Cerbung Love Is Sweet, But Unpredictable ~ 01

Yang nunggu lanjutan Kazua mencari cinta sabar dulu ya. Tu cerita satu lagi di pikirin gimana ceritanya biar feel nulis ada lagi. Soalnya kemaren pas nulis itu lagi ngefans sama shota, itu lho yang main di film 'Say I love you'. Nah sekarang udah nggak ngefans doi lagi. Jadi idenya ilang. #ditabok. So dari pada ni blog gak ada postingan mending bikin cerita baru sambil nunggu idenya balik. Kali ini admin mau bikin cerbung Love Is Sweet, But Unpredictable, kisah antara Kei dan Vhany. Penasaran? Simak langsung ke bawah ya...

Love Is Sweet, But Unpredictable
Love Is Sweet, But Unpredictable


"Ma kasih ya mbak," kata Vhany kearah pelayan kantin yang baru saja mengantarkan bakso pesanannya.

Begitu pelayan tersebut berlalu, perhatian Vhany segera ia arahkan pada mangkuk, sedikit mencicipi rasa kuahnya. Merasa ada yang kurang tangan Vhany terulur meraih botol kecap dihadapan. Setelah menuangkan cairan hitam pekat tersebut, Vhany kembali mencicipinya. Akh, sepertinya enak. Ditambah perutnya juga memang sedang lapar.

"Kei, tadi itu loe keren banget. Gue yakin, selama ada loe turnament besok sekolah kita pasti juara."

Tangan Vhany yang sudah terangkat untuk menyuapkan makanannya terhenti di udara. Deg, jantungnya untuk sejenak berhenti berdetak baru kemudian bergerak cepat. Bahkan gadis itu tanpa sadar menahan napas waktu segerombolan anak berseragam olah raga melewatinya sebelum kemudian duduk selang beberapa meja dihadapan sembari terus mengobrol.

Samar obrolan mereka masih terdengar di telinga Vhany yang memang sengaja memberikan perhatian lebih pada mereka. Tepatnya pada Kei, sang Idola sekolah. Anaknya keren, tinggi, peraih juara olimpiade matematika beberapa waktu yang lalu, jago main basket, pinter main gitar, ramah dan juga pandai bergaul. Baik lagi. Akh, siapa sih yang nggak naksir sosok sesempurna itu. Bahkan Vhany juga tau, banyak anak anak cewek yang lain yang terang terangan bilang suka sama tu cowok. Cuma kayanya belum ada yang mampu menarik perhatian Kei deh. Nggak tau sih alasannya apa, yang jelas Vhany seneng karenanya.

Sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari Kei yang sedang asik bercerita dengan teman - temannya, tanpa sadar Vhany tersenyum sendiri. Ciri - ciri orang jatuh cinta memang kayak gini ya kan, cukup melihat dari jauh, jadi pengamat diam diam udah bikin seneng. Lagipula sepertinya memang hanya itu yang bisa Vhany lakukan. Untuk mendekati pria itu langsung, jelas, ia akan mundur teratur. Bukan karena rivalnya banyak, tapi lebih karena ia sadar kalau ia pasti akan langsung kalah saing.

Secara Vhany orangnya biasa saja. Benar - benar biasa. Cantik? Yah, itu relatif walau harus di akui, yang lebih cantik banyak. Vieta misalnya, yang kini jadi pacarnya Erwin si ketua osis. Atau Irma juga boleh, temen deketnya Kei yang sekarang malah jadian sama Rei. Pinter? Emp, kayaknya juga nggak deh. Nilai di lapornya juga rata rata 7 dan 8, masih kalah dari si Ana yang rata rata nilainya 9. Kaya? Bukan nggak bersyukur sih, pulang pergi sekolah aja ia masih menggunakan bus sementara Kei jelas jelas pake motor yang keren gila. Kalau gitu ceritanya gimana ia nggak minder duluan coba.

Senyum masih bertenger di bibir Vhany, ketika tiba tiba sosok yang sedari tadi ia perhatikan kini juga sedang menatapnya. Satu, dua, tiga, empat, lima. Baru pada detik ke lima Vhany menyadarinya. Dengan cepat gadis itu menunduk, mengalihkan tatapannya kearah mangkuk di hadapan. Lagi - lagi jantungnya berpacu cepat sementara otaknya sibuk memaki diri sendiri. Ya ampun, jangan bilang kalau Kei tadi melihat dia yang dari tadi memperhatikan dirinya. Astaga, malu banget.

Setelah lama menunduk, Vhany memberanikan diri untuk sekedar melirik kearah Kei. Memastikan apakah pria itu masih melihat dirinya atau tidak. Ketika melihat kalau Kei sedang asik tertawa bersama teman - temannya barulah Vhany mampu menghembuskan nafas lega. Sepertinya tadi ia salah lihat. Mustahil Kei melihat kearah dirinya. Memangnya dia siapa? Bahkan Vhany saja sanksi kalau Kei mengenali dirinya.

"Vhany, loe makan sendirian aja?"

Vhany menoleh, tersenyum samar ketika melihat Ana yang baru menyapanya. Kemudian dengan santai gadis itu duduk tepat di sampingnya.

"Iya nih. Tadi si Jenny ada urusan sama guru BP. Tau deh ada masalah apa lagi tu anak. Mau ngajak loe, tapi inget kalau hari ini hari senin. Loe bukannya biasanya puasa ya?" sahut Vhany membuat Ana hanya angkat bahu. Tangan gadis itu terulur meraih pisang goreng di meja baru kemudian melahapnya.

"Hari ini enggak dink. Lagi ABC, Allah bagi cuti," balas gadis itu santai. Vhany hanya mengangguk angguk.

"Gila, keren banget ya tu anak. Beruntung banget deh yang jadi pacarnya."

Vhany menoleh kearah Ana, tapi yang di tatap justru sedang fokus menatap kedepan. Membuat Vhany dengan perlahan mengikuti arah tatapannya. Arah yang sama dimana beberapa waktu yang lalu menjadi objek yang ia amat.

"Kei maksut loe?" Vhany pura - pura tidak mengerti.

Ana membalas dengan anggukan tanpa mengalihkan tatapannya. "Tapi tetep, gue lebih suka sama Arsyil. Apalagi dia jago Biologi," kata gadis itu setengah bergumam.

Vhany menoleh kearah Ana sejenak, baru kemudian kembali menatap kedepan. Arysil yang Ana maksut kebetulan duduk tepat di samping Kei karena sepertinya mereka memang sahabatan. Menurut penilaian Vhany, Arsyil memang keren. Tapi tetep lebih kerenan Kei, apalagi Arsyil pake kacamata. Jadi kelihatan culun menurutnya yang justru malah terlihat jenius menurut Ana. Tapi...

"Memangnya kenapa kalau dia pinter Biologi?" tanya Vhany heran.

"Akh elo. Masa gitu aja nggak tau sih. Kalau anak Biologi mah, bakteri aja di perhatiin apa lagi pacar coba. Ha ha ha..." jelas gadis itu santai. Membuat Vhany hanya mampu geleng geleng kepala. Ada ada saja.


"Eh, buruan abisin makanan loe. Abis ini temenin gue ke perpus bentar yuk. Gue mau minjem buku dulu," ajak Ana beberapa saat kemudian.

Vhany hanya membalas dengan anggukan tanpa bertanya lagi. Apalagi hanya untuk bertanya tentang buku apa yang akan Ana pinjam. Gadis itu kan memang begitu. Hobby banget baca. Kalau di pikir - pikir sepertinya bakal cocok deh sama Arsyil. Pake kacamata biasanya identik sama rajin baca. Yah walau ntah teori dari mana sih.


Begitu bel berbunyi, Vhany segera mengemasi barang - barangnya baru kemudian ia melangkah meninggalkan kelas. Sambil melangkah, Vhany melirik handphond yang baru ia keluarkan dari saku. Selama kelas tadi, handphoned tersebut sengaja ia silince. Dan kini baru ia lihat. Ada 15 notif FB, 4 pesan BBM, 3 sms masuk dan 7 pesan WA. Tak sabar gadis itu segera membukanya satu persatu sambil terus melangkah. Tepat didepan kelas 1 B tak sengaja ia menabrak seseorang yang baru berniat keluar dari kelasnya, dan detik selanjutnya buku - buku sudah berserakan di lantai. Untung saja handphondnya ia gengam erat. Kalau sampai ikutan jatuh, kan gawat.

"Aduh, mbak. Sorry, nggak sengaja."

Sebelum Vhany sempat mengucapkan maaf karena telah meleng jalannya, gadis tersebut sudah terlebih dahulu meminta maaf. Baru kemudian segera jonggok mengumpulkan buku - bukunya. Vhany segera memasukan kembali handphonenya kedalam saku baru kemudian ikut berjongkok mengumpulkan buku - buku tersebut.

Begitu buku tersebut terkumpul, Vhany terdiam. Pantes saja gadis itu meminta maaf, ternyata buku tersebut sebanyak itu. Bahkan bisa menutupi wajahnya saat berjalan.

"Tunggu dulu, ini mau dibawa kemana?" tahan Vhany sebelum gadis itu sempat bangkit berdiri.

"Ke perpus kak. Soalnya tadi kelas memang minjem dari sana, jadi harus di balikin."

"Loe semua yang bawa?" tanya Vhany lagi. Vhany memang hanya melihat gadis itu sendiri disana karena sekilas ia melihat kelas sudah kosong. Tapi tetep, ia ingin memastikan.

Gadis tersebut hanya tersenyum sembari angkat bahu. Vhany yang melihat itu hanya mampu menghembuskan nafas. Itu kenapa teman temannya pada kurang ajar semua sih. Masa buku sebanyak itu, tebel tebel lagi. Harus ia yang mengembalikannya sendirian. Tanpa berkata lagi, tangan Vhany segera terulur meraih sebagian dari buku yang masih menumpuk di lantai tersebut.

"Ayo, kakak bantuin bawa separuh," kata Vhany. Baru kemudian ia berdiri. Gadis tersebut terlihat ingin menahannya karena merasa tak enak, tapi urung. Terlebih Vhany memang mendahuluinya melangkah.

"Aduh kak. Beneran ma kasih ya. Sorry jadi ngerepotin," kata gadis itu setelah keduanya keluar dari perpustakaan sekolah. Vhany hanya membalas dengan anggukan lengkap dengan senyuman.

Setelah gadis itu berlalu, barulah ia ingat kalau ia harus pulang. Akh, satu lagi. Ia tadikan mau ngecek pesan di hapenya. Dengan segera ia kembali mengeluarkan handphone dari sakunya. Sedikit terkejut juga kesel ketika melihat jam yang tertera dipojok atas. Pukul 14:37. Sudah lewat 7 menit dari bus yang di tumpangi untuk kerumahnya. Itu artinya ia masih harus menunggu 23 menit lagi baru bus selanjutnya tiba.

Begitu keluar dari gerbang sekolah, Vhany menoleh kesekeliling. Tatapannya terhenti kearah abang abang penjual es campur yang mangkal tak jauh dari sekolahnya. Setelah berpikir sejenak, Vhany segera melangkah menghampiri. Dipesannya semangkus es campur baru kemudian ia duduk di kursi yang diatus didekat pohon beringin yang tumbuh di sana. Beneran tempat yang pewe untuk jualan.

Vhany sedang asik menikmati es campur pesanannya ketika tiba tiba ada yang menyapanya hingga ia tersedak. Bukan, ia bukan kaget karena disapa tiba - tiba, tapi lebih kepada kaget ketika tau siapa yang menyapanya.

"Gue ikutan duduk disini nggak papa kan?" tanya Kei, yang entah datangnya dari mana tau tau kini berada tepat di depan Vhany. Bahkan tanpa perlu menunggu balasan dari gadis itu, dengan santainya ia duduk disana.

"Mang, es campurnya satu ya," kata Kei kearah penjual es. Sementara Vhany masih membisu seperti patung. Masih tidak yakin bisa semeja bareng Kei, sosok yang sudah di taksirnya sejak lama.

"Baru mau pulang ya?" tanya Kei.

"Eh?" bukannya menjawab, Vhany menatap Kei heran. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri. Memastikan tidak ada siapaun selain dirinya.

"Iya, gue ngomong sama loe," jelas Kei sambil tersenyum, membuat Vhany menjadi salah tingkah. Ya ampun, bodoh banget sih dia.

"Ehem, iya. Cuma tadi kebetulan ketinggalan bus," sahut Vhany sambil menunduk. Matanya menatap kearah ec campur pesanannya sementara tangannya terlihat memainkan sendok.

"Terus, nanti pulangnya pake apa?"

"Ya nunggu donk. Palingan dua puluh menitan ada lagi," jelas Vhany walau ia tak yakin kalau Kei benar - benar tidak tau rute bus di kota mereka. Tapi ngomong - ngomong, bisa juga sih Kei beneran nggak tau. Secara kan tu cowok belum tentu pernah naik bus. Namanya juga orang kaya.

Kei tampak mengangguk - angguk paham. Sementara Vhany tetep menunduk. Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian dipecah dengan kemunculan abang penjual es yang mengantarkan pesanan Kei.

"Panas - panas gini emang enaknya minum yang dingin - dingin ya. Seger banget."

Barulah kali ini Vhany berani menoleh. Kepalanya mengangguk membenarkan ucapan Kei barusan. Tanpa sadar matanya sibuk mengamati reaksi Kei yang sedang menikmati Es campurnya. Entah mimpi apa dia semalam hingga kini Kei mengajak dirinya ngobrol duluan. Padahal kan sebelumnya mereka tidak saling kenal. Tepatnya, Kei tidak mengenalinya. Berbanding balik dengan dirinya yang selalu mengamati pria itu diam - diam.

"Minum juga donk es nya. Masa sedari tadi cuma diaduk aduk mulu," ucapan Kei menyadarkan Vhany dari lamunannya. Gadis itupun bergegas mencicipi es campurnya. Ya ampun, kenapa dia jadi paranoid gini sih?

"Oh iya, ngomong - ngomong kita belum kenalan. Kenalin, gue Kei," kata Kei sambil mengulurkan tangannya.

Sejenak Vhany ragu, tapi kemudian tangannya terulur membalas sembari mulutnya bergumam lirih.

"Vhany."

"Iyaa. Gue udah tau. Vhany Iskandar, anak kelas 2 F IPA kan?"

"Kok loe tau?" Vhany tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya.

Kei tersenyum. Senyum yang menurut Vhany sumpah manis banget.

"Janji jangan anggap gue aneh ya. Apalagi sampe takut sama gue..." kata Kei membuat kening Vhany berkerut. "Sebenernya gue udah sejak lama memperhatiin loe. Cuma emang baru sekarang aja gue berani nyamperin."

"YA?" Vhany tak yakin dengan apa yang dia dengar.

"Kalau gue bilang itu karena gue suka sama loe, kedengaran aneh ya?"

Mulut Vhany terbuka tanpa suara. Apa katanya barusan? Suka? Kei suka sama dia? Astaga, yang benar saja. Rasanya Vhany ingin sekali menjedotkan kepalanya di meja supaya sadar. Jangan - jangan ia sedang bermimpi.

"Tapi memang begitu kenyataannya," Kei angkat bahu. Seolah apa yang ia katakan barusan sama sekali bukan hal yang penting. Berbanding balik dengan Vhany yang masih seperti patung bernyawa karena tak percaya.

Tapi ngomong - ngomong yang barusan itu termasuk nembak bukan sih?

"Karena itu loe mau nggak jadi pacar gue?"

Vhany yakin ia sedang bermimpi. PASTI MIMPI. Mimpi yang sangat indah. Pangeran idolanya ternyata menyukainya. Bahkan menyatakan cinta kepada dirinya. Karena mustahil itu terjadi di dunia nyata, tanpa perlu berpikir dua kali Vhany langsung mengangguk. Anggukan mantap.

"Loe beneran mau?" tanya Kei seolah tak percaya.

Vhany membalas dengan anggukan.

"Jadi mulai hari ini kita pacaran?" tanya Kei lagi.

Lagi - lagi Vhany mengangguk.

"Yess!" sorak Kei sambil tersenyum bahagia, sebahagia perasaan Vhany saat ini.

"Ya sudah, abisin dulu es nya. Abis ini gue anterin pulang ya?"

Untuk kali ini Vhany tidak langsung mengangguk. Melihat raut ragu di wajah gadis itu membuat Kei tersenyum. Justru aneh kalau Vhany langsung mau diantar pulang oleh dirinya yang notabenenya baru di kenal.

Tapi, dia langsung mau di ajak pacaran bukannya aneh juga ya?

"Tenang aja. Gue pasti jagain pacar gue sendiri. Mana mungkin gue berani macem macem. Loe bisa pecaya sama gue," kata Kei meyakinkan.

Dan untuk kesekian kalinya, Vhany kembali mengangguk...

To be continue...

Bersambung dulu ya guys, soalnya ntar kepanjangan. Nah, kira - kira ada yang bisa nebak belum ni cerita mau di bawah kemana? Kalau belum, yah terpaksa nunggu part selanjutnya aja kali ya... :D

Detail cerbung


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:17:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers