya udah deh, terserah loe. tapi... jaket loe mana? ini tu dingin banget lho..." tanya tina "lho kok di nih cewek sih, dia kan udah ada jaket. eh balikin nggax" lanjutnya ke arah Niken.
"Tina! loe kalau ke sini cuma gangguin aja, mending loe balik lagi ke sana deh" kata Gilang sebel.
"eh nggax deh maaf, tapi ini kan dingin banget. loe bisa sakit. atau... loe mau pake jaket gue?" tanya tina dan siap membuka jaketnya.
"nggax nggax nggax. gila loe, emang di kira gue banci apa, pake jaket cewek. lagian gue itu kan cowok. kalau cuma sedingin ini sih gue masih tahan kali"
"waw, so sweet... loe emang cowok idaman, pasti loe bilang gitu karena nggax mau gue kedingingan kan..."
"terserah loe deh" Gilang makin sebel.
"loe emang baik ya..." kata tina sambil merangkut lengan Gilang. Niken sebel dan mengipas jagungnya asal-asalan gingga asapnya kemana-mana "uhuk-uhuk... aduh, kok banyak asap gini sih..." lanjutnya sambil mengipas-ngipas asap dengan tangannya agar nggax masuk ke mata.
"ya iya lah, namanya juga bakar jagung, tentu saja banyak asapnya" balas Niken santai dan tetap mengipas, sengaja asapnya di arahkan ke tina.
"prasan tadi radit bakarnya asapnya nggax sebanyak ini, uhuk-uhuk..."
"ya namanya juga masih awal, lagian kalau nggax mau kena asap balik aja lagi ke kak radit, susah banget" balas Niken, Gilang menahan tawanya.
"udah-udah-udah... sini gue yang ngipas..." kata Gilang dan menarik tangan dari rangkulan tina, lalu mengipas jagungnya sambil membalik-balik kan beberapa jagung. tak lama setelahnya asap kembali normal.
"wah makasih ya... loe emang baik king..." kata tina kembali merangkul lengan Gilang.
"eh lepasin donk. loe nggax lihat apa gue lagi bakar jagung, jangan di pegangin gini kenapa sih..."
"tapi king, kan dingin..."
"udah pake jaket aja manja" balas Niken lirih.
"eh, apa loe bilang..."
"budek ya" kata Niken santai.
"eeeh...." tina sebel.
"udah, nggax usah berantem lagi, nih udah ada yang mateng" kata Gilang dan mengambil satu jagung yang udah mateng.
"waaah enak nih, gue mau yang pertama loe bakar yaaa...." kata tina dan siap mengambil jagung di tangan Gilang, tapi udah ke buru di rampok Niken.
"udah mateng ya, pasti enak nih.... gue udah nunggu dari tadi" kata Niken dan menggigitnya langsung, tina tentu saja jadi sebel.
"eh, kan gue dulu yang mau" tina nggax terima.
"loe mau? bakar aja sendiri" balas Niken santai.
"kan gue udah mau ngambil duluan tadi, kenapa di rampok gitu aja sih. lagian kan itu bakaran pertama dari king"
"king? king kong maksud loe?" balas Niken.
"eh jaga bicara loe ya, loe berani ngatain king gitu..."
"Why not? Gilang aja nggax marah kok, yeee dasar bawel!!!"
"apa? loe bilang Gilang? dasar nggax sopan!!!"
"bawel banget sih loe..."
"loe...."
"udah donk, kalian jangan berantem terus"
"lagian tuh jagung kan punya gue..."
"0h yea??? sejak kapan? orang nie di tangan gue. berarti punya gue donk" kata Niken santai.
"kan gue dulu yang mau"
"0h loe mau??? ya udah tuh sepertinya bentar lagi mateng deh"
"gue mau bakaran Gilang yang pertama"
"apa bedanya sama aja kaleee..."
"loe itu nggax sopan banget sih jadi cewek! tadi itu kan king mau ngasi gue..."
"0h yea? bener vin?" tanya Niken kearah Gilang.
"e itu..."
"ia kan king. loe mau ngasi gue kan... ia kan???"
"ee...."
"ayo jawab!" kata Niken "loe mau ngasi siapa tadi? ini kan jagung gue yang bakar tadi, loe mau kasi ke siapa. Ha?!" lanjutnya.
"eh loe cewek nggax sopan! biarin king jawab dulu donk, jangan asal seenaknya! lagian loe yang bakar dari mananya???" tina sebel.
"eh cewek kecentilan nggax nyadar!!!" balas Niken sebel, tina jelas kaget "loe nggax lihat apa gue udah dari tadi di sini, bakar nih jagung. loe pendatang baru sebaiknya diam saja deh"
"What?! loe bilang gue apa?" tina nggax percaya.
"cewek, kecentilan, nggax, nyadar!!!" ulang Niken "Aneh, kok juga budek yaaa..." lanjutnya.
"Eh, kurang ajar banget sih loe!!!" tina kesel "King... bantuin gue donk. lihat tuh cewek jadi-jadian ini, dia berani ngatain gue..." lanjutnya sambil merangkul tangan Gilang.
"aduuuuh apaan sih, jangan pegang-pegang gini donk, gue susah bakarnyua..." lata Gilang dan melepas rangkulannya tangan tina.
"tuuuh lihat sendiri kan buktinya? dasar kecentilan"
"diem loe!!!" tina jadi cemberut.
"Weeeek...."
"iiiiih..." tina makin sebel.
"uuuh enak yaaaa...." kata Niken sambil menikmati jagungnya.
"gue mau donk..." pinta Gilang. Niken mau marah tapi begitu melirik tina di sebelahnya.
"loe mau juga? nih..." kata Niken dan menodorkan jagung ke arah Gilang.
"suapin donk, tangan gue lagi di pake nih" kata Gilang karena tangan kanannya membolak balik kan jagung sedang kan tangan kirinya untuk mengipasi. Niken menahan kesebelannya dan menyodorkan jagung ke depan mulut Gilang, Gilang memakannya sementara tina yang melihatnya jadi makin sebel.
"wah, emang enak ya..." kata Gilang sambil menikmati jagung bakar.
"ya iya lah orang gue yang bakar..." Niken membangakan diri.
"alah, mana ada. orang gue yang bakar juga, ngaku-ngaku loe..."
"tentu saja ini karena ada gue, makanya rasanya jadi seenak ini..."
"wah ke pd an loe..." kata Gilang tanpa memperdulikan tina di samping nya "gue mau lagi donk" lanjutnya, Niken kembali menyodokannya ke arah Gilang sambil melirik tina yang menatapnya nggax percaya.
"enak banget ya,...." kata Niken dan kembali menikmati jagungnya.
"iya, enak banget..." balas Gilang sambil tersenyum senang.
"king... udah ada yang mateng lagi belom?" tanya tina "gue juga mau donk..." lanjutnya sambil merangkul tangan Gilang manja. Niken beranjak dan berusaha mendorong tina menjauh sedikit, lalu dengan santainya duduk di di tengah-tengah antara Gilang dan tina.
"maaf ya tin, gue mau bantuin Gilang bakar jagungnya..." kata Niken ke arah tina yang jelas kaget didorong Niken begitu saja "sini gue bantuin ngipasnya..." lanjutnya ke arah Gilang sok akrab.
"eh loe apa-apaan sih? gue kan mau di samping king"
"gue itu mau ngipasin, kalau dari sebelah sana susah, emang loe mau kena asap lagi? nggax kan? jadi gue dari sini ngipasnya yaaa agar asapnya kesana..." balas Niken santai "udah sini gue bantu,..." lanjutnya dan mengambil kipas di tangan Gilang lalu mengipasnya, tina mau beranjak "eh loe mau kemana? kalau loe mau pindah ke samping avin di sana, gue saranin jangan deh, ini asapnya bakal menuju ke sana. jadi dari pada loe batuk-batuk mending loe di sini aja" kata Niken dengan santainya.
"gue kan mau deket king"
"yaaa itu sih terserah loe, kalau loe mau kena asap, gue sih cuma bilangin aja..." kata Niken. Gilang diam saja, bingung. kenapa Niken jadi berubah baik kepadanya.
"yaaa udah loe aja yang pindah ke sana"
"kan gue udah bilang, kalau gue ngipasnya dari sana asapnya bakal ke sini, loe mau kena asap seperti tadi lagi?" balas Niken.
"ya udah gue aja yang ngipas"
"gue masih bisa kok, jadi nggax usah di bantuin. kalau loe emang mau bakar jagung, loe bisa bantuin radit tuh di sana..." kata Niken.
"tapi gue mau bantuin king"
"0oo loe mau bantuin... ya udah nih..." Niken menyerahkan satu jagung yang udah mateng "tolong loe kasi ke kak Nino yaaa..." lanjutnya.
"tapi gue..."
"0h loe tadi mau ya... e maaf ea, di sini tinggal dua, satu buat gue, satu lagi buat Gilang, nah yang di tangan loe itu buat kak Nino. jadi kalau loe mau, loe minta aja ma kak radit ya..." kata Niken tanpa memperdulikan kesebelan tina melihat ulahnya, tina menatap nya sebel "lho kok masih di sini aja sih? tadi katanya mau bantuin. ya udah tolong kasi in kak Nino..." lanjut Niken melihat tina masih diam saja.
"kenapa nggax loe aja sih"
"emang loe nggax lihat apa gue lagi sibuk gini, udah laaa tadi katanya mau bantuin. masa' ngasi ke kak Nino deket situ aja nggax mau..."
"loe..."
"udah lah tin, loe turuti aja...." kata Gilang.
"Tapi king..."
"katanya mau bantuin tadi..."
"kan nggax jauh-jauh dari loe juga" kata tina.
"0 jadi loe nggax mau?" tanya Niken "kenapa nggax bilang aja? jadi gue bisa tau loe itu cewek seperti apa, yang ngomong tapi nggax di tepati"
"gue bisa di percaya kok"
"0h yea? kalau gitu, buktiin donk" kata Niken dengan santai.
"iiiih..." kata tina dengan sebel, lalu beranjak.
"e sama loe kalau mau makan, di sana aja. di sini udah tinggal dua. yaaa..." kata Niken, tina langsung melangkah pergi dengan sebelnya "makasih ya..." lanjutnya sambil menahan tawa. "rasain loe. abis jadi cewek kecentilan banget... tau rasa deh" batin Niken sambil memperhatikan tina yang melangkah menuju kakaknya.
"Nih kipas" kata Niken dan menyerahkan kipas ke arah Gilang.
"lho, kok..."
"kenapa? gue udah capek kali dari tadi ngipas terus. cepet kipas... gue mau makan ni..." kata Niken dengan santainya.
"curang banget sih loe, masa' gue yang harus ngipas sementar loe enak-enakan makan"
"suka-suka gue donk" balas Niken.
"sini gue mau juga"
"enak aja, kalau loe mau makan sendiri tuh, kan udah ada yang mateng. jangan minta punya gue terus donk"
"tangan gue kan lagi sibuk, suapin donk"
"berhenti bentar kan bisa, kalau nggax pake kaki aja. kalau tetap nggax mau, ntar aja makannya"
"yah Niken, kok loe gitu sih... kenapa sikap loe berubah-ubah sih"
"yeee suka-suka gue lah..."
"iiiih..." kata Gilang dan menghentikan ngipasnya lalu mengambil yang sudah mateng dan memakannya, Niken tersenyum senang melihatnya. lalu melirik tina yang duduk di samping radit tapi tetap memperhatikannya dengan tatapan sebel.
"Ha ha ha... mampus loe. emang enak, jauh-jauh dari king-king loe itu... makanya kalau mau manja itu jangan di deket-deket gue... Huuffffh seneng rasanya bisa ngejain tuh orang. bangga banget gue" kata Niken dalam hati. lalu menikmati makan jagungnya dengan seneng. tanpa sepengetahuannya Gilang memperhatikannya dari tadi.
"Aneh, kenapa Niken jadi berubah sikap nya saat ada tina yaa... sepertinya dia sengaja sok baik di depan gue, padahal kan gue nggax pernah seakrab ini dengannya... ada apa yaaa??? masa' sih dia sengaja buat tina sebel dan pergi. sepertinya nggax mungkin deh, orang seperti Niken mau baik sama gue..." kata Gilang dalam hati sambil berfikir.
"tunggu!!! kenapa gue seseneng ini yaaa saat melihat tina sebel, dan gue sangat sebel saat melihat mereka berduaan, aduh. gue kenapa sih? masa' sih gue cemburu melihat mereka berdua. wah sepertinya ada yang nggax beres nih dalam diri gue... tapi bodo' ah, moga aja Gilang nggax menyadari itu, kalau nggax bisa gawat..." kata Niken dalam hati.
"Apa Niken cemburu ya... tapi masa' sih. mana mungkin lah, apa gue aja yang ke ge-er an. tapi... aaah sulit di percaya. kenapa gue seseneng ini ya saat Niken baik and bersikap manis sama gue, prasaan selama ini gue nggax pernah suka sama cewek yang sok manja di samping gue, tapi kenapa gue nggax merasa risih saat Niken bersikap seperti itu... malah, bisa di bilang, gue... suka. aduuuh gue ini kenapa sih... apa yang terjadi sama gue sebenernya...." batin Gilang sambil terus membakar jagungnya.
"nggax mungkin kan... gue suka sama tiang listrik sapu lidi itu, wah ini nggax beres nih... kenapa gue nggax seneng melihat tina deket sama nih cowok, dan kenapa juga. setiap gue deket dia... gue merasa tenang dan nggax takut ada bahaya seperti apa pun. Aneh, seharusnya kan gue sukanya sama kak radit kalau emang menurut ramalan. kenapa bisa salah begini sih, aaaah sulit di percaya..." lanjutnya dalam hati sambil menikmati jagung bakar yang tadi di makannya.
"Apa yang harus gue lakuin agar nggax kepikiran terus sama nih cewek yaaa... aneh bayangannya selalu muncul, bahkan kadang-kadang secara tiba-tiba, dan sepertinya kalau nggax melihatnya beberapa hari aja seperti ada yang kurang dalam diri gue, aaaaahhhh,...." kata Gilang sebel dan melirik Niken di sampingnya yang tampak masih terdiam.
"eh, udah belum sih. lama banget cuma bakar segini aja" kata-kata Niken menyadarkan Gilang dari lamunannya.
"e eh, apa... aduh, loe ganguin aja sih, sabar dikit kenapa..."
"ya abis elo, cuma bakar segitu aja, lama banget...."
"loe fikir sebentar apa"
"tau! cepetan donk, gue udah mau lagi nih..."
"lho emang yang tadi udah habis?"
"menurut loe..."
"aduh, cepet banget loe makan? gue aja belum ada yang habis, masa loe udah habis duluan,.... masih kurang lagi" kata Gilang.
"bawel banget sih loe. suka-suka gue donk"
"punya perut berapa sih loe..."
"wanita itu punya dua perut"
"ha?! seriuz loe?" Gilang kaget.
"jangan bloon-bloon banget kenapa sih..." kata Niken sambil mendorong Gilang yang jelas langsung tau kalau Niken cuma bohong.
"uuuh, kiraen beneran" balas Gilang.
"udah belum sih? lama amet"
"udah nih, bentar gue ambilin" kata Gilang dan mengambil jagung yang baru mateng, lalu menyerahkannya ke Niken.
"0h terima kasih..." kata Niken dan menerima jagung dari Gilang "wah pasti enak nih..." lanjutnya, Gilang beranjak, Niken jadi kaget "loe mau kemana?" tanyanya.
"ambil minum" jawab Gilang "loe mau juga?" tawarnya.
"boleh deh kalau loe nggax keberatan. air minum gue udah habis tuh, kebetulan banget loe nawarin,..." kata Niken seneng.
"ya udah, bentar yaa..." kata Gilang dan melangkah pergi.
"ternyata tuh orang baik juga... bener kata mama dan kak Nino. kalau kita baik, dia juga bisa kok jadi baik he he he..." kata Niken dalam hati sambil memperhatikan Gilang yang melangkah menjauh "tapi ngax tau kenapa setiap ngobrol sama dia, gue nggax bisa mengontrol diri gue sendiri, maunya berantem aja. ah biar lah... lagian dia kan bukan siapa-siapa gue, yang bakal jadi jodoh gue bukan dia..." lanjutnya.

TBC...

Oke, Cuma Tinggal dua part lagi ya.... Ending di part 10.... OKE?????.....


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 6:55:00 PM

Stalkers