Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 12

Halo semuanya #pasang wajah tak berdosa. Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 12 kelaman ndekem di draf yak? Ha ha hai, abis bijimana donk. Udah pusing adminnya mikirin blog mulu. Ciuuusss deh. Pengen nggak di urusin, sayang. Di urusin, tapi rada males.. #ditabok.

Okelah, Biar nggak molor molor kita langsung lanjut baca aja. Nah, buat yang udah lupa cerita sebelumnya bisa di cek disini.


Sejenak Astri terdiam di hadapan cermin meja riasnya. Keningnya sedikit berkerut samar sembari dalam hati mengerutu sebal saat melihat beberapa jerawat yang tubuh di wajahnya. Tak ingin terlalu memikirkan, Astri segera berbalik. Melangkah keluar dari kamarnya. Ia yakin saat ini keluarganya pasti sudah duduk di meja makan. Siap untuk menyantap makan malam.

Tepat saat Astri membuka pintu kamarnya, secara refleks tubuhnya langsung mundur berlahan saat mendapati Rendy yang berdiri tepat di hadapannya dengan tangan yang mengepal lurus. Sepertinya pria itu berniat untuk mengetuk pintu kamarnya.

“Ya ampun kakak. Ngapain sih loe, ngagetin aja,” gerut Astri.

“Kok loe belum siapa siap? Loe nggak jadi ikut?” tanya Rendy langsung sembari mengamati Astri dari ujung kepala hingga kaki. Mengabaikan ekspresi apapun yang tergambar di wajah adiknya.

“Kakak mau kemana?” Astri balik bertanya. Matanya menyipit melihat penampilan kakaknya kali ini. Dalam hati ia memuji walau tak urung mencaci. Penampilan kakakknya kali ini memang lain dari biasanya. Lebih keren dengan stelan kemeja biru yang di kenakannya. Belum lagi model rambutnya yang sepertinya baru di pangkas tadi sore. Sayang, kekerenannya sering di salah gunakan. Yah membuatnya jadi seorang playboy contohnya.

“Loe gimana si. Kan kita mau nonton?” sahut Rendy

“Kita? Kapan kakak ngajakin gue?”

Lagi lagi keduanya hanya saling lempar pertanyaan.

“Gue emang nggak pernah ngajakin elo,” aku Rendy terdengar lelah. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia melanjutkan ucapannya. “Tapi tadi sore kan Alya udah bilang. Masa loe lupa.”

Gantian Astri yang terdiam. Ingatannya melayang kekejadian tadi sore. Memang benar Alya sudah mengajaknya. Tapi masalahnya, ia tidak pernah bilang kalau ia setuju.

“Alya emang tadi ngajakin gue, tapi gue nggak pernah bilang kalau gue mau,” sahut Astri. Dan belum sempat Rendy menjawab, ia sudah terlebih dahulu menambahkan. “Lagian yang benar saja lah. Mereka berdua kan mau kencan, masa ia kakak mau ikut,” nada Alya jelas mencela.

“Loe oon di pelihara ya. Kalau memang mereka berdua mau kencan kenapa Andre ngajakin gue, sementara Alya ngajakin elo?”
Astri tidak menjawab namun pemikirannya jelas membenarkan ucapan kakaknya. Kalau memang mereka mau kencan kenapa mereka harus mengajak ia dan kakaknya?

“Itu dia yang gue nggak tau,” gumam Astri lirih.

“Makanya itu ayo kita cari tau,” potong Rendy langsung. Astri hanya melotot kearah kakaknya.

“Udah. Buruan loe siap siap. Gue tunggu dalam..” kata Rendy sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. “15 Menit.”

“Apaan si!” Astri tampak tak terima, tapi Rendy justru dengan santai mendorongya masuk kembali kedalam kamar sebelum kemudian pria itu kembali menutup pintunya.

“Buruan As, gue tunggu di bawah,” teriak nyaring yang mulai menjauh terdengar dari luar kamar. Menyadarkan Astri dari keterpakuannya.

Untuk beberapa saat Astri terdiam. Sibuk menimbang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mengikuti ajakan kakaknya, atau tetap pada pendiriannya. 15menit kemudian pintu kamarnya kembali terbuka. Wajah Rendy muncul menyusul.

“Nah, gitu donk.Baru namanya adik gue. Lagian matanya mintus juga enggak, sok soak an pake kacamata,” senyum Rendy puas.
Astri hanya mencibir. Tadinya ia memang ragu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk ikut.Bahkan nekat merubah penampilannya dari seorang ‘Astri’ yang biasanya. Alasannya? Ah, ia sendiri kurang tahu. -,-

“Buruan, Alya sama Andre udah di bawah tuh,” ucapan Rendy selanjutnya segera menyadarkan Astri.

“Dibawah?” ulang Astri memastikan.

Rendy tidak menjawab. Hanya kepalanya yang mengangguk membenarkan sembari memberi isarat Astri untuk segera mengikutinya.

“Ya ampun As, loe cantik banget,” kalimat pujian langsung meluncur dari mulut Alya saat gadis itu pertama sekali melihatnya menuruni tangga. Membuat Astri tersipu malu.

“Cantikan? Iya donk. Siapa dulu kakaknya,” sambar Rendy.

“Asal sikapnya gak kayak loe juga, gak papa sih,” bala Alya sinis. Membuat Rendy nyegir sembari mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Karena semua udah siap, bisa kita pergi sekarang?”

Semua mata menoleh kearah Andre yang sedari tadi diam.

“Bener juga. Ayo Al, loe sama gue” kata Rendy kearah Alya.

“Tunggu dulu. Kenapa kakak malah sama Alya,” potong Astri cepat.

“Nggak ada asiknya boncengan sama loe. Loe kan bawel,” balas Rendy cepat. “Ayo Alya…” dan kali ini tanpa komando tangannya meraih tangan Alya sembari menariknya melangkah keluar. Sama sekali tak memberi kesempatan gadis itu untuk membantah.

“Loe barengan sama gue nggak papa kan?” Tanya Andre kearah Astri.

“Maaf ya.” gumam Astri lirih.

“Maaf?” ulang Andre dengan kening sedikit berkerut.

“Gara – gara kakak gue, kencan loe sama Alya terancam kacau.”

“Gue nggak pernah bilang kalau gue mau kencan sama Alya,” sahut Andre sambil mengangkat bahu membuat Astri sedikit menyipitkan mata melihatnya.

“Lagian kan yang gue suka itu elo,” sambung Andre yang sukses membuat Astri langsung melotot mendengarnya. Berbeda dengan Andre yang hanya menatapnya santai sembari tersenyum.

Lama Astri terdiam sembelum kemudian sebuah senyum sinis tersunging di bibirnya. Sembari angkat bahu bibirnya bergumam lirih.

“Ternyata ungakapan tentang ‘berteman dengan penjual minyak wangi itu ada benarnya.”

“Maksut loe?” Tanya Andre dengan kening berkerut.

“Lama lama loe kaya kakak gue,” balas Astri, namun kerutan di kening Andre belum menghilang. Sepertinya pria itu masih tidak mengerti maksut ucapana gadis di hadapannya.

“Playboy.”

Satu kata lanjutan itu sukses membuat Andre terkejut karenanya.

“Playboy? Gue?” tunjuk Andre pada wajahnya sendiri. Astri hanya mencibir sembari melangkah keluar dari rumahnya. Menyusul Rendy yang sudah melangkah duluan. Membuat Andre membatalkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Dan beberapa menit kemudian mereka sudah meluncur di jalan raya.

“Kak Rendy mana si? Bukannya tadi dia udah jalan duluan ya?” kata Astri sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sesekali matanya melirik kesana kemari. Mencari sosok kakaknya dari sekian banyak orang yang berkeliaran disekitarnya.

“Gimana kalau sambil nunggu mereka kita makan duluan. Loe belom makan kan?” tawar Andre terlihat santai.

“Bukannya katanya kita mau nonton ya?”

“Masih ada satu jam lagi,” balas Andre tanpa menoleh karena kini matanya menatap kearah jam yang melingkar di tangannya. Astri menahan diri untuk tidak memutar mata melihatnya. Kalau tau acara nontonya masih lama kenapa mereka harus datang cepat – cepat.

“Ayo,” bukan hanya membuyarkan lamunannya, ajakan Andre yang dengan santai meraih tangannya sukses mengagetkan Astri. Itu di luar perkirannya. Lagi pula kenapa Andre harus mengandeng tangannya? Memangnya dia anak TK yang takut hilang saat di ajak jalan ke Mall. Lagipula, Astaga. Jantungnya….

“Tenang aja. Kalau sampai loe hilang, kakak loe tau kok siapa yang harus dicari dan bertanggung jawab. Sekarang ayo duduk. Kita makan dulu,” kata – kata Andre lagi lagi mengagetkan Astri. Gadis itu menatap sekeliling dengan heran. Jadi mereka sudah sampai di rumah makan?

“Loe mau pesen apa?”

“Terserah,”

Andre menoleh. Kalimat dingin Astri mengagetkannya. Apalagi ketika melihat tatapan lurus yang terjurus padannya. Apa ia membuat kesalahan.

“Loe kenapa?” Tanya Andre hati hati.

“Nggak papa.”

“Loe marah sama gue?”

“Kenapa gue harus marah?” Astri balik bertanya.

“Loe nggak suka gue ajak kesini?”

“Gue nggak suka karena loe melakukan sesuatu tanpa bertanya.”

“Maaf,” gumam Andre sambil menundukkan kepala. Melihat itu Astri jadi merasa sedikit bersalah. Sungguh, ia tidak berniat untuk melakukannya. Hanya saja entah kenapa tiba – tiba ia merasa ada yang salah.

“Gue…Gue telpon kak Rendy dulu,” kata Astri sambil mengeluarkan handpondnya. Namun belum sempat ia menekan tombol hijau, benda mungil itu kini sudah berpindah tangan. Membuatnya menoleh sehingga berhadapan langsung dengan wajah Andre yang juga sedang menatapnya tajam.

“Gue mau nelpon kakak gue. Loe kenapa si?”

“Gue udah ngabarin kakak loe tadi. Dan mereka tau kita disini. Bentar lagi juga mereka pasti nyusul.”

“O…” Astri tidak tau ia harus bereaksi seperti apa lagi. Apalagi tatapan Andre kali ini jelas mengintimidasinya. Kenapa ia mendadak jadi nerves gini ya?

“Kalau gitu, loe bisa balikin hanphond gue kan?”

Andre hanya mengangguk sembari mengulurkan hanphond rampasannya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Suasana mendadak terasa cangung.

“Loe beneran nggak suka jalan sama gue ya?” Tanya Andre beberapa saat kemudian.

“Bukan itu. Gue Cuma ngerasa ini ada yang salah.”

“Maksut loe?”

“Rencananya kan loe mau jalan sama Alya. Tapi kenapa tiba – tiba loe jadi sama gue dan kita….”

“Berhenti jodoh – jodohin gue sama Alya,” potong Andre terdengar dingin.

“Kalau loe emang nggak suka sama gue, loe cukup nolak gue. Bukan malah cariin cewek lain buat jadian sama gue,” sambung Andre lagi.

Kali ini Astri terdiam. Tunggu dulu, ini kenapa jadi kesannya dia yang salah.

“Cewek lain?” ulang Astri sinis. “Tapi Alya itu…”

“Gue udah berulang – ulang kali bilang, kalau cewek yang gue suka itu elo,” lagi lagi Andre memotong ucapannya.

“Kalau memang cewek yang loe suka itu gue, kenapa loe malah lebih deket sama Alya. Kenapa kemaren kalian malah ngobrol bareng. Dan kenapa loe malah gampang akrab sama dia ketimbang sama gue!”

Bodoh. Sumpah, Astri kini tak henti memaki dirinya sendiri saat itu begitu menyelesaikan kalimatnya. Memalukan, apa yang barusan ia lakukan?

Suasana tiba – tiba hening. Andre sama sekali tidak bersuara. Dengan hati – hati, Astri mencoba mengintip reaksi makhluk dihadapannya. Namun dengan cepat gadis itu segera membuang pandangannya ketika menyadari kalau tatapan Andre jelas terjurus padanya.

“Loe cemburu?” Andre sama sekali tidak bisa menahan senyuman dibibirnya saat menanyakan kalimat barusan.

“Enggak,” bantah Astri tanpa menoleh.

“Terus kenapa loe nggak suka gue deket sama Alya?”

“Itu karena….” Astri sendiri bingung ia harus menjawab apa.

“Karena…?” kejar Andre lagi.

Astri masih menunduk. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya berujar. “Karena loe bilang loe suka sama gue, dan loe bilang loe mau bikin gue jatuh cinta sama loe.”

“Gue memang suka sama loe.”

Itu bukan sekedar jawaban ataupun pernyataan. Tapi lebih kepada penegasan. Membuat Astri kali ini menoleh dan berhadapan langsung dengan tatapan Andre yang terjurus padanya. Tatapan yang tajam sekaligus mengunci pandangannya. Membuat Astri sama sekali tak tau apa yang harus di lakukannya selain diam terpaku. Dan kemudian….

Admin mucul bawa kalimat ‘Bersambung’ #KrikKrik… #dihajar

Ho ho ho, setelah sekian lama mendekam di draf, akhirnya cerpen kenalkan aku pada cinta muncul ke permukaan juga. Ehem ehem ehem, kira – kira tinggal berapa part lagi ya ketemu endingnya? Nggak tau nih, ni cerpen kok lama lama jadi nggak jelas. Ng’end kannya susah banget. Sama susahnya kaya cerpen kala cinta menyapa kemaren. Ciusss deh…

Okelah, terakhir. Ketemu lagi di postingan selanjutnya aja deh… bye bye….

Admin ~ Lovely Star Night ~


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 7:55:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers