Cerpen Tentang Rasa part 4 {Update}

Oke next, Dari cerpen tentang rasa part 3 go to part 4. Yang sudah baca bisa tetap mengulang kok. Tenang, penulis sudah nggak tertarik buat mengubah - ubah lagi. Bayangkan woi ada 155 postingan yang harus di update.
Astaga....
So, gak bisa banyak bacod. Langsung saja selamat membaca....

Credit Gambar : Ana Merya

"Hai al, Gue bawain makan siang nie buat loe. Loe pasti suka" Sapa Anggun sambil menyodorkan Kotak bekal kearah Alan yang sedang asik duduk santai di pelataran depan kampus dengan sebuah buku ditangaanya. Alan sama sekali tidak menoleh. Ia sudah bisa menebak dengan tepat kalau cewek yang berdiri di hadapannya pasti Anggun. Ia juga tidak merasa heran kalau anggun membawakannya bekal makan siang. Sudah seminggu lebih Gadis itu selalu berkeliaran di sekelilingnya tanpa memperdulikan sikap sinis sebagai balasan. Yang ia herankan kenapa tu cewek betah banget ya, padahal ia jelas - jelas merasa risih akan kehadiranya.

"Al, kenapa si loe cuek banget sama gue?" Tanya Anggun sambil duduk disamping Alan. Sementara Bekal itu ia Letakkan di sampingnya karena Alan sama sekali tidak menyentuhnya.

"Udah tau gue cuek kenapa loe masih deket - deket?" tanya Alan tanpa menoleh.

"Karena gue suka sama loe" balas Anggun santai tapi terdengar tegas.

Untuk sejenak Alan menghela nafas. Ditutupnya buku yang sedari tadi di baca sebelum menoleh menatap tepat ke wajah Anggun yang masih menunduk sambil menatap rumput yang ada di kakinya.

"Emangnya loe nggak punya malu ya?".

Anggun langsung menoleh menatap si penanya yang kini juga menatapnya.

"Malu?. Kenapa?" Tanya nya heran.

"Ngomong kayak gitu ke gua. Loe kan cewek?".

"Memangnya kalau cewek nggak boleh ngomong suka duluan ke cowok. Ada peraturannya gitu?. Nggak kan?".

"Terserah loe deh" Balas Alan sambil beranjak meninggal kan Anggun.

"hei, Tunggu dulu. Gue udah cape - cape masak juga. Loe ambil donk. Paling nggak hargain usaha gue napa" Kata Anggun sambil menarik tangan Alan dan meletakan bekal itu. Tapi alan menepisnya dan tanpa sengaja malah membuat kotak itu jatuh berserakan.

"sory gue nggak sengaja" kata Alan merasa sedikit bersalah saat melihat Anggun yang menatapnya tak percaya.

"Kenapa si loe nggak mau menghargai usaha gue dikit aja?" tanya Anggun sambil duduk berjongkok mengambil kotak bekalnya.

"Kalau loe memang mau di hargain, Paling nggak loe juga harus ngehargain diri loe sendiri".

"Apa Gue segitu tidak berharganya menurut loe. Gue cuma pengen ngungkapin perasaan gue aja kok. Apa itu juga salah. Lagian Gue Nggak mau jadi seseorang yang baru bisa menyadari bertapa berharganya sesuatu setelah kehilangan. Sory banget kalau loe merasa terganggu".

Tanpa banyak kata lagi anggun segera berlalu meninggalkan Alan yang kini berdiri terpaku akan ucapannya. "Menyadari akan berharganya sesuatu setelah kehilangan". Ia merasa Kata itu sangat pas untuknya. Rasa Sakit yang amat sangat ia rasakan. Kata itu mengingatkannya akan satu nama. Tifany.

Cerpen tentang rasa


"Kak anggun, bukain donk pintunya".

Anggun yang sedang asik tiduran di kamarnya sambil merenungi kejadian di kampus tadi merasa kaget sekaligus kesel mendengar suara cempreng adiknya diluar kamar.

"Ada apaan si. Berisik banget. Kenapa nggak sekalian minjem toa di mesjid biar satu kompleks denger" Geram Anggun bergitu pintu terbuka.

"He he he. Jalan yuk" Balas Salsa tanpa rasa bersalah.

"Ogah" sahut Anggun cepat sambil kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Sudah merasa Trauma dia sama ajakan Adiknya.

"Ayo lah. Gak seru banget masa di rumah mulu. Sore gini kan enaknya jalan - jalan. Jogging bareng atau nonton bola di lapangan kompleks" Bujuk salsa lagi.

"Tumben banget" Anggun menatap curiga. "Pasti ada apa - apanya nie".

"Apaan si. Nggak kok?".

"Hayo ngaku, kalau nggak pergi aja sendiri" ancam Anggun.

"Hais. Ia deh Gue ngaku. Dikompleks kita kan ada warga baru. Nah terus ada anak cowoknya. Keren banget. Anak kuliahan lagi. Biasanya kalau sore ia juga ikut maen bola di lapangan. Makanya kita nonton yuk".

"Ih dasar ABG" Ledek Anggun sebel.

"emang. Udah ayo kita pergi".

"Ogah. Gue mau tidur".

"Ih kok gitu. Tadi katanya kalau gue cerita kakak mau pergi bareng".

"Yee.. Gue bilang tadi kan kalau loe nggak cerita, loe pergi sendiri. Gue nggak pernah bilang tuh, lepas loe cerita bakal di temenin".

"Yah..." Protes salsa.

"Sssttt. Gue mau tidur. Kalau loe pergi. Pergi aja sono. Gaet tu anak kuliahan. Gangguin aja" Kata Anggun sambil menarik tubuh adiknya ke luar sebelum kemudian mengunci pintunya dari luar tanpa memperdulikan protesan sang korban.

"awas aja loe kak. Kalau gue bisa dapatin tu orang, loe pasti nyesel. Orangnya keren lho. Lumayan buat dipamerin ketemen - temen" Teriakan salsa dari luar. Sementara Anggun kembali remabahan di kasurnya.

Cerpen tentang rasa

Dengan langkah ragu Anggun berjalan menuju ke kampusnya. Ini hari pertama setelah beberapa saat yang lalu ia ke kampus tanpa persiapan. Eits maksutnya bukan peralatan kampus ya, Tapi persiapan untuk mendekati Alan. Salah satunya tanpa bekal makan siang yang biasa di bawanya.

Saat berjalan menuju kekantin, karena ia sudah ditungu oleh ketiga temannya, Anggun berpapasan dengan pak Reno, dosen bahasa Inggrisnya. Pak Reno meminta nya untuk menyerahkan Flasdish pada Alan. Karena Pak reno tau kalau mereka sekelas makanya sekalian minta tolong. Dengan terpaksa Anggun menyanggupinya. Secara sebenernya ia masih belum siap untuk berurusan dengan makhluk satu itu.

Cerpen tentang rasa


Alan sedang Duduk santai bersama kedua temannya ketika Gresia, Anya dan Nanda datang dan duduk manis di meja seberang.

“Eh Gres, Anggun mana?” Tanya Andra.

“Ia, Kok tumben kalian Cuma bertiga?” tambah Adit.

“O, tadi si di balakang. Tapi bentar lagi kesini kok” Balas Gresia.

“Aha” Kata Andra sambil menjentikan jarinya “Gue punya ide, gimana kalau kita taruhan?”

“Taruhan apa?”.

“Meja di sini kan masing – masing kan punya empat kursi, nah karena kebetulan kita sama – sama bertiga . jadi menurut kalian meja yang mana yang duluan dihampir sama Anggun?”.

“Ya meja kita donk. Secara kita kan udah janjian. Lagian kita kan sahabatnya” Sahut Nanda cepat.

“Eits, tunggu dulu. Jangan salah, kalian pasti juga taukan kalau temen kalian yang satu itu naksir sama sahabat kita?”.

“Terus?” Anya masih belum paham.

“Nah, Nanti kalau seandainya Anggun menghampiri kalian duluan, kalian semua makan gratis. Tapi kalau sebaliknya dia menghampiri Alan dulu, kalian yang harus bayar pesanan kita. Gimana?” Terang Andra.

“Kalian apa – apa an si?!” Geram alan yang sedari tadi diam angkat bicara.

“Yeee…. Santai aja kali bro. Kita kan Cuma maen – maen doank. Gitu aja sewot”.

“Tapikan nggak gitu juga. Emangnya kalian pikir anggun cewek apaan. Enak aja di jadiin taruhan”.

“Wah, Alan marah. Kenapa nie?. Ketauan deh, loe juga suka sama dia ya?” Balas Adit terdengar meledek.

“Nggak. Bukan gitu” Alan berusah untuk menjelaskan Tapi Anya malah ikutan meledeknya.

“Ngaku aja deh”.

“Ah tau ah”.

“Eits, mau kemana loe?. Sini aja” Kata Andra sambil menarik tangan Alan sehingga kembali duduk di bangkunya. “Gimana kalian setuju nggak?” sambungnya kearah Gresia dan teman – temannya.

“Oke aja deh” Balas nanda tanpa pikir panjang. Anya dan Gresia juga mengangguk. Alan membatalkan niatnya untuk protes dan hanya mampu menghembuskan nafas berat saat mendapati siapa yang sedang melangkah masuk kekantin sambil memperhatikan sekeliling.

Semua menunggu dengan harap – harap cemas. Sementara tatapan anggun tertuju kearah meja teman – temannya. Saat ia berniat untuk menghampiri mereka tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan Alan di sana. Setelah berpikir beberapa saat dengan mantap ia malangkah.

“Al” saoa Anggun ragu. Jujur saja kalau bukan karena titipan dari pak Reno, ia masih belum siap melakukan kontak dengan alan. Karena walau bagaimana pun ia masih punya harga diri dan masih tau malu.

“Ternyata omongan gue kemaren sama sekali nggak ada pengaruhnya ya sama loe” balas Alan dingin .

“Maksut loe?” Tanya Anggun bingung.

“Yah Anggun. Loe nggak seru banget si. Masa loe lebih memilih menghampiri alan duluan dari pada kita” Kata Gresia terdengar kecewa. Nggak rela mengeluarkan uang lebih tepatnya. Ditambah gagal makan gratis.

“Ingat kalian yang bayarin” Kata Andra dan adit sambil berhigh five membuat anggun makin bingung. Apalagi saat melihat alan yang beranjak dari kursinya bersiap meninggalkan kantin.

“Ada apa si sebenernya?”.

“Dasar payah loe. Tadi itu kita taruhan sama mereka. Kan lumayan bisa makan gratis. Eh loe malah menghampiri mereka duluan bukan kita. Kan jadi kita yang harus bayarian makanan mereka: kelua Anya.

“Kalian jadiin gue taruhan?” Tanya Anggun tak percaya sekaligus kecewa.

“Anggun. Tunggu dulu. Ini tu buka seperti yang loe kira. Jangan salah paham dulu” jelas Gresia saat mencium situasi yang mulai tak enak.

“Gila ya?. Gue nggak nyangka. Kalian ini temen gue apa bukan si?” tambah anggun sambil menepis tangan Gresia kemudian berbalik menghadang alan yang sudah hamper mencapai pintu keluar.

“Alan tunggu dulu”.

“Mau apa lagi?!. Berapa kali si gue harus bilang!. Gue Cuma minta loe jangan pernah ganggu gue lagi. Ngerti nggak si?!” kata alan setengah berteriak menarik perhatian hamper seluruh pengunjung kanti. Anggun menundukan wajahnya. Sumpah malu banget.

“Sory Al. Tapi kali ini gue beneran nggak niat buat nganggu loe kok. Gue Cuma mau ngasi flasdisk ini doank. Tadi pak reno nitipin ini kegue buat loe” Kata anggun sambil menyerahkan benda yang sedari tadi berada dalam gengamannya. Begitu benda tersebut telah berpindah tangan anggun segera berlalu tanpa sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya. Lagi – lagi meninggalkan alan yang masih terpaku di tempatnya.

To be continue ke Cerpen cinta tentang rasa part 5.


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:59:00 PM

Stalkers