Ketika Cinta Harus Memilih ~ 12 | Cerpen Cinta

Oke lah all, cerita berlanjut. Masih seputar tentang Ketika cinta harus memilih yang kini memasuki part 12. Ngomong ngomong kemaren pas gak ada ide buat nulis cerita iseng ngacak acak postingan di blog Star Night ini. Mendadak mikir sendiri, ini blog kumpulan cerpen apa kumpulan cerbung si? wukakakka
O
Okelah, udah kebanyakan bacod kayaknya. Mending langsung baca aja yuk. And untuk yang belum baca part sebelumnya bisa di baca di Ketika cinta harus memilih part 11.


Ketika Cinta Harus Memilih
Sepulang dari kampus Rangga tidak langsung menuju kerumahnya. Ia justru malah membelokan arah motornya kerumah Fadly.

“Gue lagi galau nie sob. Hibur gue donk” Ujar Rangga yang kontan membuat Fadly langsung tergelak.

“Nggak lucu tau ngga si. Gila loe, temen lagi menderita bukannya di bantuin eh malah di ketawain” geram Rangga yang diam – diam merasa menyesal menemui sahabatnya yang tadinya di pikir bisa sedikit membantu memberikan solusi.

“Lagian loe ada – ada aja. Pake istilah Galau Segala” cibir Fadly sinis. “Kenapa?. Aku nggak punya pulsa?” Sambung Fadly meledek sambil mengikuti gaya iklan kartu As di Tv.

“Gue serius ni."

“Iya deh. Kalau gitu ayo kita pergi,” ajak Fadly sambil melangkah kearah motor Rangga yang di parkir di depan rumahnya sebelum beberapa saat yang lalu merebut kunci yang ada di tangan Rangga sebagai isarat kalau ia yang akan membonceng.

“Ha?. Emangnya kita mau kemana?” tanya Rangga heran walau tak urung ikut mengenakan helm dan duduk di belakang Fadly.

“Tadi katanya lagi galau . Ya sudah sekarang loe naik aja. Soal kita mau kemana itu terserah gue” Balas Fadly . Rangga hanya manut di belakang.

Ketika cinta harus memilih

“Danau?" kening Rangga tanpak berkerut saat mendapati dimana kini Fadly menghentikan motornya.

“Kenapa loe malah bawa gue ke danau?” tanya Rangga lagi.

Fadly masih tidak menjawab. Dengan santai ia melepaskan kedua sepatunya dan duduk di pingiran danau. Kakinya sengaja ia mainkan didalam air agar dapat merasakan sejuk dan segarnya air itu. Melihat ulah Fadly yang sepertinya menyenangkan tanpa pikir panjang Rangga langsung mengikuti.

“Jadi gini rasanya.Sekarang gue baru tau” gumam Rangga lirih.

Fadly yang sedari tadi masih terdiam menoleh. Tidak mengerti maksut ucapan Rangga barusan.

“Gue baru nyadar kalau danau itu ternyata sama sekali bukan tempat yang tepat untuk menghibur. Pantas saja waktu gue ajak cinta kesini dia justru malah nangis” sambung Rangga dengan tatapan menerawan.

“cinta?. Maksut loe loe pernah ngajak dia kesini?” tanya Fadly.

Seolah baru sadar dengan apa yang diucapkannya barusan Rangga hanya mampu mengangguk kikuk . Sedikit salah tingkah.

“Bahkan tanpa sadar orang yang loe ingat justru cinta” gumam Fadly lirih sambil tersenyum penuh makna.

“Apa?” tanya Rangga mengernyit heran. Telinganya tidak dapat menangkap gumaman lirih Fadly barusan.

“Nggak ada” Fadly mengeleng.

“Terus kenapa loe ngajak gue kesini. Yah seperti yang gue bilang tadi. Tempat ini tu sama sekali bukan tempat yang pas untuk menghibur seseorang” Rangga kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

“Siapa bilang gue ngajak loe kesini buat menghibur. La wong loe jelas – jelas nggak kenapa – napa. Lagian nie ya, kalaupun memang ada yang harus di hibur itu cinta, bukannya elo. Gue yakin dia pasti sangat menderita sekarang."

Refleks Rangga menoleh. Menatap heran kearah Fadly. Apa maksut ucapannya?.

“Dia baik – baik aja. Sama sekali tidak menderita” balas Rangga setelah terdiam untuk beberapa saat.

“Loe yakin dia baik – baik saja?” tanya Fadly sambil menoleh.

Kali ini Rangga menunduk. Sama sekali tidak berani menatap wajah Fadly. Bukan, bukan karena ia takut pada sosok yang ada disampingnya. Ia hanya merasa takut kalau seandainya apa yang dikatakan oleh sahabatnya barusan itu benar. Bahwa sesungguhnya cinta saat ini tidak sedang baik – baik saja. Bahwa gadis itu mungkin menderita. Tapi dengan cepat pikiran itu ditepisnya jauh – jauh. Tidak mungkin cinta menderita. Kalau memang ia menderita kenapa justru dia yang malah memutuskannya?. Tapi ketika ia mengingat tatapan kosong cinta beberapa saat yang lalu, lagi – lagi ia merasa ragu.

“Tidak perlu loe jawab kalau seandainya loe sendiri juga nggak yakin akan jawaban yang akan di lontarkan” Fadly kembali buka mulut saat melihat Rangga yang sedari tadi masih terdiam terpaku.

“Oh ya, gimana soal hubungan loe sama cinta?” Tanya Fadly mengalihkan pembicaraan.

“Gue udah putus sama dia."

“Apa?” tanya Fadly kaget.

“Leo gila ya. Kenapa kalian bisa putus. Loe mutusin dia?”

“Tentu saja tidak. Dia sendiri yang minta putus” bantah Fadly membalas.

“Dan loe menyetujuinya?”

Rangga tidak menjawab. Tapi kebisuan itu sepertinya sudah cukup untuk dijadikan jawaban.

“Gue yakin dia saat ini pasti menderita. Setelah pertengakaran yang semakin sering terjadi antara bokap nyokapnya. Sekarang loe malah mutusin dia."

“Bukan gue yang mutusin” Rangga meralat.

Seolah baru menyadari sesuatu Rangga langsung menoleh kearah Fadly.

“Tunggu dulu, loe tau dari mana kalau bokap sama nyokapnya cinta sering beranterm?”

“Kasih” Balas Fadly singkat.

“Kasih?”

“Ia. Kasih temennya cinta. Kemaren gue nggak sengaja ketemu dia sehabis pulang dari apotik. Katanya membeli obat buat cinta yang sakit. Waktu itu cinta malam – malam berhujan – hujanan datang kerumah nya. Karena kebetulan gue juga nggak sibuk, ya sudah sekalian aja gue anterin dia."

“Cinta? Sakit? Dirumah kasih?” Tanya Rangga bingung. “Tapi kenapa waktu itu gue tanya dia bilang nggak tau."

“Cinta yang minta” Fadly menjelaskan.

“Apa?” Rangga telihat makin bingung. “Kenapa?”

Kali ini Fadly hanya angkat bahu.

“Oke, kalau kasih ngga ngasih tau karena dia memang sahabatnya cinta. Tapi kenapa loe nggak ngasi tau gue, padahal loe tau kalau gue kelimpungan nyari dia?” tanya Rangga terdengar memprotes.

“Loe kan nggak nanya” balas Fadly santai.

“walau pun gue nggak nanya seharusnya sebagai sahabat loe kan bisa cerita sama gue. Kenapa loe malah diam aja."

“Terus elo?. Kalau loe memang nganggap gue sahabat kenapa loe nggak pernah cerita kalau Cisa datang kembali?” Fadly balik bertanya.

“Maksut loe?” Rangga terlihat gugup sekaligus kaget. Bagaimana Fadly bisa tau masalah ini.

“Loe tau maksut gue” Balas Fadly terdengar sinis. Rangga menunduk sedikit merasa bersalah karena menyembunyikan masalah ini dari sahabatnya.

“Gue bukan nggak mau cerita. Tapi gue masih inget sikap loe dulu yang nggak suka kalau gue deket – deket sama dia."

“Dulu gue ngelarang elo kan ada alasannya. Cisa itu sudah punya pacar Rangga."

“Tapi sekarang dia udah putus. Dia nggak pacaran sama siapa- siapa lagi” balas Rangga cepat. Dan saat ia mendapati tatapan lurus Fadly kearahnya ia baru menyadari kalau ia salah bicara.

“Jadi loe mau bilang kalau sekarang loe mau deketin dia lagi karena sudah nggak ada lagi yang ngehalangin kalian?”

“Gue nggak pernah bilang kayak gitu."

“Tapi itu intinya” potong Fadly. Rangga hanya menghela nafas membalasnya.

“Baiklah, itu urusan elo. Kalau loe memang masih suka sama Cisa gue juga nggak bisa ngelaranga. Secara ini masalah hati. Dan Gue berharap apapun yang loe lakukan itu adalah yang terbaik buat hidup loe. Sebagai sahabat gue Cuma bisa mengingatkan. Tetap segala keputusan ada di tangan loe” Balas Fadly kemudian.Rangga masih terdiam. Sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.

“Oke deh, kalau gitu kita Ganti topik aja” Fadly berusaha kembali mencairkan suasana. Ia sadar kalau sahabatnya saat ini pasti masih bingung dengan situasi yang dihadapinya.

“Coba deh sekarang loe liat kesana” tunjuk Fadly kearah danau.

“Menurut loe, apa yang paling menarik dari danau ini?”

Rangga mengikuti arah terlunjuk Fadly. Setelah terdiam untuk beberapa saat ia menjawab.

“Bunga teratai."

Fadly tersenyum simpul mendengarnya sebelum mulutnya kembali berujar.

“Bunga teratai” ulang Fadly sambil berpikir. “Hidup, tubuh dan berkembang di dalam air namun justru tidak pernah merasakan basahnya kecuali ketika bunganya telah menjadi layu” sambung Fadly.

Kening Rangga berkerut bingung mendengarnya.

“Maksut loe?”

“Loe terlalu terpaku pada keindahan Rangga. Loe ingat, waktu dulu Cisa merasa sedih, loe sering banget membawanya ketaman hiburan agar ia kembali tertawa. Tapi tadi loe sendiri yang bilang untuk menghibur cinta loe malah mengajaknya kesini untuk menangis."

Rangga kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna maksut dari ucapan sahabatnya.

“Oke, kalau gitu menurut loe sendiri. Apa yang menarik dari danau ini?” Rangga balik bertanya.

“Air yang mengenang di daun talas."

Rangga menoleh. Menatap lurus kearah Fadly yang juga sedang menatapnya. Sedikit demi sedikit sepertinya ia mulai mengerti maksutnya.

Dan sebelum Rangga kembali bersuara, Fadly sudah telebih dahulu bangkit berdiri. Berjalan sedikit menjauh kemudian berjongkok di pingiran danau. Tangannya terulur memetik sehelai daun talas yang memang banyak tumbuh di sekitar pinggiran. Kemudian kembali membawanya kesamping Rangga.

“Loe liat air ini?. Terlihat berwarna kuning keemasan sekaligus bersinar saat terkena sinar matahari?” tanya Fadly sambil memainkan air yang sengaja ia teteskan diatas permukaan daun yang tadi diambilnya. Rangga hanya membalas dengan anggukan membenarkan.

“Tapi sekarang loe liat ini” sambung Fadly sambil membalik daun itu sehingga kini seluruh airnya tumpah.

“Bahkan setelah airnya tumpah ia sama sekali tidak meninggalkan bekas."

Lagi – lagi Rangga mengangguk membenarkan.

“Tapi gue tau gimana caranya untuk membuat agar daun ini basah."

“Oh ya? Gimana?”

Faddly tidak menjawab. Namun jari – jari tangannya telah bergerak lincah. Dengan hati – hati ia mengunakan kukunya untuk mengupas kulit tipis diatas permukaan daun. Setelah selesai dengan eksperimen dadakannya. Kembali digunakannya daun itu untuk menampung air yang ia ambil dari danau.

“Sekarang loe liat kan. Daun ini basah."

Lagi – lagi Rangga hanya mampu mengangguk. Tapi tetep ia masih belum mengerti maksut sahabatnya menunjukan eksperimen itu padanya.

“Jadi loe udah tau kan. Daun talas ini baru bisa menyadari keberadaan air justru saat dirinya terluka. Sama halnya dengan seseorang. Bahwa kadang untuk menyadari keberadaan dan betapa berartinya ia, kita justu harus mengukurnya dari rasa sakit. Maksut gue, diantara cinta dan Cisa. Siapa diantara mereka yang paling tidak ingin loe liat menderita. Disaat dia terluka, loe justru yang merasakan sakitnya. Disaat ia menangis, loe ikut merasakan penderitaannya."

Mulut Rangga terkunci. Sama sekali tidak mampu untuk berkata apa – apa lagi. Secara sadar ia mengakui apa yang Fadly katakan benar adanya.

“Loe nggak perlu jawab pertanyaan gue. Cukup loe cari tau dan sadari saja. Hanya saja pesan gue jangan sampai itu semua terlambat. Karena Pada sebagian orang ada yang baru menyadari keberadaan seseorang justru setelah ia kehilangannya. Gue berharap itu nggak akan terjadi pada loe."

“Ma kasih sob. Leo memang sahabat terbaik gue” kata Rangga Akhirnya sambil merangkul pundak Fadly. Dia benar – benar harus bersukur memiliki sahabat sebaik ini. Jadi yang harus ia lakukan saat ini hanyalah menemukan jawabannya bukan?.

Ketemu lagi di part selanjutnya at Ketika cinta harus memilih part 13

~ Admin , Lovely Star Night


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:38:00 AM

Stalkers