Cerpen Remaja Take My Heart ~ 19

Take My Heart _ Lanjutan dari part sebelumnya. Masih seputar Kisah Vio sama Si Ivan. Khusus part ini, Adminya beneran udah bingung sendiri. Udah bolak balik edit, ujung ujungnya tetep aja. Sinteron. Wukakakakkacau.

Tapi nggak papa deh. Dari pada nggak di lanjutin. Udah bingung juga soalnya ni cerpen mau di kemanain. Just info aja ya, Next part ending....


Take My Heart

Awalnya Vio memang masih merasa ragu. Ia masih tidak yakin apa yang ia lakukan itu benar. Bukankan beberapa waktu ini apa yang ia lakukan selalu terlihat salah. Mulai dari menyatakan cintanya pada herry (Baca cerpen sedih "Pupus"), keputusannya pindah kampus, meminta bantuan pada Ivan, Semuanya berakhir kacau. Dan sekarang ia malah harus berurusan sama Andra.

Tapi pada akhirnya ia memantapkan hatinya. Bukankah lebih baik menyesal karena telah melakukan dari pada tidak menyesal karena tidak melakukan. setidaknya ia sudah berusaha. Bener kan?.

Tepat setelah ia menutup pintu pagar kostannya, senyum Andra sudah menyambutnya. Membuatnya mau tak mau membalas senyuman itu.

"Siap untuk pergi bareng gue?" Tanya Andra santai yang hanya di balasa anggukan dan senyum manis di bibir Vio.

Tepat setelah motor Andra melewati gerbang kampus, seperti yang di duga. Pemandangan Ivan dengan pasangan baru segera menyambutnya. Keduanya tampak sedang duduk di bangku halaman depan sambil tertawa. Dan lewat kaca spion motor Andra, Vio jelas melihat kalau tawa itu lenyap seiring kemunculannya. Digantikan dengan pandangan yang terus mengikuti arah motornya menuju keparkiran.

"Ma kasih ya karena loe udah jemput gue hari ini. Jadi gue nggak perlu lagi berdesak desakan di dalam bus kayak biasanya" Ujar Vio sambil berjalan beriringan bersama Andra.

"Oh santai saja. Gue juga seneng kok karena loe mau bareng sama gue" Balas Andra tak kalah. Dengan santai keduanya berjalan melewati Ivan sambil terus berbicara akrab.

"Ntar siang, loe pulang tetep bareng gue kan?".

"Kalau loe nggak keberatan, ya gue malah ma kasih banget".

"Sekalian deh kalau gitu, ntar siang biar gue yang traktir loe makan gimana?".

"Ah loe beneran baik banget. Sekali lagi ma kasih ya. Sampai ketemu nanti" Balas Vio sebelum kemudian keduanya berpisah di persimpangan koridor kampus. Secara kelas mereka kan memang berlainan.

"Jelasin ke gue atas apa yang baru gue liat barusan?!".

Andra menoleh kaget. Tapi hanya untuk beberapa detik awalnya saja karena beberapa saat kemudian ia sudah bisa memasang tampang biasa. Tersenyum kearah Ivan yang kini sedang menanti jawaban darinya.

"Eh elo Van, kenapa?. Tumben sendiri. Pacar baru loe mana?" Andra balik bertanya.

"Kenapa loe bisa bareng sama Vio?" Tanya Ivan lagi. Mengabaikan pertanyaan Andra padanya.

"Vio?" Andra sedikit mengernyit. "O, itu. Kebetulan kita tadi emang bareng".

"Rumah loe dan kostan dia jelas berlawanan. Dari mana datangnya kebetulan" Sambung Ivan lagi.

Glek, untuk sedetik Andra merasa kalau ia diintimidasi. Tatapan tajam Ivan benar benar membuatnya merasa sedikit gugup. Oh, ayolah. Memangnya ada alasan ia harus merasa takut?.

"Gue, sengaja jemput dia tadi pagi. Abis jalan kemaren gue emang janji mau pergi bareng".

"Jalan?. Kemaren?" ulang Ivan lagi. "Maksut loe kemaren loe jalan bareng Vio?".

Kali ini Andra hanya membalas dengan anggukan.

"Kenapa?".

"Ekh?"

"Kenapa harus Vio?" Ivan menegaskan karena Andra jelas terlihat bingung.

"Memangnya kenapa kalau Vio?" Pancing Andra. "Loe nggak punya hubungan apa - apa sama dia kan?. Lagian juga gue liat, loe enjoy aja bareng cewek - cewek baru loe sekarang. So harusnya nggak ada masalah donk".

Ivan terdiam. Tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Andra. Sebelum kemudian mengangguk.

"Loe bener. Nggak ada urusannya sama gue".

Selesai berkata Ivan langsung melangkah mendahului Andra yang tampak hanya tersenyum akan reaksinya. Benar - benar seperti yang diduga.

Seperti yang di janjikan, Andra benar benar mentraktir Vio makan siang di kantin. Bahkan Silvi juga hanya mampu pasang tampang cengo melihatnya. Tapi Vio hanya angkat bahu. Bahkan kini ketiganya tampak duduk dalam satu meja. Menikmati makan siang bersama.

"Ehem, eh gue boleh nanya nggak?" Silvi membuka pembicaran.

"Loe kan tinggal ngomong kalau mau tau. Kenapa pake nanya lagi?" Vio yang menjawab.

Silvi melirik sekilas, kemudian mengalihkan tatapannya pada Andra yang duduk tepat di hadapannya. Setelah menghembuskan nafasnya sejenak mulutnya berujar "Kalian punya hubungan apa? Kok kayaknya ada yang beda?".

Vio tersenyum. Tanpa melihat ia tau kalau selang beberapa meja di depannya. Dimana Ivan tampak bersama kedua temannya juga sedang melirik kearahnya. Sepertinya mereka juga penasaran akan jawabannya.

"Lebih dari temen, kurang dari pacar" Jawab Andra mantab.

"Uhuk uhuk uhuk" Ivan tampak tersedak membuat dada nya terasa sesak. Walau ia tidak yakin rasa sesak itu benar benar karena ia tersedak barusan.

"Maksutnya?" Tanya Sivli lagi.

"Emp...Sebenernya sih baru PeDeKaTe ya. Tapi loe nggak keberatan kan kalau seandainya nanti diantara kita ada apa - apanya. Yah, beneran pacaran misalnya" Sambung Andra lagi membuat Silvi terdiam.

Drrrtttt...

Terdengar bunyi kursi yang di geser dengan keras. Sebelum Vio sempat menoleh tangannya kini sudah lebih dahulu di tarik. Ivan kini jelas berada disampingnya, mengengam tangannya dengan erat. Bahkan saking eratnya sampai sampai ia merasa sakit.

"Lepasin. Apa - apaan si" Geram Vio mencoba memberontak, tapi Ivan sama sekali tak bergeming.

"Elo yang apa - apaan" bentak Ivan balik, membuat seisi kantin menatap kearah mereka.

"Maksut loe?".

"Apa maksut loe deket deket sama Andra?".

"Memangnya kenapa dia nggak boleh deket - deket sama gue?" Andra angkat bicara.

Kali ini Ivan menaglihkan tatapannya kearah Andra. Mencibir sinis sambil berujar "Jangan bilang dia juga minta bantuan sama loe?".

"Bantuan?" Kening Andra berkerut bingung. Namun tak urung ia mengakui "Gue emang berniat bantuin dia. Terus kenapa?. Apa ada yang salah?".

"Heh" Lagi lagi Ivan mencibir . Melepaskan cengkeramannya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap lurus kearah Andra. "Kali ini dia minta bantuan apa?. Buat pura - pura jadi pacarnya?. Atau buat ngelupain mantannya?. Jangan - jangan malah cuma buat ngelabuin mata sahabatnya supaya dia nggak ketauan kalau sebenernya dia naksir sama calon gebetannya".

"Plaks".

Semua menoleh kaget. Tidak menyangka akan melihat pemandangan itu. Dimana dengan jelas Vio mengayunkan tangannya. Menampar tepat di pipi Ivan.

"Kali ini loe bener - bener keterlaluan" Gumam Vio lirih.

Ivan terdiam. Tangannya menyentuh pipinya yang terasa perih. Sepertinya Vio menggunakan segenap tenaga saat menamparnya. Dan saat ia melihat kearah Vio, ia langsung menyadari. Kalau sakit di pipinya tidak lebih menyakitkan dari hatinya sendiri saat melihat mata Vio yang tampak berkaca - kaca melihatnya. Rasa kecewa jelas tergambar di sana. Astaga, kenapa Ivan merasa kalau ia telah berbuat salah padanya?.

Tanpa ada kata lagi, Vio segera berlalu. Disusul oleh langkah Silvi yang masih belum mengerti sepenuhnya namun jelas menghawatirkannya. Belum sempat Ivan melakukan hal yang sama, Tangan Andra sudah terlebih dahulu menahanya.

"Jujur gue nggak ngerti maksut ucapan loe sebelumnya. Tapi yang jelas, loe salah. Melihat betapa kecewanya Vio tadi, sepertinya loe harus segera minta maaf sama dia".

"Minta maaf?. Kenapa gue harus minta maaf?" Ivan masih bertahan pada egonya.

"Untuk sepengetahuan loe, Vio nggak pernah minta bantuan gue. Justru gue yang berjanji buat bantuin dia. Tapi bukan buat seperti yang loe tuduhkan tadi. Gue bilang kalo gue bakal bantuin dia buat bukitin kalau sebenernya loe serius suka sama dia. Loe deketin cewek cewek itu cuma agar dia cemburu and ngakuin kalau sebenernya dia juga suka sama loe. Seharusnya semua berjalan seperti yang di rencanakan. Iya, seharusnya. Karena kenyataanya loe nggak suka Vio deket sama cowok lain. Bahkan deket sama gue sekalipun. Cuma sayangnya, melihat betapa marahnya Vio tadi, sepertinya waullahu'alam deh kalian bakal balikan lagi. Kecuali ada keajaiban. Dan keajaiban itu hanyalah fakta jika Vio juga suka sama loe".

Kalimat penjelasn dari Andra yang begitu panjang lebar kembali terasa sebagai tamparan buat Ivan. Membuatnya semakin menyesali dan merasa kalau sepertinya ia memang sudah keterlaluan. Maaf, bukan 'sepertinya'. Tapi ia, jelas sudah sangat keterlaluan. Tanpa kata ia segera berbalik. Berlari mengejar Vio yang sekarang entah kemana.

Di cut dulu yak. Phan katanya ep 20 baru end.... Huwaahahhahahha #ketawa imud.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 1:13:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers