Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 02

Semakin lama blog Star Night makin terbengkalai yak. Iyaa. Yah, adminnya udah nggak ngefans nulis cerpen lagi soalnya. Alasannya, ya begitulah. Nulis cerpen emang udah nggak seasik dulu. Ciuuus. Tapi tetep kok, walau jarang jarang munculnya sebisa mungkin ni blog tetep bakal di update. Buktinya cerpen terbaru Si Ai En Ti E part 2 muncul kan. Ke ke ke

Dan gimana sama ceritanya mending langsung disimak aja deh. Biar Nggak bingung Mending baca dulu cerita sebelumnya disini.


Menulis, hal yang paling ia sukai dalam hidup. Ia tidak pernah tau kenapa, dan ia juga tidak pernah mencari tau alasannya. Selama ia bisa menikmatinya, ia tidak tertarik sama sekali untuk mempermasalahkannya.

“Hayo, nulis apaan loe?”

Aktifitas Acha yang sedang sibuk menuliskan bait kata demi kata diatas kertas di hadapannya terhenti. Kepalanya menoleh, dan lagi lagi mendapati wajah Malvin yang langsung menyambutnya. Kemana perginya si Tania? Kenapa tempat duduknya selalu di duduki oleh makluk yang satu itu.

“Yang jelas gue gak lagi nulis tentang loe,” balas Acha datar. Malvin hanya angkat bahu.

“Ngapain loe kesini? Kelas loe bukannya disebelah ya?” tanya Acha sambil menutup buku dihadapannya. Toh percuma, selama makluk itu masih berada disampingnya, mustahil ia bisa tetap menulis. Berlahan perhatiannya teralih kearah komik serial cantik. Walau sudah berstatus anak kuliahan, ternyata itu sama sekali tak menghalangi hobinya menikmati cerita bergambar.

“Bosen gue, dosen gue nggak masuk hari ini.”

Mendengar itu Acha hanya mencibir sinis. Sejak kapan sahabatnya peduli dengan muncul atau tidak dosen kampusnya. Bukannya biasanya juga dosennya masuk ia yang bolos.

“Dosen loe atau pacar loe?” tanya Acha setengah bergumam.

Malvin tidak menjawab. Tapi cengiran di wajahnya sudah cukup untuk menjelaskan.

“Hufh, loe bener. Hari ini Grescy nggak masuk,” aku Malvin tanpa semangat.

“Terus?”

“Dan nomor telponnya juga nggak aktif.”

“Terus?”

“Jangan – jangan doi sakit kali ya?”

“Terus?”

Malvin tidak menjawab, justru ia malah menatap sebel kearah Acha yang sama sekali tidak menoleh kearahnya. Sementara perhatiannya teralih kearah buku komik yang kini ada di tangannya.

“Busyed, gue di cuekin,” geram Malvin sambil merebut komik yang sedari tadi Acha baca. Membuat gadis itu gantian menatapnya kesel.

“Apaan sih loe,” kesel Acha sambil berusaha mendapatkan komiknya kembali yang malah di angkat tinggi – tinggi oleh Malvin.

“Loe masa gue ngomong sedari tadi nggak di dengerin.”

“Siapa bilang gue nggak dengerin. Gue denger kok loe ngomong sedari tadi. Apa? Grescy nggak masuk? Terus nomor telponnya juga nggak aktif? And yang terakhir loe nebak dia sakit? Iya kan?” tanya Acha.

Kali ini Malvin terdiam. Dan hal itu langsung dimanfaatkan oleh Acha dengan sebaik mungkin. Hanya kurang dari 5 detik gadis itu sudah berhasil mendapatkan bukunya kembali. Bahkan, Malvin saja hampir tidak mempercayai bagaimana Acha secepat kilat menaiki kursinya sebelum kemudian kini kembali mendudukinya.

“Barusan loe naikin kursi?” tanya Malvin pasang tampang cengo.

“Gue tau loe lebih tinggi dari gue,” balas Acha angkat bahu.

Malvin tampak mengeleng tak percaya. Ah, sahabatnya yang satu itu memang ada ada saja. Masa ada gadis berkelakuan seperti itu, pantas saja sampai sekarang masih nggak punya pacar. Gumamnya dalam hati.

“Eh, inikan udah istirahat. Loe nggak laper apa?” tanya Malvin mengalihkan perhatiannya.

“Loe mau mentrakir gue?” jawaban yang Acha lontarkan otomatis membuat pria itu mencibir namun tak urung kepalanya mengangguk.

“Tumben…” komentar Acha, tapi Malvin diam saja sambil berbalik kearah pintu sembari mengisarakan gadis itu untuk mengikutinya.

“Oh, pasti karena hari ini Grescy nggak masuk kan makanya loe ngajakin gue? Ya Tuhan, apa nasip gue sebegitu menyedihkannya. Hanya dijadikan sebagai gadis pelarian,” kata Acha dengan nada di buat semelankolis mungkin yang lagi lagi membuat Malvin mencibir mendengarnya.

Sambil terus melangkah Acha masih berusaha mengoda sahabatnya, dan tepat di persimpangan koridor tanpa diduga ternyata dari arah berlawanan juga terdapat orang yang juga sedang melangkah. Akibat tidak memperhatikan jalannya, Acha justru malah menabrak orang itu. Dan lebih parahnya ternyata saat itu pria yang sedang di tabraknya justru sedang mengengam segelas minuman yang kini airnya tumpah kemana mana. Bahkan sebagian membasahi kemeja yang di kenakannya.

“Ah, sory sory sory. Gue nggak sengaja,” kata Acha cepat. Benar – benar merasa bersalah sembari merutuki kecerobohannya sendiri.

“Ah sial. Kalau jalan nggak bisa liat apa,” gerut pria itu tampak memaki sambil mengusap bajunya yang basah. Acha terus menunduk, sama sekali tidak berani menoleh.

“Loe..?”

“Ya?” kali ini Acha menoleh. Mendapati telunjuk yang terjurus tepat kearah wajahnya. Bola matanya yang bening tampak berkedap – kedip. Jelas terlihat kebingungan.

“Heh, ternyata loe kalau jalan matanya emang sama sekali nggak di pake,” cibir pria itu sinis.

Oke, Acha tau ia salah. Tapi memang harus ya dia di katain seperti itu. Lagi pula ia kan sudah minta maaf.

“Itu karena gue jalannya pake kaki, bukan pake mata,” balas Acha yang membuat pria itu langsung terdiam. Dan tanpa basa – basi Acha langsung menarik tangan Malvin, mengajak sahabatnya itu untuk segera berlalu.
“Enak aja gue dikatain jalan nggak pake mata. Terus dia jalannya matanya di pake gitu? Kalau emang di pake harusnya dia bisa ngelak donk sebelum gue tabrak,” gerut Acha lirih namun masih mampu ditangkap oleh indra pendengar Malvin. Membuat pria itu tak urung tersenyum simpul sambil mengeleng kepala berlahan menatap ulahnya.

“Yang salah kan emang loe,” komentar Malvin santai.
“Nggak usah jadi penghianat dengan sok belain dia, Yang temen loe itu gue!” balas Acha tidak terima. Kali ini Malvin hanya angkat bahu sambil duduk di bangku kantin yang kosong.

“Tapi keliatannya tadi dia kenal sama loe,” kata Malvin beberapa saat kemudian setelah keduanya duduk dengan santai sembari menunggu makanan pesanan mereka datang.

“Tapi gue nggak kenal sama dia.”

“Masa?” tanya Malvin mengangkat sebelah alisnya heran.

Melihat raut heran di wajah Malvin, Acha ikutan pasang tampang yang sama. Sama – sama keheranan.

“Memangnya doi siapa? Artis kehilangan panggung atau Artis yang lagi naik pohon?” tanya Acha sembari mengacaukan kalimat pepatah.

“Kayaknya gue nggak heran kalau loe jomblo,” bukannya menjawab Malvin justru malah menatapnya miris.

“Pletak”

Dan jitakan pun mendarat mulus di kepalanya.

“Loe bisa nggak sih? Kalau ngomong itu pake mulut aja. Asal tau aja ya, Tuhan sudah menganugerahkan kita mulut untuk bicara, tapi kenapa loe masih butuh tangan untuk mewakilinya?” geram Malvin tampak sewot.

“President nggak mimpin Negara ini sendirian, doi juga butuh wakil tuh buat nemenin,” balas Acha santi.

Malvin cengo. Lah, apa hubungannya?

“Nggak ada hubungannya kan?” tanya Acha. “Ya sama. Loe juga gitu kan? Gue nanya doi siapa, eh loe malah bawa bawa status gue,” sambung Acha lagi. Kali ini Malvin menangguk – angguk paham.

“Ehem, o itu. Maksut gue, masa loe nggak kenal dia?. Secara kan dia idola di kampus kita. Namanya Devrin. Bahkan ni ya, hampir sebagian lebih cewek dikampus kita ngejar ngejar dia, eh loe malah nggak kenal. Ck ck ck, kesian sekali,” terang Malvin sambil mengelengkan kepala miris. Menatap sahabatnya seolah – olah gadis itu adalah gadis kampung yang datang dari pelosok desa.

“Nggak usah lebai. Loe sendiri bilang gue suka ngedramatisir status persahabatan kita. Kenapa sekarang loe malah bawa – bawa drama korea?”

“Maksutnya?”

“Please deh ya, yang ada idola idola itu kan cuma di drama drama. Terutama drama korea. Dan yang ngefans nonton itu GUE!. Lagian gue tau banget loe sama sekali nggak tertarik buat nonton yang begitu. Loe kan anti banget sama cowok korea. Apa loe bilang? Cowok banci tampang editan? Heh, tapi sekarang apa coba. Loe malah pake bawa idola idola segala. Lucu sekali,” terang Acha jelas mencibir.

“Huwahahahha,” bukannya kesel Malvin justru malah tertawa ngakak jumpalitan. Membuat Acha mengerutkan kening sebel. Yang diucapkannya barusan nggak beneran lucu kan? Bahkan kalimat terakhir yang ia ucapkan juga cuma bermaksut untuk menyindir. Tapi kenapa malah sahabatnya tertawa beneran?

“Jadi ini yang loe maksut dengan sahabat? Gue nggak ada tapi loe malah bisa seneng -seneng?”

Tanpa dikomando keduanya menoleh. Dan...To Be Continue

Admin ~ Lovely Star Night


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:51:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers