Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 01

Bangun tidur dalam keadaan mata terbuka. #plaks. Abis beres - beres nyalain lepi sembari nyolokin modem. And then online online. Yah, kayak yang udah di beritakan (???) di fanpage star night, Admin mau bawa cerpen terbaru Si Ai En Ti E = Cinta!. Ho ho ho, moga moga aja ide nulisnya tetep lancar.

Sama satu lagi, cerpen yang lagi di kerjain sama admin cuma dua judul doank yak. Cerpen ini sama cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Nggak tau sih kalau nantinya punya ide laen. he he he. Okelah, akhir kata happy reading aja ya....


Cinta itu memang tidak seindah novel
Karena kenyataannya
Cinta lebih indah dari itu….

"Cha, loe abis ini ada acara nggak?"

Acha menoleh heran saat mendapati wajah Marvin yang kini sudah duduk disampingnya mengantikan posisi Tania yang sepertinya sudah pulang duluan. Sejak kapan pria itu masuk kekelasnya?.

"Nggak ada. Kenapa emang?" tanya Acha sambil mengalihkan pandangan kembali kearah buku yang ada di hadapannya. Tangannya bergerak dengan telaten merapikan buku diatas mejanya.

"Entar temenin gue ke Mall yuk?"

"Ogah," sahut Acha cepat. Bahkan tanpa perlu berpikir sama sekali.

"Lho, kenapa? Loe kan temen gue. Masa gitu aja nggak mau?" kata Marvin dengan nada memprotes.

Acha tidak langsung menjawab. Justru ia malah menghembuskan nafas kesel. Kedua tangannya sengaja ia lipat diatas meja sementara kepalanya sendiri ia tolehkan kearah Malvin yang masih menantikan jawaban darinya.

"Nah itu loe tau sendiri kita itu cuma temen. Terus kenapa loe malah minta temenin gue sementara loe jelas jelas udah punya pacar?"

"Oh itu. He he he. Gue nggak bisa minta temenin dia. Justru gue malah perginya sekrang ini diem diem. Doi nggak tau."

"Loe mau selingkuh sama gue ya?"

Pletak

"Aduh," Acha tampak mengaduh sembari mengusap - usap kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Matanya melotot tajam kearah Malvin yang sama sekali tidak merasa bersalah padahal baru saja menjitak kepalannya.

"Sakit tau?"

"Makanya kalau ngomong, otaknya nggak perlu di lepas. Biar di pake aja. Sembarangan aja. Masa ia gue mau selingkuh sama loe, ya enak di elo donk," gerut Malvin yang langsung di hadiahi jitakan di kepalannya.

"Membalas itu selalu lebih baik daripada nggak ada balasannya" kata Acha mendahului apapun kalimat yang akan di keluarkan oleh Malvin untuknya.

"Lagian maksut loe apa coba enak di gue?" sambung Acha masih tak terima.

"Ya tentu saja enak di elo. Secara gue itu cakep, baik, keren, pinter, perhatian . Idola kampus lagi."
Acha langsung pasang pose mau muntah. Merasa mual akan sikap narsis sahabatnya.

"Terus, kalau emang loe se-sem-pur-na itu, kenapa loe masih mau ngajakin gue jalan ke Mall coba?" tanya Acha dengan nada meledek.

"Diralat ya, gue bukan ngajak loe jalan. Tapi gue cuma minta temenin buat ke Mall," kata Malvin meralat. Membuat Acha memutar mata melihatnya. "Gue nggak bisa pergi sama Grescy soalnya gue ke Mall itu mau cari kado buat kejutan hari ulang tahunya besok. Gitu..." sambung Malvin menerangkan.

"Loe minta temenin gue buat nyariin kado untuk pacar loe? Nggak salah?" tanya Acha mengernyit heran.

"Lho emangnya kenapa?" Malvin ikut ketularan merasa heran.

"Loe nggak sadar apa? Tindakan itu nyakitin gue banget. Secara gue yang udah jadi tetangga loe selama hampir lima tahun ini, udah naksir berat sama loe. Tapi loe malah jadian sama cewek lain. Bahkan setelah loe lakuin itu, loe masih berani - beraninya minta bantuin gue buat nyariin kado untuk cewek loe. Loe itu kejam banget nggak sih?" kata Acha panjang lebar sambil pasang raut sedih di wajahnya.

Malvin terdiam. Matanya menatap datar kearah Acha. Kedua mata Malvin tampak berkedap kedip sementara Acha sudah siap pasang tampang mau nangis.

"Jangan lebai. Loe pikir kita lagi main drama satu babak?"

"Huwahahhaha," tawa pun lepas dari bibir Acha. Terlebih saat mendapati raut cemberut di wajah sahabatnya. "Gimana barusan, gue cocok nggak kalau berperan sebagai cewek yang teraniaya?"

"Cocok. Cocok banget. Mirip kayak mak mak yang biasanya ngemis di simpang lampu merah deket bundaran," sahut Malvin yang gantian membuat Acha memajukan mulutnya dua centi.

"Udah, buruan. Ayo kita pergi," kata Malvin sambil bangkit berdiri.

"Gue nggak pernah bilang kalau gue mau tuh, nemenin loe," tahan Acha dengan nada memprotes.

"Iya. Tapi emang loe pernah bisa menolak permintaan gue?" tantang Malvin telak.
Acha hanya mendegus kesel. Merasa kalah dengan sahabatnnya. Lagi pula Malvin benar. Ia memang tidak pernah bisa menolak permintaan yang terlontar padannya. Bukan hanya Malvin, ia bahkan tidak bisa menolak permintaan tolong dari teman teman dan orang - orang yang berada di sekitarnya. Yang kadang justru malah mempersulit posisi dirinya sendiri. Ah entahlah. Menjadi orang baik kadang memang serba salah.

"Busyed, doi malah melamun. Buruan."

Teriakan Malvin yang ternyata kini sudah berada di depan pintu menyadarkan Acha. Dengan cepat diraihnya tas yang tergeletak di meja. Melangkah keluar mengikuti Malvin yang sudah mendahuluinya.

"Jadi sekarang loe mau cari apa?" tanya Acha sambil matanya melirik kekanan dan kekiri. Saat ini keduanya memang sudah berada di dalam Mall.

"Itu dia yang gue nggak tau. Gue mau cari apa ya?" Malvin malah balik bertanya.

"Kalau novel romantis aja gimana?" usul Acha yang di balas dengan tatapan menyipit sekaligus sinis dari Malvin.

"Emangnya doi elo, demen baca..."

"Yeee, gue kan cuma ngasi saran. Mau ya sukur nggak mau ya udah. Lagian mana gue tau doi suka baca atau enggak," balas Acha tak mau kalah.

Malvin memilih diam. Sementara kakinya kembali melangkah. Tangannya sendiri kini beralih meraih tangan Acha, mengajak gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

"Loe mau ngasih kado boneka?" tanya Acha saat Malvin melepaskan gengaman tangannya sementara kini di tepat dihadapan mereka tanpak aneka boneka imut yang berjejer rapi.

"Gimana menurut loe? Kalau gue ngasi boneka bagus nggak?" tanya Malvin.

"Tentu saja bagus" sahut Acha cepat. Langkahnya segera beralih kearah boneka beruang sebesar dirinya yang menarik perhatiannya.

"Apa lagi kalau bonekanya segede ini. Pasti enak di peluk pas tidur."

"He?" Malvin menatap dengan tatapan mencibir. Tapi Acha cuek bebek. Ia justru malah beralih kearah boneka kelinci yang ada didekatnya.

"Tapi yang kelinci ini juga bagus. Imut. Ambil yang ini aja deh?"

"Ini kenapa jadi selera elo yang diikutin?" tanya Malvin heran.

Acha terdiam. Kedua boneka yang ada di tangannya kini sudah ia kembalikan ketempat asalnya. Sementara kedua tangannya kini ia lipat didepan dada sembari matanya menatap lurus kearah Malvin dengan tatapan menghakimi.

"Kalau sejak awal udah jelas semuanya berdasarkan selerea elo, ngapain loe ajak gue?"

"Oh iya bener," Malvin tampak mengangguk - angguk. "Oke deh, jadi menurut loe gimana? Bagusan yang beruang atau yang kelinci?" sambung Malvin sambil mengambil kembali boneka yang tadi di lemparkan Acha.

"Tapi kayaknya emang bagusan yang kelinci deh. Keliatan imut" sambung Malvin bersikap pura - pura tak menyadari temennya ngambek.

"Jadi gimana nih? Serius bagusan kelinci?" tanya Malvin lagi.

"Nggak tau. Suka suka loe aja," sahut Acha angkat bahu.

"Cieela dia ngambek," ledek Malvin sambil tertawa simpul. Tangannya sibuk membolak balik boneka kelinci yang diambilnya. Memeriksa dengan seksama. Setelah memastikan tiada yang cacat, ia segera menyodorkannya pada SPG yang sedari tadi berdiri disampingnya. Menanti sejenak gadis itu menuliskan kata pada secarik kertas. Petunjuk kearah kasir mana yang harus ia tuju.

"Udah, nggak usah ngambek loe. Nggak pantes. Makin jelek tau," kata Malvin santai sambil berjalan menuju kekasir. Tanpa diajak, Acha berjalan mengekor di belakangnya.

"Makin? Maksut loe apa nih? Selama ini gue jelek?" tanya Acha cemberut.

Malvin tidak langsung menjawab. Justru ia malah tersenyum simpul sembari matanya memperhatikan seekliling. Tampak bebreapa orang yang berdiri berjejer di hadapnnya. Hufh, masih harus antri ternyata.

"Nggak nyadar juga loe. Tuh buktinya, sampe sekarang masih jomblo," jelas Malvin tanpa rasa bersalah.
Acha cengo. Kenapa statusnya di bawa bawa coba? Huf, sahabatnya yang satu itu kalau ngomong memang biasanya asal njeplak. Kalau saja ia sudah tidak cukup lama berkenalan dengannya, pasti ia akan terseinggung mendengarnya.

"Eh denger ya, gue itu bukan jomblo. Tapi single. Catet tuh."

"Sama aja dink. Toh intinya sama. Sama sama nggak punya pacar. Apa bedanya coba?" Malvin tak mau kalah.

"Ya kalau jomblo itu nasip, kalau single itu prinsip," sahut Acha tegas.

Malvin ingin membalas. Namun segera ia urungkan ketika melihat orang yang berdiri dihadapannya sudah bergeser, membuatnya mencapai gilirannya untuk membayar.

"Tolong bawain donk," kata Malvin sambil menyodorkan boneka yang kini sudah berada di tangannya.

"Dimana mana juga cewek kali yang minta bawain barang sama cowok," kata Acha dengan nada memprotes walau tak urung tangannya menerima uluran Malvin.

"Nggak ada cowok yang jalan jalan bawa boneka," balas Malvin.

"Tapi...."

"Loe mau ais cream nggak, gue yang bayarin," potong Malvin tiba - tiba.

"Mau banget," jawab Acha cepat. Terlalu cepat malah membuat Malvin tak mampu menahan senyumnya. Tak habis pikir, sahabatnya bukanlah anak - anak. Namun sepertinya tak bisa menahan diri ketika mendengar kata ais cream.
Setelah mengisaratkan Acha untuk duduk disalah satu kursi yang kosong ia langsung berjalan kearah kasir untuk memesan. Beberapa saat kemudian mereka sudah duduk berhadap hadapan.

"Jadi kapan loe mau ngasi boneka ini sama Grescy?" tanya Acha memulai pembicaraan. Sementara tanganya sibuk menyendok ujung ais cream di mangkoknya. Ais cream coklat campur vanilla memang selalu berhasil mengodanya. Terlebih di cuaca panas seperti ini. Ah, ternyata tidak ada ruginya ia menemani sahabatnya kali ini.

"Menurut loe bagusnya kapan? Ntar malam atau besok pagi?" Malvin balik bertanya.

"Emang ulang tahunnya kapan?"

"Besok sih, tapi..."

"Ya sudah besok aja. Masa loe mau ngerayain ulang tahun tapi belum waktunya. Coba aja loe bayangin kalau loe mau ngucapin ulang tahun sama seorang ibu yang bahkan belum melahirkan bayinya?"

"Lah, apa hubungannya?" tanya Malvin bingung.

"Sama, gue juga nggak tau apa hubungannya," Acha angkat bahu yang giliran membuat Malvin cengo melihatnya. Merasa tak perlu ambil pusing Malvin lebih memilih kembali menikmati ice cream pesanannya.

Banyak orang yang bilang, mustahil cewek dan cowok itu bersahabat. Karena biasanya pasti ada perasaan lebih diantara salah satu atau mungkin keduanya. Tapi untuk kali ini pengecualian. Acha cukup yakin kalau hubungannya bersama Malvi murni persahabatan walau banyak orang yang meragukannya. Bahkan Grescy selaku pacar Malvin sendiri juga berangapan sama. Ah tapi siapa si di dunia ini yang bisa menyelaraskan anggapan manusia?

"Vin, tunggu ya. Bentar, gue ke toilet dulu," kata Acha tiba tiba.
Malvin menoleh, sebelum kemudian mengangguk. Tanpa kata Acha segera berlalu. Namun langkahnya sejenak terhenti ketika ia merasa getaran di saku celanannya. Sepertinya ada pesan masuk. Sambil membaca kata yang tertera kakinya kembali melangkah menuju kearah Toilet yang sudah cukup dikenalnya dengan tangan yang masih sibuk mengetikan balasan. Tanpa sadar kini ia sudah tiba ke tempat yang dituju. Masih dengan pandangan yang terjurus kearah handphon tangannya terulur membuka pintu. Bibirnya tanpa sadar membentuk lengkungan ketika membaca kalimat yang tertera. Sms dari Irma sahabat dunia mayanya memang selalu penuh dengan kata lucu yang di rangkainya.

"Loe pikir loe mau ngapain disini?"

Seiring dengan kalimat yang terlontar, Acha mendongak. Matanya yang bulat tanpak berkedap kedip. Antara bingung juga kaget. Bingung karena disapa oleh sosok yang tak dikenalnya, dan juga kaget karena yang menyapanya adalah seorang pria.
Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, pintu toilet di belakangnya kembali terbuka disusul raut kaget seorang pria yang menatap lurus kearahnya.

"Kok ada cewek?"

Pertanyaan yang terlontar langsung memacu otak Acha untuk berfikir. Matanya menatap kearah sosok dua pria itu secara bergantian. Suara keran air disusul dengan pintu yang berderit diantara lorong pintu toilet menarik perhatiannya. Belum sempat kepalanya menoleh tubuhnya sudah terlebih dahulu di dorong keluar oleh pria yang pertama sekali melihatnya.

"Loe gila ya? Kalau emang nggak bisa baca tulisan, paling nggak loe kan bisa liat gambarnya?" damprat pria itu langsung.
Acha masih terdiam layaknya orang bego. Namun tak urung matanya menatap kearah dinding yang ditunjuk pria itu. "Toliet pria"

"Astaga," keluh Acha sambil membekap mulutnya sendiri. Benar - benar baru menyadari apa yang telah dilakukanya barusan. Dan saat ia kembali menoleh kearah pria yang ada di hadapannya, pria itu hanya melemparkan tatapan datar dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.

Tak tau apa yang harus di lakukannya, Acha dengan cepat berbalik tanpa menoleh sama sekali. Membatalkan niatnya untuk ketoilet dan langsung berlari kearah Malvin yang pasti masih menunggunya. Tak perlu dijelaskan seberapa besar malu yang di tanggungnya. Dan ia benar - benar berharap ia tidak akan bertemu dengan pria itu lagi seumur hidupnya.

"Kenapa loe?" tanya Malvin heran saat melihat sahabatnya yang muncul di hadapannya dengan napas ngos - ngosan.

"Kita pergi sekarang," sahut Acha tegas sambil meraih tas diatas mejanya sementara sebelah tangannya yang lain menyambar boneka kelinci. Kemudian segera berbalik menuju kearah pintu keluar disusul oleh Malvin yang masih tak mengerti akan perubahan sikapnya. Namun saat ditanya, Acha hanya mengeleng sembari mengisaratkan Malvin untuk segera masuk kedalam mobilnya sebelum kemudian melaju pulang.

To be continue dulu yak. He he he, soalnya postingannya ntar kepanjangan. Ini aja udah rada molor molor entah kemana (???). So kita ketemu lagi aja di part selanjutnya ya. Bye bye

Admin ~ Lovely Star Night


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 7:49:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers