Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL...

Kala Cinta Menyapa

Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya.

“Ehem.”

“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam.

“Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.

“Pulang,” balas Erwin singkat.

“Kok di sini?” tanya Rani lagi.

“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.

“Bukannya biasanya pake motor ya?”

“Rusak."

Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.

“Jadi loe juga suka sama dia?”

“Ha ha ha."

Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.

“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.

“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.

“Eh... Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.

“Sudahlah... lupakan...” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.

“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."

Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.

“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.

“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.

“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?”

“Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.

“O..." kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.

“Ha...” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.

“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.

“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.

“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.

“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”

“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.

“Kita kan lagi ngomongin elo”."

“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.

“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat.

Lanjut Baca : || ||


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 11:14:00 AM

Stalkers