Cerpen {Bukan} Sahabat Jadi Cinta ~ 08

Udah pada nggak sabar nunggu lanjutan dari cerpen {Bukan} sahabat jadi cinta? Tenang, nih admin mucul lagi. He he he. Cerpen ini juga nggak terlalu panjang kok. Palingan tinggal 3 ato 4 part lagi nemu ending. Bisa jadi malah kurang dari itu. Nah, biar nyambung sama jalan ceritanya. Bagusan lagi kalau baca part sebelumnya. Dan untuk mempermudah silahkan langsung klik disini.

Cerpen {Bukan} Sahabat Jadi Cinta

“Maksut loe?” gantian Reihan yang mengerutkan kening heran.

Ishida tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya tersenyum. Senyum yang sama yang ditujukan Reihan beberapa saat yang lalu. Senyum sinis. Senyum sinis untuk dirinya sendiri.

“Ehem, jadi ngomong – ngomong loe lagi patah hati ni?” tanya Ishida mencoba mengalihkan perhatian.

“Bisa di bilang gitu sih. Ngenes ya? Padahal sempet jadian juga belum eh, malah sudah patah hati duluan.”

“Tapi loe nggak niat buat bunuh diri kan?” tanya Ishida lagi. Kali ini gadis itu menatap dengan tatapan menyelidik.

“Sialan loe. Ya enggak lah,” bantah Reihan yang di balas tawa yang pecah dari mulut Ishida.

“Padahal gue udah rencana buat nebak dia besok. Gue udah siapian acara buat kita jalan. Bahkan gue juga udah beli tiket untuk nonton segala,” gumam Reihan sambil mengeluarkan tiket nonton dari saku celana yang ia kenakan.

“Terus?”

“Nggak ada terusannya. Batal. Udah gitu aja.”

Untuk sejenak Ishida terdiam sembari menatap iba pada pria yang berada disampingnya. Sungguh ia tau bagaimana berada dalam posisi seperti itu. Bukankah saat ini ia juga sedang berada dalam kondisi yang sama. Atau mungkin lebih buruk. Setidaknya Reihan tidak perlu memutuskan persahabatan mereka bukan. Walau sebenernya ia tidak yakin juga sih. Kalau tetap bersahabat dengan orang yang disukai yang teryata jadi pacar sahabat kita sendiri itu terlihat lebih baik.

“Ehem, dari pada tu tiket mubazir. Gimana kalau buat gue aja?”

Reihan menoleh dengan kening sedikit berkerut. Ishida sendiri tidak bisa menebak apa yang di pikirkan oleh pria itu. Tapi karena ia tidak ingin dikira macam – macam makanya dengan cepat ia menambahkan.

“Makut gue, loe jalannya sama gue aja.”

“Loe ngajakin gue kencan?” tanya Reihan tak mampu menahan rasa kaget di wajahnya.

Tanpa sadar Ishida pun pasang tampang yang sama. Sungguh, bukan itu maksutnya. Tapi kalau di pikir – pikir lagi, siapa pun mungkin akan berpendapat yang sama jika mendengar ucapannya barusan.

“Bukan. Bukan itu maksut gue,” bantah Ishida cepat. “Tapi… Jadi gini. Emp, anggap aja gue cuma mau bantu menghibur loe. Jangan salah sangka dulu. Gue bilang gitu bukan karena gue suka sama loe.”

Reihan tidak membalas, tapi dari tatapan yang ia lemparkan pada Ishida sudah cukup meyakinkan Ishida kalau pria itu tidak mempercayai ucapannya.

“Dan sebenernya gue juga lagi sedih. Gue juga butuh hiburan. Temen gue yang udah sekian lama deket sama gue, tiba – tiba mutusin persahabatan sama gue gara – gara dia deket sama cewek lain. Mungkin karena dia nggak mau tu cewek salah paham sama gue kali ya?” terang Ishida lagi.

“Atau kalau loe keberatan, loe bisa nolak kok,” tambah Ishdia ketika mendapati kalau Reihan masih terdiam.

“Oke deh, gue setuju. Tapi….”

“Tapi?” kejar Ishida karena Reihan tanpak mengantungkan ucapannya.

“Tapi gue nggak mau ya kalau sampai tiba – tiba gue di tonjok sama orang cuma gara – gara ngajak ceweknya jalan.”

“Ha ha ha,” rasa penasaran diwajah Ishida langsung menghilang digantikan gelak tawa ketika mendengar kalimat yang meluncur dari mulut pria disampingnya tersebut. “Ya enggaklah. Tenang aja lagi. Gue belum punya pacar.”

“Dan gue juga sama sekali nggak tertarik buat jadi pacar loe,” Ishida dengan cepat menambahkan sebelum mulut Reihan kembali terbuka. Mendengar itu mau tak mau Reihan ikut tersenyum karenannya.

“Baiklah, kalau gitu gue minta nomor handphon loe. Biar besok sekalian gue jemput loe langsung kerumah. Oke?” kata Reihan akhirnya.

“Syip,” balas Ishida sambil menyebutkan nomor hendphonnya.

Selang beberapa saat kemudian, suara klakson menginterupsi keduanya. Secara refleks keduanya menoleh kesumber suara.

“Kakak gue udah jemput tuh. Loe?”

“Oh ya sudah. Duluan aja. Gue masih nungguin temen gue buat njemput gue. Soalnya gue mau sekalian ke bengkel buat ngambil motor gue.”

“Oke deh kalau gitu. Gue duluan ya?” pamit Ishida yang hanya di balas anggukan oleh Reihan.

Next : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 4:00:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers