Novel Online "Kazua Mencari cinta ~ 20 / 22"

Hallo guys, ketemu lagi nih bareng admin. Masih dengan lanjutan Kazua mencari Cinta yang udah sampe ke bagian 20. Molor banget ya? Ha ha ha. Oh ya, kemaren admin sempet bilang kalau end di part 21, emp kayaknya di tambah satu lagi deh. Soalnya pas admin ketik sekarang ini ternyata jadinya 32 halaman F4. Jadi admin bagi tiga part biar nggak kepanjangan ya. Tapi udah fix kok, part 22 ending.

Nah, biar nggak makin kebanyakan bacod, mendingan langsung baca aja ya. Untuk part sebelumnya bisa kilas balik lewat sini.

Novel Online
Kazua Mencari Cinta

Kazua melirik jam di atas meja, pukul 17:15. Kencan bersama Rudi memang lebih cepat dari yang ia duga walau tak urung ia merasa cukup senang. Hanya pas pulang saja, pria itu melemparkan pertanyaan yang mengusik. Membuatnya galau begini. Di helanya nafas sejenak sebelum kemudian kembali melirik kearah jam. Tersisa banyak waktu sebelum makhrib. Setelah berpikir sejenak, diambilnya sepatu olahraga dan segera menganti setelannya dengan pakaian training. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, gadis itu sudah mulai hitungannya mengelilingi lapangan dengan pikiran yang masih melayang.

"Kenapa loe natap gue kayak gitu?" tanya Rudi ketika Kazua sedang menatapnya tak berkedip.

"Loe suka pedes ya?" tanya Kazua. Rudi mengernyit, tapi kemudian mengangguk. Ia memang baru saja menambahkan dua sendok cape kedalam mangkuk baksonya. Sejujurnya tidak ada yang aneh dengan hal itu.

"Kalau gitu selera kita beda. Gue sama Zafran sama sama nggak suka pedes," jelas Kazua angkat bahu. Rudi sedikit mengernyit mendengarnya tapi tidak berkomentar sama sekali.

"Abis ini kita nonton yuk?" aja Rudi beberapa saat kemudian.

"Loe yang bayarin kan?" tanya Kazua. "Oke, gue setuju," tandas gadis itu bahkan sebelum Rudi menjawab.

"Nah, loe mau nonton apa?" tanya Rudi saat mereka telah tiba di bioskop sambil melihat kearah jadwal film yang akan di putar.

"Sebenernya gue suka nonton film animasi sih, tapi kata Zafran itu tontonan anak kecil. Film horror, gue penakut. Kalau film romantis, Zafran bilang dia suka mual kalau nontonnya. Jadi mendingan kita nonton film action aja gimana?" Kazua balik bertanya.

Rudi terdiam, pria itu tampak berpikir sembari menoleh kearah Kazua. "Emangnya loe suka film action?"

Dengan cepat Kazua menggeleng. "Gue kebanyakan meremnya kalau nonton."

"Ya sudah kalau gitu kita nonton film itu aja," tunjuk Rudi kearah poster yang terpajang di dinding.

Kening Kazua mengernyit. "Nggak salah. Itu kan film romantis."

"Ya enggak donk, tenang aja. Gue kan bukan Zafran. Ayo, filmnya juga udah mau di mulai tuh," ajakan Rudi kali ini langsung di terima Kazua tanpa protes. Dua jam kemudian, film habis. Tadinya Rudi masih ingin mengajaknya keluar, tapi ada telpon masuk yang membuat pria itu di haruskan pulang segera.

"Ma kasih ya, harusnya loe itu nggak perlu bukain pintunya segala. Gue kan bisa sendiri," kata Kazua sambil turun dari mobil. Rudi hanya angkat bahu sambil tersenyum.

"Gimana? Loe hari ini seneng kan?"

Kazua mengangguk. "Seneng banget. Secara jalan sama loe beneran beda banget dari Zafran. Coba aja tu cowok bisa nyenengin kayak loe. Bisa bisa.,."

"Bisa bisa loe jatuh cinta sama dia," potong Rudi yang membuat Kazua langsung bungkam. Ni orang ngomong apa sih. "Atau sebenernya loe emang udah suka sih sama dia. Perasaan jalan sama gue juga yang loe omongin dia mulu."

"Nggak kok, mana mungkin gue suka sama dia."

"Oke, kalau loe emang nggak suka sama dia. Gimana kalau minggu besok kita jalan lagi. Tapi kali ini, bukan cuma kencan dadakan. Gue mau loe jadi cewek gue beneran."

Kazua ingin membalas, tapi pikirnya buntu. Dan lagi, Rudi juga langsung pamit karena katanya masih ada urusan. Alhasil, Kazua hanya bengong sendirian.

"Seperti yang gue duga, endingnya pasti begini."

Lamunan Kazua buyar, bahkan secara refleks kakinya berhenti bergerak. Kepalanya menoleh kekiri, tak tau sejak kapan Zafran sudah berdiri disampingnya.

"Loe kenapa bisa ada disini?"

"Kali ini berapa putaran?"

Kazua mengernyit. Ni orang ngomong apaan sih.

"Loe itu beneran cewek paling bodoh yang pernah gue kenal," kerutan di kening Kazua bertambah. "Kalau loe ngerasa sakit hati, mendingan loe bales. Bukan nyiksa diri sendiri kayak gini. Asal patah hati lari keliling lapangan."

"Loe apa banget sih, datang datang langsung marah. Memangnya siapa yang patah hati?" tanya Kazua kesil, tapi Zafran hanya membalasnya dengan tatapan tak berkedip. "Oke, gue tau gue salah. Gue nggak ngasih tau loe kalau gue kencan sama Rudi. Tapi gimana lagi donk. Dia yang ngajakin, ya udah gue terima. Karena takut loe marah, makanya gue diem aja."

"Emangnya setiap yang ngajakin loe kencan harus loe terima?!"

Kazua terdiam sembari berpikir. Emang nggak harus sih, tapi...

"Atau loe emang segitu ngebetnya pengen punya pacar?!"

"Loe kok ngomongnya gitu?" jujur, Kazua merasa kesel.

"Karena loe bego. Loe nggak ngerti kalau nggak di kasih tau. Pacaran itu nggak seindah yang loe bayangin. Justru malah..."

"Tapi nggak semuanya berakhir nyesek kayak kisah loe. Cewek di dunia ini juga bukan cuma satu. Mentang mentang loe di tinggalin, loe dengan semena mena menutup pintu hati. Ngangep kalau semua cewek itu sama. Karena itu kan loe nggak pernah pacaran lagi sampe sekarang?"

"Maksut loe apa ngomong barusan?"

Kazua terdiam. Gadis itu tampak menghela nafas sejenak. Sejujurnya ia tidak bermaksut ngomong begitu. Hanya saja kata itu dengan sendirinya meluncur dari mulutnya.

"Loe tau dari mana tentang gue?" tambah Zafran lagi.

"Gue cuma..." Kazua sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan.

"Jangan bilang kalau loe tau dari Rudi."

Dari sikap Kazua, Zafran langsung tau kalau tebakannya benar.

"Heh! Hebat," puji Zafran sinis. "Baru sekali jalan sama dia loe langsung bisa ngajarin gue sekarang."

"Bukan gitu Zaf, tapi..."

"Tapi akhirnya loe tetap di tinggalin tu cowok kan?" potong Zafran lagi.

Sebelah alis Kazua terangkat, "Maksut loe?"

Zafran tidak membalas, pria itu hanya menatap Kazua sinis. Dan kemudian langkahnya mendekat, Kazua berniat untuk mundur, hanya niat karena tubuhnya tidak mau bergerak. Jadi gadis itu hanya terdiam saat kini wajah Zafran berada begitu dekat dengan dirinya.

"Mulai sekarang, gue udah bukan lagi pelatih loe."

"Ma... maksud loe?"

"Melihat loe yang sekarang, kayaknya loe juga udah nggak butuh gue lagi kan?" selesai berkata, Zafan langsung berbalik. Namun secepat itu juga, tangan Kazua menahannya.

"Tunggu dulu," tahan Kazua.

Gadis itu sedikit terkejut ketika Zafran segera menepisnya. Menatapnya tajam sembari berujar. "Gue nggak mau lagi berurusan sama loe, jadi jangan pernah ganggu gue lagi. Ngerti!"

Kali ini Zafran berlalu tanpa menoleh lagi.

Kazua Mencari Cinta


"Kazu, tu bakso punya salah apa? Kok loe colok colokin gitu. Kalau emang nggak suka, udah mending buat gue aja," komentar Keysia saat melihat ulah sahabatnya. Sudah hampir seminggu ini, gadis itu terlihat aneh. Bahkan ketika di kantin gini bisa bisanya ia melamun.

"Sekarang gue harus gimana?"

Bukannya menjawab, Keysia malah ikut ikutan pasang raut bingung. Secara ia tidak tau duduk permasalahannya dan Kazua sendiri juga tidak pernah bercerita apa masalahnya. Satu - satunya yang ia tau adalah Zafran bukan lagi pelatih Kazua. Bahkan ia tidak pernah melihat kedua orang itu ngobrol bareng.

"Emangnya loe kenapa sih? Loe kan bisa cerita sama gue. Udah hampir seminggu ini loe keliatan aneh tau nggak. Dan lagi..."

Ucapan Keysia terhenti karena menyadari kalau Kazua sama sekali tidak mendengarkannya. Tatapan gadis itu juga hanya tertuju kearah satu objek. Mau tak mau membuat Keysia merasa tertarik untuk mengikutinya. Sejenak gadis itu menarik nafas.

"Loe kangen sama Zafran ya? Kalau iya kenapa nggak samperin aja?" bisik Keysia lirih.

"Apaan sih. Ngaco aja kalau ngomong," bantah Kazua cepat. Dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya.

"Udah, ngaku aja. Emang siapa yang mau loe bohongin. Gue?" tunjuk Kaysia kearah dirinya sendiri. "Nggak mempan, walau loe nggak bilang, gue tau. Loe sebenernya diam diam suka sama dia kan?"

"Ih makin ngarang loe. Siapa bilang gue suka sama dia. Zafran itu ngeselin, nyebelin, suka seenaknya, demen memerintah. Nggak mungkin gue suka sama dia."

"Yakin...?" tanya Keysia lagi.

"Ehem, yakin banget," Kazua membuang muka tanpa menoleh kearah sahabatnya sama sekali.

"Ya sudah kalau gitu," Keysia angkat bahu. Namun diam diam ia memperhatikan kalau Kazua kembali menoleh kearah Zafran yang duduk di kejauhan.

"Oh iya. Ntar malem loe ada acara nggak? Tidur di tempat gue yuk," ajak Keysia sambil berjalan beriringan bersama Kazua untuk balik kekelas.

"Emangnya di tempat loe ada apaan?" tanya Kazua. Dan lagi tumben banget Keysia ngajak tidur di rumahnya sementara nanti malam jelas jelas malam minggu. Bukannya biasanya gadis itu sibuk kencan dengan pacarnya.

"Nggak ada sih. Cuma cowok gue ntar malem nggak bisa datang ke rumah. Ada acara di kampusnya. Makanya itu, dari pada malam minggu kelabu, mending ngobrol bareng loe. Oke ya, loe tidur di rumah gue malam ini."

Kazua mencibir. Tuh kan bener, ternyata ada gajah di balik batu. Temen macam apaan gitu.

"Ogah, ntar malam gue ada acara."

"Nggak usah bohong. Loe kan jomblo," sela Keysia. "Dari pada loe ngegalau, mending loe tidur di rumah gue aja. Sekalian loe bisa curhat apa masalah loe selama ini. Siapa tau gue bisa bantuin. Dan lagi, Zafran udah bukan pelatih loe lagi kan? Ya udah biar gue aja. Gimana?"

Lagi lagi Kazua mencibir. Temennya ini apa banget coba. "Sekarang gue emang jomblo, tapi..." Kazua mendekatkan wajahnya kearah kuping Keysia sambil berbisik lirih. "Ntar malem gue mau kencan sama Rudi."

"Loe mau kencan sama Rudi? Siapa pula itu?"

Dan jitakan langsung mendarat di kepala Keysia begitu gadis itu menyelesaikan ucapannya. Lagian siapa yang nggak kesel coba, udah jelas jelas dia berbisik, kenapa temannya malah berteriak. Refleks Kazua menoleh kekanan dan kekiri, melihat teman temannya yang kini menatap kearahnya dengan heran karena mendengar teriakan Keysia barusan. Sampai kemudian tatapan Kazua terhenti kearah Zafran yang kini juga sedang menatapnya. Sejujurnya Kazua sama sekali tidak tau kalau sejak tadi pria itu berjalan tak jauh di belakangnya. Jangan bilang kalau ia mendengar teriakan Keysia barusan.

"Rudi itu siapa?" tanya Keysia mengacuhkan rasa sakit di kepala.

"Loe lebay banget sih. Kenapa pake teriak segala," geram Kazua sambil menarik temannya menjauh. Berjalan dengan cepat kearah kelasnya.

"Sorry, itu gerak refleks," Keysia pasang raut memelas. "Tapi ngomong - ngomong Rudi itu siapa?"

"Temennya Zafran."

"Bukannya barusan loe bilang pasangan kencan loe?"

Kazua memutar mata "Maksut gue itu. Temennya Zafran yang kini jadi pasangan kencan gue," sambungnya meralat. Sebelum Keysia bertanya lebih lanjut, gadis itu sudah telebih dahulu memberi isarat kepadanya untuk tutup mulut karena guru kelasnya sudah ada di muka pintu. walau penasaran, Keysia tak urung manut. Tapi ia janji ia akan mencari tau selengkapnya nanti.

Kazua Mencari Cinta


Dengan tenang Kazua duduk di ruang tamu sembari sibuk memindahkan chanel TV. Tidak ada satupun acara yang bagus. Membuatnya memilih mematikan benda tersebut. Sekilas diliriknya jam yang melingkar di tangan. Pukul tujuh lewat seperempat. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang di janjikan Rudi untuk menjemputnya.

Oke baiklah, mungkin jalanan macet. Tak ingin berprasangka buruk, Kazua bangkit berdiri. Berjalan kearah dapur untuk mengambil minum. Rumahnya sepi karena kedua orang tuanya sedang mengadakan acara makan malam bersama rekan kantornya. Saat ia kembali keruang tamu, suara bel terdenger. Menebak itu pasti Rudi, Kazua segera melangkah. Tak lupa disambarnya tas selempangan yang selalu ia bawa.

"Sorry telat, jalanan macet."

Sesuai dugaan, karena itu Kazua hanya angkat bahu sembari tersenyum maklum.

"Kita bisa langsung pergi sekarang?" ajak Rudi lagi. Terlebih dari tampilannya, Kazua juga sudah siap. Malam ini gadis itu terlihat angun dengan gaun biru yang ia kenakan. Di padu dengan polesan make up tipis membuatnya terlihat sedikit dewasa. Sepertinya ia sudah belajar banyak tentang tata cara berdandan.

"Kita mau kemana?" tanya Kazua setelah keduanya melaju di jalanan.

"Makan dulu gimana? Loe belum makan kan?" tanya Rudi.

Kazua ingin menjawab, "Tidak, ia sudah makan." Namun yang keluar dari mulut justru sebaliknya. "Boleh, gue juga laper. Kita makan dimana?" Rudi hanya membalasnya dengan senyum misterius.

"Gila, tempatnya romantis banget," Kazua tidak menutupi raut kagum dari wajahnya begitu Rudi mengajaknya masuk kedalam sebuah kaffe yang jujur baru kali ini Kazua masuki. Kaffe yang memang di desain untuk pasangan pasangan yang menghabiskan waktu berdua. Bahkan lampu lampu yang dipasang juga berbentuk lope lope, belum lagi musik yang mengalun juga terdengar merdu dengan suasana yang sedikit remang.

"Dan makanannya juga enak. Ayo," ajak Rudi lagi. Tangannya terulur menarikan kursi untuk Kazua. Membuat gadis itu terlihat cangung, terus terang ia tidak pernah di pelakukan seperti itu.

"Loe bener, makannya enak banget."

"Loe suka?" tanya Rudi, Kazua mengangguk cepat.

"Kalau gue?" Kazua mengernyit. Secara refleks gerakan makannya terhenti. Matanya menatap kearah Rudi dengan pandangan tidak mengerti.

"Maksut loe?"

Rudi tidak lantas menjawab. Pria itu hanya tersenyum sembari angkat bahu. "Udah, lanjutin aja makannya. Loe bilang enak kan?"

Walau tidak mengerti, tak urung Kazua manut. Kapan lagi bisa makan enak gini, gratis lagi.

Sembari makan, mereka kembali ngobrol. Dan Kazua menaydari, Rudi ternyata orangnya beneran asik. Humoris dan juga nyenengin. Beda banget sama Zafran.

"Loe kenapa tiba - tiba diem?" tanya Rudi heran.

Kazua hanya mengeleng. Bodoh banget sih dia. Udah jelas - jelas sedang kencan bareng Rudi bisa bisanya yang di ingat adalah Zafran. Padahal tu cowok kan nyebelin.

"Atau jangan - jangan loe kepikiran Zafran ya?"

Pertanyaan Rudi membuat Kazua tersentak. Mustahil tu cowok bisa membaca pikiran. Sebelum Kazua sempat membantah, pria itu sudah terlebih dahulu berdiri. Membuat Kazua mengurungkan niatnya. Dan gadis itu hanya mampu menatap tak berkedip ketika menyadari kalau Rudi kini mencondongkan tubuhnya. Mendekatkan wajahnya kearah dirinya. Jangan bilang kalau tu cowok mau nyium dia?

"Diem aja, jangan bergerak. Kasi gue waktu 10 detik. Gue pengen ngomong jujur sama loe kalau sebenernya..."

To Be Continue....

Next to part selanjutnya aja deh.... XD

Detail Cerpen


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 10:10:00 PM

1 komentar:

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers