Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.

Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :

-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10



Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.

Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.

Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.

Pertama sekali menginjakkan kaki di halaman kampus, pemandangan pertama yang ia dapat adalah sosok Ivan yang tampak berbicara akrab pada seseorang cewek yang entah siapa. Lagi - lagi kening Vio berkerut bingung dengan tatapn yang jelas tertuju kearah pasangan tersebut. Tanpa bisa di cegah sebuah senyuman sinis tersunging dibibirnya saat dengan jelas ia melihat tangan Ivan yang terulur, Menyelipkan anak rambut yang melambai di wajah sosok di hadapannya.

"Apa - apaan itu. Baru aja kemaren gue bilang buat bikin gue jatuh cinta, eh boro - boro. Ilfil si ia" Gerut Vio pada dirinya sendiri.

Mata Ivan sedikit melirik saat mendapati Vio yang berjalan melewatinya tampa menoleh sedikitpun. Entah Karena gadis itu tidak melihatnya, atau memang ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas, baik yang pertama mau punyang kedua. Kemungkinan itu tetap memberikan efek yang sama bagi Ivan. Sama - sama  menyebalkan, Karena itu artinya ia diabaikan. -,-

Dan saat Vio menghilang dari tingkungan Ivan langsung berpaling. Membuat sosok yang sedari tadi bercerita padanya menjadi bingung. Terlebih Ivan langsung meninggalkannya tanpa alasan.

"Ehem" Ivan sengaja berdehem sambil berusah mensejajarkan langkahnya bersama Vio.

Namun bukannya menoleh, Vio justru tampak mengangguk - anggukan kepalanya mengikuti irama musik dari headset yang memang bertenger di kedua telinganya. Membuat Ivan makin kesal . Tanpa bisa di cegah tangannya terulur, melepaskan salah satu headset itu. Membuat Vio langsung menoleh heran.

"Ivan?. Kenapa?" tanya Vio polos.

Bukannya menjawab Ivan justru malah memajukan mulutnya sebel, membuat Vio tak mampu menahan tawanya.

"Ha ha ha, Ah loe imut banget si kalau cemberut gitu. Mirip cewek" Komentar Vio membuat Ivan makin kesel.

"Nggak lucu" Sungutnya.

"Kenapa?" tanya Vio lagi setelah tawanya mereda.

"Kok loe tadi main nyelonong aja si?. Sama sekali nggak nyapa gue?" tanya Ivan langsung.

"He?" kening Vio berkerut tanda bingung, tapi bukannya menjelaskan Ivan justru hanya angkat bahu.

"Emang elo siapa gue?" tanya Vio terdengar menohok.

"Gue itu orang yang loe harapin bisa bikin loe jatuh cinta" Balas Ivan santai membuat Vio langsung menoleh.

"Dengan cara mengoda cewek lain?" Tanya Vio jelas meledek.

"Emangnya tadi loe nggak cemburu?" Ivan tampak penasaran.

Dan lagi lagi Vio tertawa.

"Ha ha ha. Loe ngelawak ya?. Eh, Kenapa gue harus cemburu. Jatuh cinta juga belom" Balas Vio di sela tawanya.

Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio barusan kontan membuat Ivan terlihat sedikit salah tingkah. Tangannya segera ia masukan kedalam saku. Mendadak mati gaya.

"Kalau ternyata tadi itu loe ngoda cewek di hadapan gue dengan niat buat bikin gue cemburu, Denger ya. Itu sama sekali nggak berhasil. Gue jadi ilfil si ia. Lagian....".

"Lagian...?" kejar Ivan karena Vio tidak melanjutkan ucapannya. Justru gadis itu malah berdiri terpaku dengan tatapan tetap terjurus kedepan.

Sama sekali tiada reaksi dari Vio membuat Ivan memalingkan wajah. Mengikuti arah tatapan Vio. Ivan langsung mengangguk paham saat matanya menangkap hal yang telah menarik perhatian Vio. Terlebih saat mendapati Vio menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya.

Tak tau datangnya dari mana, Rasa kesel langsung mampir di hati Ivan. Bahkan rasa ini lebih mengesalkan dari pada saat Vio mengabaikannya tadi. Menyadari kalau Vio langsung berdiri terpaku saat mendapati pemandangan tak jauh darinya. Silvi dan Herry yang sepertinya baru muncul. Ditambah dengan perhatian Herry yang terlihat sedang membantu melepaskan Helm di kepala Silvi. Membuat Ivan langsung melangkah. Berdiri lurus tepat di depan Vio. Menghalangi gadis itu dari memandang pemandangan yang jelas menyakitkan baginya.

"Lagian gue bukan Herry" Pangkas Ivan lirih namun penuh penekanan.

Tatapan tajam Vio langsung terjurus pada Ivan. Apa maksut pria itu mengatakan kalimat barusan. Meledeknya?. Memangnya penderitaannya sebuah lelucon sehingga bisa di ledek sembarangan?.

"Tutup mulut loe".

"Apa yang gue bilang itu benerkan. Loe nggak cemburu saat melihat gue sama cewek lain, tapi loe langsung jadi patung bernyawa saat melihat perhatian Herry pada Silvi".

"Kalau ia terus kenapa?. Loe nggak harus memperjelasnya bukan?" Tantang Vio dengan tatapan terluka.

Membuat Ivan hanya mampu mengepalkan tangannya. Kesel, tapi ia tidak tau ia harus kesel pada siapa. Pada Vio yang terlihat rapuh atau pada dirinya yang tak mau mengerti.

"Vio, tunggu dulu" Tahan Ivan sambil meraih tangan Vio saat gadis itu berniat belalu meninggalkannya.

"Kenapa lagi?" Tanya Vio sambil menghempaskan tangannya. Membuat gengaman Ivan langsung terlepas.

"Maafin gue. Gue nggak bermaksut buat nyakitin loe" Pinta Ivan merasa bersalah.

"Loe nggak perlu minta maaf. Sebenernya omongan loe tadi ada benernya juga"Balas Vio membuat Ivan langsung menoleh bingung kearahnya.

"Justru gue yang mau minta maaf. Untuk hal yang minta kemaren, Gue pengen menarik kembali. Sepertinya gue juga sama sekali nggak butuh bantuan dari manusia kayak loe".

Selesai bekata Vio langsung melangkah. Meninggalkan Ivan dengan keterpakuannya.

Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Setelah menutup buku dihadapannya, Sejenak Vio terdiam. Dihelanya nafas berat sebelum kemudian di hembuskan secara berlahan. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan pikiran yang masih kusut.

"Loe kenapa?".

Refleks Vio menoleh. Mencoba tersenyum sambil mengeleng berlahan saat wajah cemas Silvi disampingnya.

"Loe lagi ada masalah ya?" Tanya Silvi lagi.

"Enggak kok" Sahut Vio berusaha meyakinkan.

"Tapi kenapa muka loe kusut gitu. Ditambah lagi sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak konsentrasi belajar. Malahan gue yakin banget kalau loe jelas melamun" Kejar Silvi membuat Vio bungkam.

"Apa ini ada hubungannya sama dia?".

Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Silvi yang juga sedang menatapnya.

"Loe suka sama dia kan?".

"Apa?" Tanya Vio bingung atas pertanyaan yang berupa pernyataan yang barus saja keluar dari mulut Silvi.

"Astaga" keluh Silvi sambil memijit kepalanya yang mendadak merasa berdenyut nyeri. "Jujur aja gue nggak bisa percaya ini bisa terjadi, tapi kalau melihat loe sekarang. Sepertinya dugaan gue bener. Kalau loe suka sama dia. Iya kan?" Tambah Silvi penuh penekanan.

"Gue...".

Ucapan Vio mengantung dimulutnya. Bingung harus berkata apa. Rasa bersalah juga menghantui dirinya. Hei, bukannya dulu saat memutuskan untuk pindah kekampus ini ia sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah melepaskan Herry. Harapannya untuk memiliki jelas pupus sudah. Tapi kenapa sebagian hatinya menolak dan masih merasa tidak rela. Bahkan sakit itu juga masih jelas terasa saat melihat kedekatan Herry pada gadis lain yang ternyata sahabatnya sendiri.

"Ayolah Vio, Dia itu playboy" Peringatan Silvi terlihat putus asa.

"Apa?".

Bukan hanya bingung, kali ini Vio juga kaget. Playboy?. Herry seorang playboy?. Nggak mungkin!.

"Iya. Bukannya loe sendiri tau sejak awal Dia itu seorang playboy. Bahkan jelas - jelas dia sendiri bilang kalau dia ndeketin loe itu cuma buat taruahan sama para sahabatnya. Karena itu jelas, Semua perhatianannya ke elo itu palsu. Loe nggak boleh jatuh cinta sama dia, karena elo pasti akan terluka".

Kali ini Vio terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang ia dengar barusan.

"Tunggu dulu, maksut loe Ivan?".

"Siapa lagi?" Silvi balik bertanya.

"Ya ampun. Demi apa gue nggak akan pernah suka sama dia Silvi. Bahkan sampai dunia kebalik sekalipun, Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama dia. Jadi elo, Jangan pernah sekali kali perpikir sampe kesana".

"Eh?" Kening Silvi sedikit berkerut bingung. "Jadi gue salah. Loe nggak suka sama ivan?".

"Tentu saja tidak" Balas Vio ketus.

"Kalau loe emang nggak jatuh cinta sama dia, terus kok tampang loe sekarang kayak orang yang lagi patah hati?" Tanya Selvi lagi.

"Apaan si, ngaco deh kalau ngomong" Ela Vio Cepat.

"Udah siang nie, kita pulang yuk" Sambung Vio lagi, memotong apapun kalimat yang akan keluar dari mulut Silvi. Bahkan Tangan Vio secara cekatan meraih tas nya sebelum kemudian bangkit berdiri. Bukti nyata kalau ia memang beneran berniat untuk pulang. Membuat Silvi mau tak mau mengikuti ulahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, keduanya melangkah beriringan berlalu pulang.

To Be Continue...



Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 5:59:00 PM

4 komentar:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. To be continue lg....
    Hadew,, ttp semangat saya pengunjung setia starnight....

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers