Cerpen cinta "Kala cinta menyapa" ~ 12

Sebelum kecerpen penulis pengen cuap - cuap dolo ya. Tau nggak, hari ini tu sebenernya ngeselin banget. Saking ngeselinnya sampe - sampe penulis bikin status di pejbuk "Hari yang begitu menyebalkan". Nggak perlu di jelasin kenapa, karena intinya tetep sama. Me-Nye-Bal_Kan.

Salah satunya, CPU Resto bermasalah. Alamat gak bisa online seharian. Terus minta tolong dah sama "kakak" gadungan, Pinjem Laptopnya dia. Alasannya si buat nyelesein laporan kantor, Tapi sambilannyanya tentu saja O-N-L-I-N-E. ^_^

Giliran laptop di tangan, Nggak ada hal menyenangkan yang bisa penulis lakukan. Jaringan nggak bersahabat, so nggak bisa main ke youtube atupun goodrama. Kemudian, cek buka draf email deh. Sambil nungguin CPU yang katanya baru di antar jam 5 sore, jari ini menari di atas Keyboard. Nggak nyangka juga jadi lanjutan cerpen Kala Cinta Menyapa yang telah lama bertapa. Hei, Segala sesuatu di dunia ini tu emang ada hikmahnya kan?.

Berhubung udah kebanyakan bacot, Cekidot...



"Rani, loe baik baik aja kan?" tanya Irma prihatin saat melihat tampang kusut
Rani yang selama beberapa hari ini tidak pernah hilang dari wajahnya.

"Kalau loe berharap gue jawab bohong. Iya gue baik baik aja. Tapi kalau gue harus menjawab jujur. Tentu saja tidak. Gue nggak lagi baik baik aja. Apa lagi melihat mereka" Terang Rani dengan telunjuk mengarah lurus kearah Erwin yang tampak sedang berbicara akrap dengan syintia.


"Loe cemburu ya?".

"Iya" Sahut Rani tegas.

"Atau gue labrak aja ya mereka sekarang?".

"Ha?" mulut Irma melongo mendengar kalimat tegas yang keluar dari mulut gadis di sampingnya.

"Ehem. Loe... Bercanda kan?" tanya Irma hati - hati.

"Gue nggak bercanda. Gue cuma nggak serius aja. Lagian mana mungkin gue berani melabrak mereka. Emangnya status gue apa?. Mantan calon pacar?. Huuu...".

"Loe si, kalau memang suka kenapa pake nolak".

"Kan ntu gara - gara loe juga. Loe si pake nakut nakutin gue segala. kan loe sendiri yang bilang kalau sampe gue jadian sama si Erwin gue bakal di bully abis sama anak - anak disini. Siapa yang nggak takut kalau gitu coba".

"Oh soal itu. Iya juga ya. Hampir aja gue lupa" Irma tampak mengangguk angguk membenarkan. Sama sekali tidak merasa bersalah.

"Terus gue harus bagaimana?" Tanya Rani sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Terlihat sama sekali nggak bersemangat.

""Aha, Gue punya ide" teriak Irma sambil menjentikan jarinya. Mengikuti gaya - gaya di tv kalau pas sedang mendapatkan ide cemerlang.

"Apa?. Loe punya cara supaya Erwin suka lagi sama gue?" tanya Rani terlihat antusias.

"Bukan" kepala Irma menggeleng keras. "Berhubung Erwin nggak suka sama loe, gimana kalau mulai sekarang loe..." Irma sengaja menghentikan ucapannya. Memanti reaksi dari Rani yang tampak menatapnya penuh harap. "Move On aja gimana?".

"Heh" Rani langsung mencibir. Move on?. Ngomong si gampang, tapi ngelakuinnya itu yang susah. Bener nggak si?.

"Ih, Gue serius lagi. Kalau leo terus - terusan menyesali diri, terus ngarepin cinta Erwin balik lagi sama loe sementara jelas - jelas sekarang dia sudah deket sama cewek lain itu jelas cuma nyakitin diri sendiri. Mendingan loe Move On aja".

"Iya, Tapi cara nya gimana non Irma yang Genius?" Tanya Rani dengan nada menyindir yang jelas terasa.

"Apa gue harus pura - pura nggak kenal sama dia padahal bayangan dia selalu aja bermain di kepala gue, atau gue harus pura - pura bersikap cuek, padahal jelas gue selalu memeperhatikan dia diam - diam?"tambah Rani lagi. Membuat Irma hanya mampu tersenyum masam.

"Ya sudah kalau gitu. Gue ganti. Gimana kalau mulai sekarang loe aja yang deketin dia. Siapa tau ntar dia balik suka lagi sama loe?" saran Irma yang langsung di balas Gelengan kepala oleh Rani.

"Kenapa?".

"Karena nggak ada dalam kamus hidup gue harus ngejar - ngejar cowok. Terlebih gue udah pernah nolak dia".

"Astaga Rani. Please deh. Jangan bikin orang waras kaya gue jadi gila. Loe disuruh Move On nggak mau, buat bikin dia yang suka sama loe juga ogah. Terus loe maunya apa?" tanya Irma terliaht frustasi.

Lagi - lagi kepala Rani mengeleng berlahan sebagai jawabannya. "Gue juga nggak tau?" gumam Rani lirih.

Kali ini Irma ikut ketularan menggeleng kepala. Tak tau harus berkomentar apa lagi. Matanya hanya mampu menatap miris wajah lemes Rani yang kembali merebahkan kepalanya di meja. Ikut prihatin akan nasih yang menimpa sahabatnya. Tak dipungkiri ia juga merasa sedikit bersalah. Gadis itu cukup polos. Terlalu polos malah sampai - sampai ia mau menelan mentah - mentah nasehatnya kemaren. Ya ampun, apa yang harus ia lakukan untuk membantunya?.


"Bruk".

Erwin langsung mendongak kaget saat mendapati mejanya di gebrak dengan keras. Tampang garang Irma kini jelas berada di hadapannya.

"Mau loe apa sebenernya?".

"Ha?" Erwin melongo. Menunjukan tampang bodohnya. Sementar Irma tampak menyilangkan kedua tangannya di dada. Menatap lurus kearah Erwin, menanti jawabnnya.

"Harusnya gue yang nanya. Mau loe apa?. Datang tiba - tiba. Main gebrak meja sembarangan. Emangnya loe pikir tu meja punya asuransinya apa?" Tambah Erwin lagi membuat Irma mencibir bibir karenanya.

"Gue mau nanya sama loe. Apa maksut loe deketin syintia?".

"HA?'' Kali ini bukan hanya raut heran, tapi juga kesel yang Erwin tunjukan. Ayolah, masa ia dilabrak oleh "sahabat mantan calon pacar". Sama sekali nggak masuk akal.

"Loe cemburu gue deket sama Syinti?. Bukanya loe udah jadian sama Doni?" Balas Erwin sinis.

"Kok loe tau?" Sahut Irma persis seperti cewek cewek yang mau di gombalin.

"Basi. Seluruh reader star night juga udah tau kali" Balas Erwin mencibir namun justru membuat Irma makin mengerutkan keningnya.

"Oke, back to topik. Kenapa gue nggak boleh deket - deket sama syintia?" Potong Erwin saat melihat mulut Irma siapa terbuka untuk bertanya.

"Ya itu bikin Rani sakit hati. Dia patah hati sekarang?".

"Terus itu salah gue?. Salah nenek gue?" Geram Erwin. "Itu kan salah loe. Siapa suruh leo nakut - nakutin dia sampe sampe dia nolak gue?" sambung Erwin terlihat jengkel.

Mendengar itu mulut irma langsung terkunci. Apa yang Erwin katakan benar adanya. Itu memang salahnya. Ia akui itu. Nah, untuk menebus kesalahannya lah makanya ia nekat menemui Erwin saat ini. Kalau nggak si amit - amit ia berurusan sama makhluk yang satu ini.

"Oke, Gue ngaku. Itu memang salah gue. Karena itu gue minta maaf".

"Jadi gini cara loe minta maaf?. Memangnya cuma dengan ngomong maaf, masalah bisa kelar?" cibir Erwin sinis.

"Terus mau loe apa?".

"Loe harus menebusnya".

"Menebusnya?" ulang Irma dengan kening berkerut.

Erwin mengangguk berlahan sambil mulutnya bergumam. "Loe harus bertanggung jawab. Karena itu, loe harus bantuin gue".

"Bantuin loe?. Bantuin apa?" tambah Rani lagi.

"Loe harus bantuin gue buat jadian sama Rani".

"Ha?" Gantian mulut Rani yang melongo. Membantu Erwin jadian sama Rani?. Apa ia nggak salah denger. Tapi melihat kepala Erwin yang mengangguk sepertinya itu benar.

"Loe harus bantuin gue supaya gue bisa beneran jadian sama Rani" Tambah Erwin penuh penegasan.

"Kalau leo emang niat jadian sama Rani, kenapa loe deketin malah syintia?" Selidik Irma ingin tau.

"Gue juga bingung. Tanyain aja sama Jony. Itu idenya dia. Dia bilang gue harus deketin Syintia supaya Rani cemburu" Balas Erwin tampa rasa bersalah sedikit pun.

"What the hell?. Saran seperti apa itu. Dan loe dengan begonya menurutin saran konyol seperti itu" geram Irma.

"Gue?. Secakep ini di bilang bego. Wah, nggak lulus sensor ni kalimat" Kata Erwin terdengan memprotes.

"Terus kalau bukan bego namanya apa. Main nurutin saran konyol sembarangan. Kalau sampai syintia beneran suka sama loe terus gimana?".

"Ehem... Untuk yang satu itu. He he he, Gue baru kepikiran setelah loe ngomong barusan".

"Lagian kalau leo emang genius, Kenapa coba loe ngasih saran konyol ke Rani kemaren?" tambah Erwin menyerang balik.

"Itu sih, cuma kesalahan teknis. Kan gue nggak tau kalau Rani beneran suka sama loe".

"Jadi Rani beneran suka sama gue ya?" tanya Erwin sambil tersenyum - senyum.

"Nggak perlu nanyain sesuatu yang udah jelas" Gerut Irma kesel. Temennya sedang menderita eh malah yang membuat menderita justru ketawa bahagia. Hufh, nonjok orang sekali aja itu dosa nggak si?.

"Jadi, Intinya loe bersedia bantuin gue kan?" tanya Erwin kembali ke topik pembicaraan.

"Hufh. Baiklah. Walaupun dengan berat hati. Setuju. Tapi eits, jangan seneng dulu. Gue ngelakuin itu bukan karena loe, tapi karena gue nggak pengen Rani semakin menderita. Catet itu".

"What ever deh. Yang penting loe bantuin gue titik".

"Kalau gitu gue harus ngapain?" tanya irma lagi.

"Itu yang harus kita pikir kan sekarang" Balas Erwin ringan.

Kali ini mulut Irma hanya mampu terbuka tanpa suara.

To Be Continue...

Niat awal si, ni cerpen mau di ending aja. Tapi, apa lah daya. Waktu tak memungkin kan. Mungkin next part endnya. Itu juga kalau idenya nggak macet lagi. Xi xi xi #ditimpuk sendal.

Over all, Buat yang udah baca. Tinggalin jejaknya donk. Apa kesan - kesan kalian setelah baca cerpen dari jaman antah berantah yang nggak end - end ini. Jangan cuma bisanya nuntut lanjutannya doank.... ^_^

Oke?...

Syiiippppp... !!!!.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8:06:00 PM

2 komentar:

  1. love is something that makes me fulfill my destiny as a human being, to marry is the greatest hope that I hung far above the sky where I say a prayer to the Lord. thanks for the article interesting. continued success yes for CERT

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers