Novel online "Kazua mencari cinta" ~ 13

Entah karena males atau emang ide lagi nggak ada. Terlebih juga cemungud buat nulis cerpen ngilang entah kemana. And kemudian novel online kazua mencari cinta kembali macet. Ck ck ck, ini cerita satu kapan endingnya coba. #pusing deh bo.

Okelah, karena makin dibiarin makin nggak selesai(???), so kita coba lanjut ya. Biar rada nyambung sama jalan ceritanya ya baca dulu deh bagian sebelumnya disini

Kazua mencari cinta
Kazua mencari cinta


"Ehem," terlebih dahulu berdehem Kazua membuka mulutnya. "Maksut loe?" tanya Kazua harap - harap cemas.

Arya tersenyum sembari angkat bahu. "Ha ha ha. Sory, gue ngaco ya kalau ngomong," sambung pria itu sambil mengaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kazua masih terdiam karena ia memang tidak mengerti apa maksutnya.

"Nggak usah terlalu di pikirin. Kayaknya barusan gue cuma kepedean deh. Ya jelas nggak mungkin lah loe langsung suka sama gue. Emangnya gue sehebat apa ya kan?"

Kazua sudah bersiap untuk membalas ketika Arya kembali melanjutkan ucapannya.

"Lagian, gue aja butuh waktu 3 tahun untuk membuat cewek yang gue suka mau nelpon gue duluan. Gue payah kan?"

Kazua makin melongo karena merasa mendadak jadi pendengar dari pembicara tunggal. Entah dapat ilham dari mana, gadis itu tiba - tiba merasa ada firasat buruk yang bakal menghampiri.

"Seriusan, sebenernya gue nggak ngerti loe ngomong apaan," akhrinya Kazua mengutarakan isi hatinya.

"Jadi gini. Sebelumnya gue mau bilang ma kasih sekaligus minta maaf sama loe. Ma kasih karena udah mau jalan sama gue hari ini," kata Arya terdengar tulus.

Kazua hanya mengangguk walau dalam hati gadis itu masih yakin kalau ia yang harusnya berterima kasih. Tapi ia tetap tidak menyela karena melihat Arya sepertinya belum menyelesaikan ucapannya.

"Dan gue juga mau minta maaf karena sebenernya gue cuma manfaatin loe."

OKE, Kazua memang belum mengerti kemana arah pembicaraan ini sesungguhnya akan di bawa. Tapi mendengar kata 'dimanfaatin' entah kenapa ia tiba - tiba merasa kesel. Sepertinya firasat buruknya beberapa saat yang lalu bakal terjadi beneran.

"Loe inget Azkiya, cewek yang bareng sama kita kemaren?" tanya Arya mengingatkan, Kazua hanya membalas dengan anggukan.

"Gue suka sama dia," aku Arya lirih, tapi terdengar tegas.

"Loe suka sama Azkiya?" tanya Kazua, Arya mengangguk malu - malu sementara Kazua masih menatapnya tak percaya. Bukan, bukan tak percaya kalau Arya suka sama Azkiya, tapi tak percaya kalau Arya benar - benar berniat untuk menembak cewek lain tapi di tujukan pada dirinya. Tepat di hari kencan pertama mereka pula.

"Iya, sejak SMP malah. Tapi dia nggak pernah peduli. Dia nggak pernah percaya kalau gue beneran suka sama dia. Dan buat dia gue cuma sebatas sahabat," sambung Arya lagi. Kali ini pria itu mengalihkan tatapannya jauh kedepan.

Melihat raut Arya, asli Kazua bingung. Bingung antara harus marah atau justru malah kasian.

"Gue udah ngelakuin banyak hal supaya dia bisa menatap gue. Tapi hasilnya nihil. Sampai ketika kemaren gue liat dia menaruh perhatian sama loe. oke, mungkin dia perhatiin loe karena loe adalah satu - satunya cewek yang di bawa Zafran sejak dia putus sama temennya. Tapi tetep aja, itu artinya loe bisa narik dia. Dan tiba - tiba gue kepikiran kalau seandainya gue jalan sama loe kira - kira gimana reaksinya dia ya?"

"Dan akhirnya loe beneran ngajak gue jalan," komentar Kazua yang dibalas anggukan membenarkan dari Arya.

"Terus, sekarang gimana?" tanya Kazua lagi.

Arya tidak langsung menjawap. Pria itu segera menoleh kearah Kazua dengan senyum lebarnya. Tangannya terulur menunjukan layar handphond dengan daftar log nya.

"Barusan dia nelpon gue. Ralat, untuk pertama kalinya dia nelpon gue cuma buat mastiin apa gue jalan sama loe atau nggak? Dan kenapa gue harus jalan sama loe di saat gue sering bilang kalau gue suka sama dia?"

"Jadi?"

"Jadi sekarang gue yakin kalau dia sebenernya juga sama gue."

Lagi - lagi Kazua di buat melongo. Arya bisa memiliki keyakinan seperti itu muncul dari mana?

"Karena itu gue bilang ma kasih sama loe. Kalau bukan karena loe, Azkiya nggak mungkin mau nelpon gue."

Kazua mengangguk - angguk paham. Akh, sepertinya benar. Ia hanya di manfaatkan.

"Loe..." Arya tanpak ragu. "Loe nggak marah kan?"

Kali ini Kazua menatap lurus kearah Arya. Hanya menatapnya sebelum kemudian gadis itu menghembuskan nafas secara berlahan. "Jujur aja, sebenernya gue marah sih. Sama kesel juga. Enak aja gue di manfaatin gini. Tapi baiklah, karena gue sering di nasehati kalau 'sebaik baik manusia adalah yang hidupnya bermanfaat jadi ngga boleh marah kalau di manfaatin', kali ini loe gue maafin. Lagian kayaknya rasa kesel gue juga nggak lebih besar dari rasa kasian ke elo. Secara loe udah lama suka sama dia."

"Beneran?" Arya tanpak tak percaya. "Sumpah loe baik banget tau nggak sih. Tadinya gue pikir loe bakal nampar gue atau apa. Terserah, gue bakal terima. Gue nggak percaya kalau loe maafin gue gitu aja."

"Sebenernya gue juga nggak percaya. Tapi udah lah, toh gue kan nggak beneran suka sama loe. Sudah sore nih, mendingan pulang aja gih loe sana."

"Oh iya," kata Arya sambil melirik jam di tangannya. "Oke deh kalau gitu. Gue pamit dulu. Sekali lagi terima kasih ya. Sampai ketemu," pamit Arya, Kazua hanya membalasnya dengan anggukan tak berminat.

Lama Kazua berdiri terpaku di depan rumahnya. Matanya masih menatap jauh kearah mobil Arya yang sudah tidak terlihat sama sekali. Dan untuk kesekian kalinya gadis itu hanya mampu mengehbuskan nafas lelah. Sama sekali masih tidak percaya dengan ending acara kencan impiannya. Kenapa semuanya bisa berbalik gini?

Setelah berpikir beberapa saat, Kazua melirik jam yang melingkar di tangannya. Pukul lima kurang seperempat. Kemudian tatapannya ia edarkan kesekeliling. Hari cerah walau tidak secerah harinya, langit juga masih terang. Dengan cepat gadis itu masuk kedalam rumah, lima menit kemudian ia sudah keluar lagi lengkap dengan sepatu yang di kenakannya.


****

Zafran baru pulang dari minimarket ketika tak sengaja matanya menatap kearah lapangan yang ia lewati untuk mencapai rumahnya. Pria itu segera mengurangi laju motornya sebelum kemudian memarkirkannya di bawah pohon ketika ia benar - benar yakin kalau sosok yang sedang berlari dengan langkah terseok - seok mengelilingi lapangan adalah orang yang di kenalnya. Siapa lagi kalau bukan Kazua si gadis gila.

"Kazua, loe lagi ngapain?" teriak Zafran sambil berlari menghampiri.

Merasa ada yang memanggil namanya, Kazua menoleh. Tapi hanya menoleh, sekedar untuk mengetahui siapa yang menyapanya sebelum kemudian gadis itu kembali melangkah tanpa menjawab.

"Loe lagi ngapain?!" tanya Zafran terdengar tegas kali ini sambil menghadang langkah Kazua untuk menghentikan larinya.

"Loe...hh... nggak liat gue lagi lari," balas Kazua dengan napas ngos - ngosan.

"Gue liat. Loe lagi lari kayak orang gila. Tapi..."

Zafran menghentikan ucapannya ketika menyadari kalau Kazua mengabaikannya. Bahkan gadis itu kembali melangkahkan kaki melewatinya tanpa menoleh. Melihat itu Zafran merasa kesel. Bukan kesel karena di abaikan tapi lebih kepada tindakan Kazua yang terlihat memaksakan dirinya. Zafran yakin kalau terus seperti itu, gadis itu bisa pingsan kapan saja.

"Berhenti," terik Zafran.

Kazua tetap berlari seolah - olah tidak mendengarnya. Dengan cepat Zafran menyusulnya, meraih tangan gadis itu untuk menahannya.

"Berhenti gue bilang!" kata pria itu nyaris berteriak.

"Dua kali...hh..." kata Kazua disela nafas ngos - ngosannya.

Sama sekali tak mengerti, Zafran hanya mampu mengernyikan alisnya.

"Biarin gue lari dua putaran lagi oke," selesai berkata Kazua melepaskan gengaman Zafran padanya baru kemudian melanjutkan larinya.

Kali ini Zafran terdiam. Matanya hanya mampu menatap tak percaya kearah Kazua yang kini berlari meninggalkannya. Sama sekali tidak terpengaruh dengan perintahnya tadi. Membuat Zafran hanya mampu menebak pasti ada hal buruk yang terjadi. Terlebih ketika ia menyadari kalau selain sepatu yang di kenakan kazua, tampilan gadis itu persis seperti dandanan yang diajarkannya kemaren.

"Gue pikir loe lagi kencan, bukan malah lari - larian," kata Zafran sambil mengirini langkah Kazua ketika gadis itu kembali melewati untuk putaran terakhinya.

"Jangan ajak gue ngomong," balas Kazua hanya berupa bisikan. Membuat rasa kesel Zafran naik dua kali lipat. Tapi pria itu memutuskan untuk manut ketika menyadari Kazua sepertinya benar - benar tak bertenaga.

"Tiga Satu!" seiring dengan teriakannya, tubuh Kazua ambruk di atas rumput di kakiknya. Tanpa memperdulikan sekitar, gadis itu membiarkan tubuhnya terbaring begitu saja. Zafran yang berdiri disampingnya masih menatap gusar.

"Loe gila. Loe lari - lari keliling lapangan ini 31 kali?" tanya Zafran tak percaya.

"Dari pada loe marah-marah nggak jelas, mendingan loe... loe beli in gue minum. Sumpah, gue haus banget," potong Kazua menyela.

Masih kesel, Zafran melemparkan tatapan tajamnya kearah Kazua. Marah? Jelas saja ia marah. Gadis itu berlari - lari seperti orang gila tanpa memperdulikan tenaganya. Dia kan jadi merasa.... Merasa..... Baiklah, dia nggak tau kenapa. Intinya, sekarang ia merasa marah. Titik

"Loe, tetep disini," selesai berkata Zafran langsung berbalik. Berlari kearah motornya di parkir tanpa memperdulikan kalimat balasan dari Kazua. Sepuluh menit kemudian pria itu kembali muncul dengan mendapati gadis itu masih berada dalam posisinya dengan mata terpejam. Jangan bilang kalau ia pingsan.

"Kazua... Kazua, bangun," kata Zafran panik sambil mengoyang - goyang kan tubuh Kazua.

"Haduh, apaan sih loe. Sakit tau, gue cape," keluh kazua sambil secara berlahan membuka matanya. Secara refleks Zafran menarik dirinya mundur ketika menyadari tebakannya salah. Bahkan gerak refleknya mampu membuatnya jatuh terduduk kebelakang karena merasa tidak percaya.

"Lagian loe beli air lama banget si," sambung Kazua lagi. Kali ini sambil bangkit duduk. Tanpa permisi tangannya terulur meraih bungkusan kresek yang Zafran bawa, mengabaikan pria itu yang masih melongo menatap ulahnya.

Tanpa berkata tangan Zafran terulur ketika melihat Kazua yang kesulitan membuka tutup botol minumannya. Setelah berhasil membukanya, pria itu kembali mengulurkan kearah Kazua yang langsung menengaknya.

"Loe kenapa?" tanya Zafran setelah sempat jeda untuk beberapa saat.

"Kencan gue kacau," balas Kazua tanpa menoleh. Perhatiannya sedang ia tujukan kearah tutup botol yang kini sedang ia coba letakan pada tempatnya.

"Dan loe bisa lebih normal lagi nggak si?"

Kazua menoleh kesel. Dari kalimat yang Zafran lontarkan barusan ia yakin terselip makna kalau ia sedikit tidak waras. Tapi begitu melihat tatapan tajam Zafran, gadis itu langsung mengkeret. Kenapa pria itu terlihat menyeramkan. Jelas sekali terlihat sedang marah. Memangnya dia punya salah apa? Dan akhirnya Kazua lebih memilih menundukan kepala karena otaknya menolak untuk berpikir.

"Maaf," gumam gadis itu lirih walau ia sendiri benar benar tidak tau salahnya dimana, bahkan sepertinya kalimat itu juga hanya meluncur begitu saja dari mulutnya.

"Kenapa loe minta maaf, emangnya loe punya salah apa sama gue?"

Dengan cepat Kazua menoleh. Matanya bersinar menatap Zafran yang juga sedang menatapnya. "Itu dia yang bikin gue heran. Gue punya salah apa sama loe. Kenapa loe marah - marah?"

Dan gadis itu kembali menundukan kepalanya ketika Zafran kembali melemparkan tatapan tajamnya.

"Jadi...," jeda sesaat. "Loe pengen tau kenapa gue marah?"

Kazua kemabali menoleh. Kepalanya menangguk membenarkan sebelum kesadaran baru muncul. Terlebih ketika melihat raut wajah Zafran. Detik itu juga gadis itu menyadari, kalau ia sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya.

To Be Continue....

Bersambung dulu ya guys. Adminnya mau lanjut nonton anime romantis Ao Haru Ride dulu. Udah penasaran sama kelanjutan ceritanya. Secara tadi lagi nungguin downloadan yang belum selesai. Makanya dari pada bengong yang takutnya bikin ayam tetangga pada mati, so bikin lanjutan cerita dulu.

Akhir kata, sampai ketemu di part selanjutnya aja ya.

Salam ~ Ana Merya.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 4:23:00 PM

1 komentar:

  1. bagus min, lanjutin ya min. Penasaran bgt sma kelanjutannya.

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers