Kenalkan aku pada cinta ~ 09 | Cerpen cinta

Tau drama terbaru korea the heirs nggak? Itu lho yang di perankan sama lee min ho and park shin hye?. Nah, adminnya lagi mabok sama drama yang satu itu tuh makanya kebawa bawa ke cerpen. Terutama tentang cinta simpang siurnya (?????). Wukakakakka #ngakakSetres.

Nggak tau deh, ni cerita nantinya mau di bawa kemana. Pusing sendiri dink. Soalnya ide awal sudah menghilang, raib and nggak tau kemana gara - gara laporan kerjaan yang menumpuk. #alibi.

Kenalkan aku pada cinta

So, soal cerpen kenalkan aku pada cinta, biar kita ikuti kemana jari ini menulis aja deh. Kayaknya bener bener jadi cerpen terjun bebas sebebas bebasnya. #KemudianTerbangNgawangNgawang.

Okelah, kita lanjut aja, untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini.

"Gimana kalau gue ternyata memang suka sama loe?"

Astri benar benar yakin kalau tiada yang salah dengan pendengarannya. Kalimat yang ia dengar tadi memang benar. Matanya menatap lurus kearah Andre yang kini juga sedang menatapnnya. Mulut Astri terbuka namun tiada kata yang terlontar. Lidahnya terasa kelu. Dan tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan, pertanyaan itu telah meluncur mulus dari mulutnya.

"Gue nggak lagi di tembak kan?"

Bodoh - bodoh..... Sumpah, Astri sangat ingin memaki dirinya sendiri saat itu juga. Apa belum cukup ia mempermalukan diri sendiri tadi. Kenapa sekarang ia malah melontarkan pertanyaan oon seperti itu?

Andre tidak langsung menjawab. Justru ia malah tampak berdehem sambil menarik nafas lirih. Tatapannya ia alihkan dari wajah Astri sehingga membuat gadis itu sejenak merasa lega. Sebelum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, kalimat sapaan sudah terlebih dahulu menghentikan niatnya.

"Astri? Kak Andre?. Kok tumben kalian makan bareng?"

Secara bersamaan Astri dan Andre memalingkan wajah. Menatap kearah seseorang yang telah menginterupsi pembicaraannya. Kening Andre sedikit berkerut sementara Astri justru malah tersenyum lebar. Belum pernah ia merasa sebahagia ini melihat kemunculan sahabatnya. Rasa sukur merambati hatinya sembari dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada Alya karena sudah menyelamatkan ia dari situasi yang cukup canggung baginya.

"Gue boleh gabung nggak?" tanya Alya lagi.

"Tentu saja," sahut Astri cepat. Terlalu cepat malah sehingga membuat Alya menoleh kearahnya dengan tatapan menyelidik. Tapi Astri hanya tersenyum sembari menarikan kursi di sampingnya. Isarat agar sahabatnya segera menempatinya.

"Lagi ngobrolin apaan si? Kok kayaknya serius banget?" tanya Alya setelah duduk dengan nyaman.Berbanding balik dengan Astri yang justru merasa tidak nyaman mendengarnya. Berlahan ia mencoba melirik kearah Andre yang ternyata juga sedang menatapnya lurus. Membuat Astri cepat cepat mengalihkan tatapannya.

"Enggak, nggak lagi ngobrolin apa - apa kok," sahut Astri mencoba bersikap biasa biasa saja yang justru malah membuat Alya menatap curiga kearahnya.

"Kita tadi lagi ngobrolin kalau seandainya gue naksir sama Astri gimana?"

"APA?"

Alya dan Astri serentak saling pandang sebelum kemudian mendongak. Mendapati raut kaget sekaligus heran di wajah Fajar yang entah sejak kapan kini berdiri disamping meja mereka dengan tatapan terjurus kearah Andre yang juga sedang menatapnya. Argh, situasi macam apa ini?

"Loe suka sama Astri?" tanya Fajar lagi. Sama sekali tidak merasa bersalah akan situasi yang ia sebabkan.

"Kalau ia memang kenapa?" tanya Andre dengan nada menantang.

Fajar tidak menjawab, justru ia malah tersenyum. Tanpa permisi segera duduk disamping Andre.

"Nggak papa si. Justru gue malah seneng. Karena kalau loe emang suka sama Astri berarti loe nggak ada hubungan apa apa sama Alya" sambung Fajar santai.

"Maksutnya?" tanya Alya yang nggak tau kenapa namanya justru di bawa bawa. Matanya menatap kearah Fajar yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum.

"Karena gue suka sama loe."

Glek. Astri hanya mampu menelan ludah. Kalimat singkat, padat dan tegas yang keluar dari mulut Fajar barusan benar - benar menghipnotisnya. Tidak pernah ia duga seseorang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu bisa langsung menembak sahabatnya di hadapannya. Bahkan dengan cara yang tidak pernah ia prediksikan sebelumnya.

"Loe suka sama gue?" tanya Alya tak percaya. Kepala Fajar hanya mengangguk mantap sebagai jawaban.

"Tapi yang gue suka kan kak Andre."

Seiring dengan pengakuan yang terlontar dari mulut Alya membuat suasana hening. Benar benar hening. Bahkan orang - orang yang berada disekeliling mereka juga ikut menghentikan aktifitas makan dan justru malah memperhatikan kearah mereka. Menantikan kejadian selanjutnya.

"Ke... ke...kenapa?" Astri mendadak gugup ketika menyadari tatapan Andre, Alya dan Fajar yang terjurus kearahnya.

"Jangan bilang kalau loe suka sama Fajar?" kata Andre dan Alya secara bersamaan. Sementara Fajar hanya menganggukan kepala sebagai isarat kalau ia juga memiliki pemikiran yang sama.

Glek. Lagi - lagi Astri hanya mampu menelan ludah. Sepertinya ia harus menarik kembali ucapan terima kasih yang belum sempat ia lontarkan pada Alya tadi. Sahabatnya itu ternyata sama sekali tidak menyelamatkan namun justru malah menjerumuskannya pada situasi yang jauh lebih membingungkan.

"Hufh," Astri akhirnya hanya mampu menghembuskan nafas lelah. Matanya menatap satu persatu kearah ketiga orang yang kini sedang menantikan jawaban darinya. Astaga, ini bisa membuatnya gila.

"Gue nggak tau ya, elo dan elo kak. Kalian berdua tau atau enggak," kata Astri sambil menunjuk kearah Fajar dan Andre sebelum kemudian pandangannya beralih kearah Alya. "Tapi yang jelas, elo tau dengan pasti Alya. Gue nggak percaya dan nggak mau berurusan sama yang namanya cinta. Jadi, jangan libatin gue dalam urusan cinta simpang siur kalian ya."

Selesai berkata Astri langsung bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan ketiga orang yang baru saja berbicara dengannya. Bahkan ia juga meninggalkan bakso pesanannya yang bahkan sama sekali belum tersentuh olehnya. Lagipula, memangnya ada orang yang masih tetap bernapsu untuk makan sekiranya berada dalam posisi sepertinya tadi. Iya yakin, jawabannya adalah tidak.

Kenalkan aku pada cinta

"Arhg, gue bisa gila," gumam Astri sambil mengacak - acak rambutnya sendiri. Pikirannya kusust sekusut rambut yang ia acak acak. Kejadian di kantin tadi siang benar - benar merusak pemikirannya. Membuatnya pusing tujuh keliling. Walaupun ia sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terlibat didalam nya namun sepertinya pemikirannya menolak. Terbukti dengan tidakannya sedari tadi yang hanya bisa melamun didepan jendela sembari mengabaikan materi kuliah yang niat ia pelajari tadinya.

"Tentu saja loe bisa gila, secara mana ada orang waras yang ngomong sendiri."

Refleks Astri menoleh, matanya yang bulat tampak berkedap kedip heran mendapati kakaknya yang sedang tiduran santai diatas ranjang miliknya. Sejak kapan pria itu ada disitu?

"Jelas aja loe nggak sadar gue ada disini. La wong sedari tadi loe sibuk ngoceh sendirian," sambung Rendy lagi seolah mampu membaca jalan pikiran Astri.

Astri memutar kursi belajarnya, menatap lursu kearah kakaknya. Bahkan ia mengankat kedua kakinya sehingga duduk bersila diatas kursi putar miliknya. Sementara Rendy sendiri juga sudah bangkit dari tidur santainya. Duduk tegap sembari mengimbangi tingkah laku adiknya. Kedua tangannya ia lipat didepan dada sembari mulutnya melontarkan kalimat tanya.

"Loe mau ngomong apa?"

Astri tidak langsung menjawab. Justru ia malah mengigit bibirnya sendiri. Hal yang sering ia lakukan ketika sedang memikirkan pilihan yang menurutnya sulit.

"Mending nggak usah cerita deh kalau loe emang ragu," kata Rendy angkat bahu. Terlihat tak berminat. "Ah, udah sore ternyata. Kayaknya gue mau mandi aja deh," sambung Rendy sembari merengangkan otot - otot tubuhnya. Sebelum ia sempat bangkit berdiri, ucapan Astri sudah terlebih dahulu menahannya.

"Ah, kak. Tunggu dulu. Iya, gue mau cerita" kata Astri cepat.

Rendy melirik sekilas. Berusah menahan diri untuk tidak tertawa saat itu juga. Sementara ia hanya mampu bergumam dalam hati. Ya ampun, adiknya itu gampang sekali di pancing.

"Oke, jadi loe mau cerita apa?" tanya Randy kemudian.

"Kak, menurut kakak. Kak Andre itu orang nya gimana sih?" tanya Astri lirih.

"Kenapa loe nanya? Loe juga nakir sama dia ya? Gue bilang juga apa, dia itu naksir sama loe" bukannya menjawab Rendy justru malah balik bertanya. Bukan hanya bertanya, dari nada mengucapkannya saja Astri yakin kalau kakaknya sedang meledek.

"Kak Andre nggak pernah bilang kalau dia suka sama gue," bantah Astri kesel. Terlebih jika mengingat kalau Rendy telah membohonginya.

"Yah dia nggak percaya. Dikiranya gue bohong kali ya?" Rendy bergumam seolah untuk dirinya sendiri.

"Kakak emang bohong."

"Loe tau dari mana gue bohong. Emangnya loe tanya langsung sama Andre," cibir Rendy sinis.

"IYA!" tandas Astri tegas.

Rendy terdiam. Matanya menatap lurus kearah Astri.

"Loe nanya langsung sama dia?" ulang Rendy tak percaya.

Walau masih kesel, tapi kepala Astri tetap mengangguk membenarkan. Dan rasa kesel yang ia rasakan langsung meluap dua kali lipat saat melihat tawa lepas kakaknya yang justru malah ngakak jumpalitan.

"Wuahahhaha, sumpah gue nggak percaya kalau gue punya adek sebego elo. Ha ha ha, Astri....Astri...." komentar Rendy disela tawannya.

"Dan gue juga nggak percaya kalau ternyata gue punya kakak yang tega ngebego - begoin adeknya," balas Astri sewot.

"Oke, sory sory sory. Gue minta maaf. Gue ngaku gue salah," kata Rendy berusaha menahan tawannya. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena telah mengerjai adik satu - satunya. "Jadi gimana?"

"Gimana apanya?" tanya Astri polos.

"Ya jadi gimana setelah loe nanya kalau dia suka sama loe atau enggak?" jelas Rendy gemes.

"Dia malah bilang kalau ternyata dia suka sama gue beneran," aku Astri lirih.

Cetek (???). Rendy menjentikan jarinya. "Nah, itu artinya gue nggak bohong kan?. Doi emang suka beneran sama loe."

Astri terdiam. Matanya melotot tajam kearah kakaknya. "Gue kan belom selesai ngomong."

"Oh iya. Lanjut. Jadi masalahnya sekarang apa? Waktu itu loe jawab apa? Loe nggak suka sama dia?" tanya Rendy lagi.

Kepala Astri menggeleng membuat Rendy mengerut lemes. Jadi adiknya tidak menyukai sahabatnya. Yah...

"Masalahnya, sebelum gue sempet jawab, Alya udah keburu muncul. Dan dia ngaku kalau dia ternyata suka sama kak Andre."

"Serius loe?" Rendy langsung duduk tegak. Menatap tak percaya kearah Astri. Kalau saja ia tidak cukup mengenal adiknya, ia pasti akan menganggap kalau adiknya sedang berbohong. Minimal, ia akan menganggap kalau adiknya sedang berusaha balas mengerjainya. Tapi karena ia sangat tau kalau Astri sangat anti berbohong. Bahkan kalimat "berbohong demi kebaikan" juga tidak ada dalam kamus hidupnya, membuatnya merasa yakin kalau apa yang ia ucapkan barusan benar adanya.

"Emangnya gue elo kak, demen bohong," gerut Astri.

"Terus terus, sekarang mereka udah jadian?"

Kepala Astri kembali mengeleng berlahan membuat Rendy menghembuskan nafas lega. Namun hanya untuk sesaat, karena ketika ia mendengar lanjutan ucapan Astri ia langsung menyadari kalau ia salah mengartikan makna gelengan itu untuk kedua kalinyanya. Mereka bukan 'Tidak" jadian tapi...

"Gue nggak tau."

"Ya ela, loe parah banget si As. Masa loe nggak tau mereka jadian atau nggak. Emangnya pas Alya ngaku dia suka sama Andre loe langsung ninggalin mereka gitu aja?"

Lagi - lagi Astri mengeleng. Kali ini Rendy tidak ingin cepat - cepat menyimpukan maknanya. Ia lebih memilih menanti kalimat penjelas yang akan keluar dari mulut adiknya.

"Bukan. Waktu itu Fajar juga ada disana."

"Fajar? O, cowok yang kemaren benerin laptop loe?" potong Rendy yang di balas dengan anggukan.

"Terus dia ngapain? Kenapa dia bisa ada diantar kalian?"

"Dia nggak ngapa - ngapain, dia cuma ngaku kalau ternyata dia suka sama Alya."

Gubrak. Rendy cengo. Matanya menatap tak berkedip kearah Astri yang hanya mampu pasang tampang polos dengan bola matanya yang tampak berkedap kedip menatap kakaknya.

"Loe kenapa mandangi gue kayak gitu?" tanya Astri, Rendy hanya menggeleng tanpa bersuara. Tangan terangkat menopangkan dagu dengan bantal yang di jadikan alas. Pasang pose sedang berfikir.

"Loe nggak juga sedang berfikir kalau gue juga naksir sama Fajar kan?" tanya Astri langsung. Kali ini Rendy kembali menoleh.

"Tadinya emang enggak. Tapi setelah loe ngomong barusan. Gue jadi mikir kesono. Terlebih kemaren Fajar saja loe undang kesini. Loe suka sama dia kan?"

Itu bukan pertanyaan, tapi jelas pernyataan yang menuduh. Membuat Astri mencibir kesel kearah kakaknya.

"Please deh ya kak. Jangan oon kayak mereka. Kakak udah cukup tau gue gimana kan?" geram Astri membuat Rendy mengangguk - angguk.

"Yah, gue tau si. Loe kan selama ini nggak percaya sama cinta. Tapi kan bisa aja, pas liat Fajar yang jago komputer itu tanggapan loe berubah."

"Kakak!" teriak Astri memprotes.

"Tapi As, ini bisa kacau lho," bukannya menanggapi protes dari adiknya Rendy justru malah berkomentar yang membuat Astri bingung.

"Maksut loe?"

Rendy tidak langsung menjawab. Kali ini ia justru malah membenarkan posisi duduknya sehingga menghadap tepat kearah Astri yang menatapnya penasaran.

"Ya loe bayangin aja. Kalau sampai loe jadian sama Andre, Alya pasti patah hati. Tapi kalau sampai Andre jadian sama Alya, maka Fajar yang patah hati. Tapi kalau sampai Alya yang jadian sama Fajar, gue donk yang patah hati."

"Emang loe naksir beneran sama Alya?" tanya Astri dengan tatapan menyipit.

"Enggak si sebenernya. Secara loe kan tau gue playboy. Lagian tadinya gue cuma merasa tertarik aja. Soalnya tu anak sekilas keliatan imut. Udah gitu aja."

Kali ini Astri tidak berkomentar, hanya tatapan mencibir jelas ia lemparkan pada Rendy yang kini bangkit berdiri.

"Oke deh, dari pada gue ikutan gila karena mikirin cinta simpang siur mereka. Kayaknya mendingan gue mandi aja. Secara udah sore dan bentar lagi malam. Loe juga nggak usah terlalu mikirin mereka. Apalagi sampe ngomong sendiri and nyumpahin diri sendiri gila. Yang ada gila beneran tau," kata Rendy sebelum kemudian benar benar meninggalkan kamar adiknya yang tampak mengembungkan mulutnya. Kesel akan komentar yang keluar dari mulut kakaknya. Namun tak urung ia juga bangkit berdiri. Merapikan buku - buku yang niat ia baca namun sedari tadi hanya di abaikannya. Setelah di rasa rapi, ia segera melangkah turun ke bawah menuju dapur. Sepertinya lebih baik dan lebih bermanfaat jika ia membantu sang mama memasak dari pada memikirkan kisah cinta yang tidak di kenalnya.

To Be continue

Ini cerpen kenapa jadi kayak gini, adminya juga nggak tau. Seweer beneran nggak tau. Yang jelas di nikmatin aja lah.

~ Admin nggak jelas, LovelyStarNight.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 10:42:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers