Cerpen {Bukan} Sahabat Jadi Cinta ~ 03

Berhubung yang lagi lancar ide ngetik soal cerpen {Bukan} sahabat jadi cinta so cerita yang satu ini dulu ya yang di lanjutin. Cerpen lainnya ntar nyusul. He he he. Lagian, kalau nggak buru - buru di ketik takudnya ide berubah atau yang paling parah malah ngilang. #cius.

Nah, ngomong - ngomong gimana sih kelanjutannya. Simak langsung aja yuks. And biar nyambung sama jalan ceritanya mendingan baca bagian sebelumnya terlebih dahulu. Untuk mempermudah admin sengaja kali linknya yang bisa langsung di baca disini.

Cerpen {Bukan} Sahabat Jadi Cinta ~ 03

Begitu turun dari motor yang di kendarai kakaknya, Ishida segera melangkah masuk kehalaman sekolah. Hari ini memang hari minggu. Tapi Ishida tetap datang kesekolaah karena ada pertandingan sepak bola antara SMA nya melawan SMA PEMDA. Yah, hanya pertandingan persahabatan biasa sih. Tapi tetap saja Ishida tidak pernah alpa untuk menyaksikannya. Lagipula biasanya Asryil pasti akan memaksanya untuk nonton. Pria itu kan ikut dalam tim kesebelasan sekolah.

Dan ngomong – ngomong soal Arsyil, hari ini ia tidak di jemput. Ishida tidak tau kenapa hanya saja pria itu bilang ia sedang ada urusan. Jadi mau tak mau

Ishida terpaksa meminta kakaknya untuk mengantar karena ia sendiri belum punya SIM untuk bisa berangkat sendiri.

“Ishida!”

Merasa namanya di panggil, Ishida menoleh. Seulas senyum mengembang di bibirnya saat melihat lambaian tangan Arumy. Dengan segera ia belari menghampiri.

“Kok loe sendiri. Arsyil mana?” tanya Arumy begitu Ishida sudah berdiri dihadapannya. Gadis itu sendiri sengaja clingak clinguk mencari makhluk yang baru saja di tanyakannya.

“Nggak tau. Gue nggak bareng sama dia.”

“Ha?” Arumy menoleh. Ishida hanya angkat bahu.

“Tapi kan pertandingan udah mau di mulai. Masa tu anak nggak datang.”

“Dia bukan nggak datang Arumy. Gue bilang dia nggak bareng gue. Udah masuk yuk,” kata Ishida sambil menarik tangan Arumy untuk segera melangkah kearah lapangan sekolah.

Saat melihat kesekeliling suasana sudah cukup ramai. Sepertinya Arumy benar. Pertandingan sudah akan di mulai. Ishida segera mengedarkan pandangannya kearah lapangan. Menatap para pemain satu persatu. Saat menemukan sosok yang ia cari, gadis itu hanya menghela nafas singkat.

“Akh loe bener. Itu Arsyil sudah di lapangan,” tunjuk Arumy.

Ishida hanya membalas dengan anggukan. Kemudian mengisaratkan sahabatnya untuk mencari tempat yang pewe untuk menonton.

Seiring waktu berlalu, sorakan penonton riuh mengiringi jalannya pertandingan. Ishida sendiri hanya melihat tanpa ikut bersorak. Lagi pula, sejujurnya ia tidak menyukai permainan yang satu ini. Satu – satunya alasan kenapa selama ini menonton adalah karena Arsyil selalu memaksanya.

“Akhirnya sekolah kita menang lagi,” kata Arumy sambil tersenyum puas. “Kita cari Arsyil yuk. Dia tadi yang udah nyetak gol dua kali soalnya.”

Ishida ingin menolak, tapi Arumy sudah terlebih dahulu menyeretnya. Dengan terpaksa ia manut.

“Ngomong – ngomong Arsyil mana ya?” gumam Arumy sambil mengedarkan pandangan kearah orang – orang yang berada di sana. Ishida tidak menjawab, namun tak urung ia melakukan hal yang sama seperti gadis itu.

“Itu dia,” kata Ishida yang pertama sekali menemukan Arsyil yang tanpak sedang duduk karena kelelahan.

“Oh iya, kita hampiri yuk.”

“Tunggu,” kata Ishida sambil menahan tangan Arumy sebelum gadis itu sempat menyeretnya lagi.

“Kenapa?” tanya Arumy heran.

Tanpa menjawab Ishida memberi isarat kearah Arumy agar melihat kearah yang di maksut.

“OMG, itu kan Laura,” kata Arumy kaget.

Next : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:20:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers