Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 {Update}

Oke, Aku update lagi ni ya. Sebenernya Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 ini udah pernah di publis di blog ini dulu. Cuma, karena harus ku edit lagi, terpaksa ku kembalikan ke Draf.
Oh ya satu lagi. Jangan meminta lebih sebelum berusaha lebih. Dibawah ada kotak komentar kan?. Silahkan diisi dengan unek - unek kalian. Tapi kalau cuma minta lanjutan, sory ya. Aku nulis itu cuma kalau ada waktu luang. Aku sudah memutuskan, kali ini aku nggak akan memaksakan diri lagi untuk rela - rela in nulis di angkot lewat hape cuma buat nulis lanjutan ceritanya.
Like what i say before, Aku menilai suatu karya dari banyaknya like and komentarnya.  Simpelnya, untuk meninggalkan jejak aja susah, apalagi mau bikin cerpennya. That is my opinion.


Ha ha ha” Tawa anggun Langsung meledak mendengar cerita yang keluar dari Mulut Rian. Mantan tetangganya dulu saat tinggal di Rasbar. Tapi sejak ada bencana banjir yang melada tempat tinggal mereka , mereka sama – sama pindah. Nggak nyangka setelah hampir 4 tahun bisa bertemu lagi.

Tapi yang membuat Anggun sama sekali tidak bisa menahan tawanya adalah saat ia mendengar kalau rian, Yang selama ini di kenal sebagai cowok ‘dingin’ kayak es di kutub, Tiba – tiba cerita kalau dia sedang jatuh cinta pada seorang cewek yang sudah nolongin dia waktu nyasar bareng di hutan. Padahal seharusnya dia sebagai cowok yang melakukan itu. Tapi pas giliran ia tembak, eh tu cewek malah nolak gara – gara ia nembaknya nggak romantic. Terlalu sederhana bin setandar. Padahal rian sudah jelas – jelas tau kalau tu cewek sudah naksir padanya sejak lama. Soalnya buku diary cewek itu yang terisi penuh dengan namanya ada padanya. # Untuk lebih jelasnya baca cerpen Diera is Diary #.

“Terus gimana sama kisah loe?. Bukannya waktu itu kalau gue nggak salah denger kalian sekeluarga pindah ke PKU ya?. Terus kok bisa nyasar ke sini?” Geram Rian mengalihkan Topik. Sebel juga di ketawain gitu.

*Ini ceritaku, apa ceritamu / Plaks, Star Night demen iklan*.

“Gue nggak nyasar. Enak aja. Gue emang di sini lagi. Lagian loe masih kecil juga udah pinter pacaran” Ledek anggun.

“Ya Ampun. Gue sekarang udah SMA lagi. Malah kalau nggak pake seragam gue juga udah kayak anak kuliahan kan?. Ke k eke”.

“Lebay” Cibir Anggun sinis.

“Baiklah, jangan mengalihkan topic pembicaraan. Sekarang gantian loe yang cerita”.

“Mau cerita apa?. Nggak ada yang seru juga” Elak Anggun berusaha menghindar.

“Ayolah….Mukanya mendung gitu juga”.

“Mendung?.Dikira langit kali ya”.

“Wateper (???). Pokoknya sekarang CERITA!!!” Tandas Rian terdengar tegas.

“Iya iya” Anggun akhirnya ngalah. Sejenak diambilnya gelas jus yang ada di samping dan meneguknya sebelum kemudian meluncur muluslah cerita dari mulutnya. Dari dulu ia memang selalu akrab pada Rian yang memang sudah diangapnya seperti adik kandungnya sendiri karena usia mereka memang terpaut dua tahun di bawahnya. Bahkan keakraban nya melebihi keakrab ia pada salsa, yang notebane nya sebagai adik kandung.

Namun tetap saja, Pada akhirnya Anggun tetap menyesalai dirinya saat menamatkan ‘kisahnya’ begitu melihat reaksi makhluk itu yang sama persis sepertinya tadi. Sialan. Emangnya penderitaannya sebuah lelucon apa???!.

Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07

“Inget ya, Loe besok harus bantuin gue . Loe harus bantu gue nyiapain acara makan malam Romantis buat nemabak Diera. Awas kalau nggak, gue gentayangin seumur – umur” Kata Rian sambil mematikan mesin motornya. Saat ini mereka berada tepat di depan rumah Anggun. Rian sengaja mengantarnya saat tau kalau Anggun tadi memang nggak bawa kendaraan.

“Enak aja. Nggak bisa. Emang gue obat nyamuk. Dasar ABG. Lagian besok gue kuliah masuk siang”

“Gue nggak peduli tuh. Pokoknya yang jelas loe harus bantuin gue. Inget, HARUS!!!. Bolos bolos deh”.

“Idih, minta tolong kok maksa”.

“Suka – suka. Besok siang gue jemput. Oke?” Kata Rian tanpa menerima penolakan.

“Heh” untuk sejenak Angun menghembuskan nafas. “ Iya deh, Gue bantuin. PUAS loe”>

“He he. Gitu donk. Itu baru temen gue yang paling manis” Kata Rian sambil mecubit pipi Anggun.

“Hei, Gue lebih tua dari loe. Lagian sakit tau. Maen cubit aja” Geram Anggun sewot sambil mengusap – usap pipinya. Rian tanpa hanya nyegir kuda.

“Ya udah. Gue pamit dulu. Sampai ketemu besok”.

“Iya hati – hati di jalan. Inget kalau jatuh bangun sendiri, ketemu bencong langsung aja pacari” Ledek anggun Sambil cepat – cepat berlari masuk kedalam rumah. Takutnya kalau ia kelamaan berdiri di sana bakal ada sandal melayang yang akan mendarat di kepala. ho ho ho.

Tapi dalam hati anggun bersukur bisa ketemu Rian lagi. Ia menyadari walaupun Rian itu anaknya sering – sering suka nyebelin, tapi paling nggak tu anak selalu bisa menghiburnya dengan caranya sendiri. Justru yang tidak ia sadari adalah sejak pertama sekali ia sampai di depan rumahnya ternyata ada sepasang mata yang terus memperhatikan semua gerak geriknya dengan ekspresi yang sulit digambarkan.


Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07

“Lho al, Kok loe udah masuk kuliah?. Bukannya ‘katanya' # ehem, udah tau kan Star night Cinta mati sama nie kata # loe masih sakti ya?” Tanya Gresia heran saat mendapati alan masuk kekelasnya.

“Gue udah baikan kok. Lagian gue juga ngerasa bosen banget dirumah terus” balas alan sambil memperhatikan sekelilingnya.

Kelas sudah mau dimulai tapi ia sama sekali belum menemukan sosok anggun diantara teman – temannya yang lain. Nanda yang melihat reaksinya hanya angkat bahu tanpa komentar apa – apa. Di tambah lagi pak Heri sudah muncul di ambang pintu kelasnya.

Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07

“O, jadi itu rumah loe al?” Tanya Nanda heran plus kaget. Alan hanya membalas dengan anggukan.

Sepulang kuliah tadi, Gresia, nanda dan anya memamng sudah sepakat untuk tidak langsung pulang dan memilih untuk mengunjungi anggun yang hari ini memang tidak masuk kuliah tanpa kabar. Mana hapenya nggak bisa di hubungi lagi. Dan saat mereka bercerita tentang rencananya mereka malah di kagetkan dengan pernyataan alan kalau dia dan anggun adalah tetanggaan. Makanya sekarang mereka bisa bareng berada tepat di depan rumah anggun.

“Tapi kok anggun nggak pernah cerita ya sama kita kalau kalian berdua itu ternyata tetanggaan?” Tanya anya Masih heran.

“Jelas aja. Tu anak kan emang nggak tau” sahut Alan cuek.

“HA?. Anggun nggak tau kalau kalian itu bertetangga?!”.

Rian hanya angkat bahu.

“Astafirullahal’azim. Tu anak emang bener – bener deh. Padahalkan loe udah hampir sebulan tinggal di kompleks ini. Masa dia nggak tau” tambah anya geleng – gleng kepala. # ehem, kalo Star Night si nggak heran ya, secara udah hampir setahun star night tinggal di komplek bumi asih tetap aja nggak kenal tuh siapa penghuni deket rumah. Padahal tiap hari lewat lho/plak.Gapen banget#.

Tepat saat Gresia ingin membalas, pintu rumah anggun terbuka dan keluarlah Salsa, Adiknya anggun dengan tampang heran..

“eh ada tamu. Kok malah di luar?”.

“Salsa?. Adiknya anggun kan?” Tanya Gresia memastikan.

“Yupz. Bener banget. lho kok kak Alan bisa sama bareng sama kalian?. Emangnya udah saling kenal ya?”.

“Ya iya lah. Kita satu kampus lagi” Jawab Alan Sambil tersenyum.

“Ha?. Jadi?” Salsa tampak bingung. “Tapi tunggu dulu. Kalau kalian emang satu kampus kok kak anggun nggak pernah cerita. Malah dulu aku pernah cerita soal kak Alan Tetangga sebelah, dia nggak kasi respon sama sekali”.

“Kalau boleh gue tebak nie ya, Waktu loe cerita pasti loe nggak nyebutin nama Alan?” Tanya Nanda. Salsa segera mengangguk.

“Eh, tapi kok kalian Cuma berempat. Nggak sekalian bareng sama kak Anggun?”.

Petanyaan salsa sontak membuat semuanya kaget.

“memangnya anggun nggak ada di rumah?”

“Nggak. Tadi kak anggun berangkat kuliah”.

“Justru kita kesini karena dia nggak masuk” terang Gresia.

“Tapi kak anggun emang nggak ada dirumah”.

“Kalau gitu terus dia kemana donk. No hapenya aja nggak aktif?” Tanya Nanda Nggak tau nanya sama siapa.

“ehem. Mending ngobrolnya di dalam aja yuk” Potong salsa sambil mengajak tamunya masuk kedalam rumah.

“Kakak duduk aja dulu. Salsa ke belakang bentar” kata Salsa mempersilahkan tamunya sebelum kemudian menghilang ke dapur untuk sekedar membuatkan minuman.

Tepat saat salsa menghilang terdengar suara motor berhenti tepat di depan rumah. Perhatian semuanya segera teralihkan. Bahkan anya yang kebetulan duduk di samping jendela langsung mengintip.

“Itu anggun kan?. Terus cowok yang nganterin siapa?”gumamnya membuat nanda dan Gresia berpindah tempat. Ikutan ngintip maksutnya.

“Yah… nggak keliatan mukanya. Pake helm si” tambah nanda.

Sementara ketika semuanya masih sibuk menebak – nebak, di luar Anggun tanpak melepaskan helm yang ia pakai dan memberikannya pada Rian.

“Thanks ya ian, loe udah nganterin gue”.

“Udah kewajiban gue lagi. Harusnya kan gue yang bilang ma kasih secara udah di bantuin nyiapin semuanya”.

“Nyantai aja lagi. Ya udah gue masuk dulu. Good luck ya. Inget pesen – pesen gue tadi” tambah Anggun sambil berbalik berjalan menuju ke rumahnya. Rian juga sudah siap untuk tancap gas.

“Eh yan, tunggu dulu. Ada satu lagi yang belum gue sampein ke elo”.

“Apa?”

“Jangan lupa. I LOVE YOU!!!” teriak anggun sambil buru – buru masuk ke dalam rumah sambil tertawa puas.

Sementara rian hanya mengerut sebel. Ia tau anggun hanya berniat untuk meledeknya agar ia mengatakan kalimat itu saat nembak Diera nanti. Cih childis banget. Enak aja, emangnya di kira dia anak SMP apa?.

“Hei, loe juga. Jangan jadi pengecut!” Rian balas berteriak sebelum berlalu pergi.

Next To Cerpen remaja Tentang Rasa Part *


Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:32:00 PM

4 komentar:

  1. Salut sma karya2.a kak #anamerya keren2 bgt..
    Seharus.a crita yg kya gni ni yg di buat ftv..

    ReplyDelete
  2. kak #anamerya karya2nya keren bgt..
    salam knal ya..

    ReplyDelete
  3. kak #anamerya karya2nya keren bgt..
    salam knal ya..

    ReplyDelete

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...

Stalkers