Cerpen Cinta "You're My Girl ~ 01

Oke, untuk sejenak lupakan semua ide cerpen lama dan mari kembali dengan cerita yang lebih fresh. Ha ha ha.... Untuk serial wrong couple, lanjutannya belum ada. Tapi versi cowoknya yang pertama udah, tinggal nunggu tayang. Untuk Kazua mencari cinta belakangan aja ya di post. Tenang, lanjutannya udah di ketik kok. Cuma ya antri. Kan admin udah bilang ini tuh edisi comeback dari hiatus sebelumnya yang sudah terlalu lama. And tara cerpen cinta You're my Girl. Untuk cerpen yang satu ini kebetulan emang udah di ketik sampe ending. Biar aman...

Nah, cukup segitu pembukaan kalimatnya, so mendingan ayo kita langsung simak jalan ceritanya. Penasaran? Check this out guys....

You're My Girl
You're My Girl

Shila sedang asik membaca komik ketika sebuah tepukan di bahu menyadarkannya. Delon tidak bersuara, hanya memberi isarat pada dirinya untuk menatap kedepan. Pak Seno ternyata sudah ada di muka pintu, siap untuk memulai pelajaran hari ini.

"Loe pagi pagi bacaannya komik, kapan mau pinter coba?" cela Delon berbisik lirih.

"Bukannya gue udah lebih pinter dari loe ya?" balas Shila enteng.

Delon hanya mencibir. Kalau yang di maksud lebih pinter adalah rangkingnya lebih tinggi, Shila benar. Gadis itu selalu mendapat pringkat ke 39 dari 39 siswa sementara dirinya di peringkat satu. Nah, kesenjangan yang sangat tinggi bukan? Berhubung shila mendapat angka yang lebih banyak karena itu ia merasa lebih pinter. Ntar teori ngaco mana yang ia pakai, yang jelas Delon tidak membantah. Tidak sekarang, ketika Pak Seno sudah siap dengan materinya.

"Baiklah semuanya, sekarang kumpulkan tugas yang bapak berikan kemarin ke depan kelas," kalimat pembuka dari pak Seno sontak membuat Shila panik.

"Jangan bilang kalau loe kali ini nggak ngerjain lagi?" bisik Delon kearah Shila yang tampak sedang membolak balik halaman bukunya yang masih kosong.

"Mampus gue," keluhan yang di lontarkan gadis itu segera menyadarkan Delon kalau tebakannya benar. Dan pria itu hanya mampu mengeleng gelengkan kepala akan ulah sahabatnya itu. Ni anak nggak tau kapan tobatnya tapi yang jelas setiap tugas yang di berikan belum pernah ia kerjakan. Benar benar tipe manusia ajaip. Delon bahkan ragu apakah Shila benaran niat untuk sekolah.

"Tiga puluh delapan. Siapa yang masih belum mengumpulkan tugasnya?" tanya pak Seno setelah menghitung buku tugas yang terkumpul. Bahkan sebelum Shila mengangkat tanganya tatapan seisi kelas sudah tertuju kearahnya.

"Kamu lagi?" tanya Pak Seno ketika melihat tangan Shila yang terangkat. Bisikan bisikan lirih terdengar disana sini. Penuh dengan celaan, sementara Shila hanya mampu meringis kearah Pak Seno.

"Maaf pak, saya lupa."

"Kesabaran bapak sudah habis. Shila, sekarang juga kamu keluar. Berdiri didepan lapangan dan hormat pada bendera sampai pelajaran bapak berakhir. Mengerti."

Perintah dari Pak Seno membuat semuanya kaget. Pasalnya hukuman kali ini berbeda dari biasanya yang paling harus membersihkan toilet dijam istirahat, mencatat sekian halaman pelajaran, ataupun pengurangan nilai. Berdiri dihalaman sekolah dan hormat pada bendera selama satu setengah jam bukanlah hal yang mudah. Selain matahari sedang bersemangat menjalankan tugasnya, alasan lain karena mereka adalah siswa kelas II SMA. Hukuman itu pasti akan menarik perhatian siswa lainnya.

"Baik pak," tanpa protes sama sekali, Shila bangkit berdiri.

Dengan kepala menunduk ia berjalan kearah halaman sekolahnya. Melaksanakan persis seperti yang di perintahkan. Keningnya sedikit berkerut ketika mendapati ada sosok lain yang sudah mendahuluinya. Steven alfarius, nama yang tertera di saku bajunya. Kemunculan Shila membuat pria itu menoleh. Hanya sekilas baru kemudian kembali menatap kearah sang saka merah putih yang berkibar dengan megahnya.

"Loe baik baik aja kan?" Shila yang pertama kali buka mulut.

Tidak ada jawaban, pria bernama Steven alfarius hanya menoleh kearahnya dengan tatapan heran. Wajar saja sih, selama hampir sejam di jemur tidak ada suara diantara mereka. Dan ucapan Shila barusan berhasil memecahkan segala keheningan yang sempat terjadi.

"Gue nggak papa," balasnya sambil tersenyum tipis.

"Loe kok bisa di hukum sih?" tanya Shila lagi, sekilas ia menoleh kearah kelasnya. Dari kejauhan ia masih melihat pak Seno yang mengawasi. Tentu saja ia tidak boleh ketahuan mengobrol saat sedang di hukum.

"Absen satu bulan full. Loe?" pria itu menjawab seadanya.

Shila mengangguk paham. Dalam hati ia merasa kagum, rekod banget ketemu orang yang mau nigsi huruf 'a' di kolom selembar halaman absen.

Lanjut Baca : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:01:00 PM

4 komentar:

  1. Replies
    1. Iyeee mas bro...
      Ude lama biru mulu... :D

      Delete
  2. Hai aku Ray. Aku suka sama cerita-cerita karya kak Ana,terutama yg cerita cinta masa sma ^^. terus berkarya yang lebih baik dan baik lagi ya kak Ana! semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai juga...
      Salam kenal ya. Ma kasih udah mampir kesini. Dan syukur deh kalau emang suka.
      Ntar di usahain nulis lagi...
      Ma kasih udah mampir....

      Delete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers