Cerbung Love Is Sweet But Unpredictable ~ 04

Sempet lupa sama cerbung Love is sweet but unpredictable yang satu ini. Padahal cerbung yang ini endingnya udah di ketik lho #naaaahhh #lhooooo. Iya, jadi ceritanya admin ngetes nulis dari belakang duluan. Yah, secara kan kalau melihat karya karya sebelumnya suka mentok di bagian ending. Eh taunya, sama aja.

Nah, buat yang penasaran, bisa langsung simak kebawah. Karena ini karya lama bagusan kalau ngecek dulu bagian sebelumnya disini. Akhir kata, happy reading ya.....

Love Is Sweet But Unpredictable
Love Is Sweet But Unpredictable

"Loe kok bisa terkunci gitu sih Vhan?" tanya Ana sambil menyodorkan sebotol air mineral yang baru ia beli dari kantin sekolah kearah Vhany yang duduk ngelekar di atas rumput. Setelah berhasil meloloskan diri dari terjebak di toilet sekolah, keduanya memang sengaja memutuskan untuk cabut sekalian. Toh jam pelajaran juga tersisa hanya sekitar 20 menitan sebelum bel istirahat kedua terdengar.

Vhany tidak lantas menjawab. Tangan gadis itu terulur meraih botol air yang di sodorkan padanya. Untuk kali ini, ia bersyukur. Sahabatnya berinisiatif sendiri membelikan air untuk membasahi tengorokannya yang memang terasa kering. Perlahan di teguknya minuman itu. Rasa dingin sedikit banyak mampu merubah suasana hatinya. "Nggak tau gue," balas Vhany sambil menyeka mulutnya baru kemudian menutup kembali minuman yang tersisa."Kayaknya ada yang jahil sama gue deh," sambungnya lagi.

Ana tidak membalas. Walau tatapannya ia arahkan ke Vhany namun pikirannya justru melalang buana. Bisa jadi Vhany benar. Pasti ada yang jahil. Tapi siapa?

"Dan satu lagi," Vhany menatap tajam kearah Ana. Tak hanya tatapan tapi juga nada bicaranya, membuat Ana sedikit mengernyit. "Gue sedari tadi hilang dan elo baru nyariin setelah segitu lama. Temen kayak apa sih loe?"

Ucapan kesel Vhany tak urung membuat Ana mencibir. Masih untung dia mau bantu nyariin. Lagian mana dia tau kalau Vhany hilang. Secara tadi kan....

"Tunggu dulu, gue inget!" Ana menjentikan jari ketika sebuah ingatan melintas di kepala. "Gue nggak nyariin loe karena gue sama sekali nggak curiga kalau loe ngilang. Soalnya tadi ada yang nemuin gue dan bilang kalau loe jalan sama Kei. Makanya gue tadi sempet kesel. Secara loe udah janji mau makan siang sama gue tapi ujung ujungnya jalan sama Kei juga."

"Gue?" Vhany menunjuk wajahnya sendiri. "Sama Kei? Ya enggak lah. Kan tadi gue udah bilang hari ini Kei sibuk. Dia masih harus latihan basket," terang Vhany. Setelah jeda sejenak untuk berpikir kepalanya menoleh kearah Ana. "Emang yang ngasih tau loe siapa?"

Ana mengeleng. "Gue juga nggak tau. Tiba tiba aja ada yang nyamperin gue, bilang kalau loe nggak bisa makan siang sama gue karena loe mau bareng Kei."

"Aneh," gumam Vhany, Ana mengangguk membenarkan. "Loe tau dia siapa?" tanya Vhany lagi.

Lagi lagi Ana mengeleng. Ia memang tidak kenal siapa yang sudah memberitahunya tadi. Dan lagi, ia tidak terlalu pintar dalam bergaul. Selain karena ia tidak mudah merasa nyaman dengan lingkungan yang baru, ia juga tidak rajin untuk menyapa orang lain duluan. Tambahan, ia memiliki kebiasaan terlalu cepat melupakan wajah serta nama sesorang yang hanya di temui sekali dua, dan itu sama sekali bukan karena kemauannya. Tapi kenyataannya dari dulu memang sudah begitu.

"Tapi kayaknya sih dia adik kelas kita deh. Soalnya dia manggil gue kakak," terang Ana sembari mengingat - ingat.

"Kalau seandainya kita ketemu lagi, loe kenal dia?"

Ana terlihat berpikir baru kemudian kepalanya menggeleng ragu. Sudah ia katakan bukan, kalau ia terlalu mudah untuk melupakan sesuatu. Jangankan hanya wajah, bahkan yang sudah kenalan juga ia bisa lupa namanya jika tidak sering berinteraksi dengannya.

"Akh, loe payah."

Ana mencibir. Emang itu kemauannya?

"Atau, bisa jadi nggak sih ini ulahnya Andini?"

Ana menoleh. Matanya menatap kearah Vhany yang juga sedang melihat kearah dirinya. Kemungkinan itu memang bisa saja terjadi. Apalagi Andini terang - terangan menunjukan sikap kalau ia tidak suka pada Vhany terhitung sejak gadis itu jadian sama Kei. Sikapnya di kelas tadi juga tampak mencurigakan. Terlalu heboh bareng genknya. Makanya Ana jadi curiga kalau teman sebangkunya kenapa kenapa sehingga ia memutuskan untuk segera mencarinya. Namun begitu tetap saja, curiga boleh menuduh jangan.

"Bisa jadi sih," gumam Ana. "Cuma yang benci sama loe kan nggak cuma Andini aja. Secara sejak jadian sama Kei, gue yakin di sekolah ini antis loe lebih banyak dari pada total kenalan yang loe punya."

Vhany terdiam walau tak urung membenarkan. Dalam hati ia terus mengerutu. Secara Kei kan bukan artis, masa jadian dengannya bisa punya antis begitu.

"Tapi An, ngomong - ngomong...." Vhany mengantungkan ucapannya. Membuat Ana menatapnya dengan kening berkerut. "Gue laper."

Mendengar itu Ana hanya mampu memutar mata. Jelas saja sahabatnya kelaparan. Sekarang sudah hampir pukul satu siang. Bel istirahat kedua juga baru saja terdengar.

"Ya sudah, kekantin yuk. Gue temenin. Soalnya tadi gue udah makan mie ayam," terang Ana sambil beranjak bangun. Tanpa perlu diajak dua kali Vhany segera mengikuti. Dengan ringan keduanya berjalan kearah kantin.

Suasana kantin tidak seramai saat istirahat pertama. Hanya tampak beberapa siswa yang menghabiskan waktu disana. Setelah memesan makanannya, keduanya duduk dimeja sudut ruangan sembari menunggu.

"Vhany, loe baru mau makan juga?"

Walau jelas nama Vhany yang di sebut, namun Ana tetap ikut menoleh. Sejenak tatapannya tertuju kearah Kei, baru kemudian tampa di komando beralih kearah orang di belakangnya. Arsyil, seseorang yang telah ditaksirnya sejak lama. Hatinya mendadak harap harap cemas, dilain sisi ia berharap mereka ikut gabung di mejanya, disisi lain ia berharap sebaliknya.

"Iya, loe baru mau makan siang juga?" sahut Vhany.

"Boleh gabung?" tanya Kei lagi. Dengan kurang ajarnya Vhany langsung mengangguk. Sepertinya gadis itu tidak mau repot repot bertanya kepada sahabatnya terlebih dahulu.

"Kok tumben jam segini baru makan?" tanya Kei lagi. Vhany hanya membalas dengan senyuman. Tidak tertarik untuk menceritakan perihal musibah yang menimpanya sedari tadi. Tidak dihadapan Kei dan teman temannya. Bahkan Irma, Erwin dan Rei juga ikutan nimbrung.

"Tadi ada yang jahil. Tau nggak sih, masa Vhany di kunciin ditoilet sekolah."

Tanpa di komando tatapan semuanya beralih kearah Ana, termasuk juga Vhany. Dalam hati gadis itu mengerutu tak jelas. Gadis itu hampir lupa kalau ia punya sahabat yang kadang sedikit ember.

"Loe di kunciin? Sama siapa?" Kei menghalihkan tatapan kearah Vhany yang duduk tepat di hadapannya. Membuat gadis itu terlihat salah tingkah dan hanya bisa angkat bahu. Isarat kalau ia tidak tau.

"Ya pasti dari fans loe lah. Gue yakin Vhany sekarang pasti punya banyak antis yang nggak suka banget sama dia. Waktu awal awal gue jadian sama Rei, gue juga digituin," komentar dari Irma dibalas anggukan oleh Ana, sementara Vhany hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia tidak yakin kalau seorang 'Irma' sempat mengalami hal itu. Terlebih dengan kepribadiannya yang seperti itu.

"Kok loe nggak pernah cerita sama gue?" Rei menatap kearah kekasihnya terkejut sekaligus heran.

"Buat apa? Gue sendiri juga bisa ngatasin kali," Irma menjawab santai. "Dan lagi, loe tau motto gue apa?" pertanyaan Irma hanya di balas gelengen oleh kekasihnya "Membalas itu selalu lebih baik dari pada nggak ada balasannya. Dan biasanya sih, pembalasan itu selalu lebih kejam dari perbuatan," sambung gadis itu _ masih _ dengan gayanya yang santai. Rei mengelengkan kepala takjub sementara Vhany hanya mampu membenarkan dugaan sebelumnya. Mustahil orang seperti Irma bisa dijadikan target pembullyan.

"Fans? Antis? Kalian ngomongin apa sih? Emangnya gue siapa sampe harus ada fans dan antis segala," Kei terlihat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ayolah, ia kan bukan artis. Dan lagi memangnya ini dunia sinetron apa pake ada acara begituan.

"Iya ya. Gue juga heran, loe kan bukan siapa siapa. Cakepan juga Rei kemana mana," komentar Irma sembari menatap kearah Kei dengan tatapan disipit sipitkan. Membuat yang di tatap membalas dengan rasa tidak suka walau tidak membantah. Yang lain hanya menatap keduanya dengan senyum di kulum. Tak heran dengan ulah keduanya yang memang sudah bersahabat sejak kecil.

"Tapi Vhan, nasehat gue. Kalau loe nggak mau terus jadi bulan bulanan anak anak selanjutnya, mendingan loe jadi tegas kayak gue. Loe cari tau siapa mereka, terus loe labark aja langsung," perhatian Irma beralih kearah Vhany.

"Vhany? Bersikap tegas sekaligus ngelabrak orang?" belum sempat Vhany menjawab, Ana sudah terlebih dahulu buka mulut. Perhatian sahabatnya itu juga sedang beralih kearah dirinya. "Ha ha ha... Nggak mungkin," sambungnya lagi. "Sedari dulu udah naksir sama Kei aja nggak berani ngaku, boro boro mau ngelabrak orang."

Sikap sok polos dan tanpa rasa bersalah Ana yang main ceplos barusan tak urung membuat Vhany kesel. "Kalau ngomong itu sambil ngaca. Seolah loe berani aja. Ya sudah, kalau gitu buktiin. Mumpung orangnya ada, sekalian loe ngaku kalau loe suka sama a... aaaaaa," ucapan Vhany terpotong dengan teriakan yang ia lontarkan. Demi apa ia tidak bercanda. Kakinya sakit sesakitnya begitu juga dengan pinggannya. Tak cukup hanya dengan menginjak kaki, Ana bahkan dengan tega mencubit sekuat tenaga.

"Vhany, loe kenapa?" Kei menatap kearah Vhany dengan cemas sementara yang ditatap justru mengalihkan tatapannya kearah sahabatnya yang duduk tepat disamping yang kini juga sedang menatapnya penuh dendam.

"Berani buka mulut, gue bunuh loe," desis Ana lirih selirih kalimat yang hanya mampu Vhany tangkap.

"Gue tau, jangan - jangan disini ada orang yang Ana suka. Iya kan?"

Serentak Ana dan Vhany menoleh kerah Irma yang baru saja menyeletukkan pendapatnya. Membuat gadis itu langsung mendapatkan pujian dalam hati oleh Vhany. Selain suka nyablak, sepertinya Irma juga cepat peka. Ciri khas ratu gosip.

"Apaan sih? Ngaco banget," bantah Ana merasa malu. Irma dan Vhany saling pandang sembari tersenyum. Sementara para cowok hanya mengerutkan kening tidak mengerti.

"Oh ya, pesanannya sedari tadi kok belum datang? Loe bilang tadi loe kelaparan kan Vhan, mending gue tanyaain lagi deh," tanpa menunggu balasan, Ana bangkit berdiri. Berjalan menjauh menuju kearah kasir. Mengabaikan desah desuh orang orang yang di tinggalkannya yang justru malah semakin curiga.

"Loe beneran di jahilin sama fans gue Vhan?" tanya Kei beberapa saat kemudian. Matanya menoleh kearah Vhany yang hanya angkat bahu.

"Kalau gitu Irma bener, loe harus lawan. Atau kalau nggak, ada yang loe curigain kira kira siapa yang ngelakuin itu. Gue nggak mau loe jadi sasaran mereka," kata Kei lagi.

Nama 'Andini' sudah berada di ujung lidah jika saja Vhany tidak ingat nasehat dari Ana beberapa waktu yang lalu. Curiga boleh, menuduh jangan. Dan lagi seperti yang Irma katakan tadi, antisnya cukup banyak. Rasanya tidak benar kalau ia langsung menyebutkan satu nama tanpa bukti yang jelas. Karena itu, lagi lagi Vhany hanya mampu mengeleng sebagai jawaban.

"Terus sekarang gimana? Ada ide gimana caranya supaya Vhany nggak kenapa napa?" tanya Kei sembari menatap teman temannya. Bukannya merasa takut dan cemas, Vhany justru tersenyum. Melihat Kei yang menghkhawatirkannya seperti itu benar benar terasa menyenangkan untuknya.

"Ya loe tempelin aja tu anak. Gue yakin nggak akan ada yang berani menganggu kalau Vhany selalu deket sama loe," saran Erwin yang langsung di balas anggukan setuju oleh Irma dan Rei. Bahkan Arsyil juga ikut membenarkan. Sementara Vhany hanya menunduk malu.

"Gitu ya?" Kei tampak mengangguk - angguk sambil berpikir baru kemudian menoleh kearah Vhany yang sedari tadi masih menunduk. Perlahan tangannya terulur meraih tangan Vhany baru kemudian mengengamnya erat. Membuat gadis itu menoleh kearahnya dengan terkejut.


"Loe nggak keberatan kan kalau harus deket sama gue terus?"

Demi apa, Vhany yakin wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Terlebih ia juga merasa wajahnya terasa panas. Deket deket sama Kei? Orang yang jelas jelas sudah lama ia suka bahkan kini jadi kekasihnya? Emang siapa yang mau nolak.

"Tapi nggak harus mesra mesraan depan gue juga kali. Masih jomblo nih!" kalimat protes Arsyil mendahului Vhany yang makin merasa malu. Dengan cepat gadis itu menarik kembali tangannya di susul oleh tawa teman temannya yang melihat ulahnya. Namun begitu, Vhany masih sempat mengangguk. Sepertinya mulai kedepan hari harinya akan semakin menyenangkan...

To Be Continue....

Detail Cerbung


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 2:13:00 PM

4 komentar:

  1. Nunggu lanjutan nyaaa , semangat kaka ..
    #klo bisa cepet" ahahaha

    ReplyDelete
  2. Nunggu banget lanjutan nya kaa , suka sama cerpen yg d posting d sini ..
    #berharap cepet" ada lanjutan ny hihi

    ReplyDelete
  3. Lanjutan nyaa kaa , menanti banget

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers