Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 15

Walau sempet blank akhirnya Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" di lanjutin lagi. Untuk part selanjutnya, tenang aja. Lagi di ketik, Moga aja ide nggak macet lagi. Ha ha ha, Derita penulis amatiran.

Oh ya, buat yang sering nanya tentang urutan cerpen yang bikin bingung, ku kasih petunjuk deh. Klik aja tulisan Daftar isi di atas, Di situ udah lengkap di kelompokan berdasar kan label. Semoga saja nggak kebingungan lagi.

Akhir kata, Happy reading ya..

} Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 14




"Rasa ini mungkin bukan cinta,
Namun, jika bukan cinta lantas apa namanya"..
.

Setelah mengemasi barang barangnya, Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih cukup siang untuk langsung mendekam di kostan sendirian. Apa sebaiknya ia mampir ketoko buku dulu ya. Mencari komik atau pun novel romantis yang bisa ia jadikan bahan bacaan.

Ah, tapi cucian kotor di rumahnya banyak. Sepertinya lebih baik kalau ia beres beres saja. Mumpung kali ini bisa pulang cepet gara gara dosen selanjutnya nggak masuk. Dengan berlahan ia beranjak bangun meninggalkan kelasnya. Melangkah menuju ke halte bus.

"Vio".

Merasa ada yang memanggil namanya Vio menoleh. Membatalkan niatnya untuk langsung masuk kedalam bus yang kini berhenti tepat dihadapannya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat raut lelah Ivan yang tampak ngos ngosan. Sepertinya efek berlari.

"Ada apa?".

"Loe...." Ivan berhenti sejenak. Mencoba untuk menetralkan kembali detak jantungnya sebelum kembali melanjutkan.

"Mau kemana?".

"Pulang" Balas Vio santai. Lagian kenapa Ivan menanyakan sesuatu yang sudah jelas.

"Pulang?".

Vio memasang tampang yang sama seperti Ivan. Sama sama keheranan.

"Iya. Pulang. Memangnya kenapa?" Tanya Vio kemudian.

"Terus kenapa loe nggak nungguin gue?".

"La emangnya kenapa gue haru nungguin elo?" Vio balik melemparkan pertanyaan.

"Heh" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau sekarang kita pacaran?".

"Eh?".

Oh ya, Jujur saja kalau Vio lupa bahwa sekarang ia sudah punya pacar. Tapi tunggu dulu, Memangnya sekarang ia masih punya?. Bukannya itu sudah berakhir ya?.

"Emangnya kita masih pacaran ya?" Tanya Vio terlihat oon saat Ivan yang sedari tadi hanya terdiam menatapnya.

"Gue nggak merasa pernah mutusin ataupun diputusini sama loe. Jadi... Ya kita masih pacaran".

"Eits, tunggu dulu. Kayanya ada yang harus kita bicarakan deh disini".

"Disini?" Ulang Ivan menegaskan.

Mata Vio menoleh kesekeliling. Bus yang sedari tadi ia tunggu sudah pergi. Sekelilingnya memang juga sudah sepi. Tapi mengobrol sambil berdiri di depan halte bus sepertinya bukan ide yang bagus.

"Atau loe bisa nawarin gue nongkrong di kaffe sambil minum jus mungkin. Dan jika tidak keberatan sekalian semangkuk mie ayam, gue juga nggak nolak" sahut Vio beberapa saat kemudian.

Ivan tak langsung menjawab. Sedikit mencibir sambil tersenyum samar. Namun tak urung kepalanya mengangguk.

"Jadi loe ngajakin gue kencan?. Oke, baiklah. Ayo kita pergi".

"Eh" Vio berujar.

Sungguh bukan itu maksutnya. Ia ingin menjelaskan tapi nggak jadi. Karena Ivan dengan santai telah meninggalkannya. Kembali kearah parkiran kampus, dimana motornya masih ia tinggalkan karena mengejar Vio tadi.

"Kenapa malah bengong. Ayo buruan".

Teriakan Ivan menyadarkan Vio dari lamunanya. Dengan bergegas ia beranjak mengejar Ivan. Mensejajarkan langkahnya dengan pria itu sebelum kemudian membawanya melaju bersama motornya. Dan baru berhenti tepat di depan sepuah kaffe yang terlihat tidak terlalu ramai. Hanya tampak beberapa orang yang duduk duduk santai di sana. Sepertinya menghabiskan waktu sore sambil ngongkorng bareng.

"Jadi loe mau ngomong apaan?" Tanya Ivan setelah keduanya duduk santai dengan pesanan diatas meja masing masing.

"Ini soal hubungan kita".

"Emang hubungan kita ada masalah?" Tanya IVan lagi.

"Ayo lah Van. Loe nggak da niatan buat pacaran beneran sama gue kan?".

"Gue nggak pernah bilang kalau gua pacaran sama loe itu bo'ong -bo'ongan" balas Ivan santai namun terdengar tegas.

"Maksut loe?".

Lagi lagi ivan hanya angkat bahu sambil mulai menikmati makannya. Diseruputnya es jeruk yang ada di hadapannya. Terasa segar membasahi tengorokannya yang terasa kering.

"Jangan bilang kalau loe jatuh cinta sama gue?" Tanya Vio sambil menyipitkan matanya. Menantikan reaksi dari Ivan yang tampak menghentikan suapan makanannya. Menatap lurus kearah Vio.

"Kalau gue bilang gue beneran cinta loe pasti nggak percaya kan?" Ivan balik bertanya.

"Tentu saja tidak" Balas Vio cepet. Secepat yang bisa ia lakukan.

Kali ini Ivan tersenyum. Malah terlihat berusaha menahan tawanya sementara Vio jelas yakin kalau tidak ada yang lucu.

"Sebenernya gue juga nggak percaya si kalau gue bisa suka sama loe" Sahut Ivan kemudian sambil mengalihkan tatapannya dari wajah Vio, kembali beralih kearah makannya. "Tapi sepertinya memang begitu kenyatannya".

"Apa?" Tanya Vio tak mampu menyembunyikan rasa shcoknya.

"Rasa ini mungkin bukan cinta, Namun jika bukan cinta lantas apa namanya? ".

Kalimat itu memang pertanyaan, Tapi Vio tidak yakin kalau ia bisa memberikan jawaban untuknya. Memangnya jawaban apa yang bisa ia berikan?.

Hal yang bisa Vio lakukan hanyalah teridam sembari menatap lurus kearah Ivan, Mencari tau apa maksut dari pertanyaannya. Untuk beberapa saat keduanya saling adu tatapan. Sebelum kemudian Vio mengalah. Menghembuskan nafas berlahan sambil mulai mencicipi makannya.

Melihat sepertinya tiada tanggapan yang cukup berarti dari gadis yang ada di hadapanya, Ivan pun kembali melakukan hal yang sama. Menyeruput kuah bakso yang ia pesan. Sedikit mengernyit saat merasakan rasa pedas di lidahnya. Karena tidak konsentrasi saat berbicara pada Vio tadi, sepertinya tanpa sengaja ia menambahkan begitu banyak cabe. Akhirnya tangannya terulur meraih botol kecap.

Setelah mengaduknya, ia kembali berniat untuk mencicipi kuahnya bertepatan dengan kalimat lirih yang keluar dari mulut Vio.

"Tapi sepertinya Gue malah suka sama Andra".

"Uhuk uhuk uhuk"

Tak bisa di cegah, Ivan tersedak. Dengan cepat di teguknya jus yang ada di sampingnya. Setelah reda ia segera melemparkan tatapan tajam kearah Vio. Apa maksut gadis itu?.

"Sekarang loe udah tau kan gimana rasanya?".

Sebelum mulut Ivan terbuka, Vio sudah terlebih dahulu mendahuluinya.

"Apa?" Ivan terlihat bingung.

Pikirnya langsung melayang. Mencerna kalimat Vio barusan. Jangan - jangan maksut gadis itu adalah tentang apa yang ia lakukan selama ini. Tentang bagai mana rasanya dikecewakan.

Atau jangan jangan gadis itu memang sengaja membuatnya jatuh cinta, kemudian meninggalkannya begitu saja. Sebuah tindakan balas dendam akan ke playboayannya selama ini.

Tidak. Secepat pikiran itu muncul, secepat itu pula ia membantahnya. Vio bukan gadis seperti itu, Mustahil ia melakukannya di saat ia sendiri mengerti dengan pasti rasanya di kecewakan.

Tapi bukankah gadis itu sulit di tebak?. Jadi apa mustahilnya jika ia memang melakukan itu?. Terlebih ia juga pernah menyakitinya. Melakukan taruhan konyol misalnya.

"Apa maksut loe dengan ucapan loe barusan. Rasa apa yang harus gue tau?".

Tak ingin terlalu larut dengan tebakan tebakan liarnya, Ivan lebih memilih menanyakan langsung kearah Vio.

Vio tidak langsung menjawab. Hanya bibirnya yang tampak menarik sebuah senyum samar. Sebelum berujar lirih.

"Bukan kah sudah cukup jelas?".

Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu.....

To Be continue...

Wukakkakakakka, Gak tau kenapa sekarang kok jadi demen main putus putus di waktu dan saat yang nggak tepat...... Ah, Sepertinya Efek galau sodara sodara. #Diinjek.

Ehem, Bijimana kalau kali ini kita maen tebak tebakan lagi. Belajar berfikir ala Ana Merya. Kira kira menurut kalian kalimat apa yang akan keluar dari mulut Vio selanjutnya?.

Oke?. Di tunggu jawabannya.... ^_^



Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 7:22:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers