Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 16

Kayaknya ini bakal jadi part paling pendek diantara cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part sebelumnya deh. Tadinya pengen rada panjang, tapi idenya nyungsep entah kemana. Tau nih, beberapa waktu ini emang susah banget nyari ide cerita buat nulis. Ciuus deh.

Jadi, biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk. Untuk part sebelumnya biar nyambung sama cerita bisa di cek disini.

Kenalkan Aku Pada Cinta

Tak terasa seminggu telah berlalu. Namun entah sejak kapan, Astri merasa mulai terbiasa dengan kehadiaran Andre di sampingnya. Mengantar jemputnya setiap hari atauppun sekedar menemaninya saat makn siang. Yah mungkin itu efek karena ketidak hadiran Alya yang selama ini menemani.

Dan ngomong – ngomong soal Alya, sepertinya acara liburan gadis itu akan di perpanjang sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Walau bingung, Astri sama sekali tidak bisa membujuk sahabatnya untuk menjawab. Apalagi komunikasi mereka selama ini hanya berdasarkan telpon yang mereka lakukan.

“Bengong aja, ayam tetangga pada mati lho.”

“Eh,” Astri menoleh. Bibirnya ikut tersenyum saat melihat lengkungan di wajah Andre yang kini berdiri disampingnya.

“Sory ya, bosen ya nungguin gue sendirian. Beneran maaf deh. Tadi itu gue juga nggak tau kalau bakal ada acara rapat dadakan.

Kepala Astri mengeleng masih dengan senyum yang bertenger di bibirnya. Tadi Andre memang memintanya untuk menunggu seusai kuliah. Karena ia memang berangkat selalu bersama pria itu. Jadi mau nggak mau ia juga harus menunggu.

“Ya sudah kalau gitu. Ayo kita pulang,” ajak Andre sambil berjalan beriringan kearah parkiran.

Tidak sampai 30 menit kemudian keduanya telah tiba di depan rumah Astri. Setelah sedikit basa – basi Astri berjalan masuk kedalam rumahnya. Namun belum sempat kakinya mencapai beranda depan, teriakan Andre sudah terlebih dahulu menahanya. Dengan segera Astri berbalik.

“Astri, besok kita libur kan?”

Astri pasang pose berpikir sambil mengingat – ingat. Oh iya, hampir saja ia lupa. Besok kan memang tanggal merah. Tapi kenapa Andre bertanya padannya ya.

“Iya sih kak. Kenapa?”

“Emp…” sejenak Andre tampak ragu. Namun saat matanya menatap kearah Astri yang kini juga sedang menatapnya penuh tanya keraguanya langsung memudar. “Besok loe mau nggak bantuin gue?”

“Bantuin? Apaan?” tanya Astri lagi.

“Jadi gini. Lusa itu sepupu gue ulang tahun. Dan gue bingung mau cari kado apa. Jadi kalau nggak keberatan gue minta temenin loe buat bantuin nyari boleh. Soalnya sepupu gue itu kebetulan juga cewek. Gimana?”

Astri tidak langsung menjawap. Matanya menatap kearah Andre dengan tatapan menyelidik. Melihat raut penuh harap pada pria dihadapanya tanpa sadar kepalanya mengangguk sembari mulut bergumam lirih. “Boleh deh.”

“Oke, kalau gitu besok pagi gue jemput ya?” kata Andre tanpa menyembunyikan rasa bahagia dari nada bicarannya. Dan kali ini Astri hanya membala dengan anggukan sebelum kemudian ia berbalik kembali masuk kedalam rumah.

“Besok gue pake baju apa ya?” gumam Astri sambil sibuk mengobrak abrik tumpukan baju yang baru ia keluarkan dari dalam lemarinya. Sudah sedari tadi ia sibuk mencocokan beberapa gaun miliknya, tapi ia masih belum merasa sreg sama sekali.

“Tok tok tok”

Suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan Astri. Kepala gadis itu segera menoleh. Merasa waspada saat melihat pegangan pintu yang sedikit bergerak. Detik berikutnya ia menghembuskan nafas lega ketika pintu masih tertutup di susul suara ketukan untuk kedua kalinya yang terdengar. Karena beberapa hari ini kakaknya suka usil, masuk kekamar orang tanpa permisi ia tadi sengaja mengunci pintunya. Ha ha ha

“Tok tok tok.”

“Siapa?” tanya Astri sambil kembali berbalik kearah tumpukan bajunya. Sengaja mengabaikan ketukan pintu itu yang ia yakini pasti ulah makhluk iseng kamar sebelah.

Sunyi, tidak ada jawaban sama sekali membuat Astri menghentikan kegiatannya. Dipasangnya pendengarannya dengan seksama. Sama sekali tidak ada suara jawaban ataupun suara langkah yang meninggalkan kamarnya.

“Kak Rendi?” teriak Astri menebak. Tapi masih tidak ada jawaban. Merasa curiga berlahan Astri bangkit berdiri. Dengan hati – hati, nyaris tanpa suara ia melangkah kearah pintu. Berakting layaknya detective kesasar ia mengintip kedalam lubang kunci. Sama sekali tidak terlihat bayangan seseroang di luar.

Hantu?

Mustahil. Dengan cepat di tepisnya pikiran itu jauh – jauh. Gara gara tadi malam ia menyaksikan drama korea master sun ia mendadak jadi suka paranoid sendiri. Membuatnya merasa kesel pada seseorang yang pernah merekomendasikan drama itu padanya. Romantis apaan, yang ada juga serem gila.

Akhirnya dengan hati – hati di putarnya gangang pintu. Secara berlahan ia mulai membuka daun pintu dengan kepala yang sedikit melongok kedepan. Tidak ada siapa siapa? Tanpa sadar bulu kuduknya merinding. Jangan – jangan….

“Dooor!!!!.”

“Huwaaaaaaaaa…..!!!!”

Teriakan super kenceng meluncur dari bibir Astri. Bahkan gerakan refleks yang di lakukannya membuatnya kini tanpa sadar terduduk jatuh di hadapan pintu disusul suara tawa cekikikan makhluk cantik dihadapanya.

“Ha ha ha, ngapain loe As duduk disono.”

“Alya!! Nggak lucu tau. Jantungan gue,” kesel Astri sambil bangkit berdiri. Matanya menatap kesel kearah sahabatnya yang masih tanpak berusaha meredakan tawanya.

“Lagian loe ada ada aja. Tumben – tumbenan tu pintu di kunci. Ada apaan si?” tanya Alya lagi sambil melangkah masuk. Melihat itu Astri dengan cepat berdiri, menghadang tepat di depan Alya yang tampak mengernyit heran dengan sikap aneh sahabatnya.

“Loe kok bisa ada disini. Bukannya kemaren loe bilang kalau acara pulang nya loe ditunda sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan?”

“O..” Alya hanya angkat bahu. “Iya. Ditunda dua jam. Soalnya pesawatnya delay.”

Mulut Astri mangap tanpa suara. Jawaban macam apa itu?

“Loe kenapa berdiri tepat di depan gue? Gue boleh masuk nggak sih?” tanya Alya kemudian.

“Kita ngobrol di luar aja,” kata Astri sambil menarik Alya keluar. Di luar dugaan, Alya justru malah menerobos masuk sebelum kemudian berdiri terpaku ketika melihat tumpukan baju yang berserakan di atas ranjang Astri. Ketika menoleh kearah Astri, tatapan curiga segera ia lemparkan. Sikap sahabatnya kali ini terlihat aneh. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Ehem, soalnya kamar gue berantakan. Gue lagi beres beres?”

“Beres – beres?” ulang Alya tanpa tak percaya.

Astri mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu menutup pintu kamarnya ia berbali kearah ranjang. Dengan santai tangannya terulur kearah tumpukan baju dihadapannya dan mulai melipat satu persatu. Demi untuk menghindari tatapan Alya, perhatian penuh ia tujukan kearah kegiatan dadakanya itu.

“Oh ya, mana oleh – olehnya. Jangan bilang kalau loe datang kesini dengan tangan kosong,” kata Astri kemudian.

“Ada tuh di bawah. Loe minta aja sama kak Rendy,” balas Alya sambil melangkah menghampiri Astri yang terlihat menghentikan kegiatannya. Matanya gantian menatap Alya dengan tatapan menyelidik.

“Iya, sebenarnya gue itu udah datang dari tadi tau. Udah ngobrol lama sama kak Rendy malah. Nungguin loe eh ternyata nggak keluar – keluar. Ya sudah, kak Rendy bilang suruh langsung nyamperin ke kamar aja,” terang Alya lagi. Kali ini Astri hanya mengangguk – angguk. Sepertinya itu masuk akal. Tapi…

“Tunggu dulu, jadi maksut loe, loe udah datang dari tadi tapi nggak langsung nemuin gue justru malah ngobrol bareng sama kakak gue?”

“Iya. Emangnya kenapa?”

“Kalian ngobrolin apaan?” tanya Astri tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya.

“Banyak,” sahut Alya singkat. Tatapan curiga kembali Astri lemparkan pada Alya.

“Misalnya?”

“Yah, soal gimana liburan gue. Asik enggaknya. Banyak deh,” sahut Alya. Mendengar itu Astri menghembuskan nafas lega. Dan ia baru menyadari kalau ternyata sedari tadi ia telah menahan nafas.

“O.. Kirain,” gumam Astri lirih.

“Emang loe ngira kita ngobrolin apa?” tanya Alya sambil mendekatkan wajahnya. Astri hanya mengeleng dan memilih mengalihkan perhatiannya dengan balik bertanya.

“Ngomong – ngomong, tadi kenapa loe nggak masuk?”

“Ogah ah. Tanggung. Toh besok kita juga libur. Maka nya gue sini.”

“Maksutnya?”

“Besok temenin gue ke salon yuk. Secara gue udah seminggu tinggal di udik. Ya loe tau sendirilah. Oke?”

“Besok?” ulang Astri menegaskan.

“Iya,” angguk Alya membenarkan. “Jangan bilang loe nggak bisa,” tuding Alya lagi.

Astri terdiam dengan raut bimbang. Besok ia kan sudah berjanji pada Andre untuk menemani pria itu mencari hadiah untuk sepupunya. Tapi lantas nanti bagaimana dengan Alya. Gadis itu pasti akan ngontot kalau sampai ia tidak menurutinya. Tapi untuk berterus terang, rasanya mustahil. Ini bukanlah waktu yang tepat.

“Bukan itu. Emp, justru gue malah tadinya pengen ngajakin elo. Gue juga pengen motong rambut gue nih. Gimana kalau kita perginya sekarang aja.”

“Ya?” raut Alya jelas terlihat bingung.

“Ayolah. Lagian loe tau sendirikan. Rambut gue itu kalau belum di potong, rontoknya nggak bakal ilang. Udah coba aneka macam sampho tetep aja sama. Sebenarnya gue udah niat mau motong dari kemaren, tapi males sendirian. Karena kebetulan loe udah ngajak, ya sudah kebetulan banget kan?”

Alya menantap Astri penuh selidik. Mencari jejak jejak kebohongan di sana. Sementara Astri sendiri segera pasang pose meyakinkan.

“Oke deh kalau gitu. Kita pergi sekarang aja.”

“Yess. Ayo kita pergi sekarang,” balas Astri bersemangat.

“Tapi tadi katanya loe pengen beres beres pakaian loe dulu. Masa sekarang ditinggal gitu aja?” tanya Alya.

“Udah. Itu nggak terlalu penting kok. Mending kita pergi sekarang aja yuk. Lets go.”

Walau masih tidak mengerti sekaligus merasa sedikit curiga akan sikap sahabatnya yang kali ini diangap terlalu mencurigakan, Alya tetap manut. Dengan belahan ia bangkit menyusul Astri yang sudah terlebih dahulu menautkan wajahnya pada meja rias dihadapannya. Sepuluh menit kemudian keduanya sudah meluncur meninggalkan rumah.

Ups, ternyata belon end juga… #gubrag. Nggak tau deh, ni cerita bakalan end di part berapa. Adminnya beneran bingung. Huwaaaaa…..

~ Admin yang kebingungan ~ Ana Merya ~


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 1:07:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers