Serial Wrong couple "Cintaku Nyasar dikamu" #Boy Version

Iseng bikin versi cowoknya untuk cerpen cintaku nyasar di kamu versi sebelumnya. Ceritanya ngelatih diri sendiri buat nulis cerita berdasarkan sisi cowok. Dan buat yang nggak sreg karena ceritanya kebanyakan endingnya gantung, admin jawab disini aja ya. Ceritanya emang sengaja di bikin gitu, soalnya kalau endingnya gak gantung ya gak bisa di lanjutin donk. Labelnya juga jelas, 'serial'. Kalau udah ending fix, bukannya malah aneh kalau di lanjutin. Atau bisa aja sih, bikin cerita baru. Tapiiiiiiiiii, nyari ide itu sekarang susah _ setidaknya buat admin gitu.

Okelah, buat yang penasaran, bisa langsung baca. Kayak yang admin bilang, kali ini diambil dari sisi Riawan. Moga aja nggak mengecewakan.

Cintaku Nyasar dikamu
Cintaku Nyasar dikamu

"Tumben loe hari ini kelihatan suntuk banget?"

Riawan menolah, Farhan yang sedari tadi di tunggu kini duduk tepat di hadapannya. Sahabatnya itu seperti belum kenal dia saja. Lagian siapa yang nggak kesel, setiap hari ada saja yang nembak dirinya. Memang sih, ia akui dia itu keren, tinggi, idola, terus juga cakep, tapi kan nggak harus gitu juga. Yang ada dia malah ilfeel. Kok malah cewek yang ngejar ngejar.

"Di tembak cewek lagi?" Farhan menahan tawa. Riawan hanya memutar mata. Sudah tau pake nanya. "Kali ini siapa?"

"Ngakunya sih namanya Devi, tapi tau deh beneran atau nggak. Gue juga nggak kenal, ya gue bilang aja gue nggak suka cewek yang pendek."

"Ha ha ha, sadis loe," cela Farhan, Riawan hanya mencibir. Biar dia sudah sadis gitu tetep aja cewek cewek nggak ada yang kapok.

"Awas loe, ntar kena karma. Loe malah suka sama cewek yang nggak suka sama loe."

Lagi lagi Riawan membalas dengan cibiran. Hari gini, masa percaya sama yang namanya karma? Katrok banget sih.

"Ya udah, cabut yuk. Main kerumah gue aja," ajak Farhan bangkit berdiri, Riawan menahannya.

"Bentar, gue ke toilet dulu." Tanpa menunggu balasan, Riawan bangkit berdiri. Berjalan kearah toilet. Lima menit kemudian ia melangkah keluar.

"Kan udah jelas tulisannya, itu toilet cewek."

"Ya gue juga udah bilang. Sorry, gue salah masuk. Tadi gue nggak liat."

"Nggak liat atau loe sengaja mau liat liat!!!"

Langkah Riawan terhenti oleh teriakan yang terdengar di depan toilet cewek yang tak jauh darinya. Sekilas ia menoleh, sepertinya ada pria yang tak sengaja _ atau mungkin seperti yang cewek itu bilang _ ia sengaja masuk. Merasa bukan urusannya, Riawan pun memutuskan untuk berlalu.

"Loe jadi cewek garang banget. Udah di bilang nggak sengaja, gue juga udah minta maaf. Dan intinya gue nggak ada li..."

"Intinya itu ada di tengah tengah donat. Brak."

Suara pintu toilet yang di banting terdengar. Membuat Riawan kembali menoleh. Sekilas ia masih mendengar gerutan yang keluar dari mulut pria yang baru saja di marah marah. Dasar cewek gila, sadis dan sebagainya, sementara Riawan sendiri hanya mengernyit baru kemudian tersenyum. Samar mulutnya bergumam.

"Cewek yang unik." Baru kemudian ia berlalu menghampiri Farhan yang sudah menunggunya. Setengah jam kemudian keduanya sudah duduk santai. Lagian nongkong di tempat Farhan asik. Dia anak tunggal sementara orang tuanya sibuk bekerja, jadi merdeka mau ngapa ngapain.

"Wan, gue boleh minjem hanphone loe bentar?"

Riawan mengernyit heran, tatapannya ia alihkan dari tumbukan CD musik rock kearah Farhan yang sedang asik dengan buku di tangannya. Tumben banget ni anak rajin. Salah! Maksudnya kenapa dia mau minjem handphonenya?

"Pulsa gue abis. Sementara PR gue belum gue kerjain. Kan nggak lucu kalau cowok semacho gue di hukum di sekolah karena nggak ngerjain PR. Jadi sini hanphone loe, gue pinjem bentar buat nanyain temen gue, ada tugas yang gue nggak ngerti."

Riawan mencibir, walau tak urung ia sodorkan juga hanphonenya. Lebih baik korban pulsa dari pada korban tenaga (???)



Riawan melirik jam yang melingkar di tangannya. Sialan, ia terlambat. Gara gara kemaren malam keasikan bergadang di rumah Farhan, hasilnya pagi ini matanya nggak bisa melek. Dengan segera di kebutnya motor untuk melaju kearah sekolah. Tepat di tingkungan dekat sekolah, ia mengerem mendadak. Matanya terpaku kearah cewek yang sedang berlari kalang kabut. Jangan bilang ia juga telat. Tapi tunggu dulu, sepertinya ia kenal cewek itu.

Walau sadar ia juga terlambat, namun Riawan justru malah meperlambat laju motornya. Matanya sibuk mengawasi cewek tak di kenal yang sedang berlari di hadapannya. Melihat dari seragam yang ia kenakan sudah pasti mereka berasal dari sekolah yang sama. Setelah cewek itu hilang dari pandangan barulah ia melesatkan laju motornya.

"Bentar lagi kan tunamen, kita harus sering latihan lagi," kata Farhan sambil mengencangkan ikatan tali sepatunya.

Riawan tidak membalas, namun tak urung ia mengangguk membenarkan. Sambil melakukan pemanasan, kepalanya menoleh kesekeliling. Tatapannya terhenti kearah salah satu pohon akasia yang memang dibiarkan tumbuh di pingir lapangan. Biasanya memang banyak anak - anak yang menonton mereka latihan bola. Tidak ada yang aneh dengan hal itu, tapi...

"Oke ayo kita latihan, semangat!" teriakan Aldo membuyarkan lamunan Riawan. Setelah sekali lagi melirik kearah pohon akasia, pria itu segera berlari kearah lapangan.

"Akh, cape," keluh Farhan sambil mendaratkan tubuhnya di atas rumput di bawah terik matahari. Riawan mengikuti geraknya sambil menyodorkan sebotol air mineral yang segera di tengaknya.

"Farhan, loe tau nggak mereka siapa?"

Kepala Farhan berputar mengikuti isarat Riawan. Mata nya sengaja di sipitkan untuk mepertegas pandangan. Tampak dua orang siswa putri yang sedang duduk disana sembari menikmati jajanan. Sepertinya mereka sedari tadi menonton mereka latihan.

"Gak kenal gue, anak kelas 1 mungkin," ujar Farhan. "Kenapa?"

"Nggak kenapa - napa sih. Cuma kayaknya mereka fans gue deh."

Farhan tidak berkomentar, tapi dari tatapannya kearah Riawan jelas menunjukan kalau ia tidak setuju dengan komentar itu.

"Loe tau nggak sih, mereka beberapa waktu ini sering banget nonton kita main. Bahkan tadi selama kita latihan, mereka terus melihat kearah gue."

"Pe de banget loe," cibir Farhan. Tak urung tatapannya ia alihkan kearah pohon akasia. Walau ragu, mungkin Riawan benar. Kedua target yang sedari tadi mereka bicarakan kini sepertinya memang sedang melihat kearah mereka. Tapi...

"Tapi tumben banget loe perduli, biasanya juga loe cuek?" selidik Farhan, Riawan pura pura tidak mendengar. "Dan lagi, ada yang mau gue tanyain. Loe nolak Lina temen sekelas gue ya?"

Kali ini Riawan hanya angkat bahu. Dengan perlahan ia bangkit berdiri, berjalan kearah kelasnya. Tanpa di ajak, Farhan segera mengikuti sembari terus mengomel. Secara gara gara ia dekat dengan Riawan, teman temannya di kelas juga ikut menyalahkannya karena penolakan pria itu. Mana Riawan nolaknya bawa bawa usia lagi. Cewek kan biasanya sensitif banget dengan hal itu.


Sambil menguap Riawan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya melayang - layang. Ia ingat tentang pembicaraannya dengan Farhan tadi siang. Sahabatnya itu jelas jelas mengomeli dirinya hanya karena Lina _ yang bahkan baru ia tau kemaren namanya. Cewek yang entah untuk keberapa kali nya ia tolak cintanya. Lagipula yang benar saja, kenal juga enggak enak aja main tembak. Mending kalau cowok nembak cewek, la ini cewek yang mengejar - ngejar cowok. Apa karena jaman emansipasi wanita kali ya.

Saat hampir terlelap, deringan handphone meninterupsi. Riawan berniat untuk mengabaikannya, secara itu nomor tidak di kenal. Terlebih ia juga sudah mengantuk. Tapi ketika menyadari nomor yang tertera sepertinya nomor telpon rumah, ia membatalkan niatnya. Jangan jangan itu pangilan penting.

"Hallo."

"Hallo, gue Trisma. Anak kelas 2 B IPA. Gue suka sama loe. Dan kalau loe juga suka sama gue, gue harap loe mau nemuin gue besok. Kalau tidak, tolong abaikan panggilan ini."

Tuut tuuut...

Riawan melongo. Masih dengan handphone yang menempel di telinga. Rasa mengantuknya tadi pun secara ajaip mendadak menguap.

Tunggu dulu, yang barusan itu, dia di tembak?

LAGI???!!

Apa apaan ini?!

Apa nggak cukup ia sering di teror lewat coklat, bunga atau di tembak langsung. Bahkan sampai tadi ia juga harus mendengarkan ceramahin panjang lebar dari sahabatnya. Dan kini, cewek nggak di kenal bahkan langsung nembak dirinya via telpon dengan tanpa basa basi? Waaaahhhh..., sepertinya ia harus ngasi pelajaran. Jika ini tetap di biarkan, bisa bisa nanti malah ada yang datang minta langsung di lamar.

Sengaja datang lebih pagi dari biasanya, Riawan tetap duduk di atas motor. Matanya mengamati kearah siswa dan siswi yang belalu melewati pintu gerbang sekolah. Sepuluh menit sebelum bel terdengar, Riawan bangkit berdiri. Sengaja memastikan bahwa setiap kelas telah terisi agar apa yang akan ia lakukan memberikan dampak, dengan tegap ia melangkah kearah kelas 2 B IPA. Jika ia tidak salah mengingat, di kelas itulah Trisma belajar.

Sengaja membanting pintu agar memberikan efek yang dramatis, Riawan masuk kekelas.

"Jadi, disini siapa yang namanya Trisma?" tanya Riawan sambil mengedarkan pandangan kesekeliling. Tidak ada yang menjawab, tapi dari tatapan mereka yang secara serentak menuju kearah bangku di pojokan, Riawan langsung mengerti. Tanpa ragu ia melangkah menghampiri. Ia tidak akan menyesel menjadikan Trima sebagai contoh untuk membuat jera gadis gadis lainnya. Ia akan mempermalukan gadis itu agar tidak ada lagi orang yang berani bermain main dengan dirinya.

Tapi tekad yang bulat itu mendadak lenyap ketika Riawan menyadari siapa kini yang ia tuju. Tunggu dulu, gadis itu... Ia yakin ia mengenalnya. Setidaknya ia merasa familiar dengan wajahnya. Jangan bilang kalau gadis itu yang bernama Trisma.

Untuk meyakinkan dugaannya Riawan bertanya sembari menjaga agar suaranya tetap terdengar santai. "Jadi elo yang namanya Trisma?"

Melihat gadis itu mengangguk polos, Riawan harus menahan diri untuk tidak tersenyum saat itu juga. Dugaanya benar, gadis unik ini menyukai dirinya.

"Karena orangnya adalah elo, okelah. Gue setuju. Gue mau jadi pacar loe. Jadi mulai hari ini, kita resmi pacaran."

Ntah kejutan apa yang menantinya, yang jelas hatinya tergerak untuk mengubah rencana. Dari pada ia mempermalukan gadis itu untuk membuat jera gadis lainnya, mungkin sebaiknya ia terima saja. Toh jika ia sudah punya pacar, mungkin dengan sendirinya mereka juga akan mundur teratur.

Lagipula, tidak ada salahnya mencoba bukan?

Ending

Tuh kan, kalau nulis versi cowok emang agak susah. Eh nggak dink. Beneran susah maksudnya. Secara nulisnya abstrud banget. Tapi nggak papa deh, angap aja latihan nulis.

Yang jelas, sampe ketemu di cerpen cerpen lainnya aja deh...

Detail Cerpen


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:43:00 AM

2 komentar:

  1. Karna dah bca yg serial wrong couple yg dulu" jd dah ketebak endingnya kak :)

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers