Cepen Cinta "You're My Girl ~ 10

Ceritanya admin lagi pengen bikin kisah drama, makanya untuk part ini sama next rada rada gimana gitu. Huwahahahha, #GegulinganSendiri. Yang jelas, untuk yang nungguin lanjutan dari cerbung you're my girl bisa langsung baca kebawah. And untuk bagian sebelumnya bisa simak dulu disini. Last, happy reading...

You're My Girl
You're My Girl 

"Shila, loe marah sama gue ya?" bisik Delon lirih.

Sejak tadi pagi, Shila memang sama sekali belum berbicara padanya. Bahkan ia SMS dan telp sejak kemaren gadis itu tetap mengabaikannya. Saat masuk kelas juga Shila terlihat sengaja datang bareng dengan kemunculan gurunya. Makanya ia sama sekali tidak punya kesempatan bertanya, terlebih tau tau gurunya muncul langsung membagikan ulangan dadakan.

"Enggak," balas Shila tanpa menoleh. Sengaja menyibukan diri dengan merapikan kembali buku pelajarannya sembari menunggu guru yang lain masuk kekelasnya.

"Kok sedari tadi loe diem aja?"

"Emangnya gue harus teriak - teriak?" balas gadis itu balik.

"Tapi kalau gue ngomong, paling nggak liat gue donk."

"Ogah, udah bosen gue."

Delon mati kutu. Usahanya untuk menarik perhatian Shila di tunda ketika Ibu Fatimah muncul di muka pintu. Sambil belajar sekali kali ia melirik ke samping, berharap kalau gadis itu akan menoleh kearahnya. Tapi hingga bel istirahat terdengar, hasilnya nihil. Delon bahkan yakin kalau Shila tidak menganggap dia ada di sana.

"Shila, ada yang nyariin tuh."

Walau yang di panggil jelas nama Shila, namun tak urung Delon ikut menoleh. Menatap kearah Vano, salah satu teman sekelasnya. Pandangan keduanya kemudian beralih kearah pintu, sesuai dengan isarat yang pria itu lakukan.

"Alfa?" gumam Shila. "Bentar, gue beresin buku gue dulu."

Alfa mengangguk sembari membentukan huruf 'O' dengan tangannya. Dengan cepat Shila membereskan buku - bukunya dan bergegas menghampiri Alfa.

"Shil, tunggu dulu. Gue mau ngomong," tahan Delon.

"Ntar aja ya. Gue masih ada urusan sama Alfa," tanpa menoleh, Shila segera berlalu menemui tamunya. Delon masih tetap di tempat mengawasi.

"Ada apa?" sapa Shila kearah Alfa. Pria itu tersenyum sambil menyodorkan buku tepat kehadapannya. "Kumpulan rumus matematika" tertera di sampulnya.

"Oh, ma kasih. Harusnya loe nggak usah repot - repot kesini. Biar gue aja yang nyamperin kesana."

Shila mengamati buku yang ada dihadapannya. Sibuk membolak balik lembar demi lembar.

"Bener yang itu kan?" tanya Alfa memastikan. Shila segera mengangguk membenarkan.

"Oh iya, kurangnya berapa?" tanya gadis itu sambil mengeluarkan uang dari sakunya.

"Udah, nggak usah. Pake uang gue aja. Toh elo juga sering bantuin gue," tolak Alfa.

"Yah, jangan gitu donk. Gue kan jadi nggak enak."

"Bukannya malah enak ya?" Alfa meralat.

Shila terdiam. Oh iya, kalau di pikir benar juga. Bukannya karena dibayarin jadi lebih enak. Tapi tetep, ia merasa nggak enak karena ia tau Alfa bahkan berkerja untuk kebutuhan sekolahnya.

"Atau kalau nggak keberatan, mungkin besok - besok loe bisa traktir gue minum es?"

"Kenapa harus besok - besok? Udah sekarang aja."

Tanpa menanyakan pendapatnya lagi. Apalagi sekedar basa basi, Shila segera mendorong pria itu berjalan kearah kantin sekolah sementara ia berjalan mengikuti. Mengabaikan sama sekali tatapan Delon yang sejak tadi tanpa sepengetahuannya terus memperhatikan ia dari kelas.

Next : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:32:00 AM

1 komentar:

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers