Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 16


Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.

Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15.


"Bukan kah sudah cukup jelas?".

Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu.....

"Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian".

"Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.


"Bakso?" Ulang Ivan dengan kening berkerut yang langsung di sambut anggukan ringan oleh Vio yang terlihat mulai menikmati Mie Ayam pesanannya.

"Loe inget nggak waktu dulu, Pertama kali loe nyamperin gue. Loe berulang kali bikin gue tersedak gara - gara ucapan loe yang asal njeplak. Bahkan asal tau aja, Gue bahkan sampe trauma untuk memakan makanan yang satu ini. Padahal itu kan makanan faforit gue. Tapi demi keselamatan diri sendiri gue lebih rela makan mie ayam" Jelas Vio tampa sedikitpun terpengaruh dengan tampang melongo Ivan yang ada di hadapannya.

"Tunggu dulu, Jadi maksut loe. Kita lagi ngomongin...... Bakso?" tanya Ivan setelah otaknya kembali bisa mencerena semuanya.

Kepala Vio mengangguk berlahan. Untuk beberapa saat ia asik dengan suapannya sampai kemudian saat menoleh ia mendapati kalau mata Ivan sama sekali tidak terlepas dari wajahnya. Sekilas Vio melirik kearah makanan Ivan yang tampak masih utuh.

"Bakso loe kenapa nggak di makan?. Apa sekarang loe juga percaya kalau makanan itu berbahaya?".

Seolah baru tersadar Ivan mengeleng. "Omong kosong. Mana mungkin makanan ini berbahaya. Gue cuma masih nggak percaya kalau topik yang kita bicarakan sedari tadi adalah bakso" Sambung Ivan sambil mulai menyesap makannya.

"Atau loe lebih suka kalau kita ngobrolin Andra".

"Andra?" Lagi lagi Ivan mengernyit bingung. Memang apa hubungannya, Kenapa ia harus membicarakan sahabatnya, pikirnya.

"Eemm.." Angguk Kepala Vio. "Karena sepertinya gue menyukainya".

"Uhuk uhuk uhuk".

Untuk kedua kalinya Ivan tersedak. Bahkan kali ini lebih parah. Bakso yang belum ia kunyah justru malah langsung melesat melewati tenggorokannya. Diteguknya habis jus yang ia pesan. Setelah beberapa saat barulah batuknya mereda namun tangannya masih memukul mukul ringan dadanya yang terasa nyeri. Namun satu hal yang Ivan yakini pasti, Rasa sakit itu BUKAN karena bakso.

"Ha ha ha" bukannya bersimpati, Vio justru malah tertawa lepas. Membuat Ivan kembali terpaku. Rasa sakit itu mendadak hilang. Dan kesadaran baru muncul, Kalau ia selalu ingin melihat tawa itu.

"Jadi apa sekarang loe percaya, kalau bakso itu berbahaya?" Vio mengulang kembali pertanyannya.

"Loe" Tunjuk Ivan lurus. "Apa maksut ucapan loe tadi?".

"Eh?" Vio merasa bingung. Kenapa ia merasa reaksi Ivan jadi terlihat menyeramkan ya.

"Apa maksut loe dengan kata "sepertinya gue menyukainya?" Tambah Ivan menjelaskan.

"Ehem, Oh yang itu" Vio terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Iya, sepertinya gue menyukainya. Andra, Sekilas mirip dengan kata 'Andre'. Mr. Kacamata. Tapi, baiklah itu nggak ada hubungannya. Yang jelas gue suka liat tatapan tajam matanya. Lagi pula, Dia kelihatan pinter. Buktinya, tadi dia langsung tau kalau status kita cuma bohong bohongan. Terus tampangnya juga cakep. Dan nilai plus buat dia adalah dia bukan PLAY-BOY".

Ivan terdiam sambil menunduk dalam. Gantian Vio yang merasa heran. Kenapa Pria itu tidak membalasnya?. Apa jangan jangan dia marah. Apa ucapannya tadi cukup kasar. Berlahan rasa bersalah merambati hatinya. Mungkin ia kadang memang harus mengerem mulutnya agar tidak asal menjeplak lagi.

"Kalau seandainya..." Kata Ivan sambil matanya menerawang jauh. "Seandainya gue bukan Playboy, Apa ada kemungkinan loe akan suka sama gue?" sambung Ivan sambil menolehkan wajahnya, menatap lurus kearah Vio.

Vio tidak langsung menjawab. Mata itu,... tatapan tajam itu..... Vio tidak mungkin salah. Karena sepertinya ia mengenali arti dari tatapnnya. Vio cukup yakin kalau itu adalah jenis tatapan yang sama seperti tatapan yang selalu ia berikan pada Herry, dulu. Jangan jangan...

"Seandainya gue bukan Playboy, apa loe akan percaya ketika gue bilang kalau gue benar benar suka sama loe?".

Hening yang mencekam. Sepi namun menyakitkan. Seandainya....?.

"Seandainya?" Gumam Vio lirih.

"Loe tau, Dari sekian banyak kosa kata yang ada di dunia. Satu kata itu lah yang paling gue benci. Loe mau tau kenapa?. Karena kata itu pasti akan selalu mengingatkan ke gue, 'Seandainya herry juga suka sama gue" .

Mata Ivan tak berkedip menatapnya. Ia benar benar tak menyangka akan mendegar gumaman lirih Vio barusan. Tak bisa di cegah, Sebuah senyum sinis tersunging di bibirnya. Entah sinis ke pada Vio yang tak bisa move on, Atau justru sinis pada dirinya sendiri. Karena pada kenyataannya, Memang tidak semua gadis bisa tunduk kepadanya. Persis seperti yang Andra ucapkan dulu.

"Sudah sore, Ayo gue antar loe pulang".

Tanpa menoleh Ivan bangkit berdiri. Melangkah meninggalkan baksonya yang masih utuh bersama uang perbayarannya. Berjalan tanpa menoleh sama sekali. Bahkan untuk memastikan bahwa Vio mengikutinya ataupun tidak...



To Be Continue.....

Tau nggak sih, Sambil nulis lanjutan di part ini Full lagu yang di dengerin itu Just give me a reason miliknya p!nk yang terus di ulang ulang. Omigot, Bahasa inggris saia ancur. Satu satunya yang saia tangkap dari lagu yang satu ini adalah "Broken heart". And than, jadilah tema cerpen ini tentang patah hati. Saia ndiri aja bingung kenapa jadi gini apalagi kalian yang baca yak....

Wukakakka......

Sepertinya untuk next saia harus cari rekomendasi lagu lagu yang happy happy aja kali ya. Takutnya kalo dengerin yang melow melow, Ni cerpen satu malah berakhir sad ending lagi....

Terakhir, Sampai bertemu di next parts ya.....


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:49:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers