Kenalkan Aku pada Cinta 05 ~ Cerpen terbaru

Ada yang menunggu lanjutan cerpen Kenalkan aku pada cinta?, nah, kali ini lanjutannya muncul nih.

Oh ya, buat reader semua, buat yang ikutan baca sekalian donk. Tinggalin kritik sama sarannya. Supaya kedepannya tulisan aku bisa lebih baik lagi. ^_^

And akhir kata, Happy reading All!!!!!....


Kenalkan Aku Pada Cinta

Selama ini Astri tidak pernah tau, kalau menghabiskan waktu bersama Kak Andre ternyata bisa menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Berbeda dengan saat ia sedang berjalan bersama kakaknya yang sering menjahilinya. Ataupun jalan bareng Alya yang taunya hanya berbelanja.

Andre orang yang asik di ajak bicara. Membuat Astri sama sekali tidak merasa bosan berada disampingnya, Membuatnya tidak pernah kehabisan kata untuk mengobrol dengannya. Menuruti ajakan Pria itu untuk jalan bersama, menjadi pengalaman indah untuknya.

Selama ini selalu menutup diri. Itu mungkin kata yang tepat untuknya walau awalnya ia tidak benar benar berniat untuk melakukan itu. Terlebih jika ia boleh meminjam istilah Andre padanya "Menutupi kecantikannya". Tidak, Ia tidak secantik itu.

Tapi, keluar bersama seeorang yang notabene bukan kakaknya ataupun teman teman ceweknya memang hampir tidak pernah ia lakukan terhitung sejak ia masuk SMA. Walau dia memang punya alasan yang cukup bagus untuk itu.

Namun saat Astri keluar bersama Andre saat ini. Ia yakin ada yang beda. Andre benar benar orang yang menyenangkan. Setelah mentraktirnya makan siang, mereka nonton film bareng. Dilanjutkan dengan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati sore di kaffe langanan. Barulah setelah itu Andre mengantarnya pulang. Bahkan Pria itu sempat menemaninya duduk diberanda depan rumah sambil menunggu orang tua nya pulang. Menemani gadis itu agar tidak merasa takut di rumah sendirian.

Dan Astri benar benar merasa harus berterima kasih untuk semua itu. Untuk semua kebahagiaan yang sempat ia rasakan.

****

"No matter what they say, now,I’m in love
I do it my own way ‘cause I’m in love
And I can’t keep that song out of my mind
Whistling that silly tune all the time".

la la la ..

Mulut Astri ikut bersenandung lirih mengiringi musik yang terus mengalun melalui headset di telinganya. Ah, entah kenapa ia merasa akhir akhir ini ia sangat menyukai lagu itu.

"Cie cie cie, Happy banget nih kayaknya?."

Astri menoleh, Alya tampak berjalan disisinya.Berusaha mengsejajarkan langkah bersamanya. Sepertinya sahabatnya itu juga baru menginjakan kaki di halaman kampus.

"Apaan sih, Biasa aja kali" gumam Astri sambil melepaskan headset dan memasukannya kedalam tas. Bukan tindakan yang sopan jika ia terus mendengarkan musik sementara dengan jelas ada seseorang yang mengajaknya berbicara.

"Loe sendiri kenapa?. Kok mukanya keliatan sayu gitu".

"Gue udah putus sama pacar gue" Sahut Alya tampak tak bersemangat.

"Palingan juga bentar lagi balikan lagi" Astri berkomentar santai. Putus nyambung udah biasa untuk kasus sahabatnya.

"Tapi kali ini gue nggak akan balik lagi sama dia" Alya tampak menegaskan.

"Nggak yakin gue". Astri angkat bahu cuek.

"Kalau loe nggak percaya, loe bisa tanya langsung sama kak Andre".

Langkah kaki Astri langsung terhenti ketika mendengar satu nama yang baru saja meluncur dari mulut sahabatnya.

"Andre?" ulang Astri mencoba meyakinkan kalau tiada yang salah dengan pendengarannya.
Kepala Alya mengangguk membenarkan. Tanpa memperhatikan reaksi terkejut di wajah Astri, Alya kembali berujar.

"Kemaren, pas gue lagi jalan sendiri gue mergokin pacar gue bareng sama selingkuhannya. Padahal loe tau sendirikan, kalau dia udah janji dia nggak akan ngeduain gue lagi. Saat itu kesabaran gue habis liat mereka. Langsung aja gue labrak mereka. Bahkan tu cewek malah sempet gue siram pake jus".

"Oh ya?" Astri tampak kaget, setengah tak percaya sahabatnya bisa melakukan itu mengingat akan sikap sabarnya selama ini. "Tapi, apa hubungannya sama Kak Andre?".

"Leo pikir cewek bego mana yang bakal diem aja ketika di siram di depan muka umum gitu?" Bukannya menjawab Alya malah balik bertanya yang di balas gelengan kepala Astri yang masih belum mengerti arah pembicaraannya.

"Tentu saja dia kesel. Dan dia balas marah marah sama gue. Dan loe tau, cowok gue yang bego itu justru malah malah bantuin dia".

"Loe lebih bego karena mau pacaran sama orang bego" maki Astri. Tentu saja hanya dalam hati, Asti cukup tau diri kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengutarakan pendapatnya.

"Dan dia kalap, terus nampar gue".

"What, Loe di tampar sama dia?" Astri setengah berteriak mendengarnya. Tapi Alya dengan santai justru malah menggeleng sambil tersenyum membuat kening Astri berkerut samar.

"Sebelum dia berhasil nampar gue, seseorang sudah terlebih dahulu mencekal tangannya".

"Eh?" Kerutan di kening Astri bertambah. "Seseroang?. Maksut loe pacar loe?. Eh, salah. Loe bilang loe udah putus. Maksut loe, mantan pacar loe?" Tanya Astri lagi.
Lagi lagi kepala Alya mengeleng sebagai jawaban. "Bukan. Kan gue udah bilang tadi, dia itu bego. Terus, ngapain dia harus bantuin gue."

"Terus?" Astri tampak memutar mata. Kesel akan ulah sahabatnya yang sedari tadi ngomong berbelat belit.

"Kak Andre." Ujar Alya santai.

"Kak Andre?" Ulang Astri kaget. Kemudian ia menoleh ke sekeliling. Mencari sosok yang di sebutkan Alya barusan. Setelah memastikan kalau orang yang di maksut tidak ada ia menatap kesel kearah Alya.

"Mana?."

"Apanya?" gantian Alya yang pasang tampang kebingungan.

"Loe bilang barusan ada kak Andre. Mana?. Kok nggak ada?" terang Astri sambil membenarkan letak kacamatannya.

"Ha ha ha, kapan gue bilang disini ada kak Andre. Loe ini ada ada aja".

"Terus maksut loe tadi manggil kak Andre apaan?."

"Gue bukan manggil kak Andre. Tapi gue mau ngasi tau ke elo kalau yang bantuin gue kemaren itu Kak Andre".

"Kak Andre?" ulang Astri makin kaget. Kepala Alya mengangguk membenarkan.

"Kak Andre yang itu?". Lagi lagi Alya mengangguk.

"Yang temennya kakak gue?."

"Iya, yang itu. Busyet, emangnya loe kenal berapa banyak Andre si di dunia ini" Balas Alya setengah mengerutu.

"Lumayan banyak si. Ada Andre temen kakak gue yang satu kampus ma kita, ada juga Andre dulu kakak sekolah waktu SMA, terus masih ada Andre yang sering bantuin gue, Andre mantan pacar temen gue dulu dan ada Andre yang..."

"Please deh Astri, nggak penting banget sih".

"Yang jelas gue masih nggak percaya kalau kak Andre bantuin loe. Secara mau maunya ya kan."

Alya tampak mencibir mendengarnya. Memangnya apa yang salah dengan membantunya. Namun tak ingin mempermasalahkan hal itu Alya lebih memilih melanjutkan ceritanya.

"Cerita gue kan belom selesai. Dan gue jamin loe pasti lebih kaget kalau mendengar kelanjutannya".

"Oh ya, emang selanjutnya kenapa?".

"Kak Andre nemak gue."

"What?!" Astri yakin, yang barusan itu teriakannya. Terbukti dengan tangan Alya yang membekap mulutnya.

"Ya ampun Astri, loe lebay banget si?."

"Kak Andre nemak loe?" Tanya Astri langsung begitu berhasil melepaskan bekapannya.

"He he he, Nggak bener nemak si. Waktu itu, gue juga nggak tau kenapa. Dia bantuin gue. Dia bilang ke _mantan_ cowok gue, kalau dia itu pacar gue. Terus, minta mantan gue buat jauh jauh dari gue. Abis itu, Kak Andre langsung narik gue keluar. Loe tau nggak si, waktu itu gue ngerasa kalau kak Andre itu bener beneren pageran berkuda putih yang di kirim buat nyelametin gue. Itu untuk pertama kalinya gue nggak ngerasa sakit hati ninggalin mantan gue" jelas Alya antusias, sama sekali tidak menyadari ekspresi gadis yang berdiri di sampingnya.

"Kak Andre benar benar melakukan itu?" gumam Astri lirih, namun masih mampu di tangap oleh indra pendengaran Alya.

"Iya. Leo pasti heran kan, gue aja sama" Alya masih terlihat antusias.

"Tapi ngomong ngomong As, loe nggak papa kan?. Secara gue inget, loe pernah cerita kalau loe sempet jalan bareng sama kak Andre waktu keluarga loe tour ke singapore?" Tanya Alya beberapa saat kemudian.

"Maksut loe?" Astri pasang tampang heran.

"Loe nggak naksir sama kak Andre kan?" tanya Alya lagi.

"Apaan si. Tentu saja tidak. Mana mungkin gue naksir sama dia" Elak Astri cepat. Terlalu cepat malah, membuat Alya sedikit mengernyit akan reaksinya. Tapi karena tidak ingin terlalu mempikirkannya ia hanya angkat bahu sambil bergumam lirih.

"Syukurlah kalau begitu, karena sepertinya gue yang suka sama dia."

"Apa?" ulang Astri sambil menoleh kearah Alya. Ia yakin sahabatnya barusan mengumam lirih, hanya ia masih tidak yakin kalau ia tidak salah mendengarnya.

"Kak Andre."

Kali ini kerutan di wajah Astri bertambah. Matanya yang bulat tampak berkedap kedip menatap kearah Alya. Sementara yang ditatap justru sama sekali tidak menoleh kearahnya. Pandangannya tetap terjurus kedepan, membuat Astri mau tak mau juga menoleh. Dan jantungnya langsung tercekat melihat siapa yang kini berdiri tak jauh darinya. Menatap lurus kearahnya.

"Kak Andre." Nama yang sama pun meluncur dari mulut mungilnya.

To Be Continue

HE he he, bersambung dulu ya. Kapan kapan di lanjutin lagi. Oh ya, sekedar mengingatkan jangal lupa like fanpage star ngiht ya. Tempatnya buat sharing info seputar blog. Linknya tinggak klik di sini. Bye bye...


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:35:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers